
Hai teman-teman semua! Apa kabar nih? Kali ini aku akan menceritakan pengalaman liburan singkatku ke Pulau Tidung. Aku katakan singkat karena hanya 2 hari 1 malam aja. Liburan ini aku lakukan tahun lalu, bersama dengan rombongan departemenku di kantor waktu masih bekerja dulu. Waktu sedang melihat lihat foto lama, aku langsung terpikir untuk membagikan cerita ini. Menurutku, liburan ini cocok banget bagi para pekerja yang sedang ingin short break dari kepenatan ibu kota. Bagi teman-teman pembaca yang full-time worker, pasti merasakan pusing dan stres nya bekerja 8AM-5PM selama 5 hari dalam seminggu. Itu pun yang dulu aku dan timku rasakan. Oleh karenanya, salah satu temanku mengusulkan untuk berlibur bersama kesana. Aku cukup senang ikut berlibur bersama teman-teman, karena selain bisa memupuk persaudaraan sesama tim, kami satu departemen juga disubsidi oleh direktur departemen. Jadi bayarnya hanya sekitar 30% dari harga paket. Ah bahagianya..
Untuk liburan ini, teman dan bosku memang sengaja memilih paketan tur. Selain lebih murah (karena kan kami pesan paket dalam jumlah banyak), tentu lebih praktis sebab semua akomodasi sudah diatur. Kita mah tinggal bawa diri aja, singkatnya begitu hahaha. Tur ini dimulai dari Sabtu siang (kurang lebih sih jam-jam makan siang) sampai dengan Minggu siang. Waktu itu seingatku baru balik dari Pulau Tidung jam 2 siang dan sampainya di Jakarta jam 4 sore. Harga paket tur kami sekitar 450 ribu, tapi kalau rombongan kalian kurang dari 15 orang tentu lebih mahal. Rombongan kami itu 22 orang.

Day 1 : Let’s Go to Pulau Tidung!
Oke jadi mari kuceritakan pengalamanku. Aku dan beberapa teman serta staff berangkat dari Bogor jam 6 pagi. Aku nebeng dengan temanku yang bawa mobil. Kami akan naik kapal dari Pelabuhan/Dermaga Kali Adem. Alamatnya adalah Jalan Dermaga, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14450. Mobilnya kemudian di parkir di tempat parkir yang disediakan. Tenang aja teman-teman, disini aman kok. Ada banyak mobil lain yang juga dititipkan disini karena memang tidak bisa menyebrangkan mobil ke pulau. Meskipun masih pagi, suasana di dermaga cukup rame. Banyak orang yang berjualan mulai dari kacamata hitam, topi pantai, masker, dll. Oh ya jangan kaget, disini cukup bau amis. Pertama sampai, aku dan temanku sampai sesak napas tapi setelah beberapa lama kami jadi terbiasa juga hahaha..
Kalian harus segera mencari loket untuk mendapatkan tiket kapal yang berlabuh jam 9 nanti. Kapal yang kami gunakan adalah KM Express Bahari yang dioperasikan oleh Pelni. Kalo rombongan kami sih perjanjiannya bertemu dengan pemandu turnya di Pulau Tidung. Jadi mengurus pengambilan tiket ini dilakukan sendiri. Setelah seluruh peserta lengkap, kami segera menuju ke kapal. Kapalnya cukup bersih dan nyaman. Tidak ada kesan bau atau pengap gitu sih. AC nya juga dingin. Kapal tersebut cukup besar dan terdiri dari 2 lantai. Rombonganku berada di lantai 1 tapi kami tetap bisa naik ke lantai 2. Selain itu, kami juga bisa keluar menuju upper deck untuk menikmati angin laut yang sepoi-sepoi. Aku dan temanku duduk-duduk di dek sambil nyantai. Pemandangan laut yang luas cukup membuatku rileks. Kami akan menyebrang dengan estimasi waktu 1,5 – 3 jam.
Kami tiba di Pulau Tidung pada siang hari, sekitar jam setengah 12 siang. Oh ya.. Pulau Tidung itu terdiri dari Tidung besar dan Tidung kecil. Di Tidung kecil tidak ada penginapan, hanya ada hutan kecil dan semacam museum gitu. Jadi kami menginapnya di Tidung besar.
Kami dijemput oleh pemandu wisata grup kami dan diarahkan untuk berjalan menuju pool sepeda. Sepeda adalah alat transportasi yang akan kami gunakan di pulau ini. Tidak ada mobil. Hanya sepeda, sepeda motor dan becak. Semua rombonganku bersemangat berjalan menuju pool sepeda. Rombongan kami sengaja menyewa 2 becak untuk mengangkut barang-barang bawaan kami menuju ke tempat penginapan. Sangat tidak mungkin bawa barang bawaan tersebut sambil naik sepeda, mengingat bawaan grup kami cukup banyak. Ada yang bawa speaker sampai ice box cooler. Bosku memang totalitas, Beliau membawa sosis dan bahan makanan lain untuk kami BBQ jadi perlu ice box cooler. Sebetulnya kalo engga bawa juga gak papa, nanti sudah disediakan kok. Ini hanya tambahan aja.
Sesampainya di tempat penginapan, kami beristirahat sejenak di kamar sambil menyusun barang. Setelah itu makan siang. Penginapan kami tidak mewah, tapi sangat bersih. Lokasinya juga bagus, tepat di pinggir pantai. Kamarku bahkan langsung menghadap sebuah gazebo yang difungsikan sebagai ruang makan dan ruang santai. Gazebo itu persis menghadap laut. Beberapa temanku asik menyeting speaker disana.




Pada awalnya, aku mikir liburanku ini udah sempurna banget. Tapi begitu melihat makan siang tersaji di gazebo, aku mendadak lemas. Disini kucingnya buanyaaaaak banget. Lebih dari yang pernah kulihat di tempat-tempat lain. Aku takut dan benci banget deh sama yang namanya kucing. Memang sih aku gak terlalu suka hewan, tapi kucing itu paling aku hindari. Satu kucing aja udah bikin aku takut. Di gazebo aku bisa menemukan sekitar 10 kucing. Persis di bawah meja makan. Aku udah gak pengen makan rasanya. Beruntungnya, aku punya teman yang baik. Dia mau ngambilin aku makanan. Bahkan bosku super baik, bikin terharu. Waktu aku enggak berani letakkin piring kotor di bawah meja makan, Beliau nawarin bantuan. Bayangin, bos kalian lho.. Aku sungkan, jadi aku sok berani aja. Secepat kilat aku menuju bawah meja makan dan buru-buru naro piring. Abis itu ngibrit masuk ke kamar. Siap-siap untuk snorkeling ah!
Yups disini aku paling tersiksa waktu jam makan. Kucing yang dateng itu buanyak banget. Kalo piring kotor udah pada di taro itu bisa sampai 15 kucing deh. Cuma ya selebihnya masih bisa menikmati acaranya. Snorkeling ini buat aku bersemangat banget. Kalo di laut kan aman, enggak ada kucing. Selain itu, aku emang suka berenang. Kami pun segera berjalan kaki menuju dermaga untuk naik perahu. Kami dibawa ke titik yang bagus untuk snorkeling. Gak perlu waktu lama buatku untuk nyemplung. Wah benar aja, terumbu karangnya warna-warni dan banyak ikan kecil juga. Oh ya, meskipun enggak terlalu ke tengah, titik ini cukup dalam dan ombaknya pun terasa. Buat kalian yang enggak bisa berenang bisa gunakan pelampung dan jangan terlalu jauh dari tali tambang perahu ya. Soalnya, berdasarkan pengalamanku waktu itu, bosku yang lagi asik mengapung-ngapung malah terdorong jauh dari perahu. Nyasar ke perahu orang hahaha. Itu kocak lho, sampe pemandu turnya turun tangan dan langsung berenang menjemput bosku itu ke perahu tetangga. Karena emang bosku kesulitan berenang menuju perahu kami. Ombaknya terlalu kuat. Untungnya, dulu aku belajar berenang sama tentara, latihanku berat jadi sekarang aku cukup bisa mengendalikan diri ketika sudah terbawa ombak jauh dari kapal. Disini kami juga diarahkan sama pemandu turnya untuk foto di bawah air. Tapi fotoku gak oke banget, malah kayak ikan fugu huahahaha
Kami diberikan waktu cukup lama untuk bisa berenang disini. Segar banget rasanya siang bolong bisa berenang di laut. Tapi begitu naik ke kapal, aku nyadar juga kulitku sedikit lebih gelap. Gosong euyyy! Jangan lupa pake sunblock ya.. Setelah kami semua puas berenang, kami kembali ke daratan dan berjalan kembali ke penginapan untuk mengambil sepeda. Kami pun bersepeda menuju Jembatan Cinta. Disini kami akan menikmati water sport seperti banana boat ataupun doughnut. Kalian juga bisa lompat indah ke laut dari jembatan cinta. Aku sih engga lompat soalnya gak berani. Aku milih untuk berenang di laut dan naik banana boat. Aku sampe naik permainan ini sebanyak 3x karena temanku ada yang gak berani. Jadi aku ambil kesempatannya hehe =p. Aku agak kurang hati-hati waktu permainan ketiga. Jadi begitu bangun enggak lihat-lihat pasir di bawah kakiku. Ternyata di balik pasir itu ada karang. Kakiku terkena karang yang tajam, berdarah deh. Tapi sekali lagi, beruntung banget ada direkturku yang super baik dan keibuan. Jadi dia nemenin aku yang lagi duduk dan ngobatin kaki. Kakiku udah sakit, jadi aku enggak nyebur lagi. Perih.. Mending duduk-duduk aja sambil menikmati angin laut bareng direkturku.






Jam sudah menunjukkan pukul 3 lebih, kami pun diajak untuk ‘mentas’ oleh pemadu tur karena selanjutnya akan diajak menikmati kelapa segar di kedai pinggir pantai. Di area jembatan cinta ini memang banyak banget gazebo atau kedai-kedai kecil yang jual makanan laut dan juga kelapa segar. Kami enggak makan disini karena nantinya makan malam dan BBQ akan disiapkan di penginapan. Jadi hanya minum kelapa saja disini sambil menunggu jam untuk menonton matahari terbenam di sisi pulau sebaliknya. Singkatnya kami sedang berada di sisi paling ujung Pulau Tidung besar dan untuk menikmati matahari terbenam kami harus bersepeda ke ujung pulau satu lagi. Wow menarik sekali. Ok, minum kelapa disini ya biasa aja apalagi karena banyak kucing yang mengitari tempat dudukku. Betul-betul gak nyaman dan kucing disini emang super gak ada akhlak sih. Mereka sampe naik-naik ke kursi bahkan meja coba! Huft bikin kesel. Makanya, begitu pemandu tur mengajak kami cepet-cepat mengambil sepeda untuk menuju sisi pulau satu lagi, aku yang paling semangat diantara semuanya.
Ada hal lucu begitu sampai di parkiran sepeda. Sepedaku yang tadi aku parkir, hilang gitu aja. Sebetulnya sih enggak hilang, tapi mungkin waktu tadi anak-anak ribut ngambil sepeda ya sepedaku ikutan keambil. Kan memang enggak diberi tanda apa-apa begitu mengambil sepeda dari pool. Jadi bisa bertukar-tukar sepeda. Kebetulan waktu jalan tadi aku lagi ngobrol dengan teman, jadi nyampenya lumayan akhir ke parkiran. Usut punya usut, ternyata ada staffku yang berangkat jalan kaki dari penginapan. Sepedanya lupa dibawa. Tapi karena lupa kalau mereka jalan kaki, dipikirnya kan naik sepeda, yaudah main ambil aja. Ya ampun ini si bapak-bapak aya-aya wae.. Cuma karena udah bapak-bapak, aku kasihan juga masa jalan kaki gitu kan. Kebetulan temenku itu juga sepedanya diambil bapak satunya lagi, kita akhirnya milih naik becak motor menuju ke sunset spot. Emang rejeki anak soleh kan. Berangkat paling akhir tapi sampai tujuan paling awal, terus di jalan lihat temen-temen lainnya pada ngayuh susah payah. Aku sama teman yang naik becak malah melambai-lambai tangan sambil ketawa lihat temen lain. Jalannya memang agak susah, berpasir dan ngelewatin ilalang bersemak-semak gitu. Aku bersyukur juga sepedaku diambil hahahaha
Sisi Pulau sebelah sini berbeda banget suasananya. Lebih tenang, nyaman dan sepi. Enggak banyak yang kesini karena memang agak jauh dari pemukiman. Kalo kuhitung sih sekitar 15 menit bersepeda dari jembatan cinta. Tapi pemandangannya oke, sunsetnya juga dapet banget. Gak nyesel sih! Kalian wajib kesini deh. Nanti tanya aja sama warga setempat tempat sunset bagus, pasti diarahkan langsung kesini.




Hari sudah mulai gelap ketika kami bertolak dari tempat ini menuju ke penginapan. Kami harus segera pulang karena takut nanti nyasar kalo terlanjur gelap. Aku pribadi memang pengen segera pulang karena badanku sudah lengket karena melewati fase basah-kering sebanyak 2x. Kami kan enggak mandi terlebih dulu setelah nyemplung ke laut. Jadi memang udah dibiarin kering gitu aja. Lumayan gatel juga kulitku. Berkat naik becak motor, aku cukup cepat sampai ke penginapan. Namun, kasihan juga temanku yang mengayuh sepeda. Temanku bahkan ada yang nyasar juga. Kalo kalian berkunjung kesini dan baliknya sudah mulai gelap, pastikan selalu bersama-sama rombongan ya. Kecuali naik becak motor, kan abangnya udah hafal jalannya jadi aman lah. Kalo enggak bareng rombongan, hilang bisa repot deh. Soalnya terkadang di beberapa area agak susah sinyal juga. Okeeei?
Kami mandi dan membersihkan diri. Santai-santai sebentar dan kemudian makan malam deh. Tenang, BBQ juga sudah disiapkan oleh turnya. Ikan bakar, udang, dll bahkan sudah dibakarkan. Benar-benar tinggal makan aja. Nikmat dunia :D. Cuma ya tetep aja aku makan nunggu itu kucing pada pergi. Keberuntungan agak berpihak sama aku sih kayaknya, kucing yang dateng malam ini gak begitu banyak. Jadi aku masih bisa makan sosis dan ngambil sate cumi.
Puji Tuhan, jaringan internet kami malam itu berfungsi dengan baik. Jadi kami, para muda mudi bisa berkaraoke bersama di gazebo. Mulai dari lagu jadul dalam dan luar negeri, lagu alay, lagu metal, semua kami nyanyikan dengan gembira. Bahkan temanku sampe kelupaan pengang hp, terus ternyata istrinya telpon hahaha.. Seru banget. Awalnya kami berkaraoke sambil menghibur para bos dan menyemarakkan suasana. Tapi, lama-lama keterusan sambil cerita-cerita gitu.. eh waktu lihat jam udah jam 12 malam. Tengok kanan kiri, para bos udah pada tidur dan sekeliling sepi. Tinggal kami-kami aja muda mudi yang masih on. Kami pun teringat, besok pagi kami harus bangun dan mengejar sunrise ke jembatan cinta. Aku pun menyudahi kehebohan malam ini dan memaksakan diri untuk tidur. Begitu pula dengan teman-temanku.
Menurutku, kegiatan outing departemen seperti ini tuh penting banget. Melalui kegiatan seperti ini, kalian bisa dekat dengan bos secara personal. Jadi relasi kalian bisa lebih terbangun dan mengurangi gap yang biasa tercipta di kantor. Aku juga merasa jadi lebih dekat sama teman timku. Aku jadi menyadari bahwa kami punya selera musik yang sama, bahan tertawaan dan cerita yang nyambung. Padahal kami tidak seumuran. Tapi ya terenyata kami semua lumayan cocok lah. Setelahnya, aku jadi merasa lebih nyaman bekerja bersama mereka. Nah ini bisa jadi inspirasi buat kalian untuk membangun relasi yang baik dengan departemen kalian 🙂
Day 2 : Bye Pulau Tidung. Thank Your for the Memories!
Sekitar jam setengah 5 pagi kami sudah harus bangun dan bersiap menuju Jembatan Cinta. Hari masih gelap dan lumayan dingin. Menggunakan jaket dan topi, aku dan teman-teman pun bersiap mengayuh sepeda. Kami memarkir sepeda di tempat kemarin, lalu berjalan menuju jembatan. Bosku mengajak kami kembali foto bersama di sebuah spot foto bergambar hati. Padahal kemarinnya setelah water sport sudah sempat foto lho.. cuma kata bosku, kan beda waktunya jadi perlu foto lagi dong. Hahaha bosku emang narsis, tapi gak papa lah kan jarang juga bisa foto unyu-unyu begitu


Jembatan Cinta menghubungkan Pulau Tidung Besar dengan Pulau Tidung Kecil. Panjang jembatannya kurang lebih 800 meter. Kami jalan santai aja. Angin pagi masih sejuk jadi ngapain juga buru-buru, betul? Kalo capek, kami berhenti dulu sambil foto-foto. Di tengah jembatan ada beberapa gazebo juga, mungkin memang disediakan untuk para pengunjung yang capek jalan. Sunrise dari jembatan cinta ini bagus deh. Kalian wajib untuk berkunjung kesini. Setelah melihat sunrise, kami pun melanjutkan jalan lagi sambil menyanyi riang. Bosku ada yang bawa portable speaker juga jadi rame deh. Sekitar 20 menit kami udah sampe di Pulau Tidung Kecil.






Begitu sampai di Pulau Tidung Kecil, suasananya masih sepi. Belum ada pengunjung deh menurutku. Soalnya yang bikin heboh cuma kami doang. Disini emang gak ada pemukiman, adanya hutan mangrove yang memang dikelola sama pemerintah untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Jalan semakin ke bagian tengah pulau, kami menemukan adanya Museum Kerangka Ikan Paus dan Konservasi Penyu. Sayangnya, kami datang terlalu pagi jadi masih tutup deh. Oke deh yang penting sudah liat. Museumnya transparan karena menggunakan kaca, jadi ngintip-ngintip di balik kaca kami pun udah bisa lihat kerangkanya. Super besarrr!




Butuh waktu sekitar 2 jam untuk puas menjelajahi pulau dan kembali ke penginapan kami. Badan sudah berkeringat dan butuh mandi. Kami pun segera mandi dan membereskan barang. Senang sekali rasanya makan pagi hari ini bentuknya nasi box. Jadi aku enggak perlu susah payah bertemu kucing-kucing yang mengincar sarapan kami. Aku dan rombongan pun makan di kamar masing-masing. Suasanya penginapan cukup sepi. Aku rasa rombonganku pada tidur kembali. Memang enggak ada agenda khusus sih sampai siang nanti. Acara bebas. Kalo mau sepedaan keliling-keliling juga boleh. Temanku ada yang jalan-jalan di sekitar penginapan untuk cari souvenir. Kalo aku sih enggak mikir untuk kasih oleh-oleh ke siapa pun, jadi yaudah rebahan aja di kamar.
Capek rebahan, aku pun berkeliling bersama beberapa teman. Lihat-lihat cinderamata yang dijual. Aku juga sempat melihat ada sebuah makam. Waktu aku cari tau di internet, makam itu konon adalah makam keramat yang kabarnya berasal dari suku Tidung Kabupaten Malinau-Kalimantan Utara. Pulau ini punya banyak sejarah juga lho. Untuk lebih lengkap, kalian coba deh baca di Wikipedia. Aku juga baca kalo kunjungan wisatawan ke pulau ini dimulai tahun 2009 temen-temen. Wisatawan yang banyak sih pastinya dari Jakarta, tapi juga ada dari Bogor, Bandung dan Tangerang. Kalo sekarang sih Pulau Tidung sebagai salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu, udah cukup terkenal. Wisatawannya pasti udah berasal dari banyak tempat.
Hmm hari sudah mulai siang dan takutnya rombongan sudah pada selesai berkemas, kami pun segera pulang ke penginapan. Betul aja, bosku dan beberapa teman udah ada di gazebo untuk makan siang. Wah kucingnya udah pada ngerubungin, jadi aku malas makan. Untung bawa sereal. Aku jd makan sereal aja deh terus berkemas. Setelah makan siang, kami segera bersiap untuk menuju pelabuhan. Tapi terlebih dahulu mengembalikan sepeda ke pool. Kami naik kapal yang sama seperti kemarin, dan tiba di Pelabuhan Kali Adem jam 4 sore. Rombonganku sepertinya kecapekan, banyak yang tidur nyenyak di perjalanan. Aku pun sempat tidur, kemudian cari angin segar di dek. Cuma karena memang sudah siang, gak minat lama-lama juga. Pengalamanku ini sangat menyenangkan dan teringat terus di ingatanku meskipun saat ini sudah resign. Terima kasih ya teman-teman departemenku, aku akan selalu ingat kalian deh. Terlebih untuk Mbak Yullis, Mbak Betty, Mas Rajab, Mas Agus & Ekir.. Sekian dulu ya cerita yang bisa aku bagikan kali ini. Semoga bermanfaat dan menginspirasi kalian. Sampai ketemu di cerita liburan berikutnya yaaa! 😀





















































































































































































































































