A Whole New World

Halo teman-teman semua! Kali ini aku akan menceritakan liburan lebaranku pada bulan Mei – Juni 2019 ke Turki. Ini adalah pengalaman yang sangat menarik karena aku belum pernah travelling ke luar benua Asia, paling jauh itu ya hanya ke Korea dan Jepang. Nah ini pengalaman baru buatku. Selain itu, Negara Turki juga unik karena terletak di 2 benua yaitu Eropa dan Asia. Aku berangkat pada tanggal 30 Mei 2019 jam 21.00 menggunakan Turkish Airlines menuju Bandara Internasional Istanbul. Bandara baru ini berlokasi di benua Eropa dan termasuk dalam bandara terbesar di benua Eropa. Perjalanan Jakarta – Turki cukup panjang karena memakan waktu kurang lebih 12 jam tanpa transit. Oh ya, sekedar info bahwa sejak 6 April 2019 seluruh penerbangan komersial dipindahkan dari Bandara Internasional Ataturk ke Bandara Internasional Istanbul karena bandara lama tersebut hanya digunakan untuk kargo, maintenance, penerbangan diplomatik dan beberapa keperluan lain.

Aku pergi ke Turki hanya berdua dengan adikku jadi kami menggunakan jasa tour yaitu ATS Vacations. Pertimbangannya adalah karena Turki cukup luas, perjalanan dari Istanbul ke Cappadocia aja kurang lebih 800 km dengan waktu tempuh hampir 8 jam. Kebayang gak sih kalau kami harus sewa mobil lalu nyetir sendiri? Bisa sih naik bus, cuma transportasi disana belum terintegrasi seperti di Singapura atau negara maju lain, jadi kami berdua gak berani. Oh ya, selain itu kami juga sering mendengar bahwa Turki menjadi tempat pengungsian beberapa warga dari Suriah, Irak, Iran dan beberapa negara konflik yang berdekatan. Hal tersebut menjadikan beberapa daerah di Turki ini menjadi kurang aman. Kota yang sangat padat pengungsi salah satunya adalah Istanbul, makanya waktu itu kami serombongan benar-benar di minta oleh local guide untuk berhati-hati dengan barang bawaan kami. Tapi enggak perlu takut, asalkan kita enggak meleng kesana sini plus selalu menjaga barang kita dengan sebaik mungkin, pastinya sih aman-aman aja guys.

Day 1 : Istanbul – Canakkale

Kami sampai di Istanbul tanggal 31 Mei 2019 sekitar jam 09.00 waktu Indonesia. Perbedaan waktu Indonesia dan Turki adalah 4 jam dimana waktu Indonesia lebih cepat, yang artinya kami tiba sekitar jam 05.00 waktu Turki. Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah Masjid Biru (Blue Mosque/The Sultan Ahmed Mosque), Hagia Sophia Museum dan Sultan Ahmed Square. Kami dibawa kesana untuk lihat-lihat aja karena sebenarnya hanya mengisi waktu sebelum makan siang dan menyebrang ke Canakkale. Sultan Ahmed Square bentuknya seperti area terbuka luas yang dikenal dengan nama Hippodrome atau dikenal sebagai area pacuan kuda pada zaman dahulu. Di area tersebut terdapat tugu lancip yang dikenal sebagai Obelisk of Theodosius. Setelah itu, kami diajak oleh local guide yang bernama Mr. Muhammed menuju Istana Topkapi. Perjalanan dari Sultan Ahmed Square menuju Istana Topkapi ditempuh dengan jalan kaki karena hanya 7 menit / 600 m. Istana Topkapi dulunya merupakan tempat bersejarah yang dijadikan kediaman resmi Sultan Utsmaniyah selama lebih dari 600 tahun. Namun, kini sudah dijadikan museum dan masuk ke dalam Situs Warisan Dunia UNESCO. Dari Istana Topkapi ini, kita bisa melihat Selat Bosphorus dengan jelas.

Sesudah berkeliling kami diajak untuk makan dan bertolak menuju pelabuhan. Menu makanan yang disediakan hari ini cukup cocok dengan lidah Indonesia, yaitu Kofte atau meatball. FYI, makanan khas Turki rasanya hambar jadi menurutku pasti enggak akan cocok dengan lidah kalian. Aku jamin deh. Kalo kalian coba kebab yang rasanya enak banget di Indonesia, wah aslinya enggak begitu seriusan. Itu cuma modifikasi supaya masuk ke lidah orang Indonesia. Di Turki juga antara flat bread dengan dagingnya dipisah di 2 piring yang berbeda. Buat kalian yang akan travelling ke Turki, aku sarankan kalian bawa garam, kaldu bubuk plus sambal. Itu akan membantu banget untuk meningkatkan selera makan kalian. Oh ya, di Turki itu masakan paling enak itu yang berbau daging. Rasanya akan sangat enak berempah, tapi tetap aja sih enggak gurih tingkat dewa kayak di Indo dan pastinya kurang asin. Makanya kalian perlu adjust lagi dengan garam dan kaldu bubuk supaya lebih maknyus.

Apabila makan di Turki, kalian pasti akan disuguhkan salad dengan dressing minyak zaitun serta sup kental dengan roti. Itu seperti sudah sepaket dengan main course gitu. Tapi kalo aku pribadi, jaranggggg banget makan sup nya karena rasanya enggak cocok sama sekali. Bagi yang penasaran silahkan dicoba aja guys!

Selesai makan kami melanjutkan perjalanan ke pelabuhan yang jaraknya lumayan jauh. Namun, perjalanan di kapal enggak terlalu lama sih, kurang lebih hanya 1 jam. Kami menyebrang menuju kota Canakkale, tepatnya mengunjungi Trojan Horse Statue in Troy. Bagi kalian yang sudah pernah nonton film Troy (2004) pasti tau deh sejarahnya. Canakkale merupakan kota pelabuhan, sehingga kalian akan menemukan banyak sekali kapal-kapal kecil hingga besar berlabuh disana. Patung Kuda Troy letaknya enggak jauh dari pelabuhan, jadi setelah berfoto kami bisa menyusuri pinggir pelabuhan sembari menikmati angin sore. Perjalanan hari itu pun berakhir, kami segera diantar ke hotel untuk beristirahat. Hotel yang kami tempati bernama Iris Hotel. Hotel ini berada di tengah perumahan penduduk, sangat sepi, tidak terlalu besar tapi memiliki pemandangan pantai yang bagus. Restoran hotel menghadap langsung ke pantai.

Sekedar informasi aja sih guys, kalian perlu berhati-hati kalau makan buffet di resto ataupun hotel. Di Indonesia dan beberapa negara lain, kalau kita makan buffet minumnya pasti bebas sesuai dengan yang disediakan kan? Nah kalau di Turki ini, yang gratis biasanya hanya air putih, sedangkan minuman lain seperti teh, kopi atau jus bisa dikenakan biaya tambahan. Kalian perlu benar-benar teliti sebelum mengambil. Ini sih berdasarkan pengalamanku di Iris Hotel yang sembarangan mengambil teh lalu tiba-tiba ada pelayan yang nyamperin sambil bawa brankas. Ternyata aku ditagih biaya sebesar 6 TL. Sebenarnya sih enggak mahal banget sih, hanya sekitar 17 – 18 ribu cuma rasa kesel karena gak teliti itu lhooooo… Oh ya, ini juga berlaku untuk mini bar di dalam kamar ya. Umumnya yang gratis hanya air mineral botol saja. Tapi ada juga yang bayar. Makanya selalu tanyakan dengan jelas sama pelayannya, minuman apa saja yang gratis dan mana yang berbayar.

Day 2 : Canakkale – Ayvalik – Kusadasi

Destinasi utama pada hari kedua ini adalah Cunda Island dan House of Virgin Mary. Kami ke Cunda Island terlebih dahulu. Pemandangan yang disuguhkan disana adalah pelabuhan dengan banyak kapal serta tempat nongkrong yang cozy. Disini juga banyak penjual gelato yang kata Mr. Muhammed enak. Biar gak nyesel aku pun nyoba, tapi menurutku sih biasa aja. Kalo kalian pernah ke Tempo Gelato Jogja, aku lebih suka itu sih.

Setelah puas, kami melanjutkan perjalanan ke House of Virgin Mary yang terletak di Gunung Bulbul. Karena aku Katolik, aku cukup semangat sih ke tempat ini. Btw, ada fakta unik nih. Menurut Mr. Muhammed, kalo yang beragama Islam mau naik haji kan ke Arab. Nah kalo orang Katolik bisa dibilang haji kalo udah kesini. Ok lanjut nih, di House of Virgin Mary itu kalian bisa berdoa dan menggantungkan harapan. Disana juga ada air suci yang boleh kalian ambil. Area House of Virgin Mary tersebut lumayan besar, bahkan aku lihat ada area yang dulunya digunakan untuk pembaptisan.

Destinasi terakhir hari itu adalah menuju toko pemerintah yang bernama Mozaik. Toko ini menjual beragam jenis minyak seperti minyak zaitun, minyak bunga mawar, minyak argan; produk kecantikan yang mengandung minyak-minyak tersebut dan juga makanan dan minuman khas Turki seperti turkish delight, pismaniye, teh apel, teh delima, dll. Oh ya, pariwisata adalah sektor yang lagi digiatkan oleh Turki. Oleh sebab itu, pemerintah melakukan subsidi untuk perjalanan wisata ke Turki makanya kami dibawa ke toko-toko pemerintah guys.

Hari tersebut ditutup dengan istirahat di Kusadasi atau yang artinya ‘bird island’. Mr. Muhammed menyebutnya pigeon island. Kami bermalam di Ramada Resort Hotel, yang merupakan hotel terbaik sepanjang perjalanan ke Turki. Pemandangan dari balkon luar biasa bagus. Langsung menghadap ke perbukitan yang bersebelahan dengan laut lepas. Selain itu, hotel ini memiliki kolam renang yang sangat luas.

Day 3 : Kusadasi – Pamukkale

Perjalanan hari ketiga dimulai dengan mengunjungi Ephesus City. Tapi sebelum menuju kesana, kami terlebih dulu diajak ke toko pemerintah. Nama tokonya adalah Leather Factory Outlet. Disini produk unggulannya adalah jaket kulit dari biri-biri. Model jaketnya bagus karena memang biasanya merek-merek terkenal seperti Burberry, LV, dll membeli barang dari toko ini untuk dilabeli oleh mereka. Jadi bisa dibilang kualitasnya sama tapi harganya lebih murah. Jaket disini sangat ringan, enggak mudah pecah-pecah dan hebatnya lagi meskipun dilipat-lipat kayak gimana juga enggak lecek sama sekali. Bagi yang berminat beli disini ya jangan sedih kalo gak ada mereknya. Selain itu, disini juga menjual berbagai dompet dan tas mahal kayak Hermes dan LV. Tapi ya kembali lagi, model dan kualitas kulitnya sama tapi enggak bermerek. Soalnya toko ini umumnya hanya mengekspor kulitnya saja lalu proses produksinya ya diserahkan kepada brand tersebut. Jadi, tas yang dijual disini sebenarnya adalah KW Super sih. Untuk harga sendiri, menurutku sih masih mahal ya karena aku bukan anak sultan huehehehe. Jaket kulitnya dijual dengan harga 15 juta ke atas, kalo tas dan dompet aku lupa.

Selanjutnya, kami menuju destinasi yang sebenarnya yaitu Ephesus City. Disini kamu bisa melihat sisa bangunan kejayaan Romawi Kuno. Ephesus pada awalnya adalah kota Yunani kuno, namun kemudian direbut dan mengalami kejayaan pada masa kerajaan Romawi. Sehingga kamu dapat melihat perpaduan arsitektur Yunani dan Romawi dalam satu kawasan. Kota ini membuktikan adanya peradaban modern pada dahulu kala. Ok, gambar di sebelah kanan itu adalah Goddess of Victory. Logo sepatu Nike mengambil intisari dari legenda ini lho guys..

Setelah berkeliling di Ephesus City selama 1 jam lebih, kami segera makan siang lalu lanjut ke The White Travertines (Cotton Castle) dan Hierapolis Ancient City. Pamukkale artinya adalah ‘cotton castle’ dan Hierapolis adalah kota untuk Hiera (bagi yang penasaran ceritanya, googling aja ya). Kedua objek wisata ini berada dalam satu area yang sangat luas. Cotton Castle itu bentuknya seperti terasering dan di setiap kawahnya berisi air hangat sekitar 35 derajat celcius serta travertines, mineral karbonat yang ditinggalkan oleh air mengalir.

Di area ini kami diperbolehkan untuk merendam kaki. Tapi harus hati-hati ya karena kawahnya cukup licin dan berbatu. Ok, aku dan adikku enggak lama disini karena ya aku capek jalan pelan takut kalau kepleset plus bagian bawah jeansku sudah basah. Jangan sampe deh bagian atasnya ikutan basah. Aku memutuskan untuk ke spot yang lain yang disarankan oleh tour leaderku. Oh ya, TL ku itu namanya Linda Kezia dan dia seumuran denganku. Jadi lebih nyantai kalo mau tanya-tanya spot atau ngabur kayak gini karena nanti tinggal wa dia aja. Spot yang kami tuju adalah Cleopatra’s Pool. Kata Linda, ini dulunya adalah tempat Cleopatra mandi. Sesampainya disana aku langsung mikir, wah pantesan aja Cleopatra bisa cantik begitu, kolam renangnya aja bagus banget, air nya bersih, tempatnya luas, pokoknya pw lah buat berendam. Di sisi samping kolam, aku juga melihat bahwa banyak uang koin yang sepertinya sengaja dilemparkan ke dasar kolam. Aku enggak paham kenapa, ada yang tau ?

Aku berkeliling-keliling area tersebut lalu menuju Hierapolis Ancient City yang bentuknya adalah bangunan kuno dengan stadium yang super besaaaar. Jarak dari pool menuju bangunan ini cukup jauh dan melewati bukit berbatu yang gersang. Tapi pemandangan di Ancient City ini bagus sekali. Cotton Castle dan kota dibawahnya terlihat jelas.

Inilah spot terakhir yang bisa kami nikmati di destinasi wisata ini. Selanjutnya kami menuju hotel yaitu Colossae Thermal Hotel. Hotel ini enggak sebagus Ramada Resort Hotel, namun nilai plus dari hotel ini adalah memiliki kolam pemandian air panas yang bersumber dari tanah.

Day 4 : Pamukkale – Konya – Cappadocia

Hari ini adalah perjalanan terpanjang yang akan kami tempuh yaitu dengan perkiraan waktu 6 – 7 jam. Objek wisata utama yang akan dikunjungi hanya 1, yaitu Mevlana Museum. Namun, selama di perjalanan Mr. Muhammed mengajak kami singgah di beberapa tempat yang ok punya, salah satunya adalah Opium Field dan pas banget waktu kami datang itu sedang mekar semua bunganya.

Beberapa jam perjalanan, kami akhirnya kami sampai di Mevlana Museum Konya. Mevlana Museum adalah tempat bersemayamnya sang pujangga Turki sekaligus pencipta tari Sufi, yaitu Jalaludin Rumi. Kamu boleh masuk ke dalam museum ini dan melihat kedalam namun kakimu harus dibungkus oleh plastik yang disediakan. Museum ini sangat bagus karena dihiasi oleh banyak sekali bunga mawar merah serta mereka juga punya taman bunga yang luas.

Dari Konya, kami melanjutkan perjalanan menuju Cappadocia dan berhenti sejenak untuk mengunjungi The Sultanhani Caravanserai yang terletak di perlintasan jalur sutera Negara Turki. Dahulu, bangunan ini merupakan lokasi bertemunya pedagang yang melalui Konya-Aksaray sebelum berlanjut ke Cappadocia.

Kami sampai di Cappadocia sekitar pukul 9 malam. Sesampainya disana kami dibagi menjadi 2 grup, grup pertama yang tinggal di cave hotel sedangkan grup kedua yang tinggal di hotel reguler. Aku memilih untuk tinggal di hotel reguler karena aku paling paling paling tidak suka tidur di ruangan lembab dan tertutup seperti di dalam gua. Rasanya aku pasti ketakutan. Kupikir enggak ada yang tinggal di hotel reguler, tapi ternyata banyak juga yang sepemikiran denganku. Yang lebih melegakan lagi adalah Linda dan Mr. Muhammed ternyata nginep di hotel reguler bersama grupku. Hotel yang kami tinggali selama 2 malam di Cappadocia adalah Urgup Dinler Hotel.

Day 5 : Cappadocia

Hari itu kami harus sudah siap di lobby hotel jam 5 pagi. Kenapa? Karena kami akan hot air balloon dan highlight utamanya adalah melihat sunrise di atas balon udara. Aku dan Ajeng sangat bersyukur kami bisa terbang hari itu. Oh ya, meskipun kalian sudah booking beberapa hari sebelum terbang, tetap ada kemungkinan bahwa kalian enggak bisa terbang karena cuaca yang kurang mendukung. Kalian bisa pantau terus di website provider balon yang akan kalian naiki, lalu cari tau berapa persen kemungkinan akan terbangnya. Linda selalu ngecek dan dia selalu informasikan ke kami. Awalnya kami kecewa sekali karena dia bilang waktu masih di Konya kalau hari itu enggak bisa terbang. Cuma, kami segrup tetap optimis bahwa pasti bisa terbang. Maka, pagi itu kami tetap bersiap di lobby sambil harap-harap cemas apakah provider balon akan memberikan info pembatalan atau justru menjemput kami. Masa sih udah jauh-jauh ke Cappadocia begini tapi batal naik balon? Kan sedih banget ya… Tapi setelah beberapa lama menunggu, Linda dan Mr. Muhammed menginfokan bahwa kami semua bisa terbang. Puji Tuhan… Kami pun dijemput oleh provider balon dari Dinler Urgup menggunakan mini bus, lalu menjemput teman-teman di Cave Hotel juga.

FYI, hot air balloon merupakan atraksi yang sifatnya opsional. Kalian boleh mendaftar ataupun tetap di hotel saja. Atraksi ini enggak akan mengganggu jadwal tour hari tersebut karena dimulai sejak pagi dan diantarkan kembali ke hotel masing-masing sebelum jam 9 pagi. Jadi enggak akan menyebabkan keterlambatan tour yang dimulai jam setengah 10. Biaya untuk sekali terbang selama +/- 1 jam adalah 230 USD/orang. Tapi sebelum memutuskan naik balon, kalian harus memperhatikan beberapa hal nih. Balon yang akan kalian naiki itu bisa terdiri dari 2 orang, 16 orang, bahkan lebih besar lagi. Tergantung dengan jumlah orang dalam 1 grup (kalau memang terlalu sedikit bakalan dicampur dengan grup lain). Intinya sih ruang di dalam keranjang balon enggak boleh berlebih, dibuat pas dengan kapasitas balon. Oleh karena itu, di dalam keranjang itu kamu cuma punya space untuk berdiri aja. Buat gerak agak susah apalagi kalau mau eksis foto-foto syantik. Saranku sih jangan terlalu banyak bawa barang, tas besar, kamera ini itu. Kalian bakal diomelin orang karena makan tempat dan pasti kerepotan sendiri waktu mau naik ke keranjang (lompat tanpa tangga lho ini). Hmm meskipun sempit, tapi spacenya cukup buat seluruh penumpang untuk jongkok kok, karena memang posisi mendarat adalah duduk sambil memegang dinding keranjang.

Pengalaman naik balon menurutku seru banget. Kalian akan dibawa naik dan turun melewati lembah-lembah yang berlekuk. Selain itu, kalian juga bisa melihat banyak sekali balon yang terbang di sekitar kalian dengan warna dan motif parasut yang variatif.

Sesudah naik balon, kami diantarkan ke hotel untuk sekedar mandi atau sarapan. Perjalanan hari ini dimulai dengan mengunjungi Underground City alias kota bawah tanah. Menurutku ini bukan sekedar rumah bawah tanah tapi memang beneran kota karena ada akses yang menghubungkan satu area ke area lain seperti layaknya jalan raya. Area-areanya juga bermacam-macam, dan fungsinya bukan hanya tempat tinggal penduduk aja tapi ada juga tempat ibadah, dll. Suhu udara di kota bawah tanah itu sangat sejuk, seperti pake AC lho. Padahal waktu naik ke permukaan, wah super duper panas kayak dipanggang.

Jarak satu tempat wisata ke tempat wisata yang lain di Cappadocia saling berdekatan. Paling hanya butuh waktu sekitar 5 – 15 menit aja untuk berpindah tempat. Tempat kedua yang dikunjungi adalah Pigeon Valley. Di Pigeon Valley ini terdapat pohon yang ada banyak gantungan berbentuk mata. Gantungan khas Turki ini disebut dengan Evil’s Eye. Masyarakat Turki percaya simbol ini sebagai penolak atau penangkal bala, jadi umum diletakkan di depan rumah, di mobil, atau dipakai sebagai gantungan kunci aja.

Pigeon Valley dekat dengan tempat makan siang kami. Kami makan siang dengan menu barat, dilanjut dengan berkunjung ke beberapa toko pemerintah seperti toko karpet, keramik bahkan perhiasan. Aku sendiri sih enggak beli apa-apa mengingat rumahku udah penuh. Bagi kalian yang tertarik beli karpet, karpet Turki memang terkenal kan? Kalian bisa cari toko pemerintah yang menjual karpet buatan tangan kreasi dari kelompok wanita setempat. Disana disediakan fasilitas vakum atau pengiriman gratis ke Indonesia kok. Jadi kalian enggak perlu susah payah bawa karpet tersebut di koper. Aku lupa namanya, jadi maaf banget aku ga tulis ya disini. Oh ya, ada sesuatu yang spesial dari keramik disini karena glow in the dark. Ayo ayo yang pecinta keramik, jangan lupa mampir mumpung di Cappadocia.

Selanjutnya mampir sebentar ke Uchisar Valley. Kami tidak lama disitu, paling hanya 10 menit. Setelah ini adalah part paling melegakan di siang hari yang sangat terik yaitu makan es krim gratis. Turkish Ice Cream sangat terkenal, dan kami diperbolehkan untuk menikmatinya dengan gratis sambil mengantri berfoto dengan baju Ottoman.

Cappadocia artinya adalah the land of beautiful horses. Daerah ini menyimpan banyak sejarah mengenai pewartaan agama Katolik, sehingga terdapat gua-gua yang ternyata merupakan gereja. Tempat yang aku kunjungi adalah Goreme Open Air Museum. Goreme open air museum merupakan kompleks gereja dan biara yang berasal dari abad ke 11. Total ada sebanyak 14 gereja atau kapel, di antaranya Apple Church, Dark Church, Snake Church, St. Basil Church, Sandal Church, St. Catherine Chapel, dan sebagainya. Gereja ini dibangun dari bukit bebatuan lunak khas Cappadocia. Saat ini, tempat ini dipergunakan sebagai museum.

Siang sudah menuju sore, dan kami pun sampai di objek wisata terakhir hari tersebut yaitu Mushroom Headrock. Kami udah tepar sore itu karena memang seriusan panas banget udaranya. Setelah melihat objek wisata ini, kami diantar kembali ke hotel untuk istirahat sebentar dan makan malam. Malam ini kami kan menyaksikan Belly Dance Show di dalam gua.

Kami siap sekitar jam 7 malam dan menuju area menonton Belly Dance Show. Kupikir areanya adalah seperti teater gitu tapi ternyata adalah restoran. Kami segrup disatukan dalam satu meja panjang yang berisi banyak snack dan minuman. Snacknya mulai dari kacang pistachio, acar, buah sedangkan minumannya adalah beer, white wine, red wine, soda, orange juice. Semuanya bebas dimakan plus minumannya free flow. Aku akhirnya mencoba semuanya. Beernya lumayan enak sih. Hmm pertunjukan belly dance nya ya seperti dalam bayanganku. Diawali dengan penari cowok dan cewek yang menari tarian khas Turki lalu disambut penari utama yang menari perut. Penari itu menarik para cowok untuk diajak menari bersama. Ok, waktu itu lumayan kocak karena yang diajak salah satunya dari grupku. Namanya Ko Kevin, dia kalem banget. Si koko jadi salting gimana gitu hahahaha.. Tapi kebalikannya malah ada bencong Thailand yang menikmati. Bahkan si penarinya malah sampe duduk nontonin si bencong nari. Ketagihan nari nih rupanya!

Kami selesai jam 11 malam. Aku ngantukkkkk banget malam itu. Wah ini gara-gara aku minum semua minuman itu sih. Aku jadi khawatir juga, boleh gak ya soda, orange juice, beer, white dan red wine diminum bersamaan? Gawaaaaat.. Balik-balik aku langsung menggelepak.

Day 6 : Cappadocia – Ankara – Bolu

Hari terakhir di Cappadocia… sekarang menuju Ankara untuk mengunjungi Ataturk Mausoleum atau yang Mr. Muhammed bilang sebagai makam Mustafa Kemal Ataturk (Bapak Turki). Perjalanan cukup jauh dari Cappadocia ke Ankara. Oh ya, ini ada pengalaman mistis sedap dari beberapa orang yang nginep di Cave Hotel. Tapi karena yang nyeritain hal ini adalah mak-mak rempong, malah jadi lucu dan kami satu bus ngakak bukannya prihatin. Jadi ceritanya si mak rempong ini kan tinggal di Cave Hotel bareng sm kakak laki-lakinya. Cuma mereka beda kamar karena kakak laki-lakinya sama keluarga, dan akhirnya si mak rempong ini satu kamar dengan kakak perempuannya. Waktu pulang dari Belly Dance mak rempong dan kakak perempuannya ini capek banget sehingga enggak sempat sholat. Mereka langsung tidur dan pas malem hari itu tiba-tiba mak rempong ngerasa hidungnya dicolek. Tapi karena dia pikir mimpi, yaudah dia lanjut tidur lagi. Tiba-tiba dicolek lagi dong sampai beberapa kali. Si mak rempong kesel, lalu dia tutupin mukanya pakai pashmina. Out of the blue, pashminanya ditarik dan dia liat samar-samar muka cowok gitu. Dia langsung lari terbirit-birit keluar kamar menuju resepsionis dan gedor-gedor kamar kakak laki-lakinya. Si kakak laki-lakinya ini ngomel karena mengganggu banget pagi buta begitu. Si kakak perempuannya ini juga kaget adiknya diganggu setan dan ikutan panik terus lari juga. Aduh ngakak pas diceritain. Beberapa orang di bus memang ada yang sudah tau hal ini. Mereka baca review di internet dan konon katanya banyak yang diganggu. Fiuhhh untung kan aku dan Ajeng di hotel biasa, gak sanggup deh kalo ikutan merasakan seperti yang dialami mak rempong. Aku lemes pasti.

Menuju ke Ataturk Mausoleum, kami berhenti sejenak ke Salt Lake dengan pasir warna pink. Disini juga ada toko yang menjual berbagai produk dari Salt Lake. Ajeng sendiri akhirnya beli body scrub yang bentuknya ada gerusan garam kasar.

Kami sampai di Museum pada siang hari. Perjalanan dari pintu masuk menuju museum lumayan jauh, tapi pemandangan tamannya bagus. Jadi rasa capeknya terbayar. Ataturk merupakan sosok yang sangat dihormati oleh seluruh masyarakat Turki karena jasanya dalam membawa perubahan positif kepada negara tersebut. Salah satu yang paling aku ingat dari penjelasan Mr. Muhammed adalah dulunya masyarakat Turki tidak mengenal alfabet karena menggunakan bahasa arab dan Ataturk mengubahnya menjadi bahasa latin sehingga seluruh masyarakatnya dapat membaca. Ia juga membentuk Turki menjadi negara sekuler.

Kami tiba di Bolu sekitar jam 5. Hotel kami namanya adalah Hampton by Hilton Hotel. Kebetulan sekali nih, hotel kami enggak jauh dari mall. Cukup jalan kaki 5-10 menit aja sudah sampai. Kami semua akhirnya dengan semangat berjalan menuju 14 Burda AVM. Mall ini enggak mewah, tapi kamu bisa menemukan H&M, LCWaikiki, Starbucks disini. Cuma menurutku sih Starbucks di Turki kurang menarik karena koleksi tumblernya tidak ada yang khas. Aku dan Ajeng memutuskan untuk ke drug store dengan nama yang lucu yaitu Gratis. Disana produk dari L’oreal, Garnier, dll itu cukup lengkap jadi kami berbelanja banyak banget.

Day 7 : Bolu – Istanbul

Hari ke-7 adalah waktunya kami untuk balik ke Istanbul karena kami akan kembali ke Jakarta dari Bandara Internasional Istanbul. Kali ini kami tidak lagi menyebrang menggunakan kapal ferry, tapi melewati sebuah jembatan penghubung Benua Eropa dan Benua Asia. Destinasi hari ini adalah Haghia Sophia, Blue Mosque dan Taksim Square. Haghia Sophia merupakan bangunan gereja pada masa kejayaan Konstantinopel dan berubah menjadi masjid pada masa kekuasan Kesultanan Ustmaniyah. Kini bangunan ini digunakan sebagai museum. Blue Mosque saat ini masih digunakan sebagai tempat ibadah, namun tetap boleh dikunjungi oleh wisatawan. Untuk para wanita yang akan mengunjungi tempat ini, pastikan untuk menggunakan pakaian yang sopan dan menggunakan pashmina sebagai hijab. Kalau enggak bawa, kalian bisa pinjam disini, disediakan kok.

Setelah muter-muter, kami pun akhirnya menuju Taksim Square yang merupakan surga belanja. Hmm mirip mongkok di Hongkong kali ya, soalnya dia bukan mall seperti Tanah Abang tapi blok berisi bangunan kuno gitu. Disitu kalian bisa menemukan Mango, Nike, Kiehl’s, Starbucks, Watsons, Stradivarius, dll. Lelah juga kantong ini nurutin keinginan duniawi wkwkwk. Akhirnya kami sampai di hotel yaitu Ramada Tekstilkent Hotel. Hotel ini bagus seperti hotel Ramada sebelumnya, selain itu dia juga dekat dengan Mall of Istanbul. Cuma kali ini mall tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki karena harus melewati jalan tol. Akhirnya aku dan lainnya naik taksi. WOOOW ternyata orang Turki doyan ngebut saudara-saudara, jantungku rasanya kayak lagi dipacu buat balapan. Mall of Istanbul ini besar banget dan lengkap juga, cuma barang yang dijual itu mid-brand lho. Jadi jangan cari LV atau Hermes disini ya. Carinya di bandara aja!

Day 8 : Istanbul

Ini adalah hari terakhir kami di Turki karena malam harinya kami akan diantar ke bandara untuk flight jam 3 pagi hari berikutnya. Destinasinya tidak banyak karena hanya Bosphorus Cruise, Grand Bazaar dan Spice Market. Bosphorus Cruise cukup menyenangkan karena kami bisa melihat Benua Asia dan Benua Eropa serta villa-villa tempat orang kaya Turki menghabiskan liburan musim panasnya. Juga bisa melihat The Galata Bridge dengan berbagai restoran seafood di bawahnya.

Spice Market merupakan tempat yang menjual berbagai rempah dan bumbu, buah kering serta kudapan khas Turki. Disini teman-teman satu grupku banyak membeli iranian saffron yang terkenal berkhasiat. Aku sendiri hanya membeli Turkish Delight dan Ajeng membeli teh herbal dari bunga-bungaan yang kemudian dia blender menjadi bubuk begitu sampe di Indonesia. Ugh.. aku gak kuat deh meminumnya. It’s gross! Mr. Muhammed menyarankan kami membeli kopi turki disini karena menurutnya enak banget, namanya adalah Kurukahveci Mehmet Efendi. Kopi ini dijual dalam bentuk bubuk dengan pembelian dalam satuan kilogram.

Kami makan siang di bawah The Galata Bridge, dengan sajian utama ikan goreng. Rasa ikannya hambar (seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya), tapi rasa nasi ketannya itu asin banget. Aku sebenarnya kurang cocok dengan kombinasi menu ini. Mungkin akan lebih cocok kalo dimakan bareng kentang seperti di Fish & Co. Kami bergerak menuju destinasi terakhir kami yaitu Grand Bazaar yang menurutku lebih mirip seperti pasar baru. Enggak ada yang spesial dari tempat ini karena memang banyak barang yang bukan khas Turki, melainkan di impor dari China. Mr. Muhammed sendiri yang bilang. Aku dan Ajeng akhirnya ngabur menuju blok pertokoan di dekat Grand Bazaar. Kami menemukan toko LCWaikiki dan belanja disana. Linda ngasih kami rekomendasi untuk mencoba Nusr-Et Steakhouse di dalam Grand Bazaar ini. Katanya steak disini sangat enak, plus juga mahal. Di depan resto ini berdiri patung Salt Bae yang katanya sih terkenal banget (aku sebenarnya enggak tau, setelah itu baru aku googling). Salt Bae merupakan tukang daging, chef dan pemilik steakhouse ini.

Hari sudah sore ketika kami berkumpul lagi di bus. Kami pun diantarkan ke bandara dan berpamitan kepada Pak Supir dan Mr. Muhammed yang sudah menemani dan mengantarkan kami kesana kemari. Sesampainya di bandara kami segera check in dan diberikan waktu bebas sampai waktu boarding. Aku dan Ajeng memilih untuk ganti baju, jalan-jalan muterin bandara yang super luas itu, keluar masuk duty free shop dan nongkrong di Starbucks. Sebenernya kami udah ngantuk banget dan pengen tidur. Cuma masalahnya gate nya belum keluar sampe tengah malam dan takutnya kalo udah tidur dimana gitu, kami kebablasan. Kalo sudah tau gatenya kan bisa kumpul di satu titik aja. Kalo tidur pasti ada anggota yang kebangun dan juga Linda pasti absenin. Tapi syukurlah di jam 1 atau setengah 2 gitu, gatenya udah keluar dan kami bisa duduk santai.

Perjalanan kembali ke Indonesia sangat lama rasanya, karena seperti seharian di dalam pesawat melewati fase gelap-terang-gelap. Kami berangkat jam 3 pagi waktu Turki dan sampai di Indonesia sekitar jam 7 malam. Perjalanan ini memberikan pengalaman baru bagiku dan Ajeng untuk eksplor dunia secara lebih luas. Semoga berikutnya, kami punya kesempatan untuk bisa menjelajahi dunia seperti mimpi dan harapan kami ya. And so do you.. 🙂

Get Lost in Singapore!

Hi all! Aku akan menceritakan pengalaman travellingku bersama teman SMP ku yang bernama Nia. Trip ini barusan aja aku lakukan, yaitu di tanggal 10 – 14 Agustus 2019. Aku dan Nia berteman mulai kelas 2 SMP, setelahnya kami tidak pernah sekelas namun tetap berteman sampai saat ini. Aku masih akrab dengan dia karena bisa dibilang kami 1 frekuensi. Jadi, dari awalnya trip ini cuma ‘ayo ayo’ belaka dan akhirnya bisa terlaksana. Aku dan dia sangat puas, juga hepi! 🙂

Yak, kami pesan semua tiket melalui Tiket.com dan Traveloka. Dari beberapa bulan sebelum keberangkatan, kami membandingkan harga dari satu platform ke platform lain beserta diskon-diskon yang ditawarkan. Sebenarnya, kami sudah berencana pesan semua tiket sebulan sebelum keberangkatan….. namun karena paspor ku passss banget 6 bulan sebelum habis, aku harus perpanjang paspor dulu. Aku perpanjang paspor setelah resign kerja di akhir Juli. Awal Agustus aku perpanjang, udah gitu ada masalah di sistemnya juga.. Aku sebenernya udah deg2an ini bisa berangkat apa enggak, tapi akhirnya bisa juga di proses tuh paspor. Setelah paspor udah diproses, aku dan Nia baru berani booking hotel dan beli tiket atraksi. Setelah paspor udah di tangan, kami baru beli tiket pesawat. Lumayan nekat, paspor jadi hari Senin dan malamnya langsung beli tiket pesawat. Hari Sabtu pagi kami pun berangkat. Untungggg cuma Singapura, kalo negara lain sih aku gak berani semepet itu.

Harga tiket (Tiket.com) :

  1. Jakarta (CGK) – Singapore (SIN) = Batik Air Economy (Incl. Breakfast + Bag 20 kg)
  2. Singapore (SIN) – Jakarta (CGK) = Garuda Indonesia Economy (Incl. Dinner + Bag 30 kg)

Totalnya adalah Rp 2.626.358,- / pax (ini aku total saja ya karena kami pesan untuk 2 pax dan dapat diskon 1jt lebih, jadi ini final price nya)

DAY 1 : SENTOSA ISLAND

Kami sampai Changi Airport Singapura sekitar jam setengah 11 (jam Singapura), lalu dilanjut dengan ambil bagasi, mengurus kedatangan di imigrasi & reedem voucher Singapore 4G prepaid simcard + Singapore EZ-Link. Singapore 4G prepaid simcard aku reedem di konter M1 Cheers Convenience Store Changi Airport, sedangkan Singapore EZ-Link di konter Changi Recommend Changi Airport. Aku beli paketan di traveloka dan harganya :

  1. Singapore 4G prepaid simcard : Rp 123.321,-/ pax
  2. COMBO (Singapore EZ-Link + Sentosa Monorail Express) : Rp 140.919,- / pax

* Hmm menurutku agak useless sih beli paketan Singapore Monorail Express, karena toh ternyata monorail itu bisa dibayar pake EZ-Link juga. Aku gak searching info secara detail, asumsiku itu enggak bisa dibayar pake EZ-Link dan sifat nya unlimited acces. Ternyata voucher itu cuma bisa di-reedem sekali dan dipakai dalam 1 hari doang. Aku sih merasa rugi karena akan ke Sentosa 2x, pertama buat jalan-jalan ke Sentosa dan kedua ke USS + Madame Tussauds. Kalo kalian cuma mau ke Sentosa sekali doang sih ga rugi kali ya. Tapi kalo 2x seperti aku, itu gak praktis karena kan trip keduanya tetap harus pake EZ-Link atau tetap beli Singapore Monorail Express. Aku malah jadi mikir, wah kalo gitu mendingan sekalian pake EZ-Link aja bayarnya. FYI, Harganya 4 SGD per trip. Saranku kalian pakai EZ-Link aja deh gak usah beli Sentosa Monorail Express

* Begitu kalian beli EZ-Link, kartu tersebut akan jadi punya kalian dan bisa digunakan kapan aja kalian kembali ke Singapura dalam kurun waktu 5 tahun sejak aktivasi. Oh ya, saldo awal yang kalian dapatkan adalah 5 SGD dan bisa di top up di stasiun MRT atau sevel.

Setelah selesai dengan urusan reedem voucher, kami naik MRT disambung dengan bus menuju hotel kami yang terletak di daerah Pasir Panjang. Nama Hotelnya adalah Santa Grand Hotel West Coast, letaknya di 428 Pasir Panjang Rd, Singapore 118769, Queenstown. Halte terdekat dari hotel tersebut adalah Palm Green Condo. Tinggal nyebrang doang kalo kalian turun dari halte itu. Kesan kami sih hotelnya cukup bagus, bersih dan daerahnya nyaman karena sepi. Jadi kalo kamu membayangkan bakal berada di daerah yang super ramai kayak di Orchard/Bugis/China Town, kamu salah besar deh. Hotel tersebut dekat dengan NUS, jadi ya kebanyakan penghuni di daerah situ adalah pelajar. Sebelah-sebelah hotelnya juga itu perumahan penduduk, jadi ya selain mahasiswa tentunya banyak warga Singapura. Jangan khawatir gak ada makanan ya, masih ada Sevel dan gerai-gerai makanan di pinggir jalan. Oh ya, kami ke hotel cuma untuk check in dan drop off bagasi. Perjalanan kami lanjut lagi dengan naik bus menuju VivoCity. Agenda perjalanan hari itu adalah jalan-jalan di Sentosa dan main Luge + Skyride. Tiket Luge + Skyride kami beli dari Traveloka dengan harga Rp 950.036,-/pax (Combo : USS + Luge & Skyride). Dari VivoCity, kami naik Sentosa Monorail Express menuju Sentosa Beach. Sumpah antrian untuk Luge + Skyride panjang banget deh. Kami antri sekitar 1 jam lebih untuk 2 ways ride (2x Luge & 2x Skyride). Setelah main, kami mampir ke mcd buat beli lemon tea dan nongkrong di pinggir pantai. Menikmati musik dari club pinggir pantai plus angin sepoi-sepoi. Pas banget waktu kami disana, lagi ada event Sentosa Grillfest. Jadi banyak banget tuh makanan-makanan yang dibakar, sampe bahkan ada durian bakar coba. Aku gak beli apa-apa karena emang udah kenyang banget akibat makan mie bebek di Food Republic VivoCity siangnya. Sekitar jam 9 kami pun pulang menuju hotel karena udah tepar.

DAY 2 : GARDEN BY THE BAY

Hari kedua kami awali dengan mengikuti misa pagi di Church of Holy Cross yang terletak di daerah Clementi. Setelah itu kami naik bus menuju Garden by The Bay. Tiket kami beli dari Traveloka dengan harga Rp 387.728,- /pax (Combo : Garden by The Bay + ArtScience Museum). Pertama kami masuk ke area Flower Dome terlebih dahulu. Saat itu, temanya adalah Orchid Extravaganza jadi banyak banget anggrek cantik yang bertebaran. Area kedua yang kami kunjungi adalah Cloud Forest.

Setelah dari Garden by The Bay, kami segera menuju Suntec City untuk Duck Tour. Ternyata sampe disana ada masalah.. Jadi antara Traveloka, BeMyGuest (agen dari Singapura), dan aku itu seperti miskom gitu. Pada saat pesan paket Duck Tour itu, aku sudah disuruh pilih tanggal (11 Agustus 2019) dan time slot (16.00 – 19.00). Sudah diberitau juga kalau itu sifatnya fixed date & time, jadi ga seperti tiket-tiket lain yang valid date nya panjang. Aku sudah note semua info itu. Dengan santainya, aku datang dan bilang mau reedem. Tapi ternyata petugasnya bilang seharusnya aku mendapatkan certain time untuk tour tersebut. Aku dan Nia bingung dong, kami gak di infokan apa-apa. Aku kontak Traveloka dan gak dapat jawaban apa-apa. Aku kontak BeMyGuest dan dia cuma bilang kalo tiket berakhir hari itu. Aku jadinya bernegosiasi dengan BeMyGuest dan staff Duck Tour untuk tetap dapat slot. Fiuhhh.. Akhirnya bisa juga tour untuk hari berikutnya jam 6 sore. Lega banget sumpah karena awalnya udah panik itu tiket bakalan hangus begitu aja. Sudah beres, kami akhirnya menuju Singapore Flyer karena tiketnya memang combo. Harganya adalah Rp 729.161,-/pax. Kami jalan dari Suntec menuju Singapore Flyer, dan sesampainya disana voucher kami ditolak. Teganya T.T….. Katanya kami harus reedem dulu di konter Duck Tour, resinya dibawa ke Singapore Flyer buat reedem tiket. Aku pikir percuma aja, orang konternya Duck Tour tutup jam 6 padahal itu udah sekitar jam 7 kali ya. Yaudah aku mikir Singapore Flyer nya sekalian besok aja deh setelah Duck Tour, kan last admission nya jam 22.00. Hpku dan hp Nia passsss banget mati malem itu, kami bingung mau lanjut ke destinasi lain tapi gak tau jalan. Jadi kami cari aman aja deh ke Plaza Singapura Orchard. Aku bawa charger tapi chargerku gak bisa masuk di stop kontak Singapura, charger Nia bisa masuk tapi ditinggal di hotel. Ironis sekali ya ampun… Device yang masih berfungsi adalah kameraku, jadi dengan berbekal peta MRT yang aku foto kami berhasil ke Orchard dan balik ke hotel dengan selamat malam itu. Kami pulang benar-benar malem, sekitar jam 12an tuh. Puji Tuhan… *kalau diinget-inget pengen ketawa dan bangga juga*

Peta MRT yang sangat berjasa wkwkwkwk

DAY 3 : ART SCIENCE MUSEUM

Kami memulai hari ketiga ini dengan pindahan dari Grand Santa menuju Cube Boutique Capsule Hotel Kampong Glam yang berlokasi di 55 Bussorah St, Singapore 199471, Rochor. Hotel ini berbeda dengan hotel kami yang pertama karena berada di lokasi yang sangat ramai. Dikelilingi oleh restoran, club dan kafe timur tengah. Di samping hotel kami aja ada makanan Lebanon dan Turki. Seperti hari pertama, kami hanya check in dan drop off bagasi. Lalu kami berjalan menuju Sim Lim Square untuk makan Salted Egg Chicken. Aku lupa di lantai berapa, cuma patokannya adalah Sex Toys Store. Itu patokan yang dikasih ama temenku, dan ampuh banget mudah nyarinya. Ngakak =D Sumpah sih salted egg chicken disini enak bangeeeeeeeeeeeeeet. Eatlah jadi kurang berasa, pdhl biasanya di Indo kan paling enak ya eatlah. Yak, setelah perut kenyang kami menuju Art Science Museum dengan naik bus menuju halte Seating Gallery dilanjut jalan melewati Helix Bridge.

Di Art Science Museum, kami hanya mengunjungi 2 spot yaitu Future World dan Digital Light Canvas karena memang tiket yang kami beli hanya berlaku untuk kedua spot tersebut saja. Future World ada di museum lantai paling bawah sedangkan Digital Light Canvas ada di mall dekat foodcourt. Setelah dari Art Science, kami menuju Suntec City untuk Duck Tour. Duck Tour dimulai jam 18.00, tapi kata staff nya antri sudah dimulai jam 17.45. Kami kecepetan jadi muter-muter di mall dulu, dan tanpa di sengaja aku dan Nia menemukan Tiger Sugar di foodcourt. Aku tapi agak sedih sih pas nyoba, karena ternyata aku kurang cocok sama rasa brown sugar nya yang menurutku terlalu manis dan medok banget kayak lagi makan gula jawa. Alhasil, aku enek setengah mati deh tuh abis minum itu. Tapi buat kalian-kalian yang emang pecinta brown sugar, mungkin akan bilang enak. Silahkan dicoba saja saudara-saudara 🙂

Di Suntec City lagi ada diskon besar-besaran untuk brand Uniqlo, aku sama Nia borong beberapa baju. Diskonnya lumayan, orang kaos Marvel aja tuh bisa tinggal 100rb doang, terus kemeja juga cuma tinggal 150rb. Karena keasikan belanja, aku dan Nia jadi enggak kecepatan ke Duck Tour. Duck Tour sangat asik menurutku. Tour ini kan disebutnya Amphibious Tour, jadi ada beberapa yang dilakukan di air dan sebagian lagi di darat. BTW, Duck ku namanya Darla lhooo. Rute nya adalah dari Suntec Menuju Marina Bay. Kami mengelilingi Marina Bay sambil melihat Marina Bay Sands, Garden by The Bay, Singapore Flyer, Merlion. Dilanjut dengan perjalanan darat melewati Beach Road, Raffles Road, dll. Ada Tour Guide yang menjelaskan dengan sangaaaat detail. Itu nilai plus kita naik Duck Tour, karena kapan lagi kan tau sejarah Singapore sambil tour keliling kota.

Setelah selesai Duck Tour, aku dan Nia segera menuju Singapore Flyer. Kami jalan kaki dari Suntec City. Selama di Singapore, kami seperti terbiasa jalan kaki. Pernah suatu waktu aku check di smartwatch, steps kami mencapai 24.000 guys! Pas pulang di hotel rasanya kakiku mati rasa, udah gak bisa digerakin. Kami cuma lurusin kaki terus olesin minyak kapak, aku minta sama Nia (maklum cumi). Btw, kami ternyata gak perlu antri panjang lebar di loket SGF. Kami cuma perlu reedem resi yang dikasih di konter Duck Tour ke CS belakang loket. It only takes around 5 minutes, so happy! Setelah itu langsung deh kami ngacir ke antrian. Antrinya pun ga begitu lama. Sumpah menikmati SGF malam-malam itu…. our best decision ever! Pemandangan kota nya benar-benar bagus. Gemerlap lampu dari gedung pencakar langit, Marina Bay, OCBC Skyway & Supertree Groove, Marina Bay Sands.. Wagelaseeeh. Kameraku mati, hpku mati, aku akhirnya cuma berdiri di samping railing yang menghadap ke pemandangan itu sambil mengingat-ngingat dalam pikiranku. Yah mau gimana lagi, orang kameranya baru dipake ambil 1 foto udah mati duluan. Aku kira baterainya masih banyak, ternyata habis.

SGF ternyata menghabiskan waktu sekitar kurang lebih 1 jam. Setelahnya, kami memutuskan ke Orchard Road. Nia pengen banget ke ION… Tapi ternyata waktu sampai ke Orchard udah malam. Hanya beberapa toko doang yang buka. Takashimaya, ION, Wisma Atria, Lucky Plaza udah tutup semua. Kami akhirnya ya jalan-jalan aja di selasarnya. Liat Giordano yang masih buka, terus belanja oleh-oleh di depan Lucky Plaza. Abis itu kami pulang karena emang udah tepar banget. Seperti yang udah aku bilang sebelumnya, Kampong Glam emang daerah yang mirip Kuta Bali, sampai malam pun masih rameeeeeeee aja teroosss! Makin malam malah makin rame deh itu. Pas kami pulang malah banyak orang makan dan nongkrong, gak kayak waktu di Pasir Panjang West Coast yang sepi banget.

Kami gak tertarik untuk keluar karena ternyata pas sampai hotel kami kecewa berat. Bukan apa-apa sih, cuma hotel kapsul disini jauh dari bayanganku dan juga Nia. Nia udah pernah ke hotel kapsul waktu di Bandung, dan ternyata beda. Aku belum pernah ke hotel kapsul dan aku gak menyangka sama sekali akan begini. Jadi, kamar kami ada di lantai 1, tepatnya di Haji Lane Room. Untuk mencapai ruangan itu, kami perlu masuk ruangan yang melewati kamar mandi, buka pintu lagi di sebelahnya menuju resto dan pantry, dan kamar kami ada di situ. Di pojok resto dan pantry, disediakan rak sepatu jadi kami harus letakkan sepatu kami disitu. Di dalam kamar, kami bareng-bareng dengan lebih dari 10 orang pengunjung. Capsule kami ada di tingkat 2, dan tangganya agak susah dipanjat. Koper ada di loker paling bawah, tepatnya di bawah capsule tingkat 1. Menurutku agak susah sih kalo peletakannya begini karena waktu kami mau buka tutup loker, kami bisa ganggu si pengunjung capsule tingkat 1. Ada 2 opsi, bisa ganggu karena badan kami menghalangi jalan mereka atau juga bisa ganggu karena berisik. Intinya ruang geraknya terbatas banget. Belum lagi kamar mandi yang hanya 1 di lt. 1, selebihnya ada di lt. 2. Aku suka kebelet pipis malem-malem, jadi aku pikir bakalan menderita banget nih untuk ke toilet aja. Udah harus turun dari capsule, harus naik ke lantai 2 juga lagi. FYI, kamar mandi di lt. 1 sedikit lebih kotor dibandingkan lt. 2 jadi kami lebih pilih ke lt. 2 aja. Aku gak bilang hotel ini jelek ya, cuma kalo mau nginep di hotel kapsul tentu harus siap sama keadaannya. Silahkan dipertimbangkan 🙂

DAY 4 : UNIVERSAL STUDIO SINGAPORE + MADAME TUSSAUDS SINGAPORE

Yihuuuu akhirnya tiba juga saatnya kami mengunjungi USS + Madame Tussauds. So excited! Kedua attraction ini berada di Sentosa ya guys, cuma kalo naik monorail beda station aja. Pertama aku menuju Madame Tussauds dulu dan berhenti di Imbiah Station. Tiket Madame Tussauds kami pesan melalui Tiket.com dengan harga Rp 228.688,- / pax yang sudah termasuk tiket masuk showroom + ios/Image of Singapore live + boat ride + marvel 4D.

Kami muter-muter sekitar 2 jam disini sebelum akhirnya cabut menuju USS. Dari Madame Tussauds sebenernya bisa jalan kaki ke USS, tapi kami menghemat tenaga jadi lebih pilih naik monorail dan turun di Resort World Sentosa Station. USS rame, jadi kami ga berharap untuk bisa naik semua permainan. Permainan yang kami fokuskan adalah yang belum pernah kami coba aja. Aku sudah pernah ke USS tahun 2010, Nia udah pernah juga tahun 2012. Jadi kami pikir ya intinya coba yang baru-baru aja. Wahana pertama yang kami coba adalah Madagascar : A Crate Adventure. Kalo dimirip-miripkan, aku bisa bilang ini mirip Istana Boneka di Dufan.

Karena kami masuk USS aja sudah jam 2, perut kami udah kruyuk-kruyuk meskipun baru naik 1 wahana. Kami memutuskan untuk makan siang dengan menu makanan India. Ternyata porsinya gede banget, bayangin aja ayamnya aja udah gabungan paha atas-paha bawah tuh ditambah nasi pula. Keluar food court kekenyangan, jadi kami pilih wahana yang selow aja deh. Lihat-lihat waiting time nya, yang paling pendek itu Shrek 4D Adventure. Aku dan Nia sebenarnya udah pernah nonton sih, cuma daripada ngantri panjang-panjang dan kepanasan yaudah ngadem disitu dulu aja lah. Shrek 4D sih seperti mirip 4D di Ancol, cuma ya lebih banyak fitur-fitur pendukungnya sehingga jadi lebih real. Setelah yang kalem-kalem, kami pemanasan buat naik wahana yang lebih memompa jantung nih. Nama wahananya adalah Puss in Boots’ Giant Journey. Wahana ini roller coaster tapi rel nya atas sedangkan penumpangnya naik bak di bawahnya. Aku lumayan suka, karena ga terlalu serem tapi gak enaknya roller coaster ini ga smooth. Jadi aku ngerasa kayak tikungannya itu patah-patah.

Nahhhh wahana ini nih yang aku dan Nia nantikan dari Jakarta. Apalagi kalo bukan Revenge of The Mummy. Aku udah pernah naik wahana ini dan serunya luar biasa cuy! Ini indoor roller coaster, temanya Ancient Egypt (Yup karena emang lokasinya di area Egpyt), level kengeriannya maksimum. Tikungan, tanjakan dan turunannya luar biasa tajam, speed nya tinggi plus gelap banget sehingga kamu gak akan tau lintasannya. Mau abis ini dibanting atau digoyang juga kamu ga bakalan tau wkwkwk. Kamu perlu titip barang dulu di loker sebelum masuk. Lokernya gratis selama 110 menit, kalo lebih kamu baru bayar. Registrasinya gampang, cuma tinggal pake sidik jari doang kok. Dan setelah naik wahana itu, otak ku rada terguncang guys. Agak pusing, padahal dulu enggak. Akhirnya naik wahana yang kalem lagi, persis di seberangnya Mummy. Namanya adalah Treasure Hunter. Hmm agak kontras kalo dibandingkan Mummy, karena wahana ini kamu cuma perlu duduk di dalam mobil yang akan membawamu berkeliling area kolam dan perburuan harta karun. Lumayan sih buat menenangkan kepalaku, setelahnya aku gak pusing lagi. Karena hari udah mulai malem, kami memutuskan untuk gak naik wahana lagi deh. Muter-muter aja menuju area Hollywood, keluar masuk merchandise shop, ambil foto dan balik. Kami ke VivoCity bentar untuk beli Garrett Popcorn titipan adekku dan temenku, obat titipan omaku, liat airpods, dll. Balik-balik sih tepar lagi. Tapi aku seneng banget, aku kan turun di halte Opp Plaza Park Royal dan menemukan vit C booster. Jadi itu vending machine yang menjual jeruk sunkist peras. FYI, aku penggemar jeruk-jeruk asam gitu deh. Sumpah praktis banget, murah cuma 3 SGD, dingin dan bisa bayar pake SG EZ Link pula. Kami berdua akhirnya hebring banget tuh.

Day 5 : NATIONAL ORCHID GARDEN + JEWEL OF CHANGI

Ah.. it was our last day in Singapore. Aku mulai suka tinggal di negara itu padahal, sedih deh mau balik. Bukan gak cinta Indonesia atau gimana sih, aku tapi merasa nyaman dengan kebersihan dan keteraturan disana. Mungkin buat orang aneh ya, tapi aku suka naik transportasi umum. Menurutku akan lebih efisien kalo semua orang dikumpulkan dalam 1 kendaraan menuju tujuan yang sama. Polusi bisa berkurang, jalanan bisa lebih sepi, pokoknya banyak manfaat nya lah. Tapi di Indo mungkin pada males karena aksesnya masih susah dan gak nyaman. Sedangkan disana aksesnya gampang banget, nyaman lagi. Ya begitulah intinya 🙂

Ya jadi hari ini kami cuma mau ke National Orchid Garden dan Jewel doang. Dari Kampong Glam menuju National Orchid Garden lumayan jauh naik bus, sedangkan akses masuk ke dalamnya masih susah jadi kami naik grab aja. Dari halte bus seberang pintu masuk ke dalam itu 6 SGD. Oh ya, tiket nya kami beli di tiket.com seharga Rp 37.046,-/pax. National Orchid Garden berada di kawasan Singapore Botanic Garden, sehingga di dalamnya ada buanyaaaaaaaaak sekali taman dan semuanya gratis. Hanya Orchid Garden saja yang tiket masuknya berbayar. Jadi kalo kalian-kalian emang enggak minat bayar, mendingan keliling seluruh area aja atau duduk di pinggir danau.

Setelah puas menjelajah Orchid Garden, kami memutuskan langsung ke bandara aja karena takut gak sempat ke Jewel. Sumpah ini perlu diingat ya guys, kalo kalian lagi buru-buru dan bawa koper 12-13 kg kayak kami jangan pernah keluar dari sini jalan kaki. Either, lewat jalan depan atau jalan belakang (nah ini yang akan kami lalui). Karena kami kan liat papan arah dan stasiun MRT terdekat itu MRT Bukit Timah (1.7 km), pikir nya kan orang kemarin-kemarin aja bisa kok jalan masa ini ga bisa? Wah gempor banget ternyata. Aksesnya sih bagus, cuma ya jalannya itu berkelok dan naik turun. Bikin capek banget kalo tengah hari dan bawa koper gitu. Saranku kalo kalian seperti kami, mendingan lewat jalan depan kayak pas kami berangkat, naik taksi sampe halte depan Singapore Botanic Garden. Nah baru dari situ kalian cari bus deh.

Kami sampai di Changi Airport dengan sisa waktu sekitar 2 – 3 jam sebelum keberangkatan. Waktu ini pertama-tama kami gunakan untuk refund saldo SG EZ Link, check in, lalu ke Jewel. Jewel of Changi terletak di dalam mall, mallnya hanya bersebelahan sama terminal 3. Kami akan berangkat dari terminal 3, jadi cukup lewatin jembatan dan whoalaaa sudah sampe deh di mall nya. Mall nya ya seperti mall pada umumnya, cuma center point nya adalah air terjun ini. Poin plusnya ke Jewel ini, karena letaknya di mall jadi enggak berbayar deh. Lumayaaaan duitnya bisa buat nabung jalan-jalan lagi *upsss

Sebentar kami berkeliling Jewel, lalu kami ngacir mencari Subway. Jewel ini bagus, cuma spot fotonya sempit dan kebetulan waktu itu banyak orang. Yaudah cukup liat aja, kami udah puas. Aku dan Nia belum pernah makan Subway, mumpung disini ada ya sekalian dicoba aja. Aku beliin buat diriku dan papaku, Nia beliin buat dirinya dan adeknya. Ajeng lagi magang jadi gak bisa dibawain deh. Setelah itu berakhirlah perjalanan kami di Singapura karena kami akan segera menuju ruang tunggu dan balik lagi ke Indonesia.

Perjalanan ini mengajarkanku banyak hal, mulai dari kemandirian, keberanian, dan kepercayaan diri. Melalui perjalanan ini, aku dan Nia juga semakin akrab karena kami udah mengalami pengalaman menarik bersama, beserta juga kerempongan-kerempongan di dalamnya. Aku gak kapok untuk ngebolang lagi, dan semoga Tuhan beri kesempatan. I’m young, blessed and happy! Thanks God for everything 🙂

Journey to the West

Hi semuanya! Kali ini aku mau menceritakan liburan singkatku ke kota Cirebon dan Indramayu. Liburan ini aku bilang singkat karena durasinya hanya 2 hari yaitu Sabtu dan Minggu. Tujuan utama liburan kali ini sebenarnya bukan untuk jalan-jalan dan wisata kuliner, tapi keduanya memang aku sisipkan dalam jadwal perjalanan. Aku sekeluarga pergi ke Cirebon dan Indramayu dengan tujuan mengantarkan adikku untuk kerja praktek atau magang di Pertamina RU VI Balongan, Indramayu. Perjalanan kami mulai dari Tangerang menuju Cirebon selama kurang lebih 7 jam melalui jalan tol. Sebenarnya mungkin bisa lebih singkat dari itu kalau jalanan sepi. Tapi waktu aku berangkat kemarin, macetnya memang lumayan parah karena dimulai dari Bekasi hingga Karawang. Kami tiba di Cirebon jam 2 siang dan langsung menuju hotel yaitu Hotel Citra Dream. Alamatnya : Jl. DR. Cipto Mangunkusumo No.6, Pekiringan, Kec. Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat 45131. Hotel ini berada di pusat kota dan dikelilingi beberapa mall besar, seperti Carrefour Transmart Cirebon, Cirebon Super Block (CSB) Mall dan Grage Mall Cirebon. Selain itu juga banyak tempat nongkrong seperti Warunk Upnormal, Warung Steak & Shake, MooCow Fresh Milk, Manse Korean Grill, dll. Kalau kalian mau ke Toko Buku Gramedia juga ada. Menurutku sih kalau kalian mau cari hotel, bagusnya di daerah ini saja. Gak terlalu jauh juga kok dengan Stasiun Cirebon kalau memang mau melanjutkan perjalanan pakai kereta. Perjalanan hanya sekitar 11 menit (+/- 4 km) menggunakan mobil.

Kegiatan kami sore itu hanya istirahat dan persiapan ke Gereja. Papaku memang suka banget mengunjungi Gereja ataupun Gua Maria di suatu daerah yang kami singgahi. Jadi kami memutuskan misa Sabtu sore di Gereja Katolik Santo Yusuf (St. Joseph’s Church) Cirebon. Alamatnya : Jl. Yos Sudarso No.20, Lemahwungkuk, Kec. Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat 45111. Misa Sabtu sore dimulai jam 5 sore dan selesai jam setengah 7. Bangunan Gereja ini enggak begitu besar, tapi bagus dan terawat. Di sampingnya juga ada sedikit area kecil yang bagus banget kalau malam hari. Ada lampu-lampu yang membuat area ini jadi spot foto yang bagus. Buat teman-teman yang beragama Katolik dan memang lagi mengunjungi kota Cirebon, boleh banget mencoba misa disini.

Setelah dari gereja, kami makan malam di tempat makan yang katanya enak. Aku cek rating nya di trip advisor sih 4 dan sudah direview sebanyak 450 orang. Kami sendiri mendapat rekomendasi tempat makan ini dari istri bos mamaku. Nama tempat makannya itu adalah Nasi Jamblang Bu Nur. Alamatnya : Jl. Cangkring 2 No.34, Kejaksan, Kec. Kejaksan, Kota Cirebon, Jawa Barat 45123. Jam buka tempat makan ini adalah jam 7 pagi hingga 9 malam. Nasi jamblang atau sega jamblang merupakan nasi putih, sambal dan lauk. Lauk nya bermacam-macam, bisa pepes telur asin, jambal, semur hati, udang saus kecap, telur balado, sate kentang, dadar jagung, dan masih banyak lagi. Mungkin temen-temen lebih kenal dengan nama Nasi Rames kali ya kalo di Jakarta dan sekitarnya.. Lauk yang paling khas dari nasi ini adalah Balakutak Hideung, yaitu cumi-cumi atau sotong berkuah kental yang dimasak bersama dengan tintanya sehingga berwarna hitam seperti rawon. Selain lauknya, ada satu lagi yang khas disini yaitu penggunaan daun jati sebagai alas makan. Umumnya kan piring dilapisi daun pisang. Namun kalau disini dilapisinya menggunakan daun jati. Skor untuk makanan disini adalah 8.5/10. Menunya banyak, sambalnya wangi dan rasa masakannya sedap. Sedap bukan karena terasa banyak micin, tapi memang terasa komposisi bumbu dan kombinasi manis asinnya pas. Tips untuk makan disini adalah jangan makan malam hari menuju detik-detik tutup karena kamu gak akan menemukan lauk-lauk yang aku sebutkan tadi. Paling-paling lauk yang tersisa cuma telur dan ikan asin. Tempat makan ini memang laris banget jadi emang gak heran lauknya cepat habis. Sehabis kenyang makan Nasi Jamblang, aku dan adikku beli es duren di depan tempat makan ini. Skor es duren disini 9/10. 1 gelas isi es puter rasa santan yang legit banget plus 4 biji durian. Kamu bisa minta ditambahkan susu kental manis cokelat atau putih, ataupun sirop Tjampolay. Tapi menurutku duriannya sendiri sudah manis jadi kalau ditambah lain-lain akan kemanisan dan kamu enggak akan bisa merasakan gurihnya santan dari si es puter ini. Perut udah kenyang, sekarang saat nya jalan-jalan. Papaku lumayan capek malem itu jadi kami memutuskan untuk cari lokasi yang dekat hotel aja, yaitu CSB Mall. Harusnya sih menuju taman atau alun-alun kota Cirebon gitu ya biar lebih gimana, tapi apa daya.. CSB Mall cukup besar. Tenant nya sih sama aja dengan mall-mall di Jakarta/Tangerang. Kamu bisa menemukan H&M, Usupso, Nature Republic, The Executive, Chatime, Excelso, Pizza Hut, dll. Aku di mall ini hanya sekitar 1.5 jam lalu pulang ke hotel untuk beristirahat.

Keesokan harinya kami mengawali hari dengan sarapan di hotel. Namun, tidak ada yang spesial dari menu sarapannya. Kami sekeluarga memutuskan untuk kembali makan Nasi Jamblang Bu Nur. Alasannya sih karena semalam kami enggak puas dengan pilihan lauknya. Kami datang disaat menjelang tutup, jadi pagi tersebut kami berharap bisa menikmati lauk-lauk lain yang lebih menarik. Betul saja, waktu sampai kesana lauknya masih lengkap semua. Mama papaku belum puas dengan Nasi Jamblang. Mereka pun menyebrang menuju tempat makan yang tepat persis di depan Nasi Jamblang Bu Nur. Nama tempat makannya Nasi Lengko & Empal Gentong Bu Nur. Aku rasa sih ownernya sama, orang namanya aja sama. Mamaku tertarik mencoba Nasi Lengko. Empal Gentong sih enggak asing buat mamaku, karena dia dan adikku emang sudah punya resto langganan di dekat rumah. Nasi Lengko cukup membuat mamaku ngiler, jadi dia pun pesan menu tersebut.

Nasi Lengko merupakan makanan khas Pantai Utara (Pantura), seperti kota Tegal dan sekitarnya. Nasi Lengko atau Sega Lengka isinya adalah nasi putih, tempe dan tahu goreng, timun segar yang dicacah, tauge rebus, daun kucai yang dipotong kecil-kecil lalu disiram bumbu kacang dan kecap manis encer. Lebih mantap lagi ditaburi bawang goreng. Aku sendiri enggak mencoba makanan ini karena memang waktu itu aku masih super kenyang. Tapi kata mamaku rasanya enak. Bisa jadi alternatif selain Nasi Jamblang nihhh…

Perut kenyang, tenaga kuat. Kami pun tancap gas menuju Indramayu. Perjalanan ke Indramayu kami tempuh melalui jalan biasa dengan durasi sekitar 1 jam lebih sedikit. Kami tiba di Pertamina RU VI Balongan Plan sekitar jam 11 lewat. Alamatnya : Jl. Raya Balongan, Sukareja, Kec. Indramayu, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat 45217. Kami menurunkan barang dan bersih-bersih kamar kos adikku, lalu berjalan ke Pantai Pesisir Balongan. Pantai ini tidak jauh kos adikku di Desa Majakerta. Kurang lebih sih jaraknya 1 km, kalau naik mobil paling hanya 5 menit. Disini teman-teman gak bisa main air atau nyebur seperti Pantai di Bali. Kami sendiri hanya lihat-lihat warga sekitar yang sedang membuat kapal dari kayu. Disini ombaknya cukup besar, pantai nya juga enggak berpasir putih. Kata adikku banyak pipa untuk penambangan lepas pantai Pertamina. Jadi kupikir memang pantainya bukan untuk berenang sih. Teman-teman paling bisa duduk-duduk di atas bebatuan dan menikmati angin pantai serta pemandangan laut lepas di depan mata. Kalau tengok kesamping sih masih banyak sawah-sawah yang hijau. Jadi laut ini juga dekat dengan kawasan persawahan lho..

Setelah dari pantai, aku hanya antar adikku balik ke kos lalu pulang ke Tangerang karena besoknya harus kembali bekerja. Sekian dulu ya cerita jalan-jalan ku kali ini. Semoga bisa menginspirasi kalian untuk liburan di daerah Pantura.. Meskipun cuma sebentar, tapi cukup ampuh mengusir stress setelah kerja ^^

Meet the Ocean Pals

Hi teman-teman! Kali ini aku akan berbagi pengalaman mengunjungi suatu tempat yang sedang naik daun. Tempat ini berlokasi di Jakarta Barat, sehingga enggak terlalu jauh dijangkau untuk kalian yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Kalian bisa mengunjungi tempat ini di hari biasa (weekdays) ataupun di saat libur (weekends/public holiday). Tempat yang aku maksud adalah Jakarta Aquarium. Tempat ini merupakan destinasi wisata dan edukasi sekaligus konservasi satwa dalam ruang pertama di Indonesia yang dipersembahkan oleh Taman Safari Indonesia bekerja sama dengan Aquaria KLCC Malaysia. Jakarta Aquarium berlokasi di :

NEO SOHO Podomoro City Central Park

Neo Soho Lantai LG 101 – LGM 101 Jalan Letjen S. Parman Kav. 28 RT.3, RW.5, Tj. Duren Sel., Grogol petamburan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11470

Jam operasional Jakarta Aquarium adalah pukul 10.00 – 20.00 WIB. Pintu masuk berlokasi di lantai LGM (Lower Ground Mezzanine) 101 sedangkan pintu keluar berada di lantai bawahnya yaitu LG (Lower Ground) 101. Setelah memasuki pintu masuk, kamu dapat melihat pemandangan berbagai aquarium yang cantik. Jakarta Aquarium menyuguhkan berbagai koleksi satwa darat maupun laut, diantaranya adalah berang-berang, tarantula, kura-kura, ular, ubur-ubur, piranha, dll. Semakin masuk ke dalam, kamu bisa melihat berbagai satwa yang ditempatkan dalam suatu ruang dengan ekosistem yang sesuai habitatnya. Jakarta Aquarium memiliki 2 lantai dimana terdapat 1 aquarium utama yang ukurannya sangat besar dan dapat dilihat dari lantai atas maupun lantai bawah. Dari lantai LGM, kamu bisa berdiri di atas kaca yang dibawahnya adalah aquarium super besar tersebut. Namun, kalau kamu lebih tertarik melihat keseluruhan aquarium, bisa langsung ke lantai LG teman-teman. Hewan laut yang menarik perhatianku di aquarium ini adalah ikan pari dan ikan kerapu. Ikan kerapu yang ada disini berukuran raksasa dengan berat 300 kg.

Pengalaman yang paling menarik menurutku adalah touch pool dan menonton pertunjukkan ‘Pearl of The South Sea’. Di area touch pool kamu bisa menemukan berbagai hewan laut seperti bintang laut biru, hiu bambu, siput, ikan pari dan masih banyak lagi. Kamu juga diperbolehkan untuk memegang hewan laut tersebut secara langsung. Oh ya, satu hal yang penting disini adalah kamu harus cuci tangan terlebih dahulu ya sebelum memegang hewan-hewan laut tersebut supaya mereka enggak kaget.. Selain area ini, pertunjukkan ‘Pearl of The South Sea’ juga turut menarik perhatianku karena atraksi dimainkan di atas panggung dan juga di dalam aquarium utama. Kalian bisa melihat betapa hebatnya para aktor dan aktris yang menyelam lihai sambil menggunakan kostum pertunjukkan. Pertunjukan ini merupakan gabungan antara aksi panggung, trik ilusi dan atraksi dalam air.

Di Jakarta Aquarium, kamu akan menjumpai aquarium dengan beberapa bentuk, mulai dari kubus kecil hingga tabung silinder. Aku pribadi sangat menyukai aquarium yang berbentuk tabung silinder. Menurutku bentuk tersebut sangat artistik. Aquarium berbentuk tabung silinder ini juga merupakan spot yang sangat ikonik di Jakarta Aquarium lho teman-teman. Sebelum aku mengunjungi tempat ini, aku sering menemukan banyak temanku membagikan foto dengan latar belakang aquarium ini di sosial media. Jadi jangan lupa abadikan momenmu disini ya bila kamu ke Jakarta Aquarium.. Oh ya, selain itu aku juga sangat menyukai aquarium ubur-ubur. Perpaduan antara bentuk tubuh ubur-ubur yang khas dan pencahayaan yang sangat baik, membuat aquarium ini begitu memukau.

Bagi teman-teman yang gak hanya sekedar tertarik melihat-lihat atau foto cantik, kalian bisa juga menyaksikan atraksi harian dengan jadwal sebagai berikut :

  1. Outer Reef feeding : 2x // 10.45 – 11.00 dan 19.00 – 19.15
  2. Otter feeding : 2x // 10.15 – 10.30 dan 15.30 – 15.45
  3. Mangrove feeding : 2x // 10.30 -10.45 dan 15.45 – 16.00
  4. Piranha feeding : 2x // 11.30 – 11.45 dan 17.30 – 17.45
  5. Touch pool feeding : 2x // 13.30 – 13.45 dan 19.30 – 19.45
  6. Pinguin feeding : 2x // 13.15-13.30 dan 19.15-19.30 (kamu juga bisa menyaksikan pertunjukan ini di Resto Pinggo lantai LG Neo Soho : 11.30-13.00 dan 17.30-19.00)
  7. Moray eel feeding : 1x // 11.00 – 11.15
  8. Main Tank Feeding : 2x // 11.45 – 12.00 dan 16.15 – 16.30
  9. Archer Fish Feeding : 2x // 12.30 – 12.45 dan 17.45 – 18.00
  10. Tegu Feeding : 2x // 12.45 – 13.00 dan 14.45 – 15.00
  11. Snake show (aku kurang paham jadwal nya teman-teman… )

Jadwal pertunjukan Pearl of The South Sea tidak dilakukan setiap hari ya, dan waktunya bisa berbeda-beda. Kamu bisa menontonnya pukul 13.00 (Selasa-Kamis) atau pukul 15.00 (Jumat). Bagi kamu yang datang di hari Sabtu/Minggu/Hari libur, pertunjukkan digelar sebanyak 3x yaitu : 13.00, 15.00 dan 17.00.

Nah, menarik kan Jakarta Aquarium? Semoga teman-teman yang ingin refreshing tapi mager jauh-jauh apalagi mahal, bisa tertarik untuk kesini. Untuk kalian yang suka fotografi dan mau hunting foto dunia bawah laut atau temanya aquarium gitu, this is the right place for you. Disini aku sendiri dapat beberapa foto yang bagus banget di aquarium ubur-ubur. Selamat hunting foto ya.. See u on another trip journal, pals!

Heaven on Earth

DESTINASI : BALI & NUSA PENIDA

Bali? Yups, betul teman-teman semua! Kali ini aku akan melakukan perjalanan wisata ke Bali bersama dengan sahabatku dari SD. Kami mengawali perjalanan dari Tangerang pada hari Rabu, 3 April 2019. Penerbangan yang kami pilih adalah pukul 09.50 menggunakan maskapai Sriwijaya Air dari terminal 2F Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta. Perjalanan ke Bali kami tempuh selama kurang lebih 1,5 jam. Kami tiba di Bandar Udara Internasional I Gusti Nugrah Rai Bali sekitar pukul 13.00. Perbedaan waktu antara Tangerang dan Bali adalah 1 jam, dimana waktu Bali 1 jam lebih cepat dibandingkan Tangerang. Untuk mempermudah mobilisasi kami dalam 1 hari tersebut, kami memesan mobil + driver menggunakan aplikasi tiket.com. Mobil yang kami pilih adalah avanza dengan waktu penggunaan selama 12 jam. Kami memilih mobil avanza karena harga sewa yang relatif lebih murah dan cukup lega. Oh ya teman-teman, sekedar info saja, kalau pemesanan menggunakan tiket.com belum termasuk bbm, retribusi parkir dan tol, tips dan uang makan driver serta biaya tambahan zona. Biaya tambahan zona berbeda-beda tergantung tujuan kamu. Aku dan temanku mengunjungi daerah Ubud dengan biaya tambahan zona sebesar 200rb.

HARI 1 : ULUWATU – JIMBARAN – SANUR

Hari pertama kami awali dengan makan siang ditemani menu khas Bali yaitu ayam betutu, sate lilit dan plecing di Warung Kampoeng Pedas Uluwatu. Destinasi kami berikutnya adalah mengunjungi Pantai Suluban/Blue Point, dilanjutkan dengan menonton pertunjukan Tari Kecak sembari memandang sunset di Uluwatu. Pantai Suluban menyajikan pemandangan yang cukup bagus dan unik. Namun, pantai tersebut berada di bawah hutan sehingga untuk menjangkaunya, kami harus menuruni anak tangga yang cukup banyak. Trek menjadi cukup sulit ketika hampir mencapai pantai karena jalan menyempit dan licin. Terkadang kami harus berhenti untuk bergantian dengan orang yang akan naik. Bahkan harus geser-geser ketepian apabila menemui orang yang membawa papan surfing dan berbagai peralatannya. Tapi, usaha kamu akan terbayar ketika melihat keindahan pantai ini. Setelah puas main air dan berfoto ria, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pura Luhur Uluwatu untuk menonton Tari Kecak. Oh ya, kami membeli tiket pertunjukan secara online beberapa minggu sebelum keberangkatan. Alasannya pertama adalah karena harga tiket lebih murah : apabila kamu beli online harganya 85rb sedangkan OTS 100rb. Alasan kedua adalah karena kami takut kehabisan tiket mengingat banyak banget wisatawan yang antusias menonton pertunjukan ini. Aku sendiri sudah pernah nonton pertunjukan ini tahun 2009 dan saat itu seluruh area penonton terisi penuh. Sebenarnya pihak pengelola sempat menambahkan kursi plastik untuk memfasilitasi wisatawan yang kehabisan tempat. Namun letaknya ada di bagian bawah samping penari sehingga menurutku itu kurang strategis apabila ingin sambil menyaksikan sunset. Pertunjukan berlangsung selama 1 jam dan langit sudah gelap ketika pertunjukan usai. Kami pun segera menuju Jimbaran untuk makan malam. Nilai plus makan di Jimbaran adalah suasananya yang begitu tenang dan santai. Kamu bisa makan ditemani suara deburan ombak, suasana yang romantis karena dikelilingi lilin-lilin dan lampu, serta suara musik dan nyanyi-nyanyian. Namun, harga makanan di Jimbaran ini cukup menguras kantong menurut kami. Jadi, kalau teman-teman memang sengaja travel dengan budget tertentu mungkin bisa pikir-pikir ulang. Tapi kalau memang tidak masalah dengan harga, gas saja..

Pantai Suluban / Blue Point – Uluwatu

Setelah makan malam, kami segera menuju penginapan kami di daerah Sanur. Kami memilih daerah Sanur dengan pertimbangan dekat dengan pelabuhan, sehingga besok pagi tidak terlambat menyebrang ke Nusa Penida. Penginapan kami adalah Nyaman Guest House. Kami sangat merekomendasikan penginapan ini lho teman-teman.. Tempatnya sangat nyaman, bersih dan tenang. Meskipun bukan hotel, pelayanan di tempat ini pun sangat baik. Jaraknya pun tidak terlalu jauh menuju pelabuhan, jadi hanya perlu waktu sekitar 10 menit menggunakan mobil.

HARI 2 -3 : NUSA PENIDA – KUTA

Destinasi kami untuk hari kedua dan ketiga adalah Nusa Penida. Berdasarkan info dari saudaraku yang sudah pernah ke Nusa Penida, akses jalan dan transportasi disana cukup sulit sehingga kami memutuskan untuk menggunakan jasa tour. Tour yang kami pilih sudah all in dengan harga Rp 1.050.000/pax. Untuk mencapai Nusa Penida, kami harus menyebrang selama 40-50 menit dari Pelabuhan Sanur menggunakan fast boat. Ada beberapa hal yang perlu teman-teman perhatikan sebelum menyebrang, yaitu : gunakan celana pendek dan sendal jepit, serta menggunakan tas yang ringan/tahan air. Karena penyebrangan disini tidak ada dermaganya sehingga kamu harus melewati pantai dan sedikit memanjat untuk naik ke atas kapal. Fast boat yang kami gunakan adalah Dwi Manunggal dengan jadwal keberangkatan jam 8 pagi (WITA). Sekitar pukul 9 kami tiba di Pelabuhan Toyapakeh Nusa Penida. Oh ya teman-teman, pelabuhan ini juga sama dengan Pelabuhan Sanur dimana tidak ada dermaga. Jadi jangan buru-buru ganti sendal jepit dan celana pendek kalian ya.. Setibanya disana kami dijemput oleh tour guide kami yang bernama Bli Gede Suasta. Setelah itu kami diantar ke homestay kami yang bernama Cemara Homestay. Pemandangan dari homestay kami adalah laut lepas karena memang letaknya persis di pinggir pantai. Di Nusa Penida, memang banyak sekali homestay yang menyuguhkan pemandangan laut lepas seperti homestay ku ini. Dari sini, kami diantar Bli untuk ke Broken Beach (Pasih Uug) dan Angel’s Billabong. Perjalanan menuju pantai ini cukup sulit karena akses jalannya benar-benar rusak. Jadi kalau teman-teman ada yang mabuk perjalanan, jangan lupa bawa obat anti mabuk ya.. Namun, teman-teman jangan mengurungkan niat ke pantai ini karena memang pantainya sendiri sangat menarik. Airnya biru jernih, tebing dan karangnya juga sangat bagus. Pemandangan menarik dari Broken Beach ini adalah dimana ada bolongan di tengah karang menyerupai setengah lingkaran. Super bagus teman-teman!

Aku dan temanku di Broken Beach

Tempat berikutnya yang akan kami kunjungi adalah Kelingking Beach. Pantai ini tidak kalah bagus juga dengan Angel’s Billabong dan Broken Beach. Akses jalan menuju pantai ini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Menariknya lagi, disini kamu juga bisa trekking sampai ke bawah pantai lho teman-teman! Kamu bisa menyaksikan jernihnya air dan pasir pantai yang begitu putih dengan lebih dekat. Aku dan temanku hanya kuat sampai 1/6 perjalanan karena treknya cukup panjang dan sulit. Tapi kami benar-benar puas disini..

Kelingking Beach

Setelah seharian menempuh perjalanan yang cukup menantang, Bli mengajak kami mengakhiri hari dengan menyaksikan matahari terbenam di Crystal Bay Beach. Berbeda dengan pantai-pantai sebelumnya, disini tidak perlu trekking atau menaiki dan menuruni karang. Ombak pantai nya cukup tenang sehingga aman untuk berenang. Aku lebih memilih untuk duduk bersantai menanti matahari terbenam sedangkan temanku berenang. Sekitar pukul setengah 7 malam kami memutuskan untuk kembali ke homestay dan beristirahat.

Keesokan harinya kami mempersiapkan diri untuk menuju 4 objek wisata lagi di Nusa Penida, yaitu Atuh Beach, Diamond Beach, Rumah Pohon Molenteng dan Bukit Teletubbies. Letak Atuh Beach bersebelahan dengan Diamond Beach. Akses menuju kedua pantai ini pun sudah baik. Selain itu, sudah ada trek yang bagus untuk menyusuri pantai ini. Ombak di Atuh Beach cukup bersahabat. Kamu bisa berenang ataupun bersantai di pinggir pantai teman-teman..

Diamond Beach
Atuh Beach

Destinasi kami berikutnya adalah Rumah Pohon Molenteng. Dari seluruh objek yang kami kunjungi, Rumah Pohon Molenteng adalah yang paling melelahkan. Karena trek ke bawah cukup jauh dan berlika-liku. Kami menyusuri trek dalam waktu sekitar 30 menit untuk menuju ke bawah. Disini kamu tidak bisa memilih untuk menyusuri 1/2 atau 1/4 jalan teman-teman, karena memang letak rumah pohonnya ada di bawah. Jadi siapkan tenaga kamu ya untuk kesini! View dibalik rumah pohonnya gak akan mengecewakan kok. Setelah selesai berfoto, kami segera makan siang dan menuju objek terakhir. Hari ini kami tidak akan berpetualang sampai sore karena kami memilih boat menuju Sanur dengan jam 14.30. Kalau teman-teman memang merasa belum puas, jangan khawatir karena masih ada jadwal yang lebih sore kok yaitu pukul 17.00. Objek wisata kami yang terakhir adalah Bukit Teletubbies. Bukit Teletubbies cukup tenang dan sejuk. Kamu bisa duduk-duduk di hamparan rumput dengan view perbukitan yang berjajar. Dari sini kamu bisa melihat awan yang rasanya cukup dengan denganmu. Aku menghabiskan waktu bersantai disini sekitar 20 menit sebelum kembali menuju Pelabuhan Toyapakeh.

Aku di Rumah Pohon Molenteng

Kami menyebrang ke Sanur dan tiba sekitar jam 4 sore. Kami pun menuju ke penginapan di daerah Kuta. Nama penginapan kami adalah Cara Cara Inn. Penginapan ini cukup populer di Bali karena konsep kamar dan atmosfernya yang sangat menarik. Aku suka sekali menginap disini. Kalau teman-teman suka main tennis meja, kamu bisa main disini lho.. Oh ya, lokasi Cara Cara Inn juga strategis. Kamu cukup berjalan sedikit menuju Kuta Square, Pabrik Kata-Kata Joger ataupun Pantai Kuta. Sore itu, aku dan temanku menyusuri hiruk pikuk jalanan untuk makan malam di Nasi Pedas Bu Andika. Setelah itu mencari oleh-oleh di Joger. Lokasi Nasi Pedas Bu Andika bersebrangan dengan Joger teman-teman. Jadi sangat mudah untuk mencapainya.

HARI 4 : UBUD

Kami bersemangat sekali menuju Ubud. Ada beberapa objek yang sudah kami rencanakan yaitu : Tegallalang Rice Terrace, Ubud Palace (Puri Saren Agung), Pasar Seni Ubud dan Puri Saraswati. Pertama-tama kami diantar driver kami menuju Uma Pakel Agro Tourism & Swing sebelum mencapai Tegallalang Rice Terrace. Sebenarnya Uma Pakel tidak masuk dalam bucket list destinasi kami, tapi driver kami menyampaikan bahwa pemandangan disini cukup bagus dan bisa juga main swing dengan harga relatif lebih murah. Tapi disini kami memilih untuk berfoto dengan latar belakang pepohonan dan sawah, serta free testing kopi dan teh. Ada berbagai jenis kopi dan teh yang sangat menarik untuk dicoba, diantaranya ada kopi kelapa, kopi ginseng, kopi luwak, teh kulit manggis, teg kayu manis, dan banyak lagi. Aku sendiri akhirnya membeli produk teh rempah-rempah (spice tea) yang merupakan campuran tamarin dan kunyit.

Free Testing di Uma Pakel Ubud

Tujuan berikutnya adalah Tegallalang Rice Terrace. Disini kami melihat hamparan sawah yang sangat hijau. Kalau teman-teman tidak berminat ke Uma Pakel, disini juga tersedia swing namun viewnya memang menurutku viewnya tidak terlalu bagus. Kami menyusuri persawahan dan menyebrangi sungai kecil menuju ke sisi persawahan yang lain. Setelah selesai, kami menuju tempat makan siang kami yaitu Bebek Sawah Indah. Sebenarnya tujuan awal kami adalah Bebek Tepi Sawah, namun kami direkomendasikan oleh driver kami untuk makan siang disini karena menurut Beliau rasanya lebih enak dan harganya lebih terjangkau. Keduanya berada di lokasi yang sama, hanya bersebrangan. Menurutku pribadi, secara keseluruhan aku cukup puas namun tidak berminat kembali lagi. Dari segi masakan aku lebih menyukai Bebek Tepi Sawah, namun bila dilihat dari pertimbangan harga memang lebih murah teman-teman. Setelah perut kenyang, kami menuju Ubud Palace. Ubud Palace, Puri Saraswati dan Pasar Seni Ubud berada di daerah yang sama dan untuk mencapai satu sama lain juga cukup berjalan kaki. Tempat yang paling membuatku terkesan adalah Puri Saraswati karena kolam lotusnya yang bagus. Aku sedikit sedih sih sebab waktu kami datang kesana tidak banyak bunga yang bermekaran. Tapi masih tetap bagus menurutku. Kalau ke Bali lagi, aku ingin sekali kembali kesini. Sepulangnya dari sini, kami hanya berbelanja oleh-oleh di Krishna Kuta dan menyusuri Kuta Square. Kalau teman-teman memang tertarik untuk melihat dan berinteraksi langsung dengan monyet-monyet di Bali, kalian bisa langsung ke Sacred Monkey Forest Sanctuary karena memang satu jalur dengan beberapa objek yang aku kunjungi ini. Mungkin teman-teman pernah ada pengalaman di Uluwatu dimana monyet-monyetnya memang jahil. Tenang saja, driverku menyampaikan bahwa monyet-monyet disini cukup jinak kok karena sudah diberi makan.

Puri Saraswati Ubud

HARI 5 : KUTA

Hari terakhir kami di Kuta kami lalui dengan berjalan menyusuri Kuta Square, Pantai Kuta dan mampir ke Beachwalk Shopping Centre. Kami tidak punya target khusus untuk hari ini. Setelah lapar, kami segera menuju tempat makan yang super hits dan populer di Bali. Apalagi kalau bukan Sate Babi Bawah Pohon.. Wuaaaah senang sekali bisa kesini, karena ini adalah pertama kalinya aku kesini. Banyak temanku yang sudah sering kesini dan memberi review bahwa sate babi disini enak sekali. Aku dan temanku pun memesan sate babi dan bakso goreng gajah (BAGOJA). Kami sangat puas dengan menu yang kami pesan karena memang semuanya enak. Setelah makan siang, kami kembali menuju Kuta untuk membeli oleh-oleh wajib yaitu pie susu. Aku sendiri suka sekali dengan pie susu merek Dhian. Outlet Pie Susu Dhian berada tidak jauh dengan Cara Cara Inn sehingga cukup mudah menjangkaunya. Ada satu destinasi lagi yang disisipkan oleh temanku yang memang tidak kami rencanakan sebelumnya, yaitu mengunjungi Hogwarts The Pub Bali. Temanku ini bisa dibilang Harpot Freak karena memang dia suka sekali dengan cerita dan film Harry Potter, sedangkan aku buta sekali dengan kisah fiksi ini. Sebagai teman yang baik, aku pun menemani dia kesana hehehe. Agak lucu sih karena kami mengunjungi Pub di jam 12 siang. Tapi sebenarnya tidak ada masalah, karena kami juga hanya berminat nongkrong dan menikmati atmosfernya. Temanku memesan butter beer. Nilai plus disini adalah kamu bisa gratis menggunakan atribut Harry Potter. Jadi, sambil menunggu pesanan datang temanku langsung berfoto ria menggunakan atribut Harry Potter kesukaannya yaitu jubah berwarna biru. Harga butter beer disini yaitu 97rb. Oh ya, kalau teman-teman datang kesini Jumat malam atau Sabtu malam akan ada berbagai pertunjukan menarik. Tapi jangan datang terlalu malam karena Pub-nya tutup jam 10 malam teman-teman. Dari Pub ini, kami segera menuju penginapan untuk mengambil barang dan menuju bandara. Kami menggunakan maskapai yang sama dengan ketika berangkat dengan jadwal keberangkatan pukul setengah 4 sore. Inilah akhir perjalananku ke Bali dan Nusa Penida. Semoga bisa menginspirasi teman-teman untuk berpetualang dan menjelajahi Indonesia. See u on another trip journal, pals!

Design a site like this with WordPress.com
Get started