Tour de Java

DAY 1 : Tangerang – Semarang

Hai semuanya.. Gimana liburan natal dan tahun baru kalian kemarin? Was it fun? Kali ini aku akan menceritakan pengalaman liburan natal dan tahun baruku yang akan mengelilingi beberapa kota di Pulau Jawa. Dalam perjalanan ini, aku mengajak keluarga kakak dan adik mamaku beserta dengan omaku juga. Total keseluruhannya adalah 13 orang. Kami akan melakukan perjalanan darat menggunakan mobil pribadi. Kami menggunakan 4 mobil. Perjalanan dimulai pada Selasa, 24 Desember 2019 dari Tangerang menuju Semarang. Perjalanan kami tempuh sepenuhnya menggunakan tol. Kami sempat beristirahat untuk makan siang di Kota Cirebon. Untuk kalian yang sering membaca cerita perjalananku, sebelumnya aku sudah pernah menceritakan mengenai warung nasi jamblang yang sangat enak di Cirebon. Namanya adalah Nasi Jamblang Bu Nur. Kami mampir kesana dan pastinya aku enggak lupa memesan nasi jamblang pakai terong, balado telur dadar dan dadar jagungnya yang super duper endolita kalo kata anak jaman now. Karena mampir ke Cirebon terlebih dulu, waktu tempuh perjalanan kami menjadi lebih panjang. Kami baru tiba di Semarang sekitar pukul 14.00 sejak tadi berangkat jam 06.00. Hotel tempat kami menginap adalah MG Suites Maven. Lokasinya adalah Jl. Petempen No.294, Kembangsari, Kec. Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah 50133. Kesanku untuk hotel ini adalah sangat tidak baik. Pada saat aku datang ternyata kamar yang kami pesan belum siap sehingga tante dan omaku tidak kedapatan kamar. Mereka jadi harus menunggu sekitar 30 menit terlebih dahulu di lobby hotel. Selain itu kamar hotelnya pun tidak terlalu bersih. Aku menemukan banyak rambut dan kotoran di sudut hotel. Seprei nya pun juga kusam dan terdapat noda. Tahun 2014 aku memang pernah menginap di hotel ini, pelayanannya sangat memuaskan. Harga hotelnya terjangkau tapi memuaskan. Namun kini aku sangat kecewa. Harga per kamarnya adalah sekitar 350-400 ribu namun kalau bisa memilih tempat lain, aku akan memilih tempat lain deh.

Malam pertama kami di Semarang adalah Malam Natal. Oleh karena itu keluargaku memutuskan untuk mengikuti Misa Malam Natal di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci Randusari atau dikenal dengan Gereja Katedral Semarang. Aku sangat mengenal gereja ini. Untuk kalian yang mengenalku, mungkin sudah pada tahu bahwa aku memang menghabiskan 4 tahunku di Semarang untuk menempuh pendidikan sarjanaku. Aku sering ke Gereja Katedral. Tapi aku agak kaget juga melihat perubahan besar di kota ini. Sungai di depan Katedral menjadi sangat rapi dan estetik. Ada tempat pejalan kaki sebagaimana di Cheonggyecheon Stream Korea. DP Mall juga sekarang sudah maju banget. Ada Uniqlo dan Sephora pula. Wah waktu jaman aku dulu kuliah mah, DP Mall sepi banget. Aku kesana bersama teman-teman cuma untuk karaokean di Masterpiece yang cukup murah. Singkatnya, aku semakin mencintai kota tempatku berkuliah dulu. Tata kotanya jadi bagus, lebih bagus daripada Tangerang malah.

Setelah mengikuti misa, aku dan keluarga segera menyusul rombongan kami ke depan Paragon Mall. Kami naik taksi online karena memang Semarang sekarang sudah seperti Jakarta, maceeeeeeeeeet gak karuan. Katedral ke Pemuda yang harusnya sangat singkat bisa jadi hampir setengah jam bila ditambah waktu untuk mencari parkir. Mempersingkat itu semua, kami memutuskan untuk tidak membawa mobil. Sesampainya di depan PM, kami segera mengantri untuk makan malam di Bakmi Djowo Pak Doel Noemani. Tanteku sangat suka bakmi djowo ini. Menurutku sih rasanya juga lumayan enak. Apalagi tempatnya strategis, persis di depan PM. Kalau kalian banyak waktu sih habis makan boleh banget jalan-jalan ke PM atau di sekitar jalan Pemuda. Ternyata waktu kami mengantri, rombongan sudah tidak sabar (re: kelaparan) jadi memutuskan untuk memilih tempat makan yang lebih sepi. Memang sih antrian di Noemani itu bisa sampai satu jam lebih. Rombongan pun kabur menuju Kedai Beringin yang berlokasi di sebrang Stasiun Poncol. Wah kalau kedai beringin sih gak perlu dipertanyakan lagi ya gaes. Jaman aku kuliah sudah sering banget kesini sama teman-temanku. Makanannya ueanaaaak dan harganya juga murah. Namun sayangnya ini ada babi nya jadi buat kalian yang tidak bisa makan babi, tidak bisa mampir deh. Rombonganku memesan berbagai macam makanan mulai dari dimsum hingga ayam saus thai. Semuanya enak. Rumah makan ini memang enggak pernah mengecewakanku. Agenda kami malam itu sih hanya makan malam saja, setelahnya kami segera kembali ke hotel untuk beristirahat.

DAY 2 : Semarang – Solo – Surabaya

Pagi ini kami sarapan di dekat hotel. Tepatnya di emperan toko dekat Shabu Auce. Nama warungnya adalah Nasi Pindang Kudus & Soto Sapi Gadjah Mada. Aku sih enggak ada kesan khusus sama makanan ini karena menurutku ya biasa aja. Setelah makan, kami segera bersiap untuk check out dan menuju pusat oleh-oleh paling terkenal di Semarang. Apalagi kalau bukan Bandeng Juwana Elrina Pandanaran. Mamaku suka banget beli bandeng dan lunpia disana. Selain itu juga suka beli kue di Toko Roti Dyriana. Menurutku sih yang paling spesial adalah wingko babatnya karena sudah tebal, gurih banget lagi. Sesudah itu kami segera bertolak meninggalkan Semarang menuju Surabaya. Karena hari sudah lumayan siang, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dulu di Solo. Oke, rombonganku ini memang pada hobi makan. Sedikit-sedikit pasti deh mampir makan. Kami berencana makan di Kusuma Sari Restaurant & Ice Cream Yos Sudarso, cuma karena ada pohon tumbang jadinya jalanan ditutup dan omku enggak sabar. Kami pun makan di Rumah Makan Mekarsari yang berlokasi di Jl. DR. Radjiman No.168A, Kemlayan, Kec. Serengan, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57151. Rumah makan ini kecil banget gaes, jangan heran ya. Cuma rasanya enggak kalah dengan restoran kok. Menunya ada gado-gado, selat solo, dll. Perut sudah terisi, waktunya melanjutkan perjalanan. Kami tiba di Surabaya sekitar jam 7 malam. Agendanya makan lagi, jelassss hahaha. Tapi makanan yang kami makan ini penuh kenangan, yaitu lomie. Opaku suka banget makan lomie dan tempat makan kami malam ini adalah resto favoritnya. Restonya cuma ngemper di pinggir jalan, tapi opaku sukaaaaaa banget makan disini. Opaku sudah sejak 2007 meninggal, jadi makan makanan kesukaannya mengingatkanku sama Beliau. Aku sayang sekali sama opaku karena cuma Beliau yang sabar mengasuhku waktu aku masih kecil. Nama tempat makannya adalah Mie KJ 1960. Lokasinya yaitu Jl. Kembang Jepun No.48, Bongkaran, Pabean Cantian, Nyamplungan, Kec. Pabean Cantian, Kota SBY, Jawa Timur 60162. Setelah makan malam, kami semua capek sekali karena menempuh perjalanan yang jauh. Oleh karena itu kami segera ke hotel dan beristirahat. Oh ya, kami menginap di daerah Gubeng. Tepatnya di Hotel Neo Gubeng.

DAY 3 : Madura

Hari ini rombongan kami akan berwisata ke Madura. Tempat wisata yang kami tuju bernama Bukit Jaddih. Lokasinya di Jakan, Parseh, Socah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur 69161. Bukit Jaddih ini sebenarnya hanya bukit kapur yang dijadikan objek wisata oleh warga setempat. Waktu aku datang kemarin sebenarnya aku agak kecewa karena danaunya kering jadi permainan airnya tidak bisa dimainkan deh. Kelihatan gersang banget deh. Padahal kalau di Instagram tuh kelihatan bagus banget, ada danau yang airnya biru susu gitu deh. Tapi yaudah gak papa, lumayan juga pemandangannya dari atas bukit.

Jadi tuh kata warga setempat, kalau musim hujan kolam yang ada tangga-tangganya itu bakalan terisi sama air. Tapi waktu aku datang bisa kering kerontang gitu. Memang deh warga juga bilang sudah lama banget enggak hujan. Kebayang gak tuh panasnya daerah itu selama beberapa waktu terakhir? Yup, kemarau di tahun lalu memang menyiksa banget.

Kamu hanya perlu menanjak sedikit untuk melihat pemandangan yang lebih bagus. Waktu aku datang juga sedang dibangun sebuah kamar-kamar di tengah bukit. Mungkin mau dibangun penginapan atau toko gitu kali ya.. Tapi aku rasa sih kalau memang mau diperuntukkan untuk penginapan, warga setempat perlu melakukan perbaikan akses. Jalan menuju ke bukit ini susah lho. Jalannya enggak mulus dan agak susah sinyal juga disini. Aku saja sempat nyasar karena sinyal GPS ku mati ditengah jalan. Namun secara keseluruhan tempat ini lumayan oke juga lah untuk dikunjungi.

Rombongan kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam di tempat ini. Cukup lama juga karena kami asik foto-foto dan sodaraku menerbangkan drone nya. Sebelum kembali ke Surabaya, kami memutuskan untuk makan siang di rumah makan paling terkenal se-jagad raya. Pasti kalian ada yang sudah menebak Bebek Sinjay. Ya, kalian betul! Lokasinya adalah Jl. Raya Ketengan No.45, Junok, Tunjung, Kec. Burneh, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur 69121. Rumah makan ini biasa aja, enggak ada kesan bagus atau gimana tapi ramainyaaaaaa enggak ketulungan. Menurut teman-teman mamaku sih Bebek Sinjay enak banget. Aku belum pernah mencoba dan pada awalnya agak meremehkan bebek ini. Tapi ternyata rasanya enak banget gaes. Plus buat kalian yang tangki perutnya kayak naga, bakalan puas banget karena nasinya buanyak. Spesialnya dari bebek ini adalah ditaburi seperti serundeng dan dimakan dengan sambal pencit. Sambal pencit mah kalo di Jakarta lebih dikenal sama sambel mangga muda kali ya. Enak lah pokoknya. Perpaduannya cucok banget.

Kami capek banget setelah pulang dari Madura, jadi kegiatan malam kami hanya makan malam di Galaxy Mall 3. Kebetulan waktu itu mallnya masih gres, alias baru buka. Kami makan di foodcourt. Setelah makan, keluargaku pulang. Omku sih ada yang masih kuat jalan-jalan. Mereka sekeluarga pergi ke Taman Pelangi. Oh ya, aku ada rekomendasi rumah makan yang enak & tempatnya juga nyaman. Namanya adalah DK26 Resto yang berlokasi di Jl. Darmokali No.26, Darmo, Kec. Wonokromo, Kota SBY, Jawa Timur 60241.

DAY 4 : Surabaya – Malang

Sarapan hari ini rasanya aku puas banget. Di depan hotelku ada bubur yang sangat terkenal yaitu Bubur Ayam Spensix. Keluarga omku makan disana dan aku juga dibelikan. Sudah begitu, mamaku ngajak makan lontong mie juga. Artinya aku sarapan 2x HAHAHA. Pagi ini memang enggak ada acara khusus sih, paling hanya nyekar ke makam opaku. Setelah itu langsung bertolak ke Malang. Perjalanan ke Malang sih normalnya hanya 1-2 jam, tapi karena papaku nyasar ya jadi lebih lama deh. Semua sodaraku sudah check in hotel dan santai-santai di kamar, eh keluargaku baru datang. Kami menginap di Java Boutique Hotel. Hotel ini seperti namanya, bernuansa jawa kental. Aku bisa bilang sih hotelnya lokasi strategis, lumayan murah dan cukup bersih. Cuma kekurangannya adalah area parkirnya yang sempit. Lokasinya adalah Jl. Simpang Wilis No.C3, Gading Kasri, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65115.

Agenda kami adalah makan. Sudah kubilang keluargaku ini hobi makan. Karena cuaca sedang mendung dan hujan mengguyur dengan derasnya, kami pengen makan yang berkuah. Sampailah kami ke tempat makan yang sangat terkenal di Malang, yaitu Hot Cwie Mie by Gloria. Lokasinya sih dekat banget dengan hotel kami, paling hanya 5-10 menit juga sampai. Cwie mie nya menurutku so-so. Aku sendiri pesan hot cwie mie jamur. Meskipun namanya hot, tapi rasanya malah manis asam. Tapi yaudahlah oke juga. Kami makan dan segera berbelanja ke Giant di seberang resto. Oh ya, aku dan sodaraku rencananya akan ke bromo. Biar mudah, aku pesan paketnya menggunakan tour agen lewat Instagram. Namanya Bromo Project. Karena awalnya hanya aku, adik, sodara dan tanteku yang mau ikut, aku pesan open tour aja. Harganya adalah 300 ribu/pax (tanpa dokumentasi) atau 350 ribu/pax (plus dokumentasi). Fasilitas yang didapatkan :

  1. Free penjemputan Malang Kota
  2. Jeep 4×4 rest area – bromo
  3. Tiket masuk TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru)
  4. Fuel
  5. Driver
  6. Guide

Rombongan kami dijemput jam setengah 1 pagi di hotel menggunakan city car, waktu aku kemarin sih mobilnya avanza. Kami diantarkan menuju pool jeep yang berlokasi di pemukiman penduduk. Perjalanan dari hotel kami menuju pool jeep itu kurang lebih 1.5 -2 jam. Disana kami harus menunggu antrian untuk naik jeep. Enggak begitu lama sih, paling hanya sekitar 15 – 20 menit. Karena bulan Desember termasuk dalam peak season, pool jeep itu sangaaaaat ramai. Jalanannya macet dan banyak orang. Cuma mereka professional sih, kalau sudah booking ya pasti kedapatan jeep. Aku sendiri dapat long jeep yang kapasitasnya 10 orang. Tapi ya gak bisa dibilang kami longgar-longgar juga duduknya. Sama aja, dipenuhin sampe jadi sarden. Aku kebetulan duduk di bagian tengah, digencet sama sodara-sodaraku. Anget sih. Tanteku duduk di belakang driver dan berakhir dengan muntah-muntah karena masuk angin. Dini hari memang udaranya super dingin, belum lagi driver ngebut dengan kaca terbuka. Udah deh KO.

Oh ya, kalian perlu mempersiapkan diri dengan jaket tebal, sarung tangan dan sepatu kets yang nyaman ya bila mau ke Bromo. Cuacanya enggak bisa ditebak. Waktu aku datang sih hanya dingin saat subuh aja, selebihnya ya dingin AC lah. Enggak yang menusuk tulang. Tapi banyak sodaraku yang sudah pernah ke Bromo dan mereka bilang sampe biru-biru kedinginan. Sangat penting buat kalian untuk mengecek ramalan cuaca hari itu. Stamina juga penting. Perjalanan naik jeep itu enggak mulus. Medannya sangat berat dan kalian bakal terguncang-guncang gak karuan. Aku tipe orang yang mudah mual sih kalau begitu, makanya aku cuma pake jaket tebalku dan tutup mata. Untung staminaku waktu kemarin itu prima, jadi enggak sampe masuk angin atau gimana. Sodara cowokku malah kuat banget. Dia duduk paling belakang, bawa kamera plus roninnya, tas drone yang berat, udah gitu melek terus. WAGELASEH. Dia bangunin aku waktu kami lagi macet di penanjakan. Bagus banget gelap-gelap liat antrian jeep di medan yang berlika-liku. Tapi abis itu aku langsung tidur lagi sih sampe ke Sunrise Point. Sunrise point itu ada beberapa sih, tergantung nanti tour kalian antar kemana. Ada Bukit Cinta atau juga Bukit Kingkong. Sayaaaang sekali, kami terlambat sampai jadi matahari sudah terbit duluan. Matahari terbit itu perkiraan jam 5 atau 5.15, teman-teman. Ya sudah kami menikmati pemandangan yang ada saja. Tetap masih bagus banget kok!

Kami diberi waktu sekitar 1 jam untuk menikmati pemandangan di sunrise point ini. Mungkin kalian berpikir bahwa 1 jam itu cukup lama. Tapi ternyata enggak juga lho. Karena kan harus berjalan dari parkiran jeep menuju Bukit Cinta atau Bukit Kingkong yang memakan waktu sekitar 15 menit sekali jalan. Bolak balik saja kami sudah menghabiskan waktu 30 menit. Belum lagi area menonton matahari terbit itu luas. Kalian harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Disini kami ikut tour 12 jam, sehingga harus kembali lagi ke hotel di Malang jam 12 siang.

Oh ya kalo lagi peak season gini sih susahnya buat pipis dan jalan. Pipis? Iya lah jelas karena kan kamar mandinya sedikit sedangkan yang mau pipis banyak. Antrinya udah kayak ular. Dan kalian jangan kaget ya, kamar mandi umum disana per orangnya 5 ribu. Mahal sih cuma mau gimana lagi kan? Hmm.. Jalan kenapa kok susah? Sumpah aku juga kaget sih, aku kira enggak bakal se-riweh itu. Tapi ternyata ya se-riweh itu. Disana banyak sekali tukang ojek, kuda dan tentunya jeep. Jadi jalan tuh pasti nyelip-nyelip diantara mereka semua. Sampe sodaraku bilang, kayaknya kalo pake cable car enak nih. Soalnya saking riwehnya tuh mau jalan aja pusing. Ya mungkin ini cuma karena bulan Desember aja kali ya. Aku enggak tahu kalo di bulan-bulan lain..

Tujuan berikutnya adalah Lautan Pasir, atau banyak yang bilang Pasir Berbisik. Disini adalah spot yang paling ikonik untuk berfoto di atas jeep dengan pemandangan Widodaren dan Kawah Bromo. Kalo fotoku di atas itu sih pemandangannya hanya Widodaren. Kami disini hanya sebentar karena akan menuju ke rest area. Di rest area ini kalian bebas mau makan dan bersantai, atau mau naik kuda atau juga mencoba motor trail. Aku dan sodara-sodaraku lebih penasaran untuk naik ke kawah. Cuma perjalanannya itu lumayan jauh kalo jalan kaki. Aku memang enggak tau kilometernya sih, tapi waktu aku track pakai hp, stepsku itu 16.000 untuk bolak balik. Lumayan banget kan?

Aku dan sodaraku kan pada masih muda jadi kami ya nekat aja jalan kaki sedangkan papaku gak kuat kalo bolak balik jalan kaki. Papaku akhirnya jalan waktu berangkat dan pulangnya naik kuda. Buat kalian yang gak kuat, mungkin bisa mengikuti jejak papaku. Nah peringatan juga, karena banyak kuda berlalu lalang disini, hati-hati ya jangan menginjak tai kuda! Hmm.. aku dan sodaraku enggak sampai ke kawah karena terhalang waktu. Kami hanya diberikan waktu 1.5 jam untuk menikmati kawah. Sebenarnya kalo gak pake berhenti-berhenti sih bisa, tapi karena berhenti-berhenti jadi kan lama. Dari rest area menuju pangkal tangga penanjakan itu enggak ada tangga. Jadi memang harus nanjak melewati bukit pasir yang licin. Tapi kalo untuk mencapai kawahnya sih ada. Cuma tangganya super macet karena mungkin juga orang jalannya pelan-pelan. Papaku enggak sabar, jadi dia menanjak di luar tangga. Ini lumayan berbahaya buat kalian yang gak terbiasa. Karena jalanannya licin berpasir. Papaku memang nekat, jangan ditiru ya… Tapi karena kenekatannya itu Beliau malah sudah sampai kawah sedangkan aku dan para muda mudi ini belum sampai. Duh jadi malu :p

Aku membayangkan pemandangan di kawah bromo yang pastinya bagus banget. Aku aja yang belum sampai ke kawahnya udah terkagum-kagum. Disini juga banyak yang jual bunga Edelweiss. Pengen beli sih, cuma bawanya gimana itu yang selalu kupikirin. Yaudah enggak jadi beli deh. Aku berfoto sambil menikmati udara segar lalu kembali ke rest area, tempat jeep kami parkir. Oh ya, di dekat tanjakan menuju kawah terdapat suatu Pura yang bernama Pura Luhur Poten. Namun, aku dan yang lain enggak mampir.

Aku sampai tepat waktu sesuai perjanjian dengan tour guide kami. Selanjutnya kami diantarkan menuju objek terakhir yaitu Savana. Perjalanan dari rest area ke Savana cukup jauh, sampai 30 menit deh. Aku bahkan sampai bisa tidur sebentar. Tapi enggak rugi, pemandangannya bagus banget udah kayak di New Zealand. Kalau aku tag location Instagram-nya di New Zealand juga kayaknya pada percaya-percaya aja hahahaha

Padang rumput ini luaaaaaaaas banget. Perlu naik jeep untuk bisa mengelilingi seluruh area. Kalau jalan kaki sih gempor. Kami puas-puasin diri untuk menikmati pemandangan yang ada disini karena ini adalah tujuan terakhir kami di Bromo. Setelah dari sini kami akan diajak kembali ke pool jeep yang ternyata jaraknya lumayan jauh. Butuh waktu sekitar 1 jam lebih deh. Medannya cukup berat. Jalannya itu menurun dan berlika liku. Kebetulan aku duduk di paling depan dekat driver dan itulah saatnya aku tergencet oleh rombonganku. Udah mirip ayam geprek deh. Perjalanan yang sangat melelahkan itu akhirnya selesai juga dan aku sampai di pool jeep sekitar jam 11 siang. Aku dan sodaraku lalu ikut tour guide kami untuk mentransfer foto dokumentasi sedangkan om serta keluargaku udah pada balik duluan. Tanteku udah enggak kuat soalnya. Memindahkan foto cukup memakan waktu sih. Kami diantar kembali ke hotel menggunakan mobil Avanza dan tiba sekitar pukul 1 siang. Aku tepar.

Sepanjang siang kami habiskan untuk tidur dan mengumpulkan energi. Sumpah capek banget gaes. Itu sebenarnya badanku udah mulai gak enak. Cuma mamaku dengan semangat-45 masih mengajak rombongan kami keluar untuk ke Malang Night Paradise. Aku bangun dengan ogah-ogahan. Sodara dan omku juga sama malasnya. Tenaga kami terkuras habis sepanjang di Bromo itu. Mamaku sih masih bertenaga soalnya enggak ikutan naik ke kawah. Jadi selama free time itu mamaku cuma di rest area aja. Makanya mamaku masih segar bugar untuk ngajak kami keluar. Okelah, sekalian makan malam jadi aku mau gak mau ikutan juga. Daripada kelaparan di hotel. Kami makan di foodcourt MOG atau Mall Olympic Garden. Kami keluar hotel itu jam 8 malam, ditambah makan dulu terus sampe di MNP sudah tutup. Pengen ketawa cuma kasihan mamaku yang udah semangat. Yaudah akhirnya balik hotel dan aku lanjut tidur deh. It was a tiring day.

DAY 5 : Malang – Yogyakarta

Pagi ini kami sarapan di hotel dan akan berwisata ke kota Batu, sebelum menuju Jogja. Rencananya adalah mengunjungi Jatim Park 3. Ternyata…oh..ternyata, bukanya siang banget. Kami akhirnya ke KUD dulu buat minum susu segar. Aku pesan SMJ alias Susu Madu Jahe. Aku enggak suka deh minum susu pake telur. Menurutku gak cocok. Selain itu, aku juga pesan susu melon dan yoghurt. Mamaku pesan susu plus kue lumpur dan ote-ote porong. Kami sudah kenyang dan bermaksud menuju Jatim Park 3. Tapi ternyata masih jam 11 siang. Kami takut kemalaman sampai Jogja, jadi Jatim Park nya di-skip deh.

Jogja luar biasa macet. Aku baru sampai rumah sekitar jam 10 malam. Om dan tanteku sudah sampai hotel duluan. Biasa deh mereka ngebut. Kami berpisah tempat tinggal karena kan aku ada keluarga papaku, jadi enggak sewa hotel. Keluarga mamaku yang pada ikut menginap di hotel. Kami semua kecapekan sehingga agenda malam itu hanya tidur…

DAY 6 : Yogya City Tour

Aku tumbang hari ini. Badanku panas dan batuk pilek enggak berhenti-berhenti. Memang di Jogja sodaraku pada sakit. Aku ketularan tapi lebih parah. Aku enggak berkutik hari ini. Kuberitau ya, aku tipe orang yang sangat jarang minum obat. Tapi hari ini aku terpaksa minum obat penurun panas karena panasku tinggi banget. Hmm.. jangan kecewa dulu, ceritaku memang cuma sampai situ tapi aku ditinggal keluargaku jalan-jalan jadi aku masih ada cerita lain untuk kalian. Hari ini keluargaku dan rombongan pergi ke Aira Leather Store. Itu lho tas kulit klasik yang nge-hits banget. Tanteku heboh banget pengen kesana karena katanya koleksi tasnya mirip punya Fossil tapi harganya miring. Waktu aku lihat punya mamaku sih bagus juga. Selain Aira, ada lagi yang bagus. Namanya Kenes Leather Store. Setelah itu keluargaku pada makan Mie Ayam Bu Tumini Sari Rasa Jati Ayu. Warungnya ini rame banget kata adikku, tapi pas dibawain pulang sih menurutku rasanya biasa aja. Mungkin karena aku lagi sakit jadi rasanya gak enak atau memang begitu doang? Teman-teman yang sudah pernah cobain boleh komen dibawah ya..

Gimana nih tampilannya? Pada tertarik enggak ?

DAY 7 : Kebun Buah Mangunan & New Year’s BBQ

Hari ini aku masih sakit dan menurutku malah bertambah parah. Aku harus minum obat penurun panas lagi. Buruknya lagi, adikku juga ikutan sakit. Jadi kami enggak kemana-mana. Cuma di rumah aja. Tapi mama papaku kasihan sama sodara yang di hotel, jadi mereka berdua tetap menemani sodaraku untuk keliling Jogja. Nah ternyata mereka pengen ke Hutan Pinus Mangunan. Aku sih sudah pernah, jadi yaudah gak merasa rugi juga. Untuk kalian yang penasaran bisa liat postingan-ku yang berjudul ‘Jogja, I’m Coming Home‘ ya..

Kegiatanku ya cuma tiduran terus bangun nonton tv, terus bantuin tanteku nusuk sate buat acara BBQ malam tahun baru. Hampir semua keluargaku di Jogja pada pergi. Ada yang pergi beli oleh-oleh, ada yang ke Aira Bag, mama papaku ke Mangunan. Tersisa aku, adikku, tanteku dan beberapa sodaraku. Yaudah aku bantu tanteku di dapur sambil pake masker. Sekitar jam 5 sore semua sate sudah tertusuk rapi dan tinggal dimarinasi. Kami pun mulai BBQ jam 7 malam.

BBQ di Jogja emang menyenangkan karena enggak ada ceritanya meja terbakar atau rumput terbakar seperti di rumahku. Tanteku juga jago masak jadi satenya pasti enak. Pokoknya maknyus lah!

DAY 8 : Happy New Year!

Yeah akhirnya 2020! Kegiatanku hari ini adalah…. tidur-tiduran di rumah. Aku masih sakit. Aku aja enggak begadang nungguin pergantian tahun karena badanku panas. Kutinggal tidur aja abis makan sate. Enggak ada kegiatan khusus karena memang masih pada ngantuk dan beberapa sodaraku bakalan pulang siang atau sore ini. Sodaraku yang di hotel juga pada pulang. Lucunya lagi adalah sodaraku di Jogja ini kan juga rata-rata tinggalnya di JABODETABEK, nah mereka pada panik karena banjir parah yang melanda Jakarta. Awalnya aku sih santai aja karena rumahku memang enggak pernah banjir, cuma karena papaku tiba-tiba heboh maka aku pun heboh. Aku ngechat beberapa temanku. Tapi untungnya rumahku enggak banjir. Daerah perumahan di sekitar tempatku pada banjir. Puji Tuhan deh..

Aku seharian di rumah tapi adikku bosan jadi mengajak kami sekeluarga plus keluarga tanteku yang tinggal di Jogja untuk ke Malioboro. Hujan cukup deras dan sudah pasti Malioboro macet, maka kami naik taksi online. Tuh kan betul, Malioboro rame banget. Aku udah ngedumel terus karena badanku panas tapi dingin dan riweh aja gitu situasinya. Mamaku sampe bilang ‘Kamu ngoceh mulu kayak nenek-nenek’ HAHAHA. Tapi seriusan deh aku cranky abis. Maliboro ya seperti itu deh. Kami cuma ke Mirota Hamzah Batik lalu makan malam. Kami jalan cukup jauh menuju Alun-Alun Utara untuk makan bakmi jowo yang katanya enak, yaitu Bakmi Djowo Pak Pele. Antri makan di tempat sangat panjang, sudah gitu enggak ada tempat jadi kami bungkus saja deh. Bungkus aja juga lama banget, kalo ga salah antri sampai 1 jam. Waktu aku coba sih rasanya B aja. Ajeng bilang dulu dia pernah makan dan rasanya lebih enak. Ya mungkin karena luar biasa rame malam itu, jadi si Pak Pele masaknya udah asal aja. Emang sih. Waktu itu dia sekali masak aja bisa sampe untuk 4-5 porsi. Nakar garamnya udah main lempar aja. Gils Pak Pele…

Oh ya, buat kalian yang suka kulineran bisa coba rujak es krim dan bakso Ito juga. Rujak es krim tuh banyak sih di Jogja, menurutku di beberapa tempat rasanya sama-sama aja. Sama enaknya maksudnya, LOL. Aku ada satu rekomendasi yang kusuka sejak lama, yaitu di dekat Maga Swalayan perempatan Suryodiningratan. Kalo Bakso Ito aku baru coba dan itu direkomendasikan sama temanku. Ini cukup mengagetkan sih karena yang punya Bakso Ito adalah guru les keyboard papaku. Jadi waktu makan disana papaku malah bernostalgia. Menurutku Bakso Ito enak, apalagi bakso gorengnya. Cuma buat orang Jakarta jangan kaget ya, dia tuh kuahnya gurih kaldu bukan gurih micin. Jadi ya cuma segitu aja level gurihnya.

Ups sebelum lupa aku juga mau menceritakan pengalamanku mencoba gelato lain selain Tempo Gelato. Aku sudah pernah cerita sebelumnya kan kalo Tempo ini memang hits banget di Jogja. Antriannya tuh bisa sampai 1 jam lho kalo lagi rame pol-polan seperti bulan Desember ini. Oke, aku mencoba yang namanya Move On Coffee & Gelato. Hmm rasanya sih ya not bad tapi tidak seenak Tempo. Yang bikin kecewa sebenarnya sih pilihan rasanya karena sedikit banget. Aku mencoba Red Velvet (karena aku memang lagi ngefanssss nih sama lagu RV yang judulnya Pyscho, apasih woi!) dan cheese cake. Lokasi Move On ini sederetan dengan Tempo yaitu di jalan Prawirotaman.

DAY 9 : Pantai Gesing, Gunung Kidul

Hari ini adalah hari terakhir-ku di Jogja karena besok sudah harus pulang. Cuma gak papa, mari kita nikmati dengan baik =D Kami yang tersisa di rumah akhirnya pergi ke Teras Kaca Pantai Nguluran. Namun antriannya luar biasa panjang. Males banget deh. Akhirnya kami pun ke pantai yang terletak di dekat lokasi itu, yaitu Pantai Gesing. Wah gak rugi deh. Retribusinya murah banget, cuma 5 ribu dan itu untuk parkir aja. Enggak seperti di teras kaca yang menurutku cukup komersil. Pantai Gesing ini masih asri banget. Ya pantai aja. Tapi kalo di teras kaca ini banyak spot foto dan ada permainan engrang juga.

Nah ini dia Pantai Gesing, gimana menurut kalian?

Setelah puas main air di pantai kami pun mengisi perut di Rumah Makan Khas Gunung Kidul Terrace Petroek. Menunya sih ya seperti makanan sunda gitu menurutku, ada gurame bakar atau goreng, cah kangkung, plecing kangkung, ayam rempah, dll. Tapi kelebihan rumah makan ini adalah harganya yang tidak terlalu mahal namun rasanya enak. Lokasinya di Jl. Jogja – Wonosari No.KM.22, Karang Sari, Karangsari, Patuk, Gunung Kidul Regency, Special Region of Yogyakarta 55862.

Sekian dulu ya cerita liburan akhir tahunku ini. Semoga kalian terinspirasi untuk mencoba wisata jalan-jalan dan kuliner yang aku sampaikan. Di tahun yang baru ini kita harus lebih produktif dalam bekerja, tapi jangan lupa juga untuk memanjakan diri dengan berwisata. Oke? Sampai ketemu di cerita liburan berikutnya ya teman-teman!

Published by elisabethraras

Hi all! I'm a food technologist, who love travelling and explore somewhere new. I've been working as R&D supervisor in gummy candy factory, and always make time for travel abroad and around Indonesia. I also love photography and share my best moment.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started