Short Getaway to Tidung Island

Hai teman-teman semua! Apa kabar nih? Kali ini aku akan menceritakan pengalaman liburan singkatku ke Pulau Tidung. Aku katakan singkat karena hanya 2 hari 1 malam aja. Liburan ini aku lakukan tahun lalu, bersama dengan rombongan departemenku di kantor waktu masih bekerja dulu. Waktu sedang melihat lihat foto lama, aku langsung terpikir untuk membagikan cerita ini. Menurutku, liburan ini cocok banget bagi para pekerja yang sedang ingin short break dari kepenatan ibu kota. Bagi teman-teman pembaca yang full-time worker, pasti merasakan pusing dan stres nya bekerja 8AM-5PM selama 5 hari dalam seminggu. Itu pun yang dulu aku dan timku rasakan. Oleh karenanya, salah satu temanku mengusulkan untuk berlibur bersama kesana. Aku cukup senang ikut berlibur bersama teman-teman, karena selain bisa memupuk persaudaraan sesama tim, kami satu departemen juga disubsidi oleh direktur departemen. Jadi bayarnya hanya sekitar 30% dari harga paket. Ah bahagianya..

Untuk liburan ini, teman dan bosku memang sengaja memilih paketan tur. Selain lebih murah (karena kan kami pesan paket dalam jumlah banyak), tentu lebih praktis sebab semua akomodasi sudah diatur. Kita mah tinggal bawa diri aja, singkatnya begitu hahaha. Tur ini dimulai dari Sabtu siang (kurang lebih sih jam-jam makan siang) sampai dengan Minggu siang. Waktu itu seingatku baru balik dari Pulau Tidung jam 2 siang dan sampainya di Jakarta jam 4 sore. Harga paket tur kami sekitar 450 ribu, tapi kalau rombongan kalian kurang dari 15 orang tentu lebih mahal. Rombongan kami itu 22 orang.

Day 1 : Let’s Go to Pulau Tidung!

Oke jadi mari kuceritakan pengalamanku. Aku dan beberapa teman serta staff berangkat dari Bogor jam 6 pagi. Aku nebeng dengan temanku yang bawa mobil. Kami akan naik kapal dari Pelabuhan/Dermaga Kali Adem. Alamatnya adalah Jalan Dermaga, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14450. Mobilnya kemudian di parkir di tempat parkir yang disediakan. Tenang aja teman-teman, disini aman kok. Ada banyak mobil lain yang juga dititipkan disini karena memang tidak bisa menyebrangkan mobil ke pulau. Meskipun masih pagi, suasana di dermaga cukup rame. Banyak orang yang berjualan mulai dari kacamata hitam, topi pantai, masker, dll. Oh ya jangan kaget, disini cukup bau amis. Pertama sampai, aku dan temanku sampai sesak napas tapi setelah beberapa lama kami jadi terbiasa juga hahaha..

Kalian harus segera mencari loket untuk mendapatkan tiket kapal yang berlabuh jam 9 nanti. Kapal yang kami gunakan adalah KM Express Bahari yang dioperasikan oleh Pelni. Kalo rombongan kami sih perjanjiannya bertemu dengan pemandu turnya di Pulau Tidung. Jadi mengurus pengambilan tiket ini dilakukan sendiri. Setelah seluruh peserta lengkap, kami segera menuju ke kapal. Kapalnya cukup bersih dan nyaman. Tidak ada kesan bau atau pengap gitu sih. AC nya juga dingin. Kapal tersebut cukup besar dan terdiri dari 2 lantai. Rombonganku berada di lantai 1 tapi kami tetap bisa naik ke lantai 2. Selain itu, kami juga bisa keluar menuju upper deck untuk menikmati angin laut yang sepoi-sepoi. Aku dan temanku duduk-duduk di dek sambil nyantai. Pemandangan laut yang luas cukup membuatku rileks. Kami akan menyebrang dengan estimasi waktu 1,5 – 3 jam.

Kami tiba di Pulau Tidung pada siang hari, sekitar jam setengah 12 siang. Oh ya.. Pulau Tidung itu terdiri dari Tidung besar dan Tidung kecil. Di Tidung kecil tidak ada penginapan, hanya ada hutan kecil dan semacam museum gitu. Jadi kami menginapnya di Tidung besar.

Kami dijemput oleh pemandu wisata grup kami dan diarahkan untuk berjalan menuju pool sepeda. Sepeda adalah alat transportasi yang akan kami gunakan di pulau ini. Tidak ada mobil. Hanya sepeda, sepeda motor dan becak. Semua rombonganku bersemangat berjalan menuju pool sepeda. Rombongan kami sengaja menyewa 2 becak untuk mengangkut barang-barang bawaan kami menuju ke tempat penginapan. Sangat tidak mungkin bawa barang bawaan tersebut sambil naik sepeda, mengingat bawaan grup kami cukup banyak. Ada yang bawa speaker sampai ice box cooler. Bosku memang totalitas, Beliau membawa sosis dan bahan makanan lain untuk kami BBQ jadi perlu ice box cooler. Sebetulnya kalo engga bawa juga gak papa, nanti sudah disediakan kok. Ini hanya tambahan aja.

Sesampainya di tempat penginapan, kami beristirahat sejenak di kamar sambil menyusun barang. Setelah itu makan siang. Penginapan kami tidak mewah, tapi sangat bersih. Lokasinya juga bagus, tepat di pinggir pantai. Kamarku bahkan langsung menghadap sebuah gazebo yang difungsikan sebagai ruang makan dan ruang santai. Gazebo itu persis menghadap laut. Beberapa temanku asik menyeting speaker disana.

Pada awalnya, aku mikir liburanku ini udah sempurna banget. Tapi begitu melihat makan siang tersaji di gazebo, aku mendadak lemas. Disini kucingnya buanyaaaaak banget. Lebih dari yang pernah kulihat di tempat-tempat lain. Aku takut dan benci banget deh sama yang namanya kucing. Memang sih aku gak terlalu suka hewan, tapi kucing itu paling aku hindari. Satu kucing aja udah bikin aku takut. Di gazebo aku bisa menemukan sekitar 10 kucing. Persis di bawah meja makan. Aku udah gak pengen makan rasanya. Beruntungnya, aku punya teman yang baik. Dia mau ngambilin aku makanan. Bahkan bosku super baik, bikin terharu. Waktu aku enggak berani letakkin piring kotor di bawah meja makan, Beliau nawarin bantuan. Bayangin, bos kalian lho.. Aku sungkan, jadi aku sok berani aja. Secepat kilat aku menuju bawah meja makan dan buru-buru naro piring. Abis itu ngibrit masuk ke kamar. Siap-siap untuk snorkeling ah!

Yups disini aku paling tersiksa waktu jam makan. Kucing yang dateng itu buanyak banget. Kalo piring kotor udah pada di taro itu bisa sampai 15 kucing deh. Cuma ya selebihnya masih bisa menikmati acaranya. Snorkeling ini buat aku bersemangat banget. Kalo di laut kan aman, enggak ada kucing. Selain itu, aku emang suka berenang. Kami pun segera berjalan kaki menuju dermaga untuk naik perahu. Kami dibawa ke titik yang bagus untuk snorkeling. Gak perlu waktu lama buatku untuk nyemplung. Wah benar aja, terumbu karangnya warna-warni dan banyak ikan kecil juga. Oh ya, meskipun enggak terlalu ke tengah, titik ini cukup dalam dan ombaknya pun terasa. Buat kalian yang enggak bisa berenang bisa gunakan pelampung dan jangan terlalu jauh dari tali tambang perahu ya. Soalnya, berdasarkan pengalamanku waktu itu, bosku yang lagi asik mengapung-ngapung malah terdorong jauh dari perahu. Nyasar ke perahu orang hahaha. Itu kocak lho, sampe pemandu turnya turun tangan dan langsung berenang menjemput bosku itu ke perahu tetangga. Karena emang bosku kesulitan berenang menuju perahu kami. Ombaknya terlalu kuat. Untungnya, dulu aku belajar berenang sama tentara, latihanku berat jadi sekarang aku cukup bisa mengendalikan diri ketika sudah terbawa ombak jauh dari kapal. Disini kami juga diarahkan sama pemandu turnya untuk foto di bawah air. Tapi fotoku gak oke banget, malah kayak ikan fugu huahahaha

Kami diberikan waktu cukup lama untuk bisa berenang disini. Segar banget rasanya siang bolong bisa berenang di laut. Tapi begitu naik ke kapal, aku nyadar juga kulitku sedikit lebih gelap. Gosong euyyy! Jangan lupa pake sunblock ya.. Setelah kami semua puas berenang, kami kembali ke daratan dan berjalan kembali ke penginapan untuk mengambil sepeda. Kami pun bersepeda menuju Jembatan Cinta. Disini kami akan menikmati water sport seperti banana boat ataupun doughnut. Kalian juga bisa lompat indah ke laut dari jembatan cinta. Aku sih engga lompat soalnya gak berani. Aku milih untuk berenang di laut dan naik banana boat. Aku sampe naik permainan ini sebanyak 3x karena temanku ada yang gak berani. Jadi aku ambil kesempatannya hehe =p. Aku agak kurang hati-hati waktu permainan ketiga. Jadi begitu bangun enggak lihat-lihat pasir di bawah kakiku. Ternyata di balik pasir itu ada karang. Kakiku terkena karang yang tajam, berdarah deh. Tapi sekali lagi, beruntung banget ada direkturku yang super baik dan keibuan. Jadi dia nemenin aku yang lagi duduk dan ngobatin kaki. Kakiku udah sakit, jadi aku enggak nyebur lagi. Perih.. Mending duduk-duduk aja sambil menikmati angin laut bareng direkturku.

Jam sudah menunjukkan pukul 3 lebih, kami pun diajak untuk ‘mentas’ oleh pemadu tur karena selanjutnya akan diajak menikmati kelapa segar di kedai pinggir pantai. Di area jembatan cinta ini memang banyak banget gazebo atau kedai-kedai kecil yang jual makanan laut dan juga kelapa segar. Kami enggak makan disini karena nantinya makan malam dan BBQ akan disiapkan di penginapan. Jadi hanya minum kelapa saja disini sambil menunggu jam untuk menonton matahari terbenam di sisi pulau sebaliknya. Singkatnya kami sedang berada di sisi paling ujung Pulau Tidung besar dan untuk menikmati matahari terbenam kami harus bersepeda ke ujung pulau satu lagi. Wow menarik sekali. Ok, minum kelapa disini ya biasa aja apalagi karena banyak kucing yang mengitari tempat dudukku. Betul-betul gak nyaman dan kucing disini emang super gak ada akhlak sih. Mereka sampe naik-naik ke kursi bahkan meja coba! Huft bikin kesel. Makanya, begitu pemandu tur mengajak kami cepet-cepat mengambil sepeda untuk menuju sisi pulau satu lagi, aku yang paling semangat diantara semuanya.

Ada hal lucu begitu sampai di parkiran sepeda. Sepedaku yang tadi aku parkir, hilang gitu aja. Sebetulnya sih enggak hilang, tapi mungkin waktu tadi anak-anak ribut ngambil sepeda ya sepedaku ikutan keambil. Kan memang enggak diberi tanda apa-apa begitu mengambil sepeda dari pool. Jadi bisa bertukar-tukar sepeda. Kebetulan waktu jalan tadi aku lagi ngobrol dengan teman, jadi nyampenya lumayan akhir ke parkiran. Usut punya usut, ternyata ada staffku yang berangkat jalan kaki dari penginapan. Sepedanya lupa dibawa. Tapi karena lupa kalau mereka jalan kaki, dipikirnya kan naik sepeda, yaudah main ambil aja. Ya ampun ini si bapak-bapak aya-aya wae.. Cuma karena udah bapak-bapak, aku kasihan juga masa jalan kaki gitu kan. Kebetulan temenku itu juga sepedanya diambil bapak satunya lagi, kita akhirnya milih naik becak motor menuju ke sunset spot. Emang rejeki anak soleh kan. Berangkat paling akhir tapi sampai tujuan paling awal, terus di jalan lihat temen-temen lainnya pada ngayuh susah payah. Aku sama teman yang naik becak malah melambai-lambai tangan sambil ketawa lihat temen lain. Jalannya memang agak susah, berpasir dan ngelewatin ilalang bersemak-semak gitu. Aku bersyukur juga sepedaku diambil hahahaha

Sisi Pulau sebelah sini berbeda banget suasananya. Lebih tenang, nyaman dan sepi. Enggak banyak yang kesini karena memang agak jauh dari pemukiman. Kalo kuhitung sih sekitar 15 menit bersepeda dari jembatan cinta. Tapi pemandangannya oke, sunsetnya juga dapet banget. Gak nyesel sih! Kalian wajib kesini deh. Nanti tanya aja sama warga setempat tempat sunset bagus, pasti diarahkan langsung kesini.

Hari sudah mulai gelap ketika kami bertolak dari tempat ini menuju ke penginapan. Kami harus segera pulang karena takut nanti nyasar kalo terlanjur gelap. Aku pribadi memang pengen segera pulang karena badanku sudah lengket karena melewati fase basah-kering sebanyak 2x. Kami kan enggak mandi terlebih dulu setelah nyemplung ke laut. Jadi memang udah dibiarin kering gitu aja. Lumayan gatel juga kulitku. Berkat naik becak motor, aku cukup cepat sampai ke penginapan. Namun, kasihan juga temanku yang mengayuh sepeda. Temanku bahkan ada yang nyasar juga. Kalo kalian berkunjung kesini dan baliknya sudah mulai gelap, pastikan selalu bersama-sama rombongan ya. Kecuali naik becak motor, kan abangnya udah hafal jalannya jadi aman lah. Kalo enggak bareng rombongan, hilang bisa repot deh. Soalnya terkadang di beberapa area agak susah sinyal juga. Okeeei?

Kami mandi dan membersihkan diri. Santai-santai sebentar dan kemudian makan malam deh. Tenang, BBQ juga sudah disiapkan oleh turnya. Ikan bakar, udang, dll bahkan sudah dibakarkan. Benar-benar tinggal makan aja. Nikmat dunia :D. Cuma ya tetep aja aku makan nunggu itu kucing pada pergi. Keberuntungan agak berpihak sama aku sih kayaknya, kucing yang dateng malam ini gak begitu banyak. Jadi aku masih bisa makan sosis dan ngambil sate cumi.

Puji Tuhan, jaringan internet kami malam itu berfungsi dengan baik. Jadi kami, para muda mudi bisa berkaraoke bersama di gazebo. Mulai dari lagu jadul dalam dan luar negeri, lagu alay, lagu metal, semua kami nyanyikan dengan gembira. Bahkan temanku sampe kelupaan pengang hp, terus ternyata istrinya telpon hahaha.. Seru banget. Awalnya kami berkaraoke sambil menghibur para bos dan menyemarakkan suasana. Tapi, lama-lama keterusan sambil cerita-cerita gitu.. eh waktu lihat jam udah jam 12 malam. Tengok kanan kiri, para bos udah pada tidur dan sekeliling sepi. Tinggal kami-kami aja muda mudi yang masih on. Kami pun teringat, besok pagi kami harus bangun dan mengejar sunrise ke jembatan cinta. Aku pun menyudahi kehebohan malam ini dan memaksakan diri untuk tidur. Begitu pula dengan teman-temanku.

Menurutku, kegiatan outing departemen seperti ini tuh penting banget. Melalui kegiatan seperti ini, kalian bisa dekat dengan bos secara personal. Jadi relasi kalian bisa lebih terbangun dan mengurangi gap yang biasa tercipta di kantor. Aku juga merasa jadi lebih dekat sama teman timku. Aku jadi menyadari bahwa kami punya selera musik yang sama, bahan tertawaan dan cerita yang nyambung. Padahal kami tidak seumuran. Tapi ya terenyata kami semua lumayan cocok lah. Setelahnya, aku jadi merasa lebih nyaman bekerja bersama mereka. Nah ini bisa jadi inspirasi buat kalian untuk membangun relasi yang baik dengan departemen kalian 🙂

Day 2 : Bye Pulau Tidung. Thank Your for the Memories!

Sekitar jam setengah 5 pagi kami sudah harus bangun dan bersiap menuju Jembatan Cinta. Hari masih gelap dan lumayan dingin. Menggunakan jaket dan topi, aku dan teman-teman pun bersiap mengayuh sepeda. Kami memarkir sepeda di tempat kemarin, lalu berjalan menuju jembatan. Bosku mengajak kami kembali foto bersama di sebuah spot foto bergambar hati. Padahal kemarinnya setelah water sport sudah sempat foto lho.. cuma kata bosku, kan beda waktunya jadi perlu foto lagi dong. Hahaha bosku emang narsis, tapi gak papa lah kan jarang juga bisa foto unyu-unyu begitu

Jembatan Cinta menghubungkan Pulau Tidung Besar dengan Pulau Tidung Kecil. Panjang jembatannya kurang lebih 800 meter. Kami jalan santai aja. Angin pagi masih sejuk jadi ngapain juga buru-buru, betul? Kalo capek, kami berhenti dulu sambil foto-foto. Di tengah jembatan ada beberapa gazebo juga, mungkin memang disediakan untuk para pengunjung yang capek jalan. Sunrise dari jembatan cinta ini bagus deh. Kalian wajib untuk berkunjung kesini. Setelah melihat sunrise, kami pun melanjutkan jalan lagi sambil menyanyi riang. Bosku ada yang bawa portable speaker juga jadi rame deh. Sekitar 20 menit kami udah sampe di Pulau Tidung Kecil.

Begitu sampai di Pulau Tidung Kecil, suasananya masih sepi. Belum ada pengunjung deh menurutku. Soalnya yang bikin heboh cuma kami doang. Disini emang gak ada pemukiman, adanya hutan mangrove yang memang dikelola sama pemerintah untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Jalan semakin ke bagian tengah pulau, kami menemukan adanya Museum Kerangka Ikan Paus dan Konservasi Penyu. Sayangnya, kami datang terlalu pagi jadi masih tutup deh. Oke deh yang penting sudah liat. Museumnya transparan karena menggunakan kaca, jadi ngintip-ngintip di balik kaca kami pun udah bisa lihat kerangkanya. Super besarrr!

Butuh waktu sekitar 2 jam untuk puas menjelajahi pulau dan kembali ke penginapan kami. Badan sudah berkeringat dan butuh mandi. Kami pun segera mandi dan membereskan barang. Senang sekali rasanya makan pagi hari ini bentuknya nasi box. Jadi aku enggak perlu susah payah bertemu kucing-kucing yang mengincar sarapan kami. Aku dan rombongan pun makan di kamar masing-masing. Suasanya penginapan cukup sepi. Aku rasa rombonganku pada tidur kembali. Memang enggak ada agenda khusus sih sampai siang nanti. Acara bebas. Kalo mau sepedaan keliling-keliling juga boleh. Temanku ada yang jalan-jalan di sekitar penginapan untuk cari souvenir. Kalo aku sih enggak mikir untuk kasih oleh-oleh ke siapa pun, jadi yaudah rebahan aja di kamar.

Capek rebahan, aku pun berkeliling bersama beberapa teman. Lihat-lihat cinderamata yang dijual. Aku juga sempat melihat ada sebuah makam. Waktu aku cari tau di internet, makam itu konon adalah makam keramat yang kabarnya berasal dari suku Tidung Kabupaten Malinau-Kalimantan Utara. Pulau ini punya banyak sejarah juga lho. Untuk lebih lengkap, kalian coba deh baca di Wikipedia. Aku juga baca kalo kunjungan wisatawan ke pulau ini dimulai tahun 2009 temen-temen. Wisatawan yang banyak sih pastinya dari Jakarta, tapi juga ada dari Bogor, Bandung dan Tangerang. Kalo sekarang sih Pulau Tidung sebagai salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu, udah cukup terkenal. Wisatawannya pasti udah berasal dari banyak tempat.

Hmm hari sudah mulai siang dan takutnya rombongan sudah pada selesai berkemas, kami pun segera pulang ke penginapan. Betul aja, bosku dan beberapa teman udah ada di gazebo untuk makan siang. Wah kucingnya udah pada ngerubungin, jadi aku malas makan. Untung bawa sereal. Aku jd makan sereal aja deh terus berkemas. Setelah makan siang, kami segera bersiap untuk menuju pelabuhan. Tapi terlebih dahulu mengembalikan sepeda ke pool. Kami naik kapal yang sama seperti kemarin, dan tiba di Pelabuhan Kali Adem jam 4 sore. Rombonganku sepertinya kecapekan, banyak yang tidur nyenyak di perjalanan. Aku pun sempat tidur, kemudian cari angin segar di dek. Cuma karena memang sudah siang, gak minat lama-lama juga. Pengalamanku ini sangat menyenangkan dan teringat terus di ingatanku meskipun saat ini sudah resign. Terima kasih ya teman-teman departemenku, aku akan selalu ingat kalian deh. Terlebih untuk Mbak Yullis, Mbak Betty, Mas Rajab, Mas Agus & Ekir.. Sekian dulu ya cerita yang bisa aku bagikan kali ini. Semoga bermanfaat dan menginspirasi kalian. Sampai ketemu di cerita liburan berikutnya yaaa! 😀

Chit Chat

Hai guys, rasanya udah lama juga ya aku engga update blog ini. Kebetulan punya waktu senggang, yaudah deh nge-blog aja hehe. Kali ini sih sebetulnya enggak ada cerita liburan khusus, cuma pengen cerita-cerita santai. Aku ingat kembali, ini udah 3 bulan lebih aku di rumah aja. Kuliah di kampus udah diganti sama kuliah online sejak minggu ketiga bulan Maret. Yups, alasannya tentu karena pandemi virus corona yang masuk ke Indonesia sejak awal Maret itu. Awal-awal di rumah aja, jujur aku seneng banget. Aku tipe anak rumahan sebetulnya. Di rumah aku nemuin banyak kegiatan yang asik, mulai dari kuliah online, belajar masak, main piano, nonton film, baca buku, berkebun, dll. Mama papaku WFH dan adikku juga stay di rumah terus karena engga bisa kuliah. Kami jadi punya waktu banyak untuk ngobrol dan kumpul. Biasanya mah, aku riweh sama aktivitasku, mama papaku sibuk kerja, adikku di luar kota juga sibuk banget kuliah. Wah pokoknya seru banget lah. Gak ada masalah sama sekali. Tapi makin kesini, aku jadi berpikir ‘wah gak bisa begini terus sih’.

Aku tersadar waktu lihat angka kasus positif di Indonesia terus meningkat. Lonjakannya tajam. Waktu adikku balik dari ke rumah karena kampusnya ditutup, angka positif itu masih cukup sedikit, kalau lihat rekapnya di Kompas.com itu masih dibawah 100. Mama papaku waktu itu masih boleh kerja seperti biasa. Mall, restoran dan beberapa sekolah masih buka. Minggu pertama aku dan adikku SFH, kami bahkan masih bisa makan diluar. Semakin lama semakin bertambah aja kasus positifnya, mama papaku mulai WFH. Restoran dan mall di dekat rumahku pada tutup. Seperti yang kubilang, awalnya itu aku cukup hepi dan optimis pasti situasi ini bisa berakhir. Tapi, menuju pertengahan bulan April justru optimisme itu menipis. Dosenku bilang kalau kuliah dipadatkan dari yang seharusnya selesai bulan Juni menjadi selesai awal Mei. Tepatnya sih proses belajar mengajar online selesai akhir April, ujian awal Mei. Aku kaget dan cukup kesal. Aku merasa belum belajar banyak, tapi udah dipaksa selesai aja. Belum lagi aku membayangkan harus belajar kayak orang kejar tayang. Makin sebel rasanya. Hmm.. tapi kadang kalo kesel kan juga tetap harus lihat pertimbangan orang lain. Oke deh, coba aku lihat. Dari situ aku mulai mengerti juga sama kebijakan ini. Dengan pemadatan kuliah, perkuliahan bisa cepat selesai dan seluruh staff bisa 100% WFH. Belum lagi akhir April sudah mulai puasa, jadi mungkin pemikirannya kalau cepat selesai kan bisa puasa dengan tenang. Di kondisi pandemi kayak gini, jaga kesehatan itu sangat penting. Ya.. sudah deh aku mulai calm down. Toh setelah selesai ujian juga masih bisa belajar. Bisa buka buku dan belajar lagi (pikirku waktu itu, tapi realisasinya cuma efektif 30% paling hahaha).

Ngeliat kondisi kayak gitu, aku jadi mikir lagi. Wah berarti keadaan belum semakin membaik ya. Buktinya aja semakin hari semakin disarankan untuk WFH, SFH dan di rumah aja. Aku juga selalu pantau kenaikan kasus positif lewat COVID-19 Map dari John Hopkins Corona Virus Research Center. Grafiknya masih menanjak. Disini aku mulai sedih gaes. Jadi, aku dan keluargaku tuh sebetulnya udah mempersiapkan liburan keluarga sejak setahun yang lalu. Harusnya kami pergi bulan Mei ini. Kami udah pesan tiket pesawat, hotel dan sebagainya sejak setahun lalu. Itinerary udah ditangan. Sebetulnya yang bikin sedih, terlepas dari persiapan yang matang itu, adalah keluargaku udah 5 tahun enggak pernah liburan keluarga ke suatu tempat yang spesial. Di rentang tahun itu, banyak lah kejadian yang bikin kami harus liburan masing-masing. Ya ada waktu mamaku sakit, aku harus kerja dan gak punya cuti, salah satu dari anggota keluarga enggak tertarik sama destinasinya. Nah baru kali ini kami semua punya waktu dan punya minat yang sama. Kami udah bersemangat banget sejak awal tahun ini. Tapi ya mengingat keadaan kayak gini.. maskapai udah menginfokan pembatalan penerbangan dan negara tujuan kami udah di-lock down, harapanku udah hilang gitu aja. Kecewa sih pasti ya.. cuma sekali lagi, mulai sekarang aku selalu berpikir kalo manusia itu cuma bisa berkehendak, sisanya Tuhan yang kerjakan. Kalo belum boleh pergi sekarang, berarti memang belum tepat waktunya. Aku coba tenangin pikiran, ini kan bukan berarti batal tapi cuma di tunda. Sansss

Kegiatanku ya masih seputar di rumah aja sambil nyicil materi untuk ujian akhir. Semakin sering liat berita supaya gak kudet. Lalu lihat berita kalau banyak PHK di macem-macem sektor usaha. Wajar sih di kondisi ekonomi resesi begini. Kan semua sektor enggak berjalan sebagaimana mestinya. Tetangga juga ada yang pernah cerita ke mamaku kalo sejak WFH, gaji mereka cuma dibayarkan 70% aja terus semakin kesini turun jadi 50%. Temenku S2 juga pernah cerita, dia kan punya perusahaan IT dan dia bilang berat banget ngasih THR ke karyawannya tahun ini. Dia bahkan sampe bilang, beberapa bulan lagi begini udah deh gak kuat. Terus besok-besok liat berita lagi, tindak kriminal udah meningkat (khususnya di Jakarta). Aku lihat sendiri kalo keadaan emang jadi lebih susah dari biasanya, terlebih untuk orang yang berkekurangan. Waktu itu, ada kegiatan lingkungan Gereja terus aku sama mamaku kebagian tugas bagi-bagi makan siang gratis. Aku nyusurin jalan nyari orang untuk dibagiin nasi padang sama es teh. Mamaku suruh aku berhenti karena lihat bapak-bapak duduk di bawah pohon, di samping gerobak barang rongsoknya. Mukanya si bapak itu lusuh banget. Mamaku akhirnya nyamperin dan kasih nasi itu. Waktu mamaku balik ke mobil, mamaku cerita kalo si bapaknya itu sampe hampir nangis waktu dikasih nasi. Oke, itu titik dimana aku mulai betul-betul mikir kalo situasi harus cepetan membaik.

Buat sebagian orang yang memang berkecukupan, di rumah aja itu gak terlalu masalah. Tapi di sisi lain, ada orang yang susah banget di keadaan kayak gini. Aku jadi merasa sangat bersyukur. Mungkin aku sedih karena kurang bisa belajar maksimal dan gak bisa liburan keluarga, tapi di luar sana orang sedihnya bisa untuk hal yang bener-bener bikin sedih contohnya sekeluarga enggak bisa makan. Betapa beruntungnya kita orang-orang yang masih bisa makan enak dan tidur nyenyak di masa pandemi ini. Entah kenapa, aku juga jadi bisa lihat sisi positif dari pandemi ini. Ngerasa gak sih kita saat ini jadi punya gaya hidup yang lebih sehat? Kita jadi rajin cuci tangan, rajin mandi (sekarang setiap abis keluar dari rumah aku selalu mandi), lebih menjaga kesehatan juga. Selain itu kita jadi punya empati ke orang lain. Banyak lho sekarang orang yang bagi-bagi sembako, makanan atau sumbangan dalam bentuk uang untuk sesama yang kurang mampu. Aku pernah liat tuh ada orang yang order makanan online, dia pesan 2 box. 1 box nya dia ambil, nah 1 box nya lagi dikasih ke abang ojeknya. Kita perhatiin lagi, sekarang semakin banyak orang juga yang jualan. Yang dari awalnya gak niat jualan, sekarang bisa punya barang dagangan. Aku yakin, kalo emang diniatin & berusaha yang terbaik, pasti semakin laris juga setelah pandemi selesai. Menurutku ini sisi positif juga. Ya aku tau sih, positifnya enggak seimbang sama kerugian yang dirasain masyarakat. Bahkan para ekonom aja bilang krisis ekonomi tahun ini lebih buruk dibandingkan tahun 1998 atau 2008. Tapi seenggaknya mencoba berpikir positif bikin pemikiran kita lebih baik.

Hmm.. mungkin segitu dulu kali pemikiran dan opiniku. Memang enggak ada hubungannya sama jalan-jalan, karena aku masih di rumah aja. Mungkin besok-besok aku coba update tentang menu masakan atau kreasi yang udah aku buat selama beberapa bulan terakhir ini. Aku udah coba banyak ide mulai dari chapaguri (yang terinspirasi dari film Parasite), mie dengan sup asam pedas (yang terinspirasi dari makanan kesukaanku di Lamian Palace) dan lain-lain. Siapa tau kalian juga tertarik untuk mencoba bikin. Ok guys, tetap jaga kesehatan & terapkan gaya hidup sehat ya! Semoga kita selalu sehat & bisa beraktivitas dari rumah dengan produktif. Jangan lupa untuk tetap bersyukur gimana pun keadaan kalian. Sampai ketemu di ceritaku yang selanjutnya yaaa 🙂

Tour de Java

DAY 1 : Tangerang – Semarang

Hai semuanya.. Gimana liburan natal dan tahun baru kalian kemarin? Was it fun? Kali ini aku akan menceritakan pengalaman liburan natal dan tahun baruku yang akan mengelilingi beberapa kota di Pulau Jawa. Dalam perjalanan ini, aku mengajak keluarga kakak dan adik mamaku beserta dengan omaku juga. Total keseluruhannya adalah 13 orang. Kami akan melakukan perjalanan darat menggunakan mobil pribadi. Kami menggunakan 4 mobil. Perjalanan dimulai pada Selasa, 24 Desember 2019 dari Tangerang menuju Semarang. Perjalanan kami tempuh sepenuhnya menggunakan tol. Kami sempat beristirahat untuk makan siang di Kota Cirebon. Untuk kalian yang sering membaca cerita perjalananku, sebelumnya aku sudah pernah menceritakan mengenai warung nasi jamblang yang sangat enak di Cirebon. Namanya adalah Nasi Jamblang Bu Nur. Kami mampir kesana dan pastinya aku enggak lupa memesan nasi jamblang pakai terong, balado telur dadar dan dadar jagungnya yang super duper endolita kalo kata anak jaman now. Karena mampir ke Cirebon terlebih dulu, waktu tempuh perjalanan kami menjadi lebih panjang. Kami baru tiba di Semarang sekitar pukul 14.00 sejak tadi berangkat jam 06.00. Hotel tempat kami menginap adalah MG Suites Maven. Lokasinya adalah Jl. Petempen No.294, Kembangsari, Kec. Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah 50133. Kesanku untuk hotel ini adalah sangat tidak baik. Pada saat aku datang ternyata kamar yang kami pesan belum siap sehingga tante dan omaku tidak kedapatan kamar. Mereka jadi harus menunggu sekitar 30 menit terlebih dahulu di lobby hotel. Selain itu kamar hotelnya pun tidak terlalu bersih. Aku menemukan banyak rambut dan kotoran di sudut hotel. Seprei nya pun juga kusam dan terdapat noda. Tahun 2014 aku memang pernah menginap di hotel ini, pelayanannya sangat memuaskan. Harga hotelnya terjangkau tapi memuaskan. Namun kini aku sangat kecewa. Harga per kamarnya adalah sekitar 350-400 ribu namun kalau bisa memilih tempat lain, aku akan memilih tempat lain deh.

Malam pertama kami di Semarang adalah Malam Natal. Oleh karena itu keluargaku memutuskan untuk mengikuti Misa Malam Natal di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci Randusari atau dikenal dengan Gereja Katedral Semarang. Aku sangat mengenal gereja ini. Untuk kalian yang mengenalku, mungkin sudah pada tahu bahwa aku memang menghabiskan 4 tahunku di Semarang untuk menempuh pendidikan sarjanaku. Aku sering ke Gereja Katedral. Tapi aku agak kaget juga melihat perubahan besar di kota ini. Sungai di depan Katedral menjadi sangat rapi dan estetik. Ada tempat pejalan kaki sebagaimana di Cheonggyecheon Stream Korea. DP Mall juga sekarang sudah maju banget. Ada Uniqlo dan Sephora pula. Wah waktu jaman aku dulu kuliah mah, DP Mall sepi banget. Aku kesana bersama teman-teman cuma untuk karaokean di Masterpiece yang cukup murah. Singkatnya, aku semakin mencintai kota tempatku berkuliah dulu. Tata kotanya jadi bagus, lebih bagus daripada Tangerang malah.

Setelah mengikuti misa, aku dan keluarga segera menyusul rombongan kami ke depan Paragon Mall. Kami naik taksi online karena memang Semarang sekarang sudah seperti Jakarta, maceeeeeeeeeet gak karuan. Katedral ke Pemuda yang harusnya sangat singkat bisa jadi hampir setengah jam bila ditambah waktu untuk mencari parkir. Mempersingkat itu semua, kami memutuskan untuk tidak membawa mobil. Sesampainya di depan PM, kami segera mengantri untuk makan malam di Bakmi Djowo Pak Doel Noemani. Tanteku sangat suka bakmi djowo ini. Menurutku sih rasanya juga lumayan enak. Apalagi tempatnya strategis, persis di depan PM. Kalau kalian banyak waktu sih habis makan boleh banget jalan-jalan ke PM atau di sekitar jalan Pemuda. Ternyata waktu kami mengantri, rombongan sudah tidak sabar (re: kelaparan) jadi memutuskan untuk memilih tempat makan yang lebih sepi. Memang sih antrian di Noemani itu bisa sampai satu jam lebih. Rombongan pun kabur menuju Kedai Beringin yang berlokasi di sebrang Stasiun Poncol. Wah kalau kedai beringin sih gak perlu dipertanyakan lagi ya gaes. Jaman aku kuliah sudah sering banget kesini sama teman-temanku. Makanannya ueanaaaak dan harganya juga murah. Namun sayangnya ini ada babi nya jadi buat kalian yang tidak bisa makan babi, tidak bisa mampir deh. Rombonganku memesan berbagai macam makanan mulai dari dimsum hingga ayam saus thai. Semuanya enak. Rumah makan ini memang enggak pernah mengecewakanku. Agenda kami malam itu sih hanya makan malam saja, setelahnya kami segera kembali ke hotel untuk beristirahat.

DAY 2 : Semarang – Solo – Surabaya

Pagi ini kami sarapan di dekat hotel. Tepatnya di emperan toko dekat Shabu Auce. Nama warungnya adalah Nasi Pindang Kudus & Soto Sapi Gadjah Mada. Aku sih enggak ada kesan khusus sama makanan ini karena menurutku ya biasa aja. Setelah makan, kami segera bersiap untuk check out dan menuju pusat oleh-oleh paling terkenal di Semarang. Apalagi kalau bukan Bandeng Juwana Elrina Pandanaran. Mamaku suka banget beli bandeng dan lunpia disana. Selain itu juga suka beli kue di Toko Roti Dyriana. Menurutku sih yang paling spesial adalah wingko babatnya karena sudah tebal, gurih banget lagi. Sesudah itu kami segera bertolak meninggalkan Semarang menuju Surabaya. Karena hari sudah lumayan siang, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dulu di Solo. Oke, rombonganku ini memang pada hobi makan. Sedikit-sedikit pasti deh mampir makan. Kami berencana makan di Kusuma Sari Restaurant & Ice Cream Yos Sudarso, cuma karena ada pohon tumbang jadinya jalanan ditutup dan omku enggak sabar. Kami pun makan di Rumah Makan Mekarsari yang berlokasi di Jl. DR. Radjiman No.168A, Kemlayan, Kec. Serengan, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57151. Rumah makan ini kecil banget gaes, jangan heran ya. Cuma rasanya enggak kalah dengan restoran kok. Menunya ada gado-gado, selat solo, dll. Perut sudah terisi, waktunya melanjutkan perjalanan. Kami tiba di Surabaya sekitar jam 7 malam. Agendanya makan lagi, jelassss hahaha. Tapi makanan yang kami makan ini penuh kenangan, yaitu lomie. Opaku suka banget makan lomie dan tempat makan kami malam ini adalah resto favoritnya. Restonya cuma ngemper di pinggir jalan, tapi opaku sukaaaaaa banget makan disini. Opaku sudah sejak 2007 meninggal, jadi makan makanan kesukaannya mengingatkanku sama Beliau. Aku sayang sekali sama opaku karena cuma Beliau yang sabar mengasuhku waktu aku masih kecil. Nama tempat makannya adalah Mie KJ 1960. Lokasinya yaitu Jl. Kembang Jepun No.48, Bongkaran, Pabean Cantian, Nyamplungan, Kec. Pabean Cantian, Kota SBY, Jawa Timur 60162. Setelah makan malam, kami semua capek sekali karena menempuh perjalanan yang jauh. Oleh karena itu kami segera ke hotel dan beristirahat. Oh ya, kami menginap di daerah Gubeng. Tepatnya di Hotel Neo Gubeng.

DAY 3 : Madura

Hari ini rombongan kami akan berwisata ke Madura. Tempat wisata yang kami tuju bernama Bukit Jaddih. Lokasinya di Jakan, Parseh, Socah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur 69161. Bukit Jaddih ini sebenarnya hanya bukit kapur yang dijadikan objek wisata oleh warga setempat. Waktu aku datang kemarin sebenarnya aku agak kecewa karena danaunya kering jadi permainan airnya tidak bisa dimainkan deh. Kelihatan gersang banget deh. Padahal kalau di Instagram tuh kelihatan bagus banget, ada danau yang airnya biru susu gitu deh. Tapi yaudah gak papa, lumayan juga pemandangannya dari atas bukit.

Jadi tuh kata warga setempat, kalau musim hujan kolam yang ada tangga-tangganya itu bakalan terisi sama air. Tapi waktu aku datang bisa kering kerontang gitu. Memang deh warga juga bilang sudah lama banget enggak hujan. Kebayang gak tuh panasnya daerah itu selama beberapa waktu terakhir? Yup, kemarau di tahun lalu memang menyiksa banget.

Kamu hanya perlu menanjak sedikit untuk melihat pemandangan yang lebih bagus. Waktu aku datang juga sedang dibangun sebuah kamar-kamar di tengah bukit. Mungkin mau dibangun penginapan atau toko gitu kali ya.. Tapi aku rasa sih kalau memang mau diperuntukkan untuk penginapan, warga setempat perlu melakukan perbaikan akses. Jalan menuju ke bukit ini susah lho. Jalannya enggak mulus dan agak susah sinyal juga disini. Aku saja sempat nyasar karena sinyal GPS ku mati ditengah jalan. Namun secara keseluruhan tempat ini lumayan oke juga lah untuk dikunjungi.

Rombongan kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam di tempat ini. Cukup lama juga karena kami asik foto-foto dan sodaraku menerbangkan drone nya. Sebelum kembali ke Surabaya, kami memutuskan untuk makan siang di rumah makan paling terkenal se-jagad raya. Pasti kalian ada yang sudah menebak Bebek Sinjay. Ya, kalian betul! Lokasinya adalah Jl. Raya Ketengan No.45, Junok, Tunjung, Kec. Burneh, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur 69121. Rumah makan ini biasa aja, enggak ada kesan bagus atau gimana tapi ramainyaaaaaa enggak ketulungan. Menurut teman-teman mamaku sih Bebek Sinjay enak banget. Aku belum pernah mencoba dan pada awalnya agak meremehkan bebek ini. Tapi ternyata rasanya enak banget gaes. Plus buat kalian yang tangki perutnya kayak naga, bakalan puas banget karena nasinya buanyak. Spesialnya dari bebek ini adalah ditaburi seperti serundeng dan dimakan dengan sambal pencit. Sambal pencit mah kalo di Jakarta lebih dikenal sama sambel mangga muda kali ya. Enak lah pokoknya. Perpaduannya cucok banget.

Kami capek banget setelah pulang dari Madura, jadi kegiatan malam kami hanya makan malam di Galaxy Mall 3. Kebetulan waktu itu mallnya masih gres, alias baru buka. Kami makan di foodcourt. Setelah makan, keluargaku pulang. Omku sih ada yang masih kuat jalan-jalan. Mereka sekeluarga pergi ke Taman Pelangi. Oh ya, aku ada rekomendasi rumah makan yang enak & tempatnya juga nyaman. Namanya adalah DK26 Resto yang berlokasi di Jl. Darmokali No.26, Darmo, Kec. Wonokromo, Kota SBY, Jawa Timur 60241.

DAY 4 : Surabaya – Malang

Sarapan hari ini rasanya aku puas banget. Di depan hotelku ada bubur yang sangat terkenal yaitu Bubur Ayam Spensix. Keluarga omku makan disana dan aku juga dibelikan. Sudah begitu, mamaku ngajak makan lontong mie juga. Artinya aku sarapan 2x HAHAHA. Pagi ini memang enggak ada acara khusus sih, paling hanya nyekar ke makam opaku. Setelah itu langsung bertolak ke Malang. Perjalanan ke Malang sih normalnya hanya 1-2 jam, tapi karena papaku nyasar ya jadi lebih lama deh. Semua sodaraku sudah check in hotel dan santai-santai di kamar, eh keluargaku baru datang. Kami menginap di Java Boutique Hotel. Hotel ini seperti namanya, bernuansa jawa kental. Aku bisa bilang sih hotelnya lokasi strategis, lumayan murah dan cukup bersih. Cuma kekurangannya adalah area parkirnya yang sempit. Lokasinya adalah Jl. Simpang Wilis No.C3, Gading Kasri, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65115.

Agenda kami adalah makan. Sudah kubilang keluargaku ini hobi makan. Karena cuaca sedang mendung dan hujan mengguyur dengan derasnya, kami pengen makan yang berkuah. Sampailah kami ke tempat makan yang sangat terkenal di Malang, yaitu Hot Cwie Mie by Gloria. Lokasinya sih dekat banget dengan hotel kami, paling hanya 5-10 menit juga sampai. Cwie mie nya menurutku so-so. Aku sendiri pesan hot cwie mie jamur. Meskipun namanya hot, tapi rasanya malah manis asam. Tapi yaudahlah oke juga. Kami makan dan segera berbelanja ke Giant di seberang resto. Oh ya, aku dan sodaraku rencananya akan ke bromo. Biar mudah, aku pesan paketnya menggunakan tour agen lewat Instagram. Namanya Bromo Project. Karena awalnya hanya aku, adik, sodara dan tanteku yang mau ikut, aku pesan open tour aja. Harganya adalah 300 ribu/pax (tanpa dokumentasi) atau 350 ribu/pax (plus dokumentasi). Fasilitas yang didapatkan :

  1. Free penjemputan Malang Kota
  2. Jeep 4×4 rest area – bromo
  3. Tiket masuk TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru)
  4. Fuel
  5. Driver
  6. Guide

Rombongan kami dijemput jam setengah 1 pagi di hotel menggunakan city car, waktu aku kemarin sih mobilnya avanza. Kami diantarkan menuju pool jeep yang berlokasi di pemukiman penduduk. Perjalanan dari hotel kami menuju pool jeep itu kurang lebih 1.5 -2 jam. Disana kami harus menunggu antrian untuk naik jeep. Enggak begitu lama sih, paling hanya sekitar 15 – 20 menit. Karena bulan Desember termasuk dalam peak season, pool jeep itu sangaaaaat ramai. Jalanannya macet dan banyak orang. Cuma mereka professional sih, kalau sudah booking ya pasti kedapatan jeep. Aku sendiri dapat long jeep yang kapasitasnya 10 orang. Tapi ya gak bisa dibilang kami longgar-longgar juga duduknya. Sama aja, dipenuhin sampe jadi sarden. Aku kebetulan duduk di bagian tengah, digencet sama sodara-sodaraku. Anget sih. Tanteku duduk di belakang driver dan berakhir dengan muntah-muntah karena masuk angin. Dini hari memang udaranya super dingin, belum lagi driver ngebut dengan kaca terbuka. Udah deh KO.

Oh ya, kalian perlu mempersiapkan diri dengan jaket tebal, sarung tangan dan sepatu kets yang nyaman ya bila mau ke Bromo. Cuacanya enggak bisa ditebak. Waktu aku datang sih hanya dingin saat subuh aja, selebihnya ya dingin AC lah. Enggak yang menusuk tulang. Tapi banyak sodaraku yang sudah pernah ke Bromo dan mereka bilang sampe biru-biru kedinginan. Sangat penting buat kalian untuk mengecek ramalan cuaca hari itu. Stamina juga penting. Perjalanan naik jeep itu enggak mulus. Medannya sangat berat dan kalian bakal terguncang-guncang gak karuan. Aku tipe orang yang mudah mual sih kalau begitu, makanya aku cuma pake jaket tebalku dan tutup mata. Untung staminaku waktu kemarin itu prima, jadi enggak sampe masuk angin atau gimana. Sodara cowokku malah kuat banget. Dia duduk paling belakang, bawa kamera plus roninnya, tas drone yang berat, udah gitu melek terus. WAGELASEH. Dia bangunin aku waktu kami lagi macet di penanjakan. Bagus banget gelap-gelap liat antrian jeep di medan yang berlika-liku. Tapi abis itu aku langsung tidur lagi sih sampe ke Sunrise Point. Sunrise point itu ada beberapa sih, tergantung nanti tour kalian antar kemana. Ada Bukit Cinta atau juga Bukit Kingkong. Sayaaaang sekali, kami terlambat sampai jadi matahari sudah terbit duluan. Matahari terbit itu perkiraan jam 5 atau 5.15, teman-teman. Ya sudah kami menikmati pemandangan yang ada saja. Tetap masih bagus banget kok!

Kami diberi waktu sekitar 1 jam untuk menikmati pemandangan di sunrise point ini. Mungkin kalian berpikir bahwa 1 jam itu cukup lama. Tapi ternyata enggak juga lho. Karena kan harus berjalan dari parkiran jeep menuju Bukit Cinta atau Bukit Kingkong yang memakan waktu sekitar 15 menit sekali jalan. Bolak balik saja kami sudah menghabiskan waktu 30 menit. Belum lagi area menonton matahari terbit itu luas. Kalian harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Disini kami ikut tour 12 jam, sehingga harus kembali lagi ke hotel di Malang jam 12 siang.

Oh ya kalo lagi peak season gini sih susahnya buat pipis dan jalan. Pipis? Iya lah jelas karena kan kamar mandinya sedikit sedangkan yang mau pipis banyak. Antrinya udah kayak ular. Dan kalian jangan kaget ya, kamar mandi umum disana per orangnya 5 ribu. Mahal sih cuma mau gimana lagi kan? Hmm.. Jalan kenapa kok susah? Sumpah aku juga kaget sih, aku kira enggak bakal se-riweh itu. Tapi ternyata ya se-riweh itu. Disana banyak sekali tukang ojek, kuda dan tentunya jeep. Jadi jalan tuh pasti nyelip-nyelip diantara mereka semua. Sampe sodaraku bilang, kayaknya kalo pake cable car enak nih. Soalnya saking riwehnya tuh mau jalan aja pusing. Ya mungkin ini cuma karena bulan Desember aja kali ya. Aku enggak tahu kalo di bulan-bulan lain..

Tujuan berikutnya adalah Lautan Pasir, atau banyak yang bilang Pasir Berbisik. Disini adalah spot yang paling ikonik untuk berfoto di atas jeep dengan pemandangan Widodaren dan Kawah Bromo. Kalo fotoku di atas itu sih pemandangannya hanya Widodaren. Kami disini hanya sebentar karena akan menuju ke rest area. Di rest area ini kalian bebas mau makan dan bersantai, atau mau naik kuda atau juga mencoba motor trail. Aku dan sodara-sodaraku lebih penasaran untuk naik ke kawah. Cuma perjalanannya itu lumayan jauh kalo jalan kaki. Aku memang enggak tau kilometernya sih, tapi waktu aku track pakai hp, stepsku itu 16.000 untuk bolak balik. Lumayan banget kan?

Aku dan sodaraku kan pada masih muda jadi kami ya nekat aja jalan kaki sedangkan papaku gak kuat kalo bolak balik jalan kaki. Papaku akhirnya jalan waktu berangkat dan pulangnya naik kuda. Buat kalian yang gak kuat, mungkin bisa mengikuti jejak papaku. Nah peringatan juga, karena banyak kuda berlalu lalang disini, hati-hati ya jangan menginjak tai kuda! Hmm.. aku dan sodaraku enggak sampai ke kawah karena terhalang waktu. Kami hanya diberikan waktu 1.5 jam untuk menikmati kawah. Sebenarnya kalo gak pake berhenti-berhenti sih bisa, tapi karena berhenti-berhenti jadi kan lama. Dari rest area menuju pangkal tangga penanjakan itu enggak ada tangga. Jadi memang harus nanjak melewati bukit pasir yang licin. Tapi kalo untuk mencapai kawahnya sih ada. Cuma tangganya super macet karena mungkin juga orang jalannya pelan-pelan. Papaku enggak sabar, jadi dia menanjak di luar tangga. Ini lumayan berbahaya buat kalian yang gak terbiasa. Karena jalanannya licin berpasir. Papaku memang nekat, jangan ditiru ya… Tapi karena kenekatannya itu Beliau malah sudah sampai kawah sedangkan aku dan para muda mudi ini belum sampai. Duh jadi malu :p

Aku membayangkan pemandangan di kawah bromo yang pastinya bagus banget. Aku aja yang belum sampai ke kawahnya udah terkagum-kagum. Disini juga banyak yang jual bunga Edelweiss. Pengen beli sih, cuma bawanya gimana itu yang selalu kupikirin. Yaudah enggak jadi beli deh. Aku berfoto sambil menikmati udara segar lalu kembali ke rest area, tempat jeep kami parkir. Oh ya, di dekat tanjakan menuju kawah terdapat suatu Pura yang bernama Pura Luhur Poten. Namun, aku dan yang lain enggak mampir.

Aku sampai tepat waktu sesuai perjanjian dengan tour guide kami. Selanjutnya kami diantarkan menuju objek terakhir yaitu Savana. Perjalanan dari rest area ke Savana cukup jauh, sampai 30 menit deh. Aku bahkan sampai bisa tidur sebentar. Tapi enggak rugi, pemandangannya bagus banget udah kayak di New Zealand. Kalau aku tag location Instagram-nya di New Zealand juga kayaknya pada percaya-percaya aja hahahaha

Padang rumput ini luaaaaaaaas banget. Perlu naik jeep untuk bisa mengelilingi seluruh area. Kalau jalan kaki sih gempor. Kami puas-puasin diri untuk menikmati pemandangan yang ada disini karena ini adalah tujuan terakhir kami di Bromo. Setelah dari sini kami akan diajak kembali ke pool jeep yang ternyata jaraknya lumayan jauh. Butuh waktu sekitar 1 jam lebih deh. Medannya cukup berat. Jalannya itu menurun dan berlika liku. Kebetulan aku duduk di paling depan dekat driver dan itulah saatnya aku tergencet oleh rombonganku. Udah mirip ayam geprek deh. Perjalanan yang sangat melelahkan itu akhirnya selesai juga dan aku sampai di pool jeep sekitar jam 11 siang. Aku dan sodaraku lalu ikut tour guide kami untuk mentransfer foto dokumentasi sedangkan om serta keluargaku udah pada balik duluan. Tanteku udah enggak kuat soalnya. Memindahkan foto cukup memakan waktu sih. Kami diantar kembali ke hotel menggunakan mobil Avanza dan tiba sekitar pukul 1 siang. Aku tepar.

Sepanjang siang kami habiskan untuk tidur dan mengumpulkan energi. Sumpah capek banget gaes. Itu sebenarnya badanku udah mulai gak enak. Cuma mamaku dengan semangat-45 masih mengajak rombongan kami keluar untuk ke Malang Night Paradise. Aku bangun dengan ogah-ogahan. Sodara dan omku juga sama malasnya. Tenaga kami terkuras habis sepanjang di Bromo itu. Mamaku sih masih bertenaga soalnya enggak ikutan naik ke kawah. Jadi selama free time itu mamaku cuma di rest area aja. Makanya mamaku masih segar bugar untuk ngajak kami keluar. Okelah, sekalian makan malam jadi aku mau gak mau ikutan juga. Daripada kelaparan di hotel. Kami makan di foodcourt MOG atau Mall Olympic Garden. Kami keluar hotel itu jam 8 malam, ditambah makan dulu terus sampe di MNP sudah tutup. Pengen ketawa cuma kasihan mamaku yang udah semangat. Yaudah akhirnya balik hotel dan aku lanjut tidur deh. It was a tiring day.

DAY 5 : Malang – Yogyakarta

Pagi ini kami sarapan di hotel dan akan berwisata ke kota Batu, sebelum menuju Jogja. Rencananya adalah mengunjungi Jatim Park 3. Ternyata…oh..ternyata, bukanya siang banget. Kami akhirnya ke KUD dulu buat minum susu segar. Aku pesan SMJ alias Susu Madu Jahe. Aku enggak suka deh minum susu pake telur. Menurutku gak cocok. Selain itu, aku juga pesan susu melon dan yoghurt. Mamaku pesan susu plus kue lumpur dan ote-ote porong. Kami sudah kenyang dan bermaksud menuju Jatim Park 3. Tapi ternyata masih jam 11 siang. Kami takut kemalaman sampai Jogja, jadi Jatim Park nya di-skip deh.

Jogja luar biasa macet. Aku baru sampai rumah sekitar jam 10 malam. Om dan tanteku sudah sampai hotel duluan. Biasa deh mereka ngebut. Kami berpisah tempat tinggal karena kan aku ada keluarga papaku, jadi enggak sewa hotel. Keluarga mamaku yang pada ikut menginap di hotel. Kami semua kecapekan sehingga agenda malam itu hanya tidur…

DAY 6 : Yogya City Tour

Aku tumbang hari ini. Badanku panas dan batuk pilek enggak berhenti-berhenti. Memang di Jogja sodaraku pada sakit. Aku ketularan tapi lebih parah. Aku enggak berkutik hari ini. Kuberitau ya, aku tipe orang yang sangat jarang minum obat. Tapi hari ini aku terpaksa minum obat penurun panas karena panasku tinggi banget. Hmm.. jangan kecewa dulu, ceritaku memang cuma sampai situ tapi aku ditinggal keluargaku jalan-jalan jadi aku masih ada cerita lain untuk kalian. Hari ini keluargaku dan rombongan pergi ke Aira Leather Store. Itu lho tas kulit klasik yang nge-hits banget. Tanteku heboh banget pengen kesana karena katanya koleksi tasnya mirip punya Fossil tapi harganya miring. Waktu aku lihat punya mamaku sih bagus juga. Selain Aira, ada lagi yang bagus. Namanya Kenes Leather Store. Setelah itu keluargaku pada makan Mie Ayam Bu Tumini Sari Rasa Jati Ayu. Warungnya ini rame banget kata adikku, tapi pas dibawain pulang sih menurutku rasanya biasa aja. Mungkin karena aku lagi sakit jadi rasanya gak enak atau memang begitu doang? Teman-teman yang sudah pernah cobain boleh komen dibawah ya..

Gimana nih tampilannya? Pada tertarik enggak ?

DAY 7 : Kebun Buah Mangunan & New Year’s BBQ

Hari ini aku masih sakit dan menurutku malah bertambah parah. Aku harus minum obat penurun panas lagi. Buruknya lagi, adikku juga ikutan sakit. Jadi kami enggak kemana-mana. Cuma di rumah aja. Tapi mama papaku kasihan sama sodara yang di hotel, jadi mereka berdua tetap menemani sodaraku untuk keliling Jogja. Nah ternyata mereka pengen ke Hutan Pinus Mangunan. Aku sih sudah pernah, jadi yaudah gak merasa rugi juga. Untuk kalian yang penasaran bisa liat postingan-ku yang berjudul ‘Jogja, I’m Coming Home‘ ya..

Kegiatanku ya cuma tiduran terus bangun nonton tv, terus bantuin tanteku nusuk sate buat acara BBQ malam tahun baru. Hampir semua keluargaku di Jogja pada pergi. Ada yang pergi beli oleh-oleh, ada yang ke Aira Bag, mama papaku ke Mangunan. Tersisa aku, adikku, tanteku dan beberapa sodaraku. Yaudah aku bantu tanteku di dapur sambil pake masker. Sekitar jam 5 sore semua sate sudah tertusuk rapi dan tinggal dimarinasi. Kami pun mulai BBQ jam 7 malam.

BBQ di Jogja emang menyenangkan karena enggak ada ceritanya meja terbakar atau rumput terbakar seperti di rumahku. Tanteku juga jago masak jadi satenya pasti enak. Pokoknya maknyus lah!

DAY 8 : Happy New Year!

Yeah akhirnya 2020! Kegiatanku hari ini adalah…. tidur-tiduran di rumah. Aku masih sakit. Aku aja enggak begadang nungguin pergantian tahun karena badanku panas. Kutinggal tidur aja abis makan sate. Enggak ada kegiatan khusus karena memang masih pada ngantuk dan beberapa sodaraku bakalan pulang siang atau sore ini. Sodaraku yang di hotel juga pada pulang. Lucunya lagi adalah sodaraku di Jogja ini kan juga rata-rata tinggalnya di JABODETABEK, nah mereka pada panik karena banjir parah yang melanda Jakarta. Awalnya aku sih santai aja karena rumahku memang enggak pernah banjir, cuma karena papaku tiba-tiba heboh maka aku pun heboh. Aku ngechat beberapa temanku. Tapi untungnya rumahku enggak banjir. Daerah perumahan di sekitar tempatku pada banjir. Puji Tuhan deh..

Aku seharian di rumah tapi adikku bosan jadi mengajak kami sekeluarga plus keluarga tanteku yang tinggal di Jogja untuk ke Malioboro. Hujan cukup deras dan sudah pasti Malioboro macet, maka kami naik taksi online. Tuh kan betul, Malioboro rame banget. Aku udah ngedumel terus karena badanku panas tapi dingin dan riweh aja gitu situasinya. Mamaku sampe bilang ‘Kamu ngoceh mulu kayak nenek-nenek’ HAHAHA. Tapi seriusan deh aku cranky abis. Maliboro ya seperti itu deh. Kami cuma ke Mirota Hamzah Batik lalu makan malam. Kami jalan cukup jauh menuju Alun-Alun Utara untuk makan bakmi jowo yang katanya enak, yaitu Bakmi Djowo Pak Pele. Antri makan di tempat sangat panjang, sudah gitu enggak ada tempat jadi kami bungkus saja deh. Bungkus aja juga lama banget, kalo ga salah antri sampai 1 jam. Waktu aku coba sih rasanya B aja. Ajeng bilang dulu dia pernah makan dan rasanya lebih enak. Ya mungkin karena luar biasa rame malam itu, jadi si Pak Pele masaknya udah asal aja. Emang sih. Waktu itu dia sekali masak aja bisa sampe untuk 4-5 porsi. Nakar garamnya udah main lempar aja. Gils Pak Pele…

Oh ya, buat kalian yang suka kulineran bisa coba rujak es krim dan bakso Ito juga. Rujak es krim tuh banyak sih di Jogja, menurutku di beberapa tempat rasanya sama-sama aja. Sama enaknya maksudnya, LOL. Aku ada satu rekomendasi yang kusuka sejak lama, yaitu di dekat Maga Swalayan perempatan Suryodiningratan. Kalo Bakso Ito aku baru coba dan itu direkomendasikan sama temanku. Ini cukup mengagetkan sih karena yang punya Bakso Ito adalah guru les keyboard papaku. Jadi waktu makan disana papaku malah bernostalgia. Menurutku Bakso Ito enak, apalagi bakso gorengnya. Cuma buat orang Jakarta jangan kaget ya, dia tuh kuahnya gurih kaldu bukan gurih micin. Jadi ya cuma segitu aja level gurihnya.

Ups sebelum lupa aku juga mau menceritakan pengalamanku mencoba gelato lain selain Tempo Gelato. Aku sudah pernah cerita sebelumnya kan kalo Tempo ini memang hits banget di Jogja. Antriannya tuh bisa sampai 1 jam lho kalo lagi rame pol-polan seperti bulan Desember ini. Oke, aku mencoba yang namanya Move On Coffee & Gelato. Hmm rasanya sih ya not bad tapi tidak seenak Tempo. Yang bikin kecewa sebenarnya sih pilihan rasanya karena sedikit banget. Aku mencoba Red Velvet (karena aku memang lagi ngefanssss nih sama lagu RV yang judulnya Pyscho, apasih woi!) dan cheese cake. Lokasi Move On ini sederetan dengan Tempo yaitu di jalan Prawirotaman.

DAY 9 : Pantai Gesing, Gunung Kidul

Hari ini adalah hari terakhir-ku di Jogja karena besok sudah harus pulang. Cuma gak papa, mari kita nikmati dengan baik =D Kami yang tersisa di rumah akhirnya pergi ke Teras Kaca Pantai Nguluran. Namun antriannya luar biasa panjang. Males banget deh. Akhirnya kami pun ke pantai yang terletak di dekat lokasi itu, yaitu Pantai Gesing. Wah gak rugi deh. Retribusinya murah banget, cuma 5 ribu dan itu untuk parkir aja. Enggak seperti di teras kaca yang menurutku cukup komersil. Pantai Gesing ini masih asri banget. Ya pantai aja. Tapi kalo di teras kaca ini banyak spot foto dan ada permainan engrang juga.

Nah ini dia Pantai Gesing, gimana menurut kalian?

Setelah puas main air di pantai kami pun mengisi perut di Rumah Makan Khas Gunung Kidul Terrace Petroek. Menunya sih ya seperti makanan sunda gitu menurutku, ada gurame bakar atau goreng, cah kangkung, plecing kangkung, ayam rempah, dll. Tapi kelebihan rumah makan ini adalah harganya yang tidak terlalu mahal namun rasanya enak. Lokasinya di Jl. Jogja – Wonosari No.KM.22, Karang Sari, Karangsari, Patuk, Gunung Kidul Regency, Special Region of Yogyakarta 55862.

Sekian dulu ya cerita liburan akhir tahunku ini. Semoga kalian terinspirasi untuk mencoba wisata jalan-jalan dan kuliner yang aku sampaikan. Di tahun yang baru ini kita harus lebih produktif dalam bekerja, tapi jangan lupa juga untuk memanjakan diri dengan berwisata. Oke? Sampai ketemu di cerita liburan berikutnya ya teman-teman!

Jogja Tempoe Doeloe

Halo teman-teman semua! Sekarang sudah bulan Desember, artinya liburan akhir Natal dan tahun baru semakin dekat. Yeah so exciting, who’s gonna spend holiday in Jogja? Seperti yang sudah aku janjikan di postingan sebelumnya mengenai pengalamanku berwisata ke Merapi dan sekitarnya saat aku masih kecil, kini aku sudah menemukan foto-fotonya. Mari kubagikan kepada kalian semua..

Liburan yang akan aku ceritakan ini kulakukan pada tahun 2009, tepatnya ketika aku masih tahun kedua di SMP. Sebenarnya sih enggak waktu bocah-bocah banget sih. Cuma kalo ngelihat foto adik dan sodara-sodaraku, berasa mereka masih kecil dan culun banget hahahaha.. Oke lanjuttt, Gunung Merapi merupakan gunung api yang aktif di Jogja. Menurut Wikipedia, gunung ini pernah meletus dengan dahsyatnya pada tahun 2006 dan 2010. Karena liburanku ini tahun 2009, jadi posisinya adalah setelah letusan pertama dan tepat setahun sebelum letusan kedua. Mungkin karena sudah berjarak 3 tahun dari letusan pertama, tanahnya sudah subur dan pepohanan pun bisa tumbuh tinggi. Asri banget. Tapi, setelah letusan besar tahun 2010, hampir keseluruhan daerah ini rusak terluluh lantak. Yang tersisa hanya bebatuan besar dan pasir bekas erupsi. Sekarang sudah jauh lebih baik sih, kan pohon dan tanaman udah mulai tumbuh, tapi menurutku enggak sebagus dulu sebelum tahun 2010. 😦

Buat yang penasaran foto ini diambil dimana, ini di Kali Kuning. Bagus kan?

Setelah itu kami melanjutkan untuk masuk ke Bunker Kali Adem yang sangat dingin dan berkabut

Sekian dulu ya ceritaku mengenai flashback liburanku di kota Jogja. Tunggu cerita-cerita liburan lainnya ya..

Jogja, I’m coming home

Halo guys! Kali ini aku akan menceritakan liburan tahunanku ke kota Yogyakarta. Jogja adalah kota yang sangaaaaaat aku kenal sejak kecil. Papaku adalah orang Jogja asli, sehingga hampir setiap tahun dari aku kecil hingga segede ini, akhir tahun pasti kami habiskan disana. Ya kalau misalkan enggak bisa di akhir tahun, kami sekeluarga pasti ganti di tengah tahun. Ajaibnya sih aku kadang bosen tapi tetep ‘krasan’, rasanya akrab terus nyaman gitu. Tapi sayangnya meskipun dari kecil udah sering kesini, aku gak pernah hafal jalanannya guys T.T jadi kalo jalan-jalan pasti aku mengandalkan saudaraku atau papaku. Kalo mamaku atau Ajeng sih udah pasti sama butanya sama aku deh.. hahahaha. Tapi tenang, sekarang kan ada Google Maps, jadi gak bakalan nyasar. Sebenarnya aku yakin banyak dari kalian yang tentunya pernah ke Jogja, but i just wanna share my stories. Hope you guys like it and if you haven’t been there yet, you’ll get inspired by my stories 🙂

Destinasi yang akan aku ceritakan adalah liburan Natal tahun 2017. Nantinya aku akan share pengalaman liburanku di tahun-tahun lainnya dengan destinasi wisata yang gak kalah menarik. Karena sudah kubilang bahwa hampir tiap tahun aku ke kota ini. Jadi aku tentu punya banyak sekali cerita untuk kubagikan kepada kalian mengenai pengalaman berliburku di kota ini. Ok, langsung lompat ke hari pertama saja ya..

Day 1 : Tempo Gelato & Malioboro

Hari pertama gak banyak yang kulakukan, karena aku dan Ajeng baru sampai di rumah sekitar jam 12 malam. Waktu itu aku masih berstatus jadi tanggungan negara dan orang tua (re: pengangguran) setelah lulus kuliah, sehingga di awal Desember 2017 aku memutuskan untuk ke Semarang dalam rangka legalisir ijazah dan transkrip lalu lanjut jalan-jalan ke Surabaya. Ajeng kuliah di Surabaya, jadi aku gak perlu repot-repot booking hotel dan sewa mobil. Ada Ajeng yang jadi tour guide ku 🙂 Setelah dari Surabaya, aku pikir langsung ke Jogja aja lah karena udah mendekati liburan Natal. Mama papaku bawa mobil dari Tangerang dan kami berempat langsung bertemu di Jogja. Alhasil, aku dan Ajeng naik kereta dari Surabaya ke Jogja, sehari setelahnya mama papaku datang deh. Hari ini adalah hari dimana aku dan Ajeng sudah sampai duluan, baru malamnya mama papaku datang. Karena capek banget baru sampe tengah malam, jadi pagi sampai siang kuhabiskan dengan santai-santai di rumah bareng tante dan sepupu laki-lakiku, namanya Danur. Sebenarnya ada lagi tuh sepupu perempuanku, namanya Anin, cuma aku lupa kemana dia waktu itu.. hahaha sorry nin aku melupakanmu :p

Menjelang sore hari, aku pikir enak juga makan es krim. Rumahku gak jauh dari Tempo Gelato Prawirotaman, jadi hanya perlu jalan kaki sekitar 10 menit. Kesan pertamaku kesitu adalah tempatnya cozy banget buat nongkrong dan instagramable juga buat yang suka foto hits. Tapi, disitu tempat parkir mobilnya lumayan susah jadi bersyukur banget waktu itu kami berdua jalan kaki. Oh ya, antriannya lumayan panjang. Harus tunggu sekitar 5-10 menitan sih. Oke, setelahnya kami duduk aja sambil ngobrol-ngobrol. Buat kalian yang memang berminat nongkrong-nongkrong atau sekedar nyantai saja, kalian bisa mampir ke daerah Prawirotaman, Tirtodipuran atau Suryodiningratan. Disana ada banyak sekali kafe dan resto yang lokasinya cocok untuk bersantai ria. Beberapa yang tempatnya oke adalah Tempo Gelato ini, Nanamia Pizzeria, Coklat Monggo dan Lotus Mio, Poka Ribs, Mediterranea, dll. Karena kami masih pengen menjelajah Jogja, akhirnya kami memutuskan ke Malioboro naik taksi online. Kami mengunjungi Mirota lalu menyusuri selasar penuh lapak dari arah titik 0 ke Stasiun Tugu. Dari situ kami segera pesan taksi online untuk pulang. Sesampainya di rumah, ternyata bude dan om ku sudah datang dari Jakarta, gak beberapa lama orang tua ku pun datang. Wah senangnya udah terkumpul semua nih. Rumah rasanya jadi rame deh…

Day 2 : Tebing Breksi, Kebun Buah Mangunan & Hutan Pinus Mangunan

Hari kedua kami sekeluarga memutuskan untuk berwisata ke Tebing Breksi dan Kebun Buah Mangunan. Anggota yang ikut adalah aku, Ajeng, mama, papaku, Bude Iwuk (kakak papaku nomor 3) dan Danur. Waktu itu memang kedua destinasi tersebut sedang hits banget.

Tebing Breksi dulunya adalah area pertambangan yang saat ini udah disulap jadi tempat wisata yang bagus banget. Bahkan di dinding-dinding tebingnya pun terdapat banyak ukiran yang bagus banget. Kamu bisa naik ke atas tebing tanpa perlu takut karena tangga disitu sudah rapi dan gak terjal. Dari atas, pemandangannya akan jauh lebih menarik karena kamu bisa lihat pepohonan di sekeliling tebing tersebut.

Setelah puas di Breksi, aku sekeluarga melanjutkan perjalanan ke Kebun Buah Mangunan. Aku sering lihat di Instagram banyak foto sunrise Kebun Buah Mangunan ini, seperti Surga di atas awan. Tapi karena kami sampai disitu menjelang siang, hanya ada hamparan bukit yang berpola. Bagus juga lho..

Meskipun siang begitu, Kebun Buah Mangunan ternyata sejuk banget. Banyak pohon rindang dan bangku yang menghadap ke pemandangan ini, membuat pantatku serasa menempel gak mau lepas. Nyaman banget disitu. Saudaraku, Danur malah naik ke rumah pohon dan mengamati pemandangan dari atas sana. Sebenarnya aku juga pengen naik, tapi posisinya susah. Buat naik aja susah. Daripada jatuh mendingan cari aman aja deh di bawah.

Oh ya disini juga banyak sekali tanaman bunga lho temen-temen..

Setelah beberapa lama bersantai, kami melanjutkan perjalanan menuju Hutan Pinus Mangunan. Kami sampai di hutan pinus sudah hampir sore, hawanya lebih enak lagi dibandingkan waktu masih di kebun buah. Karena memang dingin dan rindang banget. Menurutku sih hutan pinus ini lebih rindang dibandingkan Hutan Pinus Gunung Pancar, Sentul, Bogor. Hari sudah mulai sore, jadi kami memutuskan untuk kembali sebelum gelap. Perjalanan cukup lama dan di daerah tersebut penerangannya agak kurang waktu itu. Untuk lebih aman, maka kami segera pulang saja. Oh ya teman-teman, bagi kalian yang memang ingin menghabiskan waktu sore hingga malam hari sambil melihat bintang, mungkin kalian bisa mampir ke Pintu Langit Dahromo. Aku sih belum kesana, tapi aku lihat di Instagram bahwa pemandangan malamnya luar biasa. Kan searah tuh dari sini, kali aja kalian tertarik 🙂 Aku hanya berhenti di sebuah warung kecil di pinggir jalan yang kebetulan punya tempat nongkrong dengan pemandangan sunset luar biasa.

Day 3 : Makam Imogiri

Hari ini tujuan wisata kami adalah Makam Imogiri. Papaku ini adalah orang yang suka sejarah. Aku hampir enggak percaya waktu dia bilang mata pelajaran favoritnya waktu sekolah dulu adalah sejarah. Oleh karena itu, dia hobi banget kalau berkunjung ke taman nasional atau museum atau tempat bersejarah, salah satunya adalah Pemakaman Raja-Raja Imogiri ini. Letak Makam Imogiri adalah di Imogiri, Wukirsari, Karang Kulon, Wukirsari, Kec. Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55782 . Perjalanan dari pusat kota ke lokasi ini tidak begitu jauh, kurang lebih 40 – 45 menit saja menggunakan mobil. Pemakaman ini dianggap suci dan kramat karena merupakan tempat peristirahatan terakhir untuk raja-raja dan keluarga raja dari Kesultanan Mataram. Menurut Wikipedia, Makam Imogiri ini dibangun tahun 1632 oleh Sultan Mataram III Prabu Hanyokrokusumo yang merupakan keturunan dari Panembahan Senopati Raja Mataram I.

Makam ini terletak di atas perbukitan yang masih satu gugusan dengan Pegunungan Seribu. Jadi jangan heran ya ketika masuk kalian akan disambut dengan anak tangga yang begitu banyak untuk mencapai lokasi makam. Karena merupakan tempat yang sakral, ada beberapa area yang memang tidak boleh dikunjungi oleh masyarakat awam. Kami disini kurang lebih sekitar 2 jam sebelum memutuskan untuk kembali pulang. Kami berkunjung kesana pada tanggal 24 Desember 2017 sehingga harus cepat pulang karena malamnya adalah malam Natal. Aku dan keluargaku akan merayakan malam natal bersama di Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran.

Day 4 : Taman Doa Maria Ratuning Katentreman Lan Karaharjan, Punthuk Setumbu & Bukit Rhema Gereja Ayam

Hari ini kami akan berwisata di luar kota Jogja, yaitu ke Kota Magelang. Perjalanan kurang lebih kami tempuh sekitar 1,5 – 2 jam. Tujuan wisata yang pertama adalah Taman Doa Maria Ratuning Katentreman Lan Karaharjan di Gantang. Bude dan Tanteku memang ikutan. Budeku itu sangat suka wisata religi ke Gua Maria dan Taman Doa. Jadi Beliau mengajak kami semua ke taman doa ini. Pemandangan di taman doa ini bagus juga karena tepat di belakang Patung Bunda Maria terlihat jelas Gunung Merapi yang tinggi menjulang. Di sekitarnya juga masih terdapat ladang yang asri.

Kami berdoa dan hening sebentar di tempat ini, lalu melanjutkan perjalanan ke Punthuk Setumbu. Aku ingat saat itu aku pengen banget ke Punthuk Setumbu gara-gara menonton film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2). Kalian yang sudah nonton tentu ingat dong scene dimana Dian Sastro dan Nicholas Saputra menyaksikan matahari terbit bersama di atas sebuah bangunan berbentuk ayam? Aku googling dan menemukan tempat yang bernama Punthuk Setumbu ini. Tempat ini mendadak jadi populer lho guys berkat film AADC2. Banyak sekali wisatawan yang berbondong-bondong kesini untuk menyaksikan sendiri keindahan pemandangannya. Oh ya, dari Punthuk Setumbu ini kalian bisa turun lagi menyusuri pepohonan untuk mencapai Gereja Ayam. Tidak jauh kok. Waktu itu kami berhasil menyaksikan matahari terbenam disini dan memang deh.. luar biasaaaaa bagusnya.

Ditempat ini ada sebuah deck dimana kalian bisa melihat pemandangan hamparan pepohonan di depan mata. Selain itu, ada juga spot-spot foto yang unik dengan pemandangan perbukitan di belakangnya. Ada yang berbentuk hati, ayunan, dan lain-lain. Kalian akan dikenakan retribusi seikhlasnya untuk berfoto disini. Lain cerita kalau kalian pakai jasa fotografer disini ya. Biayanya tentu lebih.

Aku sendiri sebenarnya enggak ke Gereja Ayam karena trek nya yang lumayan sulit sedangkan aku hanya mengenakan sandal. Disini kalian harus menembus hutan dengan melewati jalan setapak kecil. Aku rasa hanya bude dan papaku saja yang kesana. Mungkin sekarang sudah jauh lebih baik kali ya, soalnya kan semakin banyak wisatawan yang hadir jadi mungkin sudah diperbaiki treknya. Untuk mencapai Punthuk Setumbu sendiri sebanrnya tetap harus naik dan turun melewati hutan tapi sudah ada jalan yang bagus dengan railing di sisinya. Aman lah intinya.

Kami menghabiskan waktu disini lumayan lama dan baru kembali kebawah ketika hari sudah mulai gelap. Disini kurangnya adalah penerangannya minim jadi agak seram ketika turun dikala matahari sudah tenggelam. Aku merasakannya. Cuma karena kami rame-rame dengan beberapa pengunjung lain yang telat turun, jadi ya lumayan deh. Setelah itu kami langsung pulang karena tepar.

Day 5 : Umbul Ponggok

Umbul Ponggok adalah destinasi wisata yang paling aku tunggu-tunggu. Aku sangat pengen kesini. Saudaraku sih sebenarnya udah pada kesini. Aku sama Ajeng belum. Buat yang belum tahu apa itu Umbul Ponggok, mari kuberitahu. Nih aku kutip dari webnya ya:

Umbul Ponggok adalah wahana air pertama di Indonesia yang memberikan sensasi snorkling dan diving tidak di laut tetapi di kolam mata air alami yang dingin dan menyegarkan. 

Sudah kebayang belum temen-temen? Ya, jadi bentuknya seperti kolam biasa gitu sih tapi airnya bersumber dari mata air murni. Disini juga uniknya adalah kita akan berenang dengan ikan-ikan. Seperti nyebur ke kolam ikan begitu kali ya hahahaha. Kolam ini lumayan dalam, kayaknya 2 meter masih lebih lagi deh. Semakin ketengah semakin dalam. Oleh karena itu, akan ada banyak properti yang memungkinkan kita foto bawah air anti-mainstream. Ada sepeda motor, bangku taman, masih banyak lagi.

Tiket masuk nya cukup murah yaitu Rp 15.000,- tapi bila mau ke kamar mandi kenakan biaya lagi. Mereka juga menyediakan persewaan pelampung, kacamata renang dan berbagai peralatan menyelam lain. Lokasi Umbul Ponggok adalah Jl. Delanggu- Polanharjo No.Ds, Jeblogan, Ponggok, Kec. Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57474.

Day 6 : Taman Sari & Alun-Alun Utara

Sebenarnya aku sudah pernah ke Taman Sari waktu aku masih kecil. Mungkin waktu itu masih kelas 3 SD kali ya. Pada waktu itu, Taman Sari belum bagus seperti sekarang. Tidak banyak orang yang tertarik berkunjung kesana. Tempat wisata itu terlihat kusam dan kotor. Kolam pemandiannya itu terutama. Aku masih ingat airnya berwarna hijau pekat dan banyak lumut menempel. Belakangan ini, banyak orang mengunggah foto Taman Sari di Instagram dan tampak sekali pemerintah daerah melakukan revitalisasi terhadap tempat wisata ini. Taman Sari kelihatan lebih bersih dan hidup. Maka dari itu, aku tertarik untuk berkunjung kembali kesini.

Benar saja lho teman-teman. Tempat wisata ini sangat terawat sekarang. Aku senang deh lihatnya. Kalau baca sejarah mengenai Taman Sari, dulunya taman ini sangat luas namun saat ini hanya tersisa beberapa area saja karena beberapa area lain sudah dibangun menjadi pemukiman penduduk. Area yang masih dapat kalian kunjungi adalah Kolam Pemandian Umbul Binangun. Dulunya tempat ini merupakan kolam pemandian bagi Sultan, permaisuri, selir dan putri-putri raja.

Selanjutnya adalah melihat Sumur Gumuling yang hanya bisa dimasuki melalui Terowongan Bawah Air saja. Sumur Gumuling ini difungsikan sebagai Masjid pada masanya. Aku juga mengunjungi sebuah bangunan yang tampak sebagai puing-puing reruntuhan. Menurut yang aku baca itu merupakan Pulo Kenanga.

Kami berjalan mengelilingi komplek Taman Sari yang cukup luas, tapi saat ini memang telah bercampur juga dengan rumah penduduk. Setelah itu kami pun menikmati sore hari di Alun-Alun Utara. Aku sebenarnya jarang ke alun-alun ini karena lebih sering ke Alun-Alun Selatan. Tapi ada yang baru waktu itu, yaitu Patung Jendral Sudirman.

Day 7 : Merapi Lava Tour

Destinasi hari ini menuju jauh ke utara yaitu Gunung Merapi. Aku sudah beberapa kali ke Gunung Merapi. Waktu aku kecil pun sudah pernah. Tapi dulu suasananya sangat berbeda. Aku masih ingat waktu aku masih SMP, keluargaku menuju Kali Kuning yang masih asri. Ada aliran air sungai yang melewati batu-batu dengan pemandangan kanan kiri hutan lebat. Duh aku seneng banget ngeliatnya, masih teringat jelas di memoriku. Kalau nanti aku ketemu fotonya, aku akan posting deh. Kini, setelah erupsi yang lumayan besar pada tahun 2010, semua itu tinggal kenangan. Kali Kuning dipenuhi batu-batu besar dan pasir. Sebenarnya hampir semua area dipenuhi batu dan pasir. Oleh karena itu, sekarang tour merapi tidak bisa lagi dilakukan menggunakan mobil pribadi tapi menggunakan jeep. Waktu itu aku melihat juga sih ada orang yang nekat naik mobil pribadi, tapi menurutku sayang mobilnya karena medannya sangat berat. Kalau melihat dari sisi positifnya, tentu bagus banget untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Tapi aku punya kesan sendiri dengan merapi pada jaman aku kecil.

Buat yang bingung harus kemana, kalian tinggal searching aja : Base Camp Jeep Wisata Merapi MLCC (Merapi Land Cruiser Community) di google maps. Disana kamu harus booking terlebih dulu untuk menikmati jeep ini. Tapi aku sarankan untuk booking jauh-jauh hari ya karena kalau hari besar seperti Libur Natal dan Tahun Baru itu sangaaaaaaat padat antriannya. Waktu itu saja aku harus nunggu sekitar 1-2 jam untuk dapat giliran karena booking on the spot. Setelah dapat nomor antrian baru deh kalian mulai tournya. Kalian akan dibawa ke The House of Memory yaitu bekas rumah penduduk yang terkena erupsi dan melihat-lihat barang yang masih tersisa. Lalu melewati Kali Kuning dan terakhir ke Bunker Kali Adem.

Di area Bunker Kali Adem ini banyak yang jual Bunga Edelweiss lho guys, ada yang warna asli ada pula yang sudah diwarna warni. Aku enggak beli karena di rumahku sudah ada. Dulu papaku pernah beli. Tapi bagi kalian yang suka, bisa beli disini soalnya murah. Setelah dari Bunker, kami diarahkan oleh driver jeep kami untuk kembali ke basecamp. Hari sudah mulai sore jadi kami memutuskan untuk mencari makan sore menjelang malam. Papaku mengajak kami ke Museum Ullen Sentalu tapi ternyata sudah tutup. Lagian aku juga sudah pernah masuk waktu trip dengan teman-teman SMA ku tahun 2013. Kami pun akhirnya menuju Taman Nasional Gunung Merapi. Sebetulnya kami enggak masuk ke taman nasionalnya sih karena sudah sore juga dan kabutnya benar-benar tebal, kami cuma makan aja di kedai yang ada di sekitarnya. Pada tau dong makanan apa yang khas banget di daerah ini? Yup, bagi yang sudah menebak sate jamur, jawabannya betul. Memang disini terkenal banget sate jamur jadi kami pun mencobanya dan rasanya enak banget. Bumbu kecapnya meresap banget sampe ke dalam jamurnya. Maknyusssss!

Sore itu udara sangat dingin karena hujan mulai turun. Setelah makan kami pun langsung pulang.

Day 8 : Ziarah Tour

Hari ini kami hanya berpindah dari satu Gua Maria ke Gua Maria yang lain karena memang keluarga papaku suka banget ziarah. Bude dan Pakdeku sengaja ikut, tapi saudaraku pada enggak mau ikut hahaha. Gua Maria pertama yang kami kunjungi adalah Gua Maria Gunung Sempu yang terletak di daerah Bantul. Ya seperti orang yang berziarah pada umumnya sih, kami berdoa disini dan kemudian menuju Gua Maria berikutnya.

Tempat wisata religi berikutnya berada tepat di samping Sungai Progo, yaitu Taman Doa Pajangan. Taman Doa Pajangan terletak di Jalan Pajangan – Sedayu Dusun Kamijoro, Sending Sari, Pajangan, Bantul yang bersebelahan dengan Gereja Katolik Yakobus Alfeus. Hal yang paling menarik perhatian dari taman doa ini adalah Patung Wajah Kerahiman Allah setinggi 5 meter di halaman depannya.

Setelah itu kami pun menyudahi ziarah kami hari ini dan bergegas pulang. Menu makan siang yang kami makan cukup spesial. Sudah bolak balik aku ke jogja dan ini pertama kali aku mencoba Ayam Ingkung. Ternyata ini makanan dari jaman papaku kecil dulu. Papaku & kakak-kakaknya jadinya bernostalgia. Hayo temen-temen udah pernah coba belum?

Ayam Ingkung ini merupakan komponen pokok dalam tumpeng yang biasanya disajikan di tampah. Cuma di tempat makan kami waktu itu kami hanya pesan ayamnya saja. Menu makanan ini sangat kental dengan Budaya Jawa lho! Menurut artikel yang aku sadur dari Fimela.com begini nih penjelasannya: Ayam ingkung berasal dari kata “manengkung” yang berarti memanjatkan doa kepada Tuhan dengan kesungguhan hati. Ayam adalah lambang dari rasa syukur dan kenikmatan yang didapat di dunia karena kuasa Tuhan. Hanya ayam yang baik dan lezat saja yang menjadi persembahan, itulah mengapa ayam ingkung disajikan dalam bentuk utuh dan ditata dengan indah. Nah kalian sekarang udah tertarik belum nyoba menu ini kalau lagi liburan ke Jogja?

Semoga kalian menikmati cerita liburan mudikku ke Jogja ini ya. Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, aku memang sering ke kota ini. Kalau ada wisata lain yang menarik pastinya akan segera aku bagikan di blogku ini. Be happy & stay productive! Sampai ketemu di cerita liburan berikutnya yaaaa 😀

Highlights of My Trip to Bali (2019)

Blue Point Beach /Suluban Beach & Kecak Dance on Uluwatu Cliff

Kelingking Beach – Broken Beach – Angel’s Billabong Beach (Nusa Penida)

Diamond Beach – Atuh Beach – Molenteng Tree House- Teletubbies Hills (Nusa Penida)

Crystal Bay Beach (Nusa Penida)

Tegallalang Rice Terrace – Ubud

What’s on Cariu ?

Hello teman-teman, hayooo udah pernah denger daerah Cariu belum? Mungkin terdengar asing ya. Itu juga yang pertama kali aku pikirkan waktu dengar nama daerah ini. Dimana ya itu? Kalian pasti menebak-nebak lokasi persis daerah ini. Menurut Wikipedia, Cariu merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Kecamatan Cariu sedang diwacanakan akan bergabung dengan Kabupaten Bogor Timur. Kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Karawang ini merupakan pemekaran dari Kecamatan Jonggol pada tanggal 2 Februari 1975.

Perjalanan dari Tangerang ke Cariu tidak begitu jauh kok, kurang lebihnya sih 3 sampai 3,5 jam. Sebaiknya kalian menggunakan mobil pribadi teman-teman, karena kendaraan umum di daerah ini agak sulit. Kalau dari Tangerang kamu bisa lewat Tol Jagorawi lalu exit Buperta Cibubur dilanjutkan melalui Jalan Transyogi/Alternatif Cibubur. Kalian akan melewati Cileungsi dan Jonggol sebelum akhirnya tiba di Cariu ini. Nama tempat yang kita tuju kali ini adalah Penangkaran Rusa Cariu, berlokasi di Buanajaya, Tanjungsari, Buanajaya, Kec. Tanjungsari, Bogor, Jawa Barat 16840. Tempat ini buka setiap hari dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore, kecuali hari Minggu buka sampai jam 4 sore.

Tempat wisata ini belum mempunyai lahan parkir yang memadai, begitu pula dengan fasilitas lainnya. Lahan parkirnya hanya seperti area kecil di bawah pepohonan rindang. Kamar mandinya juga masih sederhana banget. Cuma memang bisa dibilang lumayan bersih. Untuk mencapai area penangkaran rusa, kalian terlebih dahulu harus menyebrangi jembatan bambu kecil yang menghubungkan area parkir dengan hutan. Setelah menyusuri hutan barulah sampai di penangkaran rusanya. Kurang lebih jaraknya adalah 2 km gitu sih dari ujung jembatan ini menuju area penangkaran rusa.

*Oh iya guys, perjalananku ini aku lakukan di tahun 2016. Nah pada tahun 2018, aku mendengar kabar jembatan sepanjang 42 meter ini roboh dan jatuh ke dalam Sungai Cibeet. Selama beberapa waktu Penangkaran Rusa Cariu ini ditutup. Sejujurnya, aku tidak tau kondisi jembatan ini sekarang namun aku yakin sekali bahwa sudah diperbaiki. Ini adalah satu-satunya akses pengubung area parkir dengan penangkaran rusa, jadi tidak mungkin dibiarkan rusak begitu saja. Selain itu, tempat ini dikelola oleh BUMN Perum Perhutani oleh karena itu pasti penanganannya juga cepat.

Perjalanan melewati hutan sangat menyenangkan buatku. Karena udaranya sejuk dan bersih. Rasanya seperti lagi detox paru-paru. Cuma waktu itu aku salah karena menggunakan sandal. Lebih baik kalau menggunakan sepatu kets karena jalanannya masih asli, belum ada jogging treknya gitu. Kamu akan menemukan batu dan tanah licin. Aku harus jalan pelan-pelan biar enggak terpeleset. Kalau pakai sepatu kan bisa lebih gesit tuh. Oh ya, aku menyarankan kalian untuk datang sekitar jam 9 atau 10 pagi. Pertama, karena udaranya pas banget. Waktu itu aku sampai sekitar pukul 10 jadi masih ada matahari pagi yang tidak terlalu panas. Kedua, karena memang itu sedang jam makan para rusa. Kan enggak lucu kalau kalian datang dan ternyata rusanya udah selesai makan. Mereka itu kalau sudah selesai makan biasanya langsung ngilang ke dalam hutan. Jadi kalian rugi banget mesti nunggu lagi sampai sore. Menurut info yang aku dapat sih jam makan rusa itu ada 2, pagi jam 7-10 dan sore jam 3-5. Tapi aku sendiri lebih suka pagi.

Begitu memasuki area penangkaran rusa, kalian akan melewati sebuah jembatan panjang yang berakhir pada suatu gazebo dengan tangga mengarah ke padang rumput. Disinilah biasanya rusa-rusa itu berkumpul untuk makan. Awal kami datang itu ternyata rusanya masih di dalam hutan. Tapi dipancing-pancing oleh pakde dan papaku menggunakan semacam ubi gitu. Kalau kalian mau beli disini bisa, sekalian bayar dengan tiket masuknya. Tiket masuk itu Rp 10.000,- dan ubi makanan rusa juga Rp 10.000,- . Cuma kalau kalian emang udah siapkan dari rumah juga boleh banget.

Aku sebenarnya bukan pecinta hewan sih. Jadi aku malah asik duduk-duduk aja di Gazebo sambil ngelihatin papaku, pakde dan istrinya sepupuku (aku manggilnya Mbak Sylvia) ngasih makan rusa. Aku juga nemenin keponakanku yang masih umur 4 tahun, namanya Abel. Gak mungkin dia turun juga, bisa disruduk rusa nanti. Abel itu orangnya pemberani. Waktu di Jogja aja, pas dia masih kecil banget tuh, anjing tanteku yang warna hitam bulunya dan menurutku serem, dipukul punggungnya. Wah aku aja enggak berani deket-deket. Untung tuh anjing enggak gigit. Makanya, anak satu itu perlu dijagain betul. Aku jagain Abel sambil ngajak dia bolak balik melewati jembatan bambu terus kami selfie-selfie juga.

Aku berkeliling sambil ambil beberapa foto. Ternyata enggak begitu bagus kalau ambil foto dari atas jembatan dan gazebo, aku pun akhirnya turun ke padang rumput. Rusa-rusanya masih pada makan. Ajeng juga minta difotoin. Abel dijagain sama papanya dan sedang minta turun. Daripada dia maksa turun, akhirnya aku pun naik saja ke Gazebo. Mbak Sylvia udah bawain kami camilan jadi ketika rusa sudah pada pergi ke dalam hutan, kami duduk santai sambil makan di gazebo.

Ini adalah tempat yang cocok buat kalian yang emang pengen menikmati alam. Seperti yang aku bilang sebelumnya, tidak terlalu banyak fasilitas yang bisa dinikmati disini. Abel sudah bosan dan dia mengajakku untuk menemaninya bermain. Oh ya di luar area penangkaran memang ada area kecil yang isinya permainan anak-anak, mulai dari perosotan, ayunan dan jungkat jungkit. Selesai Abel bermain, kami pun memutuskan untuk pulang. Berdasarkan review di Google, pengunjung rata-rata menghabiskan waktu di tempat ini selama 2 jam. Begitu pula denganku.

Jadi gimana teman-teman, tertarik berkunjung kesini gak? Lumayan juga kan tempatnya? Mungkin beberapa dari teman-teman lebih mengenal Penangkaran Rusa Rancaupas di Ciwidey ya. Banyak temanku yang sudah berkunjung kesana. Aku sendiri belum pernah. Ya mungkin nanti kalau ke Bandung, bikin rencana deh untuk mampir kesana. Buat yang udah pernah, boleh banget bagi cerita ke aku melalui komen. Ok deh, semoga teman-teman suka dengan ceritaku ini. Tetap semangat beraktivitas ya, jangan lupa liburan lho.. Sampai ketemu di cerita liburan berikutnya ya!

Konnichiwa Japan

Hi teman-teman, kali ini aku akan menceritakan pengalamanku liburanku ke Jepang. Aku pergi ke Jepang pada bulan Juni tahun 2015. Trip ini sudah lumayan lama, tapi dijamin sih gak basi deh hehehe.. Aku tipe orang yang (sebenarnya) kurang suka ikut tour karena menurutku kurang puas di spot yang aku anggap bagus dan gak bisa cepat di spot yang menurutku kurang menarik. Pasti dibatasi waktu. Oleh karena itu, trip kali ini aku tidak menggunakan jasa tour. Aku pergi bersama keluargaku, keluarga adik mamaku dan keluarga adik istri adik mamaku (rumit juga nih sebutannya wkwkwk). Keseluruhannya ada 15 orang nih teman-teman. Without any further do, so let’s get started!

Day 1 : Soekarno Hatta Int’l Airport – Tokyo Haneda Int’l Airport

Hari pertama aku awali dengan perjalanan udara yang lumayan panjang menuju Tokyo. Aku sekeluarga dan keluarga adik mamaku naik maskapai Air Asia dari Bandara Internasional Soekarno Hatta. Keluarga adik mamaku terdiri dari 4 orang. Kami berangkat pagi-pagi, aku lupa tepatnya pukul berapa namun yang kuingat sebelum terang kami sudah nongkrong di ruang tunggu terminal 3. Karena kami naik Air Asia, so pasti kami harus transit terlebih dahulu ke Malaysia. Transit ini cukup memakan waktu teman-teman, karena kami sudah landing sekitar pukul 9 atau 10, namun pesawat kami menuju Tokyo itu siang hari. Kalau gak salah sih waktu itu jam 2 siang. Akhirnya kami pun muterin bandara sambil wisata kuliner. Makanan favoritku disini adalah roti canai pakai kari ayam. Sumpah enak banget teman-teman! Rotinya gurih banget dan kari nya bener-bener berasa.

Mendekati jam keberangkatan kami ke Tokyo, kami pun mencari keluarga adik istri adik mamaku karena ternyata kami satu penerbangan. Kami bersepuluh sama-sama menuju Tokyo sedangkan 5 orang sodaraku yang lain sudah tiba di Tokyo. Mereka berangkat beberapa hari sebelum kami karena memang om ku ada pekerjaan di Jepang. Perjalanan ke Jepang kami tempuh selama 7 jam, dan hari sudah malam saat kami tiba di Tokyo. Kami segera menuju hotel untuk istirahat. Hotel kami berada di daerah Kamata, dekat Stasiun Kereta Kamata. Nama hotelnya adalah GrandPark Hotel PX Tokyo. Malam itu aku dan adikku lapar sekali sehingga kami memutuskan untuk ke Lawson dekat hotel. Aku cukup terkesan dengan minimarket di Jepang. Pilihan makanan disini begitu banyak, penampilannya menarik dan harganya pun gak terlalu mahal. Mungkin kalau aku sekarang ada di sana, aku gak akan begitu terkesan kayak dulu ya teman-teman, karena sekarang sudah banyak minimarket yang konsepnya seperti itu. Tapi buatku di tahun itu, dimana Indomaret Point ataupun Point Cafe belum begitu menjamur, pengalaman ke minimarket dengan konsep tersebut begitu WOW. Aku dan adikku pun kalap membeli berbagai macam panganan yang membuat timbunan lemak kami bertambah banyak tentunya…

Day 2 : Tokyo City Tour

Pagi hari aku sudah siap di lobby hotel. Aku menunggu seluruh rombongan kami lengkap sambil berjalan di kanan kiri hotel bersama adik dan sepupuku. Belum terlalu ramai. Foto sebelah kanan adalah gang dimana hotelku berada sedangkan foto sebelah kiri adalah ujung gangnya. Selain banyak mobil, di kota ini pun banyak sepeda lho teman-teman.

Udara mulai panas dan kami memutuskan kembali ke hotel. Saat kembali omku sudah siap. Aku duduk-duduk sambil mengobrol dengan sodaraku. Aku melihat antrian panjang untuk masuk ke gedung sebelah kiri hotelku. Antriannya bahkan mencapai depan hotelku lho. Aku bingung itu apa, aku kira sih antrian makan ramen ya. Tulisan di depan gedungnya sih ‘Pachinko Hiroki’. Setelah dijelaskan sama omku, itu ternyata tempat main game gitu. Aku pikir, ya ampun itu orang sih niat banget ya pagi-pagi udah antri main game aja. Tapi kata omku, memang begitulah kebiasaan cowok-cowok di Jepang. Hmmm..

Hari kedua ini kami berfokus untuk mengunjungi berbagai destinasi menarik di Tokyo. Transportasi yang kami gunakan disini adalah kereta. Tujuan pertama kami adalah Shibuya. Kami naik kereta dari Stasiun Kamata menuju Shibuya. Disini kami berfoto di Patung Hachiko, menyebrang di Shibuya Crossing, lihat-lihat barang elektronik di Bic Camera. Aku paling terkesan waktu menyebrang di Shibuya crossing karena waktu aku SMP, aku suka banget dengan film Fast & Furious : Tokyo Drift. Di film tersebut ada adegan Han dan Sean ngobrol dengan pemandangan Shibuya. Menurutku sih keren banget ya, jadi waktu aku bisa datang kesini secara langsung, aku hebring banget. Setelah puas belanja di Bic Camera, kami menuju Harajuku lalu take away Yoshinoya untuk makan siang (meskipun di Indo ada, tetep dong wajib cobain yang asli), dan makannya di dekat Taman Yoyogi. Waktu aku datang dulu, di dekat taman sedang ada festival kuliner gitu teman-teman, jadi aku pun beli okonomiyaki, takoyaki, dll. Wah enak banget sih itu… Oh ya, Stasiun Harajuku gak begitu jauh dengan Taman Yoyogi sehingga waktu itu, kami serombongan hanya jalan kaki. Taman Yoyogi juga berdekatan dengan Meiji Shrine, jadi sekalian aja deh kami kesana.

Setelah selesai berkeliling-keliling taman, kami sekeluarga menuju Takeshita Street di Harajuku. Takeshita Street ini bentuknya seperti pasar yang memanjang dalam satu gang dan banyak sekali penjual makanan, kafe, pernak-pernik lucu serta pakaian. Disini teman-teman bisa belanja untuk oleh-oleh karena harganya gak begitu mahal. Aku sendiri berbelanja banyaaak sekali Kitkat Green Tea untuk oleh-oleh karena memang waktu itu Kitkat Green Tea sangat nge-trend.

Puas di Takeshita Street, perjalanan dilanjutkan menuju Sensoji Temple (Asakusa Kannon Temple) yang merupakan Kuil Buddha di Asakusa. Perjalanan dari Harajuku menuju Asakusa memakan waktu sekitar 30-40 menit menggunakan kereta. Setibanya disana, hari sudah sore hari tapi justru semakin bagus. Kami mengelilingi kuil sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Tokyo Skytree. Tapi sayaaaaaang sekali waktu mau masuk sudah hampir tutup. Jadi daripada membayar tiket mahal tapi cuma sebentar, kami pun mengurungkan niat untuk masuk. Kami berjalan-jalan di sekitar bangunan tersebut dan beristirahat di Sumida Park sambil memandangi Sungai Sumida serta gemerlap lampu-lampu malam itu. Lumayan lama kami menghabiskan waktu di Sumida Park tersebut sebelum kembali ke hotel.

Day 3 : Tokyo Disney Sea

Kalau ke Tokyo rasanya kurang lengkap kalo gak Tokyo Disney Sea, betul gak sih? Menurutku sih betul banget. Dari front gate nya aja sudah bagus banget.

Menuju pintu masuk pemandangan yang disajikan adalah bangunan klasik tua dengan bola dunia di tengah tamannya. Bola dunia disini emang hits banget. Jangan lupa foto di spot ini ya guys, biar afdol gitu kesannya.. ^^ Setelah masuk, pemandangan pertama yang kamu lihat adalah sebuah danau yang cukup besar. Danau ini biasanya digunakan untuk pertunjukan air yang tayang siang dan malam hari. Aku sendiri berkesempatan nonton pertunjukan siang dan malam hari. Menurutku pertunjukan malam hari lebih berasa feel nya karena ada symphony of light nya. Di belakang danau (kalau lihatnya dari sisi pintu masuk ya) ada sebuah gunung berapi yang seingatku merupakan lokasi wahana Journey to The Center of The Earth.

Wahana pertama yang kami coba adalah Toy Story Mania! di area American Waterfront. Tipe game nya sih standar, di Disneyland Hongkong juga ada. Jadi kita akan naik kereta yang berputar-putar dan jobnya adalah menembak light spot menggunakan laser. Setelah pemanasan dengan wahana yang tingkat ketegangannya rendah, aku, adikku, sepupu cowokku dan papaku tertarik untuk mencoba wahana yang cukup ekstrem. Awalnya sih kami tertarik untuk naik karena bangunannya bagus, mirip kastil kuno yang megah banget. Tapi waktu dibaca keterangannya, wahana ini cukup seram. Modelnya sih seperti histeria di Dufan, cuma ini indoor dan jauuuuuh lebih tinggi daripada histeria. Sensasi naik wahana ini luar biasa, kalau aku kasih rating ya…. 9/10. Wajib coba deh teman-teman! Gak akan nyesel.. Nama wahananya adalah Tower of Terror dan letaknya gak jauh dari Toy Story Mania!, yaitu masih di area American Waterfront. Setelah naik wahana ini, aku dan lainnya santai sejenak di taman sambil minum softdrink. Kebetulan waktu itu, hari sudah sore dan kami memang berada di area American Waterfront yang dekat dengan laut. Pemandangan matahari terbenamnya sangat indah. Tidak banyak wahana yang bisa kami nikmati karena memang Tokyo DisneySea ramai sekali, antrian setiap permainan benar-benar memakan waktu. Jadi ya kami nikmati aja dengan foto-foto di spot dekat wahana.

Atraksi yang kami saksikan berikutnya adalah Mermaid Lagoon Theater (King Triton’s Concert) di area Mermaid Lagoon. Wahana terakhir yang kami coba adalah Journey to The Center of The Earth di area Mysterious Island dan ini ternyata menarik banget. Tipe wahana nya adalah roller coaster, tapi cukup menantang karena rail nya berkelok-kelok dan menanjak lalu menurun. Kami capek sekali malam itu, sebenarnya sih bukan karena area nya terlalu luas atau gimana, tapi lebih capek karena antrinya. Duh ogah banget deh kalo pergi pas lebaran seperti itu.. Kalau mau benar-benar menikmati, emang harus acak aja tanggalnya di hari biasa. Tapi ya overall puas lah dengan Tokyo DisneySea.

Day 4 : Mt. Fuji

Destinasi kami di hari ke empat adalah Mt. Fuji atau Fujiyama. Oh ya, waktu itu aku enggak ke Danau Kawaguchiko. Tapi kalau teman-teman emang pengen ke Danau Kawaguchiko, itu dekat dengan Mt. Fuji. Bisa dijangkau sekaligus kok. Kamata-Tokyo ke Mt. Fuji cukup jauh ya teman-teman, jadi memang tujuan kami hari itu hanya itu saja.

Perjalanan dari Kamata-Tokyo ke Mt. Fuji kami tempuh menggunakan kereta hingga ke Stasiun Kawaguchiko. Stasiun ini adalah gateway Mt. Fuji. Dari stasiun ini kami baru lanjut naik bus ke puncak gunung dengan pemandangan luar biasa bagus. Karena memang lokasinya yang sangat tinggi, awan bisa sejajar dengan pandangan mata kita. Bahkan bila kita naik ke upper deck, awan bisa dibawah kita. Selain itu juga barisan bukit dan pepohonan cemara terlihat berjajar dengan rapinya. Belum lagi semakin jelas melihat salju di puncak Mt. Fuji.

Saat itu sedang musim panas sehingga salju di puncak gunung tidak menutupi seluruh permukaannya. Hanya ada beberapa bagian yang terselimuti. Meski begitu, kabut tebal menutupi puncak gunung. Jadi tetap dingin. Udara di area tersebut sebenarnya campuran dingin sejuk namun juga sedikit panas akibat sengatan sinar matahari. Kami pun memutuskan untuk membeli es krim di area pertokoan. Lega banget tenggorokan.

Hari sudah mulai sore sehingga aku dan rombongan memutuskan untuk kembali ke Stasiun Kawaguchiko. Saat turun itu aku benar-benar tersiksa lho teman-teman. Jarak dari puncak menuju stasiun lumayan jauh sedangkan bus yang kami naiki itu super penuh, sumpah sesak banget gak bisa gerak. Aku sama papaku pun berdiri pasrah aja. Ajeng dan mamaku yang udah masuk bus duluan ternyata dapet duduk di deretan paling belakang sedangkan aku dan papaku berdiri di tengah bus dekat pintu keluar. Ada kejadian aneh yang aku dan papaku ingat sampe sekarang. Jadi kejadiannya itu adalah ketika perjalanan turun, kami melewati satu halte yang sepi banget, bahkan enggak ada satu pun orang disana. Aku dan papaku mikir ngapain sih itu bus berhenti disana, udah pasti lah enggak ada yang turun. Cepetan aja kek! Udah sakit juga ini kaki kami berdua kelamaan berdiri. Tapi ternyata ada 2 orang bule, pasangan suami istri yang udah cukup tua, melewati kami dan turun. Aku sama papaku cuma berpandangan aja. Kami mikir kan hari udah mulai sore, sepi banget, sebentar lagi pasti gelap. Mau ngapain di halte itu berduaan? Apa yang mau dilihat gitu kan pikir kami. Soalnya sejauh mata memandang itu isinya hanya jalan yang sepi dan pepohonan. Setelah kami cari tahu, barulah kami sadar bahwa halte itu dekat dengan Aokigahara Forest atau yang lebih dikenal sebagai Suicide Forest. Makanya sampe sekarang aku tuh masih ingat aja peristiwa itu.

Kami sampai di Stasiun Kawaguchiko sudah hampir gelap. Omku segera membeli tiket untuk kami pulang. Karena perjalanan yang lumayan panjang, kami pun sampai di Kamata malam hari. Kami pun kembali ke hotel. Mengumpulkan tenaga untuk hari esok.

Day 5 : Osaka

Hari ini kami berpindah kota dari Tokyo menuju Osaka. Kami menyewa suatu rumah yang lengkap dengan perabotannya sehingga kami sudah tinggal pakai saja. Rumah itu bertingkat 3, cuma kami hanya gunakan lantai 2 dan 3 saja karena lantai 1 itu seperti gudang atau garasi begitu lah. Rumah ini seperti rumah pada umumnya, terdiri dari beberapa kamar tidur dan kamar mandi. Ada ruang keluarga, tempat mencuci juga. Aku nyaman banget di rumah ini. Apalagi karena lokasinya di area rumah penduduk dan juga tidak terlalu jauh dengan stasiun. Kami juga dapat layanan antar jemput dari pemilik properti ini. Jadi lumayan lah enggak perlu mahal naik taksi pas pindahan. Nama area tempatku tinggal adalah Izumisano-shi. Teman-teman kalau tertarik sih paling tinggal searching aja di airbnb.

Hari ini kami memang sengaja pindahan saja, tidak kemana-mana lagi. Pengalaman kami cukup menyenangkan karena bisa naik kereta cepat jepang yang dikenal dengan Shinkansen. Lelah juga berpindah kota begini. Jadi begitu sampai rumah ya kami hanya menata barang sambil ngumpul di ruang tv. Beberapa sodaraku yang masih kecil-kecil sibuk dengan mainan mereka. Ibu-ibu sudah siap masak. Sebelumnya kami memang pergi ke supermarket terlebih dahulu. Ibu-ibu berbelanja keperluan kami untuk beberapa hari menginap. Sedangkan para bocah dan kami yang sudah besar begini masih aja cari jajanan. Pasti pada tau dong kalo jajanan di Jepang itu unik. Salah satu yang unik adalah yang dibeli saudara kecilku ini. Ini adalah permen. Tapi bentuknya seperti pasta warna keunguan yang dimakan menggunakan taburan pop-rock.

Aku sendiri enggak beli apa-apa karena Ajeng sudah beli banyak jajan. Aku dan Ajeng memang paling suka kulineran atau coba sesuatu yang unik dari negara yang kami kunjungi. Mulai dari makanan khasnya, makanan pinggir jalan atau pun yang dijual di supermarket. Pokoknya kami semangat banget deh kalo hal beginian. Penasaran apa yang Ajeng beli?

Day 6 : Temple and Shrine Day Tour in Kyoto

Hari ini kami akan menuju Kyoto. Saat itu cuaca di Osaka maupun Kyoto sangat berbeda dengan di Tokyo. Tokyo cenderung panas menyengat sedangkan Osaka dan Kyoto mendung berangin. Hujan juga sering turun. Beberapa hari kami disana sebagian besar diisi dengan hujan. Pagi hari di Osaka kami sudah disambut dengan hujan gerimis. Kami bahagia begitu sampai di Kyoto karena masih mendung. Tapi enggak lama, hujan gerimis juga. Hahaha sama aja deh.

Hari ini kami tidak ada tujuan khusus, hanya keliling-keliling kuil yang ada di Kyoto. Jangan salah teman-teman, kuil di Jepang ini bagus banget. Pasti dikelilingi taman yang asri dan bersih. Kuil pertama yang kami kunjungi adalah Tofuku-ji. Letaknya di 778 Honmachi, Higashiyama Ward, Kyoto, 605-0981. Kuil ini enggak begitu ramai sih, waktu kami datang aja hanya ada beberapa orang yang mampir. Ini memang bukan kuil terkenal seperti yang mungkin teman-teman tau, Kiyomizudera, Fushimi Inari, dsb. Letak kuil ini juga terbilang jauh dari jalan utama karena kami terlebih dahulu harus melewati jalan kecil dengan pepohonan dan perumahan di sampingnya. Tapi buat kalian yang memang penikmat jalan kaki dan pemandangan pasti justru akan semakin bersemangat ya

Oh ya satu lagi yang menarik. Dalam perjalanan menuju kuil ini, kalian akan melewati sebuah jembatan kayu yang pemandangan kanan kirinya adalah pepohonan rindang gitu. Adem banget ngelihatnya. Apalagi waktu aku datang itu kan cuacanya mendung dan sedikit gerimis. Daun-daunnya kelihatan segar.

Setelah berkeliling beberapa saat, kami memutuskan untuk berpindah kuil. Kuil kedua yang kami kunjungi adalah Fushimi Inari. Wah kalau kuil ini sih dijamin pasti teman-teman tau.

Kuil ini sangat terkenal dengan deretan kayu berjajar membentuk suatu pagar yang berwarna hitam merah terang. Dikenal dengan nama Torii Gates. Gerbang ini ada 2 dan saling bersebelahan, dinamakan Senbon Torii. Keduanya menembus pepohonan lebat yang menghubungkan kuil dengan Mt. Inari yang sakral.

Kami cukup lama di kuil ini karena memang areanya yang luas. Sudah 2 kuil yang kami kunjungi dan kami memutuskan untuk menuju destinasi lain yang lebih menarik untuk anak-anak. Di rombonganku ini memang ada 3 anak-anak yang umurnya masih dibawah 10 tahun. Mereka pasti bosan juga berkeliling kuil karena belum mengerti bagaimana cara menikmatinya. Akhirnya omku mengajak kami ke Cup Noodles Museum Yokohama. Tapi sayaaaang sekali pas sampe disana museumnya udah tutup. Mereka tutupnya cepet banget btw guys, yaitu jam setengah 5 sore. Yaudah daripada enggak dapet destinasi apa-apa, om kami mengajak kami cepat-cepat ke kuil Kinkaku-ji. Kenapa harus cepet-cepet? Karena tutupnya jam 5 gaesss.. Sampe kuil, gerbangnya udah hampir ditutup dan udah pasrah aja kayaknya enggak boleh masuk. Mana itu kan hujan lebat gitu deh pasti petugasnya pengen cepet tutup dan gak peduliin kami. Ternyata mereka sangat menghargai kami yang udah lari-lari menerjang hujan ngejar jam tutup. Kami pun diperbolehkan masuk, tapi sambil disuruh jalan kilat. Pokoknya kata mereka maksimal setengah 6 sudah keluar area.

Sayang banget sih sebenernya, karena kuil ini adalah kuil emas. Pengen bisa menikmatinya lebih lama, baca sejarahnya, foto-foto juga. Tamannya juga luas banget. Tapi daripada enggak boleh masuk sama sekali, ya lebih bersyukur boleh masuk tapi cuma sebentar sih. Setelah itu memang hujan juga semakin lebat. Kami pun pulang ke Osaka.

*Fotonya minus papaku dan tanteku. Papaku ceritanya salah turun stasiun sebelum kami menuju Cup Noodles Museum. Jadi dia turun satu stasiun lebih dulu. Kalau nunggu papaku ngejar kami di museum pasti enggak keburu ke kuil. Jadi yaudah langsung ketemuan di kuil aja. Ternyata kami boleh masuk dan papaku enggak sempat. Akhirnya papaku menunggu diluar. Tanteku memilih untuk shopping ke Aeon Mall aja. Waktu itu Aeon Mall BSD kan masih baru banget di Indo. Aeon JGC bahkan belum ada. Jadi tanteku pengen lihat-lihat di Aeon Jepang katanya. Kami pun langsung bertemu di stasiun kereta. Setelah anggota terkumpul semua, baru deh kami bertolak kembali ke Osaka.

Day 7 : Umeda Sky Building & Dotonbori

Hari ini kami berangkat agak siang karena cuacanya tidak mendukung. Hujan sangat deras dan kabut dimana-mana. Saudaraku bahkan enggak jadi ke Universal Studio Osaka karena ada Badai Taifun. Akhirnya omku mengajak kami ke Umeda Sky Building daripada sekedar menganggur di rumah. Aku tipe orang yang paling anti di penginapan kalau sedang travelling. Kalau bisa sih selalu cari alternatif bila rencana awal enggak memungkinkan. Omku sudah sering ke Jepang untuk training dan workshop kantornya, yaitu Yamaha Motor. Oleh karena itu, sedikit banyak Beliau sudah hafal dengan beberapa daerah dan destinasi yang terkenal. Beliau mengakomodasi keinginan kami semua. Maka tibalah kami di gedung terkenal ini. Umeda Sky Building terletak di 1 Chome-1-87 Oyodonaka, Kita Ward, Osaka, 531-6023. Mengapa gedung ini bisa terkenal? Karena arsitekturnya unik teman-teman. Bentuknya adalah seperti dua menara kembar dengan ketinggian yang sama (173 m) dan dihubungkan melalui suatu eskalator di lantai 39. Mantap kan guys!

Setelah dari Umeda, kami langsung menghabiskan waktu sore di Dotonbori. Dotonbori itu iconic banget. Kalian wajib kesini deh. Kami tidak terlalu lama di tempat ini karena hujannya deras enggak tanggung-tanggung. Jaketku sudah lumayan basah. Sendalku udah kuyup. Saudaraku yang masih kecil-kecil pasti kedinginan. Disini kamu bisa menemukan berbagai toko yang menjual makanan seperti Starbucks, Kami hanya menyusuri area pertokoan sebentar, membeli beberapa souvenir dan jajanan lalu pulang.

Day 8 : Hiroshima

Hari ini cuaca lebih bersahabat dibandingkan kemarin-kemarin. Masih mendung dan sedikit gerimis tapi enggak terlalu parah. Kami bisa beraktivitas dengan lancar. Tujuan kami adalah Hiroshima Atomic Bomb Dome atau The Hiroshima Peace Memorial. Letaknya di 1-10 Otemachi, Naka Ward, Hiroshima, 730-0051. Perjalanan dari Izumisano ke Hiroshima lumayan jauh, sekitar 4-5 jam perjalanan menggunakan kereta. Oleh karena itu, tujuan kami hari itu ya hanya ke satu tempat itu aja.

Kami melewati stasiun kereta yang lumayan besar dan melihat ada information center yang memberikan fasilitas bagi turis asing untuk mencoba Kimono secara gratis. Kami pun tertarik untuk mampir. Disini ada seorang guide lokal yang sangat ramah, aku lupa namanya. Dia memberikan kami sepenggal penjelasan mengenai kebudayaan Jepang dan kemudian memberikan kami waktu untuk mencoba kimono. Di tempat ini juga banyak kerajinan tangan Jepang tapi yang menurutku paling menarik adalah origami. Origami di tempat ini bentuknya sangat beraneka macam dan tingkat kerumitannya pun tinggi. Aku kagum banget sih sama kemampuan mereka yang bisa membuat sebagus itu.

Semua cewek di rombongan kami bergantian mencoba kimono. Setelah puas, kami pun melanjutkan perjalanan. Seperti yang sudah aku sampaikan sebelumnya, perjalanan lumayan panjang jadi kami tiba di Hiroshima pun sudah menjelang sore. Kami menuju monumen bom atom ini dikala hari mulai gelap. Monumen ini tidak susah dicapai karena bisa dijangkau dengan trem.

Monumen ini dikelilingi oleh jogging track dan di salah satu sisinya terdapat semacam sungai yang cukup luas. Aku sangat senang bisa mengunjungi monumen ini. Menurutku tempat ini menyimpan banyak sejarah dan hebatnya lagi meskipun sudah melalui kondisi yang sangat berat setelah bom atom, masyarakatnya berhasil bangkit. Kota Hiroshima berkembang pesat dan modern sebagaimana kota-kota lain di Jepang. Sebenarnya aku juga pengen mengunjungi kota Nagasaki tapi pertimbangan dari omku adalah jaraknya yang cukup jauh. Aku kemudian mengusulkan untuk ke Fukushima. Tapi omku bilang bahwa itu merupakan tempat berbahaya, apalagi ada anak kecil di rombongan kami. Jadi lebih baik ke tempat yang lebih aman dan jaraknya masih terjangkau. Meskipun demikian, aku enggak menyesal juga mengunjungi tempat ini.

Kami pulang larut malam hari ini. Sudah begitu kami nyasar pula. Akhirnya kami menyerah dan omku memberanikan diri bertanya sama orang setempat. Hari sudah sangat malam dan tidak banyak orang yang bisa kami tanyai. Ada seorang bapak-bapak, sepertinya baru mabok pulang kerja, karena dia masih pakai setelan baju kerja dan membawa tas kantor. Jalannya agak sempoyongan gitu. Sebenarnya omku takut juga sih bertanya kepada si bapak, tapi mau bagaimana lagi? Daripada kami satu rombongan tersesat gak jelas. Tapi ternyata si bapak ini baik banget lho, maksudnya udah tipsy begitu tapi masih baik banget mau nunjukin jalan plus anterin sampe rumah. Puji Tuhan banget bisa dapat pertolongan seperti itu. Soalnya aku pernah liat sih waktu di Tokyo, kan malam-malam aku ke Lawson cari makan, ada orang mabok sampai muntah-muntah lalu dibopong temannya. Sepertinya itu sih udah hangover ya. Kalo begitu sih udah pasti enggak bisa ditanyai hahaha..

Day 9 : Osaka Castle – Back to Tokyo

Kalau hari ini sih cuacanya sangat bersahabat guys. Ceraaaaaah banget, bahkan siangnya akhirnya muncul matahari. Gak terik banget sih, cuma panasnya ya berasa lah. Acara hari ini adalah kembali ke Tokyo karena kami akan pulang ke Jakarta melalui Tokyo Haneda International Airport. Tapi karena kami beli tiket keretanya siang, pagi harinya kami menyempatkan diri untuk ke destinasi wajib yang ada di Osaka. Apalagi kalau bukan Osaka Castle. Tempat ini bagus teman-teman. Seriusan. Apalagi kalau musim semi, karena kan bunga sakura di tamannya akan bermekaran tuh. Suasana taman dan danaunya akan semakin hidup. Jadi Osaka Castle itu dikelilingi oleh sebuah danau terus dihubungkan dengan jembatan menuju ke area sekitarnya.

Kalian bisa masuk ke dalam bangunan kastilnya, tapi aku enggak masuk jadi enggak bisa bercerita. Oh ya di taman kastil ini banyak sekali burung yang mampir. Mereka seperti udah akrab dengan pengunjung disini. Kami berkeliling sebentar di area kastil lalu mencari makan siang disana. Perut kenyang, kami pun siap beresin barang dan kembali ke Tokyo naik Shinkansen.

Kami sampai di Tokyo malam hari dan kembali menginap di daerah Kamata. Tidak jauh juga dengan hotel kami yang dulu. Nama hotel kami ini adalah Sotetsu Fresa Inn. Setelah lihat hotelnya sih jujur lebih senang yang ini karena lebih luas dan lebih dekat dengan tempat-tempat makan. Cuma memang daerahnya gimana ya gaess.. Waktu itu aku dan mamaku nyari makan malam-malam. Aku orangnya gampang lapar, malam pun dulu aku jabanin buat makan. Tapi sekarang enggak kok karena aku udah terlalu gendut. Nah waktu aku lewatin gang hotelku itu, banyak cewek-cewek yang berdiri di pinggir jalan gitu. Kalian pasti mengerti apa yang aku pikirkan. Tapi karena aku berdua dengan mamaku, sudahlah diberani-beranikan aja daripada enggak bisa tidur kelaparan. Aku menemukan kedai ramen kecil di ujung jalan, namanya Daiou Ramen Restaurant. Disini menu utamanya adalah ramen tapi kalian bisa juga kok menemukan makanan lain seperti di chinese food resto gitu. Ada pula cemilan seperti gyoza. Tapi sorry ya Daiou, aku tetap pada gyoza lawson. Aku memang waktu itu melakukan battle gyoza Daiou vs gyoza lawson bersama Ajeng dan papaku. Ternyata pilihan kami tetap pada lawson dan tidak terkalahkan oleh lainnya. Baik dari segi rasa dan harga lho ya. Lawson for life!

Kami bertiga emang udah jadi penunggu lawson pas di Jepang waktu itu. Bolak balik deh kami kesana nyobain makanan. Tapi kadang ke FamilyMart juga sih. Cuma kalo menurutku, FamilyMart pilihannya gak sebanyak Lawson. Pernah juga si Ajeng minta beli CoCo Ichibanya. Oh ya sama kalo di Jepang kami selalu nyoba minuman yang unik di vending machine. Apalagi dulu kan di Indo belum marak vending machine sedangkan di jepang itu di setiap sudut kota juga ada. Seru sih, rasanya aneh-aneh dan murah juga.

Day 10 : Shopping in Tokyo

Malam ini kami harus pulang ke Indonesia tapi sebenarnya kami akan sampai besok sorenya. Jadi pesawat kami dari Tokyo itu tengah malam, sampai di Malaysia itu pagi hari dan transit lamaaaaa banget sampe siang menuju sore, baru setelah itu terbang ke Indonesia. Kami naik AirAsia juga untuk perjalanan pulang, jadi sudah pasti transit. Beda cerita kalo naik ANA atau JAL ya. Kan direct flight. Karena tidak ada yang harus dikejar, kami santai saja hari ini. Kebetulan Ajeng ulang tahun waktu kami di Osaka sehingga paginya kami hanya merayakan ultahnya dengan makan bersama di Daiou. Mamaku udah ketagihan makan disana. Setelah itu kami pun memulai eksplorasi hari ini.

Kami hari ini berkunjung lagi ke Takeshita Street untuk berbelanja lebih puas. Kan enggak dikejar waktu kayak beberapa hari lalu. Mamaku borong KitKat greentea, dark chocolate daaaaan banyak lagi. Waktu itu KitKat greentea belum masuk Indo jadi hype banget tuh. Mamaku beli untuk kami sekeluarga dan oleh-oleh. Setelah itu kami menuju Uniqlo. Harga baju disana lebih murah. Kaos Mickey Mouse aja waktu itu paling hanya 100rb padahal kainnya yang bagus punya lho. Sodaraku juga pada ngeborong. Kami lanjut mengunjungi Harajuku, Akihabara dan Shinjuku.

Siang berganti sore dan sore berganti malam. Kami bersiap menuju bandara menggunakan bus. Sesampainya di Tokyo Haneda kami pun melalui beberapa prosedur sebelum mencapai ruang tunggu. Ngantuk-ngantuk menunggu pesawat. Tidak banyak yang bisa kuceritakan di pengalaman pulangku kecuali cuaca buruk dan turbulensi parah yang melanda ketika hampir mencapai Malaysia. Saat itu masih pagi buta, sekitar pukul 3 atau 4 pagi. Aku duduk di bangku 2 dari belakang yang rasanya sama sekali tidak enak. Guncangan sangat terasa dan aku takut banget makanya aku gak bisa tidur. Lampu masih dimatikan dan banyak orang yang masih tertidur. Aku dan Ajeng cuma saling berpegangan dan berdoa aja waktu itu. Udah takut kami bakalan lewat. Tapi ternyata Tuhan masih beri kesempatan. Ya.. sejak itu aku agak ngeri kalo naik pesawat. Pokoknya serem lah. Begitu sampe Indonesia aku lega banget.

Semoga ceritaku ini bisa menginspirasi teman-teman dan juga memberikan referensi untuk kalian yang lagi bingung menyusun destinasi liburan ke Jepang. Atau kalau kalian ada referensi lain yang menarik, boleh banget berikan komen ke aku. Supaya kalau aku ke Jepang lagi bisa ada ide mau kemana-mana gitu kan. Tapi sih yang pasti aku pengen ke Universal Studio Osaka, ke kastil Harpot sambil minum butter beer (meskipun bukan pecinta harpot tetep aja pengen) HAHA. Semogaaaa bisa kesampean deh. Amin. Sampe ketemu di cerita liburan yang lain ya! Salam YOLO ^^

Hidden Gem in Tangerang

Hi semuanya! Aku mendedikasikan cerita ini untuk kalian-kalian yang butuh liburan singkat. Aku paham banget rutinitas ke kantor ataupun kuliah itu melelahkan. Aku juga pernah mengalaminya. Terkadang kita pengen liburan, tapi yang cepet aja deh. Kemana ya? Masa ke mall? Duh udah keseringan.. basi ah. Kalau kalian tinggal di Tangerang atau Jakarta, wisata Telaga Biru Cisoka atau dikenal juga dengan nama Telaga Biru Cigaru ini bisa jadi alternatif nih temen-temen. Enggak jauh kok. Kalau mau naik KRL pun bisa, nanti kalian tinggal turun di Stasiun Tigaraksa lalu disambung kendaraan umum. Kalau mau naik mobil juga bisa. Akses jalannya sudah bisa dilewati. Lokasinya adalah di Jl. Cigaru Cisoka, Cisoka, Kec. Cisoka, Tangerang, Banten 15730. Sekilas objek wisata ini mirip dengan Danau Kaolin di Belitung lho! Telaga Biru Cisoka terbentuk akibat galian pasir yang terisi dengan air hujan sehingga membentuk suatu genangan air luas berwarna biru kehijauan.

Area telaga ini lumayan luas. Seingatku terdapat 3 telaga yang ukurannya cukup besar. Ketiga telaga ini berdekatan tapi terpisah dengan gundukan pasir dan rumput-rumput. Fotoku dibawah ini, yang sebelah kiri merupakan telaga yang berukuran paling kecil dibandingkan kedua telaga lainnya. Airnya bening. Disini terdapat permainan sepeda air yang berbentuk bebek. Jadi kalian bisa santai mengelilingi telaga sambil mengayuh sepeda ini. Maaf temen-temen, aku enggak tau harganya karena pas itu enggak nyoba hehehe.

Foto sebelah kanan merupakan telaga yang ukurannya lebih besar dengan air berwarna biru kehijauan yang terlihat cantik banget. Disekeliling telaga seperti dibentengi oleh gundukan pasir. Yang menarik disini adalah tersedia perahu atau lebih mirip disebut getek kali ya, yang bisa digunakan untuk berkeliling telaga. Kamu tinggal duduk doang, karena memang udah ada mas-mas yang mendayung getek ini. Aku sendiri waktu itu enggak nyoba, tapi kalau enggak salah harga tiketnya adalah Rp 20.000,-/orang. Murah kan?

Aku melanjutkan perjalananku menuju telaga ketiga yang letaknya bersebelahan dengan telaga kedua. Telaga ini juga cukup besar seperti telaga kedua. Terdapat permainan air yang bisa dinikmati. Asiknya dari telaga ini adalah gundukan pasirnya tinggi jauh diatas telaga jadi pemandangannya lebih bagus. Lebih terlihat jelas dan puas gitu jadinya. Duduk-duduk santai diatas sini sambil memandangi telaga juga rasanya tentram banget. Atau kalau kalian tipe yang aktif banget, justru bisa jalan santai di pinggir telaga. Tenang aja guys, jalan setapaknya udah bagus kok. Cuma tetap harus hati-hati ya karena disini belum dikasih batas ataupun pegangan.

Telaga ini masih asri dan sederhana, belum banyak pengembangan yang dilakukan. Disekelilingnya hanya ada beberapa warung yang menjual makanan dan minuman ringan dimana para penjualnya rata-rata adalah warga sekitar. Memang telaga ini diapit oleh perumahan penduduk guys, gak heran makanya banyak penduduk yang bekerja untuk memberdayakan objek wisata ini. Ada yang jadi tukang parkir, pendayung getek, penjaga warung dan penjaga toilet disini.

Gimana temen-temen? Bagus juga kan telaga ini? Lumayan buat kalian yang pengen kabur sebentar dari rutinitas. Nongkrong sebentar dipinggir telaga sambil kena angin sepoi-sepoi dijamin bisa bikin kalian enggak stress lagi deh. Semoga kalian merasa terbantu dengan referensi yang kuberikan ini. Sampai ketemu di cerita berikutnya ya! 🙂

Annyeonghaseyo, Korea!

Hello teman-teman! Aku pengen bercerita mengenai liburan musim dinginku ke Korea. Trip ini aku lakukan pada awal bulan Januari 2017. Yup, aku berangkat tepat tanggal 1 Januari 2017 dan kalau enggak salah sih sekitar jam 11 atau 12 malam. Ya aku akan menempuh penerbangan malem. Korea sedang musim dingin bulan tersebut. I’m really excited about the weather!

Waktu itu, aku masih jadi mahasiswi semester akhir yang lagi penelitian di Pusat Penelitian Kimia LIPI. Bulan Desember ku diisi dengan beli bahan penelitian, research metode penelitian, trial error dan sebagainya. Sampai Jumat, 30 Desember 2016 pun aku masih ngelab sampai sore bareng partnerku yang setia banget, Nindy namanya. Waktu itu kami seharian nongkrong di ruang PSA alias Particle Size Analyzer untuk melakukan pengujian ukuran partikel sampel. Ajaibnya sih Departemen Kimia masih lumayan rame. Usut punya usut, ternyata pegawai pada ambil cuti mendekati tahun baru. Tanggal 2 kebelakang tuh lab mulai sepi. Nah, makanya itu juga aku ngambil trip di awal bulan Januari. Mengikut jadwal mereka gitu ceritanya. Masa sih anak TA malah ngabur duluan dibandingkan pegawainya? Kan ga beres to ya… Sebenernya pembimbingku itu orangnya selow banget, mau ambil libur kapan bebas, mau penelitian sampe kapan bebas, karena menurut Beliau skripsi itu adalah hal yang personal. Yang menentukan akan selesai kapan dan sebaik apa kan diri sendiri. Makanya, pas aku bilang mau izin ambil libur 1 minggu ya Beliau bilang boleh aja. Terima kasih Bu Meli 🙂

Kembali lagi nih ke cerita liburanku. Ok, waktu itu aku naik maskapai Asiana Airlines. Kenapa? Karena saat pergi ke Korea itu aku menggunakan jasa tour dan maskapai pastinya sudah diatur oleh agen tour. Agen tour yang aku pilih adalah KIA Tours & Travels. Waktu itu aku hanya pergi bertiga, yaitu sama Ajeng dan adik mamaku yang paling kecil namanya Tante Lily. Tante Lily ini belum menikah, jadi lebih fleksibel kalo mau ikut liburan sama ponakannya begini. Mamaku enggak ikut karena waktu itu lagi sakit batu empedu dan di bulan tersebut akan operasi. Papaku sama sekali enggak tertarik untuk pergi ke Korea. Menurutnya, Jepang cukup kok sebagai representasi negara Asia Timur. Kami memilih KIA Tours & Travels berdasarkan rekomendasi dari omku yang pernah menggunakan tour ini. KIA memang sangat bagus untuk destinasi Korea. Kenapa? Karena KIA kepanjangan dari Korea Indonesia Agency. Pemiliknya sendiri adalah pasangan suami istri yang salah satunya memang berasal dari Korea. Jadi menurutku sih enggak heran kalau destinasi Korea lebih unggul dibandingkan destinasi ke negara lain.

Day 1 : Jakarta – Seoul

Kami berangkat dari Soekarno Hatta International Airport menuju Incheon International Airport. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 6 jam. Waktu itu kami tiba di Incheon sekitar jam 8 atau 9 pagi (waktu Korea). Perbedaan waktu antara Jakarta dan Korea adalah 2 jam, dimana waktu Korea lebih cepat dibandingkan waktu Jakarta. Karena menggunakan jasa tour, kami segera dijemput menggunakan bus setelah selesai proses imigrasi dan pengambilan bagasi. Sensasi yang kami rasakan setelah keluar dari bandara adalah dinginnnnnn. Tidak bersalju memang, cuma tetap aja dingin banget. Mungkin suhunya sekitar 5-6 derajat Celcius.

Tujuan kami yang pertama adalah Blue House dilanjut dengan Gyeongbokgung Palace atau Istana Gyeongbok yang terletak di kota Seoul. Blue House hanya kami lewati saja menggunakan bus jadi aku tidak terlalu perhatian dengan objek itu. Istana Gyeongbok inilah yang terkenal banget. Bagi kalian para pecinta drama-drama korea pastinya tau banget tempat ini. Sebelum mengunjungi istana, kami diajak terlebih dulu untuk mengunjungi National Folk Museum of Korea atau Museum Nasional Rakyat Korea yang terletak di halaman istana. Sesuai bayangan teman-teman, museum ini berisi berbagai peralatan dan benda-benda yang digunakan oleh Rakyat Korea jaman dahulu hingga zaman sekarang. Museum Nasional Rakyat Korea terhubung langsung dengan istana melalui taman dan pintu kecil. Jadi hanya perlu jalan kaki, enggak usah naik bus kok.

Istana Gyeongbok tidak terlalu rame waktu itu, mungkin karena musim dingin atau terlalu pagi ya? Hanya beberapa kelompok orang yang berkeliling dan berfoto. Grup kami dipandu oleh seorang local guide yang sudah fasih berbahasa Indonesia yaitu Ms. Jelo (katanya biar mirip sama Jennifer Lopez) dan seorang tour leader bernama Linda. Menurutku ini lucu karena sudah 2x aku ikut tour dan nama tour leaderku tetap Linda. Aku kira Linda yang akan guide aku ke Turki akan sama dengan Linda yang guide aku ke Korea, ternyata mereka berbeda. Coincidence? Maybe. but maybe not..

Ms. Jelo mengajak kami berkeliling di area istana sambil memberikan penjelasan. Setelah itu, kami diajak untuk makan siang di sebuah resto Korea yang ternyata kokinya adalah orang Indonesia.

Hari ini kami tidak akan bermalam di Seoul, namun di Pulau Jeju. Oleh sebab itu, setelah makan siang kami segera diantarkan ke Gimpo International Airport. Penerbangan dari Gimpo ke Jeju International Airport enggak begitu lama, sejam lebih palingan. Begitu kami sampai di Jeju, hari sudah mulai sore dan kami segera menuju ke Dragon Head Rock yang menurut Ms. Jelo adalah batu karang berbentuk kepala naga. Jeju tidak bersalju, namun udara disana cukup dingin. Belum lagi ditambah dengan angin laut yang kencang, bisa bikin masuk angin. Aku sarankan kalo kalian kesini waktu musim dingin, jangan lupa bawa coat yang lumayan tebal, sarung tangan sama syal juga ya. Berdiri lama-lama di dekat laut bikin pipi ku dingin banget seriusan. Aku pun ngacir ke tempat yang lebih hangat.

Kami diberi waktu sekitar 45 menit disini sebelum menuju ke Mysterious Road. Kami pun segera berangkat ke Mysterious Road sebelum hari mulai gelap. Sekilas jalan tersebut terlihat seperti jalan pada umumnya. Lalu, apa spesialnya? Spesialnya adalah jalan ini dapat membuat mobil jalan sendiri meskipun mesinnya dimatikan. Padahal, jalanan tersebut terlihat menanjak. Melihat kami semua ragu dengan penjelasannya, Ms. Jelo lalu meminta Pak Supir untuk mematikan mesin mobil dan melewati jalan tersebut. Wah bener aja, ternyata bus kami berjalan sendiri lho! Hebat bener jalan ini, apa ada medan magnet atau apa nih pikirku. Ms. Jelo pun menambahkan penjelasannya bahwa sebenarnya jalanan ini adalah ilusi optik. Jalanan terlihat menanjak akibat efek pepohonan di samping-sampingnya, namun sebenarnya menurun. Akibatnya, mobil bisa berjalan sendiri meskipun mesinnya dimatikan. Hingga sekarang, belum ada penjelasan ilmiah yang pasti mengenai fenomena ini sehingga masyarakat sekitar tetap menamakannya sebagai Mysterious Road.

Hari sudah gelap saat kami meninggalkan Mysterious Road, yang artinya kami harus makan malam. Makan malam hari itu sangat menggugah selera karena menunya adalah Korean BBQ. Nama restorannya adalah Neul Bom Korean BBQ Restaurant. Sudah pada tau dong kalo Korbeq itu emang nikmat banget? Mengingat emang sekarang di Jakarta dan sekitarnya juga lagi booming tuh korean bbq all u can eat 99k.

Korbeq disini emang autentik karena bumbu dagingnya khas dan meresap banget. Jadi perpaduan antara marbling daging yang pas, bumbu yang enak plus side dish yang beragam bener-bener memuaskan lidahku nih. Yang bikin bahagia lagi adalah, korbeq ini enggak hanya di Jeju saja. Ms Jelo bilang akan ada beberapa korbeq lagi nanti. Mantap Jiwaa!!!

Day 2 : Jeju Island

Hari ini kami akan mengelilingi Pulau Jeju, dimulai dengan Cheonjiyeon Waterfall. Pagi itu udaranya bener-bener menghibur jiwa, karena gabungan antara angin dingin sekaligus hangat dari sinar matahari. Kami menyusuri jalanan yang dikelilingi sungai cantik dan pepohonan menuju spot utama yaitu air terjun. Suasananya juga tenang, enggak banyak orang. Udara semakin dingin mendekati air terjun. Aku, Ajeng dan tante berjalan pelan aja menikmati udara sejuk pagi itu, menyusuri sungai terus duduk-duduk santai di bangku taman.

Setelahnya, kami diajak menuju Play K-POP. Tapi sebenernya aku enggak terlalu suka kpop. Aku memang tau beberapa grup yang terkenal kayak Suju, SNSD, Exo, Bigbang dan beberapa lagi. Aku mendengarkan musik mereka, tapi bukan yang suka banget gitu. Itu pun aku dengerin karena Ajeng suka dan dulu dia muterin lagu mereka hampir setiap hari dalam beberapa jam. Ekstrem emang dia. Belum lagi dia suka ngeprint-ngeprint foto personilnya, namain bonekanya pake nama mereka. Aku lama-lama ya jadi tau juga liriknya dan hafal nama personilnya. Intinya aku bisa menikmati tempat ini. Yang paling menarik menurutku adalah Bigbang Hologram Concert. Jadi, kami dikumpulkan dalam 1 hall seperti mau nonton konser gitu. Tapi ternyata personilnya semua adalah hologram. Lebih serunya lagi, meskipun cuma hologram tapi ada scene mengajak penonton untuk naik ke panggung buat ikutan seru-seruan. Kocaknya lagi, ternyata aku yang dipanggil naik. HAHAHA. Terus dibikin si hologramnya itu seperti berinteraksi sama aku. Aku sebenernya sih ga hafal lagu Bigbang, aku cuma nari-nari gak jelas gitu aja akhirnya daripada mati gaya kan? Totalitas sih tuh konsernya. =D

Tujuan selanjutnya adalah Teddy Bear Museum atau yang disingkat jadi Teseum. Seperti namanya, museum ini memajang banyak sekali boneka teddy bear dan lainnya. Setiap spot merepresentasikan suatu tema yang unik. Lucu-lucu juga teddy bearnya, ada yang ukurannya kecil ada juga yang besar banget. Aku paling suka waktu berfoto sama teddy family yang besar banget ini. Karena mukaku emang bulet, aku merasa jadi salah satu dari mereka hahaha..

Hari sudah siang menuju sore dan kami pun diantar menuju Seongsan Sunrise Peak. Bentuknya seperti perbukitan dimana kita bisa hiking dan melihat Pulau Jeju secara lebih luas. Dari atas bukit itu, kita bisa melihat juga banyak wanita yang menyelam atau yang disebut sebagai Haenyeo. Penyelam wanita ini menyelam untuk mencari tangkapan seperti abalone dan berbagai jenis kerang lain yang menempel di bebatuan. Hebatnya adalah mereka tidak menggunakan tabung oksigen dan bisa menyelam hingga kedalam 20 meter selama 2-3 menit. Selain itu peralatan mereka juga sederhana. Hanya cangkul, jaring dan pelampung untuk menandai lokasi saat muncul ke permukaan. Tangguh banget gak sih para perempuan di Pulau Jeju ini?

Kami lumayan lama menghabiskan waktu di tempat ini karena memang lokasinya yang sangat luas. Gak puas banget kalau hanya diberi waktu 30-40 menit seperti di tempat lain. Aku dan Ajeng langsung berkelana naik bukit dan memastikan kami mengeliling seluruh area. Tante Lily bilang dia gak kuat muterin semuanya, jadi kami pun misah. Tante hanya ke beberapa spot lalu turun lagi sedangkan aku dan Ajeng lanjut aja terus ke Seopjikoji sampai free time kami hampir habis lalu lari-lari ke bus. Kami selalu memaksimalkan waktu travelling kami dan pengen menjelajah semuanya biar gak rugi kalau enggak bisa balik lagi ke tempat yang sama. Kalau yang enggak kuat, pasti ampun-ampun deh sama kami hahahaha..

Destinasi untuk menutup hari itu adalah Jeju Folk Village yang ternyata merupakan desa wisata berisi kearifan lokal Pulau Jeju. Kami melihat rumah-rumah adat asli dari pulau ini, peralatan dan perkakas yang digunakan untuk bertahan hidup. Tempat ini bagus, bukan seperti desa kuno gitu. Tapi dirangkai menjadi suatu taman yang asri dan banyak pohonnya bahkan ada air terjun kecil gitu.

Hawa semakin dingin pada sore hari. Ms. Jelo sangat pengertian sehingga menjadwalkan menu makan malam hari ini adalah Seafood Suki yang nama restorannya aku lupa banget. Restorannya pokoknya enggak besar, seperti rumah yang disulap jadi tempat makan. Pelayannya adalah seorang Ahjumma dan Ahjussi. Badan lebih hangat setelah menyantap makanan tersebut.

Day 3 : Jeju Island – Nami Island – Mt. Sorak

Pagi ini kami diantar menuju Jeju International Airport untuk kembali ke Gimpo International Airport. Destinasi yang akan kami tuju hari itu hanya Nami Island sebab kami akan menempuh perjalanan yang sangat jauh menuju Mt. Sorak. Sebelum masuk ke Nami, kami terlebih dahulu menikmati makan siang yang ternyata merupakan korean BBQ. Sangat enak, sama seperti kemarin. Apalagi ini all you can eat. Mantap!

Nami Island atau Naminara Republic merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di area Bendungan Cheongpyeong, wilayah Chuncheon-si, Provinsi Gangwon dengan luas wilayah sekitar 460.000 m2. Pulau ini berdiameter sekitar 6 km dengan bentuk pulau yang menyerupai mangkuk. Meskipun kecil, Nami punya pesona yang menarik lho guys. Linda sempat memberitau bahwa beberapa hari sebelum kedatangan kami, salju sempat turun disini. Namun, karena pada saat kami datang tidak terlalu dingin maka tidak muncul salju. Meskipun begitu, aku tetap puas melihat daun-daun berguguran dengan sinar matahari yang hangat ditengah desiran angin dingin. Banyak orang berjalan dan mengobrol, ada juga yang memilih untuk duduk-duduk santai di pinggir kolam. Bagi kalian penggemar drama korea, pasti tau dong drama yang judulnya Winter Sonata. Yup! Drama tersebut mengambil latar di pulau ini. Sebelumnya, Nami tidak dikenal oleh mancanegara. Namun berkat drama tersebut (yang kebetulan juga meledak di pasaran), banyak orang jadi tertarik untuk berkunjung ke Korea dan tepatnya tempat ini. Oleh karena itu disini ada beberapa spot yang didedikasikan untuk mengenang drama tersebut.

Setelah beberapa jam berkeliling, kami kembali berkumpul untuk kembali menyebrang. Perjalanan nanti akan lumayan panjang karena kami akan menuju ke Mt. Sorak. Memang tidak ke Mt. Sorak langsung namun ke hotel di dekatnya. Kami akan mengunjungi Mt. Sorak keesokan paginya. Jarak antara Nami ke Mt. Sorak adalah kurang lebih 90 km. Kalau dikira-kira di Indonesia sih ya kayak jarak Tangerang – Karawang begitulah. Linda memperkirakan kami semua akan tiba pada malam hari.

Perkiraan Linda tepat, kami sampai di Mt. Sorak malam hari. Makan malam hari itu sangat spesial karena menunya adalah ikan bakar beserta dengan side dish khas korea. Aku merasa makan malam itu nikmaaaaaat banget, karena cuaca di luar sangat dingin. Benar-benar dingin yang menusuk dan makan ikan serta nasi putih hangat bisa meredamku.

Kami menginap di Del Pino Hotel & Resort. Hotel ini bagus, selain itu di lantai dasarnya terdapat supermarket dan starbucks. Jadi mudah banget kalo emang mau nongkrong atau beli belanjaan. Aku sendiri waktu itu beli beberapa masker untuk oleh-oleh. Lengkap kok masker disini. Semakin dekat dengan Mt. Sorak tentunya udara semakin dingin. Terbukti banget disini. Udaranya dingin plus kami sudah menemukan salju disini. Aku baru sekali merasakan salju betulan jadi super hepi. Biasanya kan aku hanya main ke tempat yang isinya salju buatan, kayak pas aku dulu ke Snow City Singapore. Sekarang punya kesempatan untuk merasakan tekstur dan sensasi salju asli. Norak sih tapi yaudahlah, kan baru pertama kali. Maafin dong :p

Day 4 : Mt. Sorak – Ski Resort

Hari ini aku berpakaian berlapis-lapis karena memang tujuannya adalah Mt. Sorak yang bakalan dingin banget. Tapi aku rasa ini salah dan tidak efektif. Kenapa tidak efektif? Karena aku keberatan dan susah bergerak. Aku pakai long johns, dilapis turtle neck, dilapis kaos dan dilapis lagi dengan kemeja. Celana juga aku lapis 2 coba…. jeans dengan jeans. Belum lagi aku harus pake syal dan winter coat yang so pasti berat banget. Aku juga harus menggendong ranselku. Kepikiran gak tuh seberapa berat? Mt. Sorak memang dingin banget teman-teman, suhunya bisa sampai – jauh dibawah 0. Tapi ini sama sekali enggak perlu. Seharusnya aku seperti tanteku aja. Dia hanya pakai longjohns, turtle neck dan coat aja. Lalu celananya ya cuma jeans aja. Memang sih dia menyiapkan sweater bulu-bulu yang dijual di Uniqlo itu lho, cuma enggak dia pake karena dengan outfit itu aja cukup hangat ternyata. Cuma kalo memang di-double pun gak serempong aku. Makanya kalian bisa liat dong ekspresiku dan tanteku begitu berbeda? Aku udah bad mood duluan karena outfitku yang gak enak. Aku sangat menyarankan kalian untuk travelling dengan outfit yang nyaman dan efektif ya teman-teman. Pilihlah baju, celana dan sepatu yang matching tapi jangan merepotkan kalian.

Oh ya sama satu lagi, aku dan Ajeng kecolongan. Kami pakai sepatu yang berbahan kain. Aku sering lihat sih kalo musim dingin kan pada pake sepatu kain dan berbulu gemeshhh gitu kan. Aku ikutan. Dan ternyata ga oke bangeeeeeet! Mending kayak Tante Lily pake sepatu kulit gak bermodel tapi nyaman. Sepatunya Ajeng pas kena air langsung copot lemnya, sepatuku baru dipakai melewati salju dingin langsung basah kuyup. Aku gak bisa merasakan kakiku waktu itu karena sepatuku tergenang air super dingin akibat campuran hujan dan salju. Aku cuma berdoa semoga enggak hipotermia deh. Bahaya kan kalo hipotermia, terlebih kalau sarafnya sampai mati.

Aku sarankan juga kalian selalu membawa moisturizer yang melembabkan wajah, kulit dan bibir. Aku mengalami sendiri wajahku yang tiba-tiba jadi keringgggg banget dan akhirnya breakout parah di tengah trip akibat angin dingin yang menerpa gak ada ampun. Belum lagi kalo tempat bersalju begini, bibir bisa pecah-pecah. Dan buat kalian yang kurang kuat dingin tapi nekat untuk pergi saat musim dingin, pastikan untuk membawa hot gel pad. Itu sangat membantu lho guys!

Seoraksan National Park merupakan kawasan pegunungan yang terletak di Provinsi Gangwon. Waktu tempuh dari Seoul ke daerah ini kurang lebih 3 jam perjalanan menggunakan mobil atau bus. Mt. Sorak memiliki tinggi 1.700 mdpl yang menjadikannya sebagai gunung tertinggi di Korea. Karena sangat tinggi, salju selalu memenuhi permukaannya setiap musim dingin datang. Kalau kalian pernah nonton Twilight Breaking Dawn Part 2, ya mirip begitulah kenampakan gunung-gunungnya. Sepanjang mata memandang hanya warna putih yang tertangkap. Oleh karena itu gunung ini dinamakan Seorak, Seor berarti salju dan ak berarti gunung besar.

Kawasan Taman Nasional ini luas, ada beberapa cafe yang dapat ditemukan disini. Selain itu juga ada patung Buddha dan patung Beruang yang sangat terkenal. Karena waktu itu hujan saljunya sangat lebat dan angin dinginnya menusuk tulang, kami hanya berkeliling sebentar di luar. Ms. Jelo dan Linda segera mengarahkan kami naik cable car menuju puncak Mt. Seorak yaitu Gwongeumseong Fortress. Namun untuk benar-benar mencapai puncak harus menaiki banyak anak tangga lagi. Linda sangat tidak menyarankan kami untuk naik karena memang saat itu salju menutupi anak tangga dan khawatirnya akan sangat licin. Bila kalian traveling kesini waktu musim panas atau semi, kalian justru akan bisa hiking untuk mencapai puncak tertingginya. Tapi bila musim dingin begini, bisa tahan diluar sekitar 20 menit saja sudah bagus. Sebenarnya aku pun tidak berminat untuk naik lebih tinggi mengingat kakiku udah mati rasa kedinginan. Aku memilih nongkrong di cafe atau di dalam gedung ajalah yang penting dekat pemanas.

Syukurlah Linda segera menyuruh kami segera kembali ke bus sebelum semuanya pada masuk angin. Grup kami banyak anak kecil. Para orang dewasa aja sudah kedinginan apalagi itu bocah-bocah. Oh ya, waktu itu kami melihat ada grup tour dari Indonesia yang semua anggotanya menggunakan jas hujan plastik. Ini ide yang bagus sekali guys, kalau kalian kesini waktu musim dingin rasanya jas hujan plastik perlu dibawa deh. Lumayan melindungi coat dan celana kalian biar enggak lembab.

Aku lega sekali waktu sampai di bus. Bus kami dilengkapi dengan penghangat sehingga tanpa ragu-ragu aku segera mencopot sepatuku yang sudah basah. Sedikit berharap bisa sedikit lebih kering. Aku lalu membersihkan kakiku menggunakan tisu basah dan duduk dengan melipat kaki diatas kursi. Rasanya enggak kuat lagi menahan dingin. Tujuan kami selanjutnya adalah Daemyung Vivaldi Park. Ski Resort ini termasuk dalam beberapa ski resort terbaik di Korea. Ski area dan hotel kami hanya berjarak beberapa meter saja. Untuk masuk ke ski area sendiri sebenarnya tidak perlu bayar lagi. Namun tetap harus sewa peralatan utama seperti papan ski, sepatu ski, tongkat ski. Sebelum memasuki area Vivaldi Park kamu akan menemukan banyak sekali toko perlengkapan ski. Disini kamu juga bisa meminjam jaket, celana ski maupun sarungan tangan tebal bila ingin lebih hangat. Aku dan Ajeng memutuskan untuk menyewa peralatan lengkap plus membeli sarung tangan tebal. Tante Lily memilih untuk duduk-duduk aja di area ski karena tidak berminat mencoba. Dia takut jatuh.

Ms. Jelo bilang bahwa Vivaldi Park ini terkenal banget untuk para profesional karena memang turunannya curam guys! So pasti menantang banget kan bagi mereka-mereka yang berkemampuan dewa? Aku sebagai newbie memandangnya aja udah ngeri sendiri. Aku cuma berani mendaki paling tinggi 3 meter lalu berseluncur ke bawah. Diatas 3 meter aku udah lambaikan tangan karena kalau jatuh nyungsep pasti bakalan sakit banget. Lagian baru kali itu aku dan Ajeng mencoba ski, 3 meter? Boleh lah~

Sekitar 2 jam bermain kakiku sudah mulai pegel dan memutuskan untuk udahan aja. Sore itu angin juga cukup dingin, kira-kira sih suhunya mendekati 0 derajat. Kalau diteruskan aku pasti masuk angin. Apalagi saat di Mt. Sorak tadi aku sudah hampir terkena hipotermia akibat sepatuku basah kuyup. Aku menengok sekeliling dan masih mendapati area ski ini ramai pengunjung. Ada yang sibuk menendaki sambil menenteng papan skinya, ada pula yang sudah duduk manis di atas gondola. Aku juga menangkap beberapa orang yang sedang meluncur dari ketinggian lebih dari 10 meter. Wah hebatnya…

Setelah mengambil beberapa barang dari loker aku dan Ajeng langsung keluar area untuk bertemu Tante Lily. Tante sedang asik ngobrol dengan ibu-ibu yang juga tidak ikut main ski. Aku mencari Ms. Jelo untuk mengembalikan berbagai peralatan ski yang tadi kupakai, lalu mencari Linda untuk check in hotel. Hotel kami sangat nyaman karena lantainya adalah parquet yang dilengkapi dengan penghangat. Aku segera mengeringkan sepatu berbuluku menggunakan hair dryer agar bisa digunakan besok. Beberapa waktu kami bertiga sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ajeng masih penasaran dengan area hotel kami itu, jadi kami memustukan untuk berkeliling. Aku melihat area ski sudah sepi karena memang suhu juga sudah mencapai -3 derajat celcius saudara-saudara. Area hotel ternyata tersambung dengan mall sehingga kami bisa cuci mata untuk sesaat. Tidak lama sih kami jalan karena memang tepar. Malam itu kami tidur dengan nyenyak di lantai kayu yang beralaskan bed cover.

Day 5 : Everland – Nanta Show

Pagi ini kami bersiap untuk mengunjungi Everland alias taman bermain paling terkenal di Korea. Kalau di Indonesia tuh kayak Dufan lah.. Aku sedikit kecewa sama Linda dan Ms. Jelo karena kami hanya diberikan waktu bebas disini sekitar 2 jam. Bayangkan kalian di taman bermain yang luas tapi hanya 2 jam? Aku dan Ajeng segera misah sama Tante Lily karena kami pengen menjelajah seluruh area dengan cepat. Kami juga pengen mencoba semua permainan yang seru.

Namun jujur saja nih, aku merasa Everland biasa saja. Wahananya tidak terlalu spesial seperti di Disneyland ataupun Universal Studio. Wahana yang paling menarik minatku adalah seluncur es. Kami harus naik ke atas bukit salju lalu meluncur ke bawah menggunakan ban. Ban yang aku pilih berbentuk seperti angka 8. Ajeng di depan dan aku di belakang. Aku juga sempat naik wahana yang berputar-putar dan justru membuatku muntah. Keseimbanganku memang kurang baik. Kalau naik wahana berputar atau dijungkir balikkan gitu aku pasti muntah. Aku hanya pernah naik poci-poci di Dufan sekali karena setelahnya aku pusing dan hampir pingsan. Aku tidak akan pernah naik tornado karena aku yakin tidak mampu. Ini aku sok ide aja naik wahana yang aku tau aku tidak kuat. See? Aku rasanya kliyengan mau pingsan mendadak. Ajeng yang kasihan padaku akhirnya menemani ke toilet dan duduk sebentar. Setelah itu dia akhirnya beli Churros agar aku lebih enakan.

Karena waktunya memang singkat, kami memutuskan untuk berjalan-jalan santai saja. Kalau sudah mendekati waktu kumpul kami akan mengarah ke pintu keluar. Setelah itu, kami diajak menuju Kimchi School. Ya seperti namanya, kami disini masuk ke dalam sebuah kelas kecil untuk mempelajari cara membuat kimchi. Kimchi yang kami buat merupakan resep paling sederhana dengan bahan sawi putih. Bahan yang disediakan hanya 2 yaitu sawi putih dan pasta cabai. Short course ini sebenarnya lebih ke metode pengolesan pasta cabai dan pelipatan sawi putihnya sih. Kami tidak membuat pasta cabainya dari awal. Short course ini lumayan menyenangkan karena guidenya ternyata adalah orang Indonesia dan cara mengajarnya juga seru. Kimchi hasil buatan kami disimpan untuk melalui proses pematangan. Kami diajak menuju ruangan sebelah kelas yang ternyata adalah outlet kimchi. Disitu bisa membeli berbagai macam jenis kimchi serta rumput laut. Aku dan Ajeng akhirnya membeli rumput laut yang lumayan banyak. Enak banget rumput lautnya. Gurih dan asin, cocok kalo dimakan sama nasi goreng. Yummy!!

Sore hari tibalah kami di show yang sangat populer di Korea. Apalagi kalau bukan Nanta Show. Oh ya aku ingat, dulu teman-temanku ada juga tuh yang nonton Nanta Show di ICE BSD tahun 2015. Tapi aku belum tau apa itu Nanta Show, jadi ya aku enggak nonton juga. Sampai waktu lihat itinerary Korea ini, lho ternyata ada Nanta Show. Mulai deh googling. Nanta Show adalah kesenian tradisional Sanulmori (alat musik perkusi tradisional Korea yang dimainkan oleh 4 orang) dengan dipandu seni modern. Setiap anggota show ini memegang satu alat musik, yakni Janggu (gendang berbentuk jam pasir), Kwaenggwari (gong kecil), Buk (gong besar) dan Jing (gong besar). Melalui Nanta Show, Samulnori dikemas secara unik. Show ini terdiri dari 5 orang pemain dengan berlatar dapur besar. Kelima pemain tersebut ceritanya sibuk dengan berbagai peralatan masak seperti panci, wajan, piring dan pisau untuk menyiapkan makanan. Pertunjukkannya heboh, lucu dan pemainnya jago banget. Belum lagi pemain ceweknya yang cantik plus badannya proporsional banget. Bikin envy deh!! Setelah itu kami langsung diantar ke hotel untuk beristirahat.

Day 6 : Seoul City Tour

Pagi ini udara sangat bersahabat di Seoul. Dingin-dingin sejuk gimana gitu. Ms Jelo mengajak kami terlebih dulu menuju Skin Care outlet yang aku lupa namanya karena memang gak pernah kudengar sebelumnya. Aku juga enggak beli apa-apa mengingat kulitku ini sensitif banget. Salah kosmetik sedikit bisa jerawatan gak karuan berbulan-bulan. Makanya aku juga enggak berani nyobain. Setelah itu kami menuju ginseng shop yang merupakan salah satu toko pemerintah wajib dikunjungi. Disana terdapat berbagai macam jenis dan bentuk olahan ginseng. Aku sendiri membeli kapsul ginseng yang katanya meningkatkan kinerja otak. Kayak fungsinya semacam kapsul ginko biloba punya Blackmores gitu kali ya. Harapanku sih supaya otakku bersahabat selama beberapa bulan kedepan. Kan aku kebetulan waktu itu lagi skripsian. Hahahaha..

Setelahnya kami diantar untuk mengunjungi salah satu ruang terbuka di pusat kota Seoul yaitu Cheongyecheon stream. Aliran sungai ini panjangnya mencapai 10.9 km lho! Aku sedikit penasaran sama bentuk asli sungai sebelum diperbaiki menjadi sebagus ini. Aku akhirnya googling dan hanya mendapati sungai biasa yang terkesan berantakan. Pemerintah Korea ini hebat juga pikirku. Sungai tersebut disulap jadi tempat terbuka dimana para warganya bisa rekreasi, lari pagi atau sekedar jalan santai.

Aku baru tau ternyata di Korea juga ada museum lilin mirip Madame Tussauds. Namanya adalah Grevin Wax Museum. Ya meskipun patung lilinnya tidak selengkap dan sebagus Madame Tussauds tapi boleh lah.. Ada banyak patung artis Korea yang sebagian tidak kukenali (karena aku bukan korea lovers) dan juga tokoh dunia yang dikenal sejuta umat seperti Tom Cruise, Steve Jobs, Paris Hilton dan lain-lain.

Puas dengan museum lilin, Ms. Jelo rasanya sudah bisa menangkap hasrat terpendam dari para cewek di grupku ini. Kami diajak berbelanja di The Shilla Duty Free Shop. Ada berbagai jenis barang yang bisa kamu pilih disini mulai dari kosmetik sampai tas. Brand nya juga bermacam-macam. Aku sendiri hanya beli Jeju Volcanic Clay Mask dari brand Innisfree yang menurut Ajeng kualitasnya bagus. Dia juga bilang kalo itu cocok untuk kulit sensitif. Aku akhirnya nyobain juga.

Setelah itu kami diajak menuju The Most Visited Landmark in Seoul. Apalagi kalau bukan Namsan Seoul Tower. Happy banget rasanya karena dulu waktu aku masih SMP, aku itu penggemar drama korea yang judulnya Boys Before Flowers (BBF). Itu adalah satu dari dua drama yang aku suka. FYI, sampai saat ini aku hanya suka 2 drama korea yaitu BBF dan The Heirs. Meskipun banyak banget drama yang kata orang bagus, aku gak terusik karena memang hanya kedua drama ini yang membuatku sabar pantengin episodenya sampai akhir. Bahkan masih minat untuk nonton tayangan ulangnya lagi. Nah di BBF ini tuh ada scene dimana si Gu Jun-Pyo lagi menunggu Geum Jan Di saat hujan salju turun dengan derasnya. Menurutku tuh romantis banget. Emang dasar ya bocah, masih aja kemakan sama adegan cinta-cintaan gitu! Cuma jadinya waktu sampai di Seoul Tower ini aku berkesan banget. Apalagi pas liat gembok-gembok cintanya.

Habis ini sih bisa dibilang wisata belanja karena tujuannya adalah Dongdaemun dan Myeongdong Shopping Street. Aku bisa melihat ada banyak sekali brand skin care dan kosmetik yang bertebaran di sepanjang jalan Myeongdong. The Face Shop, Etude House, Innisfree, A’pieu, Banila, dan masih banyak lagi deh. Mungkin aku satu-satunya orang yang kantongnya gak bolong disana. Aku enggak beli apa-apa soalnya. Seperti yang aku bilang sebelumnya. Aku paling males coba skin care baru, apalagi kosmetik. Adekku dan Tanteku udah gak tau beli apaan aja. Ambyar tuh dompet. Aku lebih tertarik untuk kulineran jadi kami pun mencoba Jajangmyeon dan Budae Jjigae sekaligus. Setelah Ajeng puas belanja kami segera menuju Starbucks terdekat yang hanya berjarak beberapa blok dari Myeongdong untuk membeli tumbler. Aku memang mengoleksi tumbler Starbucks.

Malam sudah mulai larut dan kami segera diantarkan untuk kembali ke hotel. Aku, Ajeng dan Tante Lily memutuskan untuk menikmati malam terakhir kami di Korea karena memang besok siang kami sudah akan terbang kembali ke Jakarta. Kami bertiga berjalan santai di area sekitar hotel sambil membeli minuman dan makanan ringan di minimarket terdekat. Setelah itu kembali ke hotel untuk istirahat,

Day 7 : Seoul – Jakarta

Hari ini adalah hari terakhir kami di Korea. Penerbangan kami akan menggunakan Asiana Airlines jam 3 sore. Artinya kami sudah harus diantarkan ke Bandara sekitar pukul 12 siang. Tidak ada objek yang kami kunjungi hari itu. Hanya mampir ke toko pemerintah dan berburu oleh-oleh di grocery store. Toko pemerintah yang kami kunjungi namanya adalah Red Pine Shop. Sesuai namanya, mereka menjual Jeok Song yaitu kapsul minyak pinus berbunga merah yang hanya tumbuh di pegunungan dan daerah bebas polusi. Tim marketing dari toko ini memang jago. Awalnya aku enggak tertarik mendengarkan penjelasan mereka namun dengan sedikit demonstrasi menggunakan instrumen kesehatan yang canggih aku jadi penasaran. Aku pun akhirnya membeli paket kapsul ini. Disini kamu bisa membayar pakai beberapa pilihan mata uang seperti Won, US Dollar ataupun rupiah. Mau di campur antara satu mata uang dengan lainnya juga bisa. Mau pakai kredit card juga bisa. Bebassss coy..

Kami diajak untuk mencari oleh-oleh sebentar kemudian diantarkan ke bandara. Bandara Incheon cukup luas dan kami pun berkeliling untuk melihat barang yang menarik. Aku memutuskan untuk membeli paket masker yang banyak sebagai oleh-oleh. Harga masker disini jauh lebih murah dibandingkan saat beli di Myeongdong. Tau gitu mendingan sekalian beli di bandara aja deh.

Jam 2 lewat tiba waktunya kami untuk masuk ke dalam pesawat dan melalui 6 jam penerbangan kembali ke Indonesia. Melelahkan namun disaat yang sama juga memuaskan. Setiap negara mempunyai ceritanya masing-masing. Bagi kalian yang memang menyukainya, travelling is always desirable. Jangan pernah memotivasi diri kalian untuk travelling sekedar pamer instagram story atau pun feeds tapi jadikanlah travelling sebagai jendela untuk melihat dunia yang lebih luas. Terlebih untuk menginspirasi teman-teman di sekeliling kita. Semoga cerita perjalanan ini menginspirasi kamu yang sudah bersedia membaca. You only live once, so please.. enjoy when it last!

Design a site like this with WordPress.com
Get started