Halo teman-teman semua! Kali ini aku akan menceritakan liburan lebaranku pada bulan Mei – Juni 2019 ke Turki. Ini adalah pengalaman yang sangat menarik karena aku belum pernah travelling ke luar benua Asia, paling jauh itu ya hanya ke Korea dan Jepang. Nah ini pengalaman baru buatku. Selain itu, Negara Turki juga unik karena terletak di 2 benua yaitu Eropa dan Asia. Aku berangkat pada tanggal 30 Mei 2019 jam 21.00 menggunakan Turkish Airlines menuju Bandara Internasional Istanbul. Bandara baru ini berlokasi di benua Eropa dan termasuk dalam bandara terbesar di benua Eropa. Perjalanan Jakarta – Turki cukup panjang karena memakan waktu kurang lebih 12 jam tanpa transit. Oh ya, sekedar info bahwa sejak 6 April 2019 seluruh penerbangan komersial dipindahkan dari Bandara Internasional Ataturk ke Bandara Internasional Istanbul karena bandara lama tersebut hanya digunakan untuk kargo, maintenance, penerbangan diplomatik dan beberapa keperluan lain.
Aku pergi ke Turki hanya berdua dengan adikku jadi kami menggunakan jasa tour yaitu ATS Vacations. Pertimbangannya adalah karena Turki cukup luas, perjalanan dari Istanbul ke Cappadocia aja kurang lebih 800 km dengan waktu tempuh hampir 8 jam. Kebayang gak sih kalau kami harus sewa mobil lalu nyetir sendiri? Bisa sih naik bus, cuma transportasi disana belum terintegrasi seperti di Singapura atau negara maju lain, jadi kami berdua gak berani. Oh ya, selain itu kami juga sering mendengar bahwa Turki menjadi tempat pengungsian beberapa warga dari Suriah, Irak, Iran dan beberapa negara konflik yang berdekatan. Hal tersebut menjadikan beberapa daerah di Turki ini menjadi kurang aman. Kota yang sangat padat pengungsi salah satunya adalah Istanbul, makanya waktu itu kami serombongan benar-benar di minta oleh local guide untuk berhati-hati dengan barang bawaan kami. Tapi enggak perlu takut, asalkan kita enggak meleng kesana sini plus selalu menjaga barang kita dengan sebaik mungkin, pastinya sih aman-aman aja guys.
Day 1 : Istanbul – Canakkale
Kami sampai di Istanbul tanggal 31 Mei 2019 sekitar jam 09.00 waktu Indonesia. Perbedaan waktu Indonesia dan Turki adalah 4 jam dimana waktu Indonesia lebih cepat, yang artinya kami tiba sekitar jam 05.00 waktu Turki. Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah Masjid Biru (Blue Mosque/The Sultan Ahmed Mosque), Hagia Sophia Museum dan Sultan Ahmed Square. Kami dibawa kesana untuk lihat-lihat aja karena sebenarnya hanya mengisi waktu sebelum makan siang dan menyebrang ke Canakkale. Sultan Ahmed Square bentuknya seperti area terbuka luas yang dikenal dengan nama Hippodrome atau dikenal sebagai area pacuan kuda pada zaman dahulu. Di area tersebut terdapat tugu lancip yang dikenal sebagai Obelisk of Theodosius. Setelah itu, kami diajak oleh local guide yang bernama Mr. Muhammed menuju Istana Topkapi. Perjalanan dari Sultan Ahmed Square menuju Istana Topkapi ditempuh dengan jalan kaki karena hanya 7 menit / 600 m. Istana Topkapi dulunya merupakan tempat bersejarah yang dijadikan kediaman resmi Sultan Utsmaniyah selama lebih dari 600 tahun. Namun, kini sudah dijadikan museum dan masuk ke dalam Situs Warisan Dunia UNESCO. Dari Istana Topkapi ini, kita bisa melihat Selat Bosphorus dengan jelas.
Sesudah berkeliling kami diajak untuk makan dan bertolak menuju pelabuhan. Menu makanan yang disediakan hari ini cukup cocok dengan lidah Indonesia, yaitu Kofte atau meatball. FYI, makanan khas Turki rasanya hambar jadi menurutku pasti enggak akan cocok dengan lidah kalian. Aku jamin deh. Kalo kalian coba kebab yang rasanya enak banget di Indonesia, wah aslinya enggak begitu seriusan. Itu cuma modifikasi supaya masuk ke lidah orang Indonesia. Di Turki juga antara flat bread dengan dagingnya dipisah di 2 piring yang berbeda. Buat kalian yang akan travelling ke Turki, aku sarankan kalian bawa garam, kaldu bubuk plus sambal. Itu akan membantu banget untuk meningkatkan selera makan kalian. Oh ya, di Turki itu masakan paling enak itu yang berbau daging. Rasanya akan sangat enak berempah, tapi tetap aja sih enggak gurih tingkat dewa kayak di Indo dan pastinya kurang asin. Makanya kalian perlu adjust lagi dengan garam dan kaldu bubuk supaya lebih maknyus.
Apabila makan di Turki, kalian pasti akan disuguhkan salad dengan dressing minyak zaitun serta sup kental dengan roti. Itu seperti sudah sepaket dengan main course gitu. Tapi kalo aku pribadi, jaranggggg banget makan sup nya karena rasanya enggak cocok sama sekali. Bagi yang penasaran silahkan dicoba aja guys!
Selesai makan kami melanjutkan perjalanan ke pelabuhan yang jaraknya lumayan jauh. Namun, perjalanan di kapal enggak terlalu lama sih, kurang lebih hanya 1 jam. Kami menyebrang menuju kota Canakkale, tepatnya mengunjungi Trojan Horse Statue in Troy. Bagi kalian yang sudah pernah nonton film Troy (2004) pasti tau deh sejarahnya. Canakkale merupakan kota pelabuhan, sehingga kalian akan menemukan banyak sekali kapal-kapal kecil hingga besar berlabuh disana. Patung Kuda Troy letaknya enggak jauh dari pelabuhan, jadi setelah berfoto kami bisa menyusuri pinggir pelabuhan sembari menikmati angin sore. Perjalanan hari itu pun berakhir, kami segera diantar ke hotel untuk beristirahat. Hotel yang kami tempati bernama Iris Hotel. Hotel ini berada di tengah perumahan penduduk, sangat sepi, tidak terlalu besar tapi memiliki pemandangan pantai yang bagus. Restoran hotel menghadap langsung ke pantai.
Sekedar informasi aja sih guys, kalian perlu berhati-hati kalau makan buffet di resto ataupun hotel. Di Indonesia dan beberapa negara lain, kalau kita makan buffet minumnya pasti bebas sesuai dengan yang disediakan kan? Nah kalau di Turki ini, yang gratis biasanya hanya air putih, sedangkan minuman lain seperti teh, kopi atau jus bisa dikenakan biaya tambahan. Kalian perlu benar-benar teliti sebelum mengambil. Ini sih berdasarkan pengalamanku di Iris Hotel yang sembarangan mengambil teh lalu tiba-tiba ada pelayan yang nyamperin sambil bawa brankas. Ternyata aku ditagih biaya sebesar 6 TL. Sebenarnya sih enggak mahal banget sih, hanya sekitar 17 – 18 ribu cuma rasa kesel karena gak teliti itu lhooooo… Oh ya, ini juga berlaku untuk mini bar di dalam kamar ya. Umumnya yang gratis hanya air mineral botol saja. Tapi ada juga yang bayar. Makanya selalu tanyakan dengan jelas sama pelayannya, minuman apa saja yang gratis dan mana yang berbayar.
Day 2 : Canakkale – Ayvalik – Kusadasi
Destinasi utama pada hari kedua ini adalah Cunda Island dan House of Virgin Mary. Kami ke Cunda Island terlebih dahulu. Pemandangan yang disuguhkan disana adalah pelabuhan dengan banyak kapal serta tempat nongkrong yang cozy. Disini juga banyak penjual gelato yang kata Mr. Muhammed enak. Biar gak nyesel aku pun nyoba, tapi menurutku sih biasa aja. Kalo kalian pernah ke Tempo Gelato Jogja, aku lebih suka itu sih.
Setelah puas, kami melanjutkan perjalanan ke House of Virgin Mary yang terletak di Gunung Bulbul. Karena aku Katolik, aku cukup semangat sih ke tempat ini. Btw, ada fakta unik nih. Menurut Mr. Muhammed, kalo yang beragama Islam mau naik haji kan ke Arab. Nah kalo orang Katolik bisa dibilang haji kalo udah kesini. Ok lanjut nih, di House of Virgin Mary itu kalian bisa berdoa dan menggantungkan harapan. Disana juga ada air suci yang boleh kalian ambil. Area House of Virgin Mary tersebut lumayan besar, bahkan aku lihat ada area yang dulunya digunakan untuk pembaptisan.
Destinasi terakhir hari itu adalah menuju toko pemerintah yang bernama Mozaik. Toko ini menjual beragam jenis minyak seperti minyak zaitun, minyak bunga mawar, minyak argan; produk kecantikan yang mengandung minyak-minyak tersebut dan juga makanan dan minuman khas Turki seperti turkish delight, pismaniye, teh apel, teh delima, dll. Oh ya, pariwisata adalah sektor yang lagi digiatkan oleh Turki. Oleh sebab itu, pemerintah melakukan subsidi untuk perjalanan wisata ke Turki makanya kami dibawa ke toko-toko pemerintah guys.
Hari tersebut ditutup dengan istirahat di Kusadasi atau yang artinya ‘bird island’. Mr. Muhammed menyebutnya pigeon island. Kami bermalam di Ramada Resort Hotel, yang merupakan hotel terbaik sepanjang perjalanan ke Turki. Pemandangan dari balkon luar biasa bagus. Langsung menghadap ke perbukitan yang bersebelahan dengan laut lepas. Selain itu, hotel ini memiliki kolam renang yang sangat luas.
Day 3 : Kusadasi – Pamukkale
Perjalanan hari ketiga dimulai dengan mengunjungi Ephesus City. Tapi sebelum menuju kesana, kami terlebih dulu diajak ke toko pemerintah. Nama tokonya adalah Leather Factory Outlet. Disini produk unggulannya adalah jaket kulit dari biri-biri. Model jaketnya bagus karena memang biasanya merek-merek terkenal seperti Burberry, LV, dll membeli barang dari toko ini untuk dilabeli oleh mereka. Jadi bisa dibilang kualitasnya sama tapi harganya lebih murah. Jaket disini sangat ringan, enggak mudah pecah-pecah dan hebatnya lagi meskipun dilipat-lipat kayak gimana juga enggak lecek sama sekali. Bagi yang berminat beli disini ya jangan sedih kalo gak ada mereknya. Selain itu, disini juga menjual berbagai dompet dan tas mahal kayak Hermes dan LV. Tapi ya kembali lagi, model dan kualitas kulitnya sama tapi enggak bermerek. Soalnya toko ini umumnya hanya mengekspor kulitnya saja lalu proses produksinya ya diserahkan kepada brand tersebut. Jadi, tas yang dijual disini sebenarnya adalah KW Super sih. Untuk harga sendiri, menurutku sih masih mahal ya karena aku bukan anak sultan huehehehe. Jaket kulitnya dijual dengan harga 15 juta ke atas, kalo tas dan dompet aku lupa.
Selanjutnya, kami menuju destinasi yang sebenarnya yaitu Ephesus City. Disini kamu bisa melihat sisa bangunan kejayaan Romawi Kuno. Ephesus pada awalnya adalah kota Yunani kuno, namun kemudian direbut dan mengalami kejayaan pada masa kerajaan Romawi. Sehingga kamu dapat melihat perpaduan arsitektur Yunani dan Romawi dalam satu kawasan. Kota ini membuktikan adanya peradaban modern pada dahulu kala. Ok, gambar di sebelah kanan itu adalah Goddess of Victory. Logo sepatu Nike mengambil intisari dari legenda ini lho guys..
Setelah berkeliling di Ephesus City selama 1 jam lebih, kami segera makan siang lalu lanjut ke The White Travertines (Cotton Castle) dan Hierapolis Ancient City. Pamukkale artinya adalah ‘cotton castle’ dan Hierapolis adalah kota untuk Hiera (bagi yang penasaran ceritanya, googling aja ya). Kedua objek wisata ini berada dalam satu area yang sangat luas. Cotton Castle itu bentuknya seperti terasering dan di setiap kawahnya berisi air hangat sekitar 35 derajat celcius serta travertines, mineral karbonat yang ditinggalkan oleh air mengalir.

Di area ini kami diperbolehkan untuk merendam kaki. Tapi harus hati-hati ya karena kawahnya cukup licin dan berbatu. Ok, aku dan adikku enggak lama disini karena ya aku capek jalan pelan takut kalau kepleset plus bagian bawah jeansku sudah basah. Jangan sampe deh bagian atasnya ikutan basah. Aku memutuskan untuk ke spot yang lain yang disarankan oleh tour leaderku. Oh ya, TL ku itu namanya Linda Kezia dan dia seumuran denganku. Jadi lebih nyantai kalo mau tanya-tanya spot atau ngabur kayak gini karena nanti tinggal wa dia aja. Spot yang kami tuju adalah Cleopatra’s Pool. Kata Linda, ini dulunya adalah tempat Cleopatra mandi. Sesampainya disana aku langsung mikir, wah pantesan aja Cleopatra bisa cantik begitu, kolam renangnya aja bagus banget, air nya bersih, tempatnya luas, pokoknya pw lah buat berendam. Di sisi samping kolam, aku juga melihat bahwa banyak uang koin yang sepertinya sengaja dilemparkan ke dasar kolam. Aku enggak paham kenapa, ada yang tau ?
Aku berkeliling-keliling area tersebut lalu menuju Hierapolis Ancient City yang bentuknya adalah bangunan kuno dengan stadium yang super besaaaar. Jarak dari pool menuju bangunan ini cukup jauh dan melewati bukit berbatu yang gersang. Tapi pemandangan di Ancient City ini bagus sekali. Cotton Castle dan kota dibawahnya terlihat jelas.
Inilah spot terakhir yang bisa kami nikmati di destinasi wisata ini. Selanjutnya kami menuju hotel yaitu Colossae Thermal Hotel. Hotel ini enggak sebagus Ramada Resort Hotel, namun nilai plus dari hotel ini adalah memiliki kolam pemandian air panas yang bersumber dari tanah.
Day 4 : Pamukkale – Konya – Cappadocia
Hari ini adalah perjalanan terpanjang yang akan kami tempuh yaitu dengan perkiraan waktu 6 – 7 jam. Objek wisata utama yang akan dikunjungi hanya 1, yaitu Mevlana Museum. Namun, selama di perjalanan Mr. Muhammed mengajak kami singgah di beberapa tempat yang ok punya, salah satunya adalah Opium Field dan pas banget waktu kami datang itu sedang mekar semua bunganya.
Beberapa jam perjalanan, kami akhirnya kami sampai di Mevlana Museum Konya. Mevlana Museum adalah tempat bersemayamnya sang pujangga Turki sekaligus pencipta tari Sufi, yaitu Jalaludin Rumi. Kamu boleh masuk ke dalam museum ini dan melihat kedalam namun kakimu harus dibungkus oleh plastik yang disediakan. Museum ini sangat bagus karena dihiasi oleh banyak sekali bunga mawar merah serta mereka juga punya taman bunga yang luas.
Dari Konya, kami melanjutkan perjalanan menuju Cappadocia dan berhenti sejenak untuk mengunjungi The Sultanhani Caravanserai yang terletak di perlintasan jalur sutera Negara Turki. Dahulu, bangunan ini merupakan lokasi bertemunya pedagang yang melalui Konya-Aksaray sebelum berlanjut ke Cappadocia.
Kami sampai di Cappadocia sekitar pukul 9 malam. Sesampainya disana kami dibagi menjadi 2 grup, grup pertama yang tinggal di cave hotel sedangkan grup kedua yang tinggal di hotel reguler. Aku memilih untuk tinggal di hotel reguler karena aku paling paling paling tidak suka tidur di ruangan lembab dan tertutup seperti di dalam gua. Rasanya aku pasti ketakutan. Kupikir enggak ada yang tinggal di hotel reguler, tapi ternyata banyak juga yang sepemikiran denganku. Yang lebih melegakan lagi adalah Linda dan Mr. Muhammed ternyata nginep di hotel reguler bersama grupku. Hotel yang kami tinggali selama 2 malam di Cappadocia adalah Urgup Dinler Hotel.
Day 5 : Cappadocia
Hari itu kami harus sudah siap di lobby hotel jam 5 pagi. Kenapa? Karena kami akan hot air balloon dan highlight utamanya adalah melihat sunrise di atas balon udara. Aku dan Ajeng sangat bersyukur kami bisa terbang hari itu. Oh ya, meskipun kalian sudah booking beberapa hari sebelum terbang, tetap ada kemungkinan bahwa kalian enggak bisa terbang karena cuaca yang kurang mendukung. Kalian bisa pantau terus di website provider balon yang akan kalian naiki, lalu cari tau berapa persen kemungkinan akan terbangnya. Linda selalu ngecek dan dia selalu informasikan ke kami. Awalnya kami kecewa sekali karena dia bilang waktu masih di Konya kalau hari itu enggak bisa terbang. Cuma, kami segrup tetap optimis bahwa pasti bisa terbang. Maka, pagi itu kami tetap bersiap di lobby sambil harap-harap cemas apakah provider balon akan memberikan info pembatalan atau justru menjemput kami. Masa sih udah jauh-jauh ke Cappadocia begini tapi batal naik balon? Kan sedih banget ya… Tapi setelah beberapa lama menunggu, Linda dan Mr. Muhammed menginfokan bahwa kami semua bisa terbang. Puji Tuhan… Kami pun dijemput oleh provider balon dari Dinler Urgup menggunakan mini bus, lalu menjemput teman-teman di Cave Hotel juga.
FYI, hot air balloon merupakan atraksi yang sifatnya opsional. Kalian boleh mendaftar ataupun tetap di hotel saja. Atraksi ini enggak akan mengganggu jadwal tour hari tersebut karena dimulai sejak pagi dan diantarkan kembali ke hotel masing-masing sebelum jam 9 pagi. Jadi enggak akan menyebabkan keterlambatan tour yang dimulai jam setengah 10. Biaya untuk sekali terbang selama +/- 1 jam adalah 230 USD/orang. Tapi sebelum memutuskan naik balon, kalian harus memperhatikan beberapa hal nih. Balon yang akan kalian naiki itu bisa terdiri dari 2 orang, 16 orang, bahkan lebih besar lagi. Tergantung dengan jumlah orang dalam 1 grup (kalau memang terlalu sedikit bakalan dicampur dengan grup lain). Intinya sih ruang di dalam keranjang balon enggak boleh berlebih, dibuat pas dengan kapasitas balon. Oleh karena itu, di dalam keranjang itu kamu cuma punya space untuk berdiri aja. Buat gerak agak susah apalagi kalau mau eksis foto-foto syantik. Saranku sih jangan terlalu banyak bawa barang, tas besar, kamera ini itu. Kalian bakal diomelin orang karena makan tempat dan pasti kerepotan sendiri waktu mau naik ke keranjang (lompat tanpa tangga lho ini). Hmm meskipun sempit, tapi spacenya cukup buat seluruh penumpang untuk jongkok kok, karena memang posisi mendarat adalah duduk sambil memegang dinding keranjang.
Pengalaman naik balon menurutku seru banget. Kalian akan dibawa naik dan turun melewati lembah-lembah yang berlekuk. Selain itu, kalian juga bisa melihat banyak sekali balon yang terbang di sekitar kalian dengan warna dan motif parasut yang variatif.
Sesudah naik balon, kami diantarkan ke hotel untuk sekedar mandi atau sarapan. Perjalanan hari ini dimulai dengan mengunjungi Underground City alias kota bawah tanah. Menurutku ini bukan sekedar rumah bawah tanah tapi memang beneran kota karena ada akses yang menghubungkan satu area ke area lain seperti layaknya jalan raya. Area-areanya juga bermacam-macam, dan fungsinya bukan hanya tempat tinggal penduduk aja tapi ada juga tempat ibadah, dll. Suhu udara di kota bawah tanah itu sangat sejuk, seperti pake AC lho. Padahal waktu naik ke permukaan, wah super duper panas kayak dipanggang.
Jarak satu tempat wisata ke tempat wisata yang lain di Cappadocia saling berdekatan. Paling hanya butuh waktu sekitar 5 – 15 menit aja untuk berpindah tempat. Tempat kedua yang dikunjungi adalah Pigeon Valley. Di Pigeon Valley ini terdapat pohon yang ada banyak gantungan berbentuk mata. Gantungan khas Turki ini disebut dengan Evil’s Eye. Masyarakat Turki percaya simbol ini sebagai penolak atau penangkal bala, jadi umum diletakkan di depan rumah, di mobil, atau dipakai sebagai gantungan kunci aja.
Pigeon Valley dekat dengan tempat makan siang kami. Kami makan siang dengan menu barat, dilanjut dengan berkunjung ke beberapa toko pemerintah seperti toko karpet, keramik bahkan perhiasan. Aku sendiri sih enggak beli apa-apa mengingat rumahku udah penuh. Bagi kalian yang tertarik beli karpet, karpet Turki memang terkenal kan? Kalian bisa cari toko pemerintah yang menjual karpet buatan tangan kreasi dari kelompok wanita setempat. Disana disediakan fasilitas vakum atau pengiriman gratis ke Indonesia kok. Jadi kalian enggak perlu susah payah bawa karpet tersebut di koper. Aku lupa namanya, jadi maaf banget aku ga tulis ya disini. Oh ya, ada sesuatu yang spesial dari keramik disini karena glow in the dark. Ayo ayo yang pecinta keramik, jangan lupa mampir mumpung di Cappadocia.
Selanjutnya mampir sebentar ke Uchisar Valley. Kami tidak lama disitu, paling hanya 10 menit. Setelah ini adalah part paling melegakan di siang hari yang sangat terik yaitu makan es krim gratis. Turkish Ice Cream sangat terkenal, dan kami diperbolehkan untuk menikmatinya dengan gratis sambil mengantri berfoto dengan baju Ottoman.
Cappadocia artinya adalah the land of beautiful horses. Daerah ini menyimpan banyak sejarah mengenai pewartaan agama Katolik, sehingga terdapat gua-gua yang ternyata merupakan gereja. Tempat yang aku kunjungi adalah Goreme Open Air Museum. Goreme open air museum merupakan kompleks gereja dan biara yang berasal dari abad ke 11. Total ada sebanyak 14 gereja atau kapel, di antaranya Apple Church, Dark Church, Snake Church, St. Basil Church, Sandal Church, St. Catherine Chapel, dan sebagainya. Gereja ini dibangun dari bukit bebatuan lunak khas Cappadocia. Saat ini, tempat ini dipergunakan sebagai museum.
Siang sudah menuju sore, dan kami pun sampai di objek wisata terakhir hari tersebut yaitu Mushroom Headrock. Kami udah tepar sore itu karena memang seriusan panas banget udaranya. Setelah melihat objek wisata ini, kami diantar kembali ke hotel untuk istirahat sebentar dan makan malam. Malam ini kami kan menyaksikan Belly Dance Show di dalam gua.
Kami siap sekitar jam 7 malam dan menuju area menonton Belly Dance Show. Kupikir areanya adalah seperti teater gitu tapi ternyata adalah restoran. Kami segrup disatukan dalam satu meja panjang yang berisi banyak snack dan minuman. Snacknya mulai dari kacang pistachio, acar, buah sedangkan minumannya adalah beer, white wine, red wine, soda, orange juice. Semuanya bebas dimakan plus minumannya free flow. Aku akhirnya mencoba semuanya. Beernya lumayan enak sih. Hmm pertunjukan belly dance nya ya seperti dalam bayanganku. Diawali dengan penari cowok dan cewek yang menari tarian khas Turki lalu disambut penari utama yang menari perut. Penari itu menarik para cowok untuk diajak menari bersama. Ok, waktu itu lumayan kocak karena yang diajak salah satunya dari grupku. Namanya Ko Kevin, dia kalem banget. Si koko jadi salting gimana gitu hahahaha.. Tapi kebalikannya malah ada bencong Thailand yang menikmati. Bahkan si penarinya malah sampe duduk nontonin si bencong nari. Ketagihan nari nih rupanya!
Kami selesai jam 11 malam. Aku ngantukkkkk banget malam itu. Wah ini gara-gara aku minum semua minuman itu sih. Aku jadi khawatir juga, boleh gak ya soda, orange juice, beer, white dan red wine diminum bersamaan? Gawaaaaat.. Balik-balik aku langsung menggelepak.
Day 6 : Cappadocia – Ankara – Bolu
Hari terakhir di Cappadocia… sekarang menuju Ankara untuk mengunjungi Ataturk Mausoleum atau yang Mr. Muhammed bilang sebagai makam Mustafa Kemal Ataturk (Bapak Turki). Perjalanan cukup jauh dari Cappadocia ke Ankara. Oh ya, ini ada pengalaman mistis sedap dari beberapa orang yang nginep di Cave Hotel. Tapi karena yang nyeritain hal ini adalah mak-mak rempong, malah jadi lucu dan kami satu bus ngakak bukannya prihatin. Jadi ceritanya si mak rempong ini kan tinggal di Cave Hotel bareng sm kakak laki-lakinya. Cuma mereka beda kamar karena kakak laki-lakinya sama keluarga, dan akhirnya si mak rempong ini satu kamar dengan kakak perempuannya. Waktu pulang dari Belly Dance mak rempong dan kakak perempuannya ini capek banget sehingga enggak sempat sholat. Mereka langsung tidur dan pas malem hari itu tiba-tiba mak rempong ngerasa hidungnya dicolek. Tapi karena dia pikir mimpi, yaudah dia lanjut tidur lagi. Tiba-tiba dicolek lagi dong sampai beberapa kali. Si mak rempong kesel, lalu dia tutupin mukanya pakai pashmina. Out of the blue, pashminanya ditarik dan dia liat samar-samar muka cowok gitu. Dia langsung lari terbirit-birit keluar kamar menuju resepsionis dan gedor-gedor kamar kakak laki-lakinya. Si kakak laki-lakinya ini ngomel karena mengganggu banget pagi buta begitu. Si kakak perempuannya ini juga kaget adiknya diganggu setan dan ikutan panik terus lari juga. Aduh ngakak pas diceritain. Beberapa orang di bus memang ada yang sudah tau hal ini. Mereka baca review di internet dan konon katanya banyak yang diganggu. Fiuhhh untung kan aku dan Ajeng di hotel biasa, gak sanggup deh kalo ikutan merasakan seperti yang dialami mak rempong. Aku lemes pasti.
Menuju ke Ataturk Mausoleum, kami berhenti sejenak ke Salt Lake dengan pasir warna pink. Disini juga ada toko yang menjual berbagai produk dari Salt Lake. Ajeng sendiri akhirnya beli body scrub yang bentuknya ada gerusan garam kasar.

Kami sampai di Museum pada siang hari. Perjalanan dari pintu masuk menuju museum lumayan jauh, tapi pemandangan tamannya bagus. Jadi rasa capeknya terbayar. Ataturk merupakan sosok yang sangat dihormati oleh seluruh masyarakat Turki karena jasanya dalam membawa perubahan positif kepada negara tersebut. Salah satu yang paling aku ingat dari penjelasan Mr. Muhammed adalah dulunya masyarakat Turki tidak mengenal alfabet karena menggunakan bahasa arab dan Ataturk mengubahnya menjadi bahasa latin sehingga seluruh masyarakatnya dapat membaca. Ia juga membentuk Turki menjadi negara sekuler.
Kami tiba di Bolu sekitar jam 5. Hotel kami namanya adalah Hampton by Hilton Hotel. Kebetulan sekali nih, hotel kami enggak jauh dari mall. Cukup jalan kaki 5-10 menit aja sudah sampai. Kami semua akhirnya dengan semangat berjalan menuju 14 Burda AVM. Mall ini enggak mewah, tapi kamu bisa menemukan H&M, LCWaikiki, Starbucks disini. Cuma menurutku sih Starbucks di Turki kurang menarik karena koleksi tumblernya tidak ada yang khas. Aku dan Ajeng memutuskan untuk ke drug store dengan nama yang lucu yaitu Gratis. Disana produk dari L’oreal, Garnier, dll itu cukup lengkap jadi kami berbelanja banyak banget.
Day 7 : Bolu – Istanbul
Hari ke-7 adalah waktunya kami untuk balik ke Istanbul karena kami akan kembali ke Jakarta dari Bandara Internasional Istanbul. Kali ini kami tidak lagi menyebrang menggunakan kapal ferry, tapi melewati sebuah jembatan penghubung Benua Eropa dan Benua Asia. Destinasi hari ini adalah Haghia Sophia, Blue Mosque dan Taksim Square. Haghia Sophia merupakan bangunan gereja pada masa kejayaan Konstantinopel dan berubah menjadi masjid pada masa kekuasan Kesultanan Ustmaniyah. Kini bangunan ini digunakan sebagai museum. Blue Mosque saat ini masih digunakan sebagai tempat ibadah, namun tetap boleh dikunjungi oleh wisatawan. Untuk para wanita yang akan mengunjungi tempat ini, pastikan untuk menggunakan pakaian yang sopan dan menggunakan pashmina sebagai hijab. Kalau enggak bawa, kalian bisa pinjam disini, disediakan kok.
Setelah muter-muter, kami pun akhirnya menuju Taksim Square yang merupakan surga belanja. Hmm mirip mongkok di Hongkong kali ya, soalnya dia bukan mall seperti Tanah Abang tapi blok berisi bangunan kuno gitu. Disitu kalian bisa menemukan Mango, Nike, Kiehl’s, Starbucks, Watsons, Stradivarius, dll. Lelah juga kantong ini nurutin keinginan duniawi wkwkwk. Akhirnya kami sampai di hotel yaitu Ramada Tekstilkent Hotel. Hotel ini bagus seperti hotel Ramada sebelumnya, selain itu dia juga dekat dengan Mall of Istanbul. Cuma kali ini mall tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki karena harus melewati jalan tol. Akhirnya aku dan lainnya naik taksi. WOOOW ternyata orang Turki doyan ngebut saudara-saudara, jantungku rasanya kayak lagi dipacu buat balapan. Mall of Istanbul ini besar banget dan lengkap juga, cuma barang yang dijual itu mid-brand lho. Jadi jangan cari LV atau Hermes disini ya. Carinya di bandara aja!
Day 8 : Istanbul
Ini adalah hari terakhir kami di Turki karena malam harinya kami akan diantar ke bandara untuk flight jam 3 pagi hari berikutnya. Destinasinya tidak banyak karena hanya Bosphorus Cruise, Grand Bazaar dan Spice Market. Bosphorus Cruise cukup menyenangkan karena kami bisa melihat Benua Asia dan Benua Eropa serta villa-villa tempat orang kaya Turki menghabiskan liburan musim panasnya. Juga bisa melihat The Galata Bridge dengan berbagai restoran seafood di bawahnya.

Foto bareng Linda, TL ku 
Spice Market merupakan tempat yang menjual berbagai rempah dan bumbu, buah kering serta kudapan khas Turki. Disini teman-teman satu grupku banyak membeli iranian saffron yang terkenal berkhasiat. Aku sendiri hanya membeli Turkish Delight dan Ajeng membeli teh herbal dari bunga-bungaan yang kemudian dia blender menjadi bubuk begitu sampe di Indonesia. Ugh.. aku gak kuat deh meminumnya. It’s gross! Mr. Muhammed menyarankan kami membeli kopi turki disini karena menurutnya enak banget, namanya adalah Kurukahveci Mehmet Efendi. Kopi ini dijual dalam bentuk bubuk dengan pembelian dalam satuan kilogram.
Kami makan siang di bawah The Galata Bridge, dengan sajian utama ikan goreng. Rasa ikannya hambar (seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya), tapi rasa nasi ketannya itu asin banget. Aku sebenarnya kurang cocok dengan kombinasi menu ini. Mungkin akan lebih cocok kalo dimakan bareng kentang seperti di Fish & Co. Kami bergerak menuju destinasi terakhir kami yaitu Grand Bazaar yang menurutku lebih mirip seperti pasar baru. Enggak ada yang spesial dari tempat ini karena memang banyak barang yang bukan khas Turki, melainkan di impor dari China. Mr. Muhammed sendiri yang bilang. Aku dan Ajeng akhirnya ngabur menuju blok pertokoan di dekat Grand Bazaar. Kami menemukan toko LCWaikiki dan belanja disana. Linda ngasih kami rekomendasi untuk mencoba Nusr-Et Steakhouse di dalam Grand Bazaar ini. Katanya steak disini sangat enak, plus juga mahal. Di depan resto ini berdiri patung Salt Bae yang katanya sih terkenal banget (aku sebenarnya enggak tau, setelah itu baru aku googling). Salt Bae merupakan tukang daging, chef dan pemilik steakhouse ini.
Hari sudah sore ketika kami berkumpul lagi di bus. Kami pun diantarkan ke bandara dan berpamitan kepada Pak Supir dan Mr. Muhammed yang sudah menemani dan mengantarkan kami kesana kemari. Sesampainya di bandara kami segera check in dan diberikan waktu bebas sampai waktu boarding. Aku dan Ajeng memilih untuk ganti baju, jalan-jalan muterin bandara yang super luas itu, keluar masuk duty free shop dan nongkrong di Starbucks. Sebenernya kami udah ngantuk banget dan pengen tidur. Cuma masalahnya gate nya belum keluar sampe tengah malam dan takutnya kalo udah tidur dimana gitu, kami kebablasan. Kalo sudah tau gatenya kan bisa kumpul di satu titik aja. Kalo tidur pasti ada anggota yang kebangun dan juga Linda pasti absenin. Tapi syukurlah di jam 1 atau setengah 2 gitu, gatenya udah keluar dan kami bisa duduk santai.
Perjalanan kembali ke Indonesia sangat lama rasanya, karena seperti seharian di dalam pesawat melewati fase gelap-terang-gelap. Kami berangkat jam 3 pagi waktu Turki dan sampai di Indonesia sekitar jam 7 malam. Perjalanan ini memberikan pengalaman baru bagiku dan Ajeng untuk eksplor dunia secara lebih luas. Semoga berikutnya, kami punya kesempatan untuk bisa menjelajahi dunia seperti mimpi dan harapan kami ya. And so do you.. 🙂



















































































