Jogja, I’m coming home

Halo guys! Kali ini aku akan menceritakan liburan tahunanku ke kota Yogyakarta. Jogja adalah kota yang sangaaaaaat aku kenal sejak kecil. Papaku adalah orang Jogja asli, sehingga hampir setiap tahun dari aku kecil hingga segede ini, akhir tahun pasti kami habiskan disana. Ya kalau misalkan enggak bisa di akhir tahun, kami sekeluarga pasti ganti di tengah tahun. Ajaibnya sih aku kadang bosen tapi tetep ‘krasan’, rasanya akrab terus nyaman gitu. Tapi sayangnya meskipun dari kecil udah sering kesini, aku gak pernah hafal jalanannya guys T.T jadi kalo jalan-jalan pasti aku mengandalkan saudaraku atau papaku. Kalo mamaku atau Ajeng sih udah pasti sama butanya sama aku deh.. hahahaha. Tapi tenang, sekarang kan ada Google Maps, jadi gak bakalan nyasar. Sebenarnya aku yakin banyak dari kalian yang tentunya pernah ke Jogja, but i just wanna share my stories. Hope you guys like it and if you haven’t been there yet, you’ll get inspired by my stories 🙂

Destinasi yang akan aku ceritakan adalah liburan Natal tahun 2017. Nantinya aku akan share pengalaman liburanku di tahun-tahun lainnya dengan destinasi wisata yang gak kalah menarik. Karena sudah kubilang bahwa hampir tiap tahun aku ke kota ini. Jadi aku tentu punya banyak sekali cerita untuk kubagikan kepada kalian mengenai pengalaman berliburku di kota ini. Ok, langsung lompat ke hari pertama saja ya..

Day 1 : Tempo Gelato & Malioboro

Hari pertama gak banyak yang kulakukan, karena aku dan Ajeng baru sampai di rumah sekitar jam 12 malam. Waktu itu aku masih berstatus jadi tanggungan negara dan orang tua (re: pengangguran) setelah lulus kuliah, sehingga di awal Desember 2017 aku memutuskan untuk ke Semarang dalam rangka legalisir ijazah dan transkrip lalu lanjut jalan-jalan ke Surabaya. Ajeng kuliah di Surabaya, jadi aku gak perlu repot-repot booking hotel dan sewa mobil. Ada Ajeng yang jadi tour guide ku 🙂 Setelah dari Surabaya, aku pikir langsung ke Jogja aja lah karena udah mendekati liburan Natal. Mama papaku bawa mobil dari Tangerang dan kami berempat langsung bertemu di Jogja. Alhasil, aku dan Ajeng naik kereta dari Surabaya ke Jogja, sehari setelahnya mama papaku datang deh. Hari ini adalah hari dimana aku dan Ajeng sudah sampai duluan, baru malamnya mama papaku datang. Karena capek banget baru sampe tengah malam, jadi pagi sampai siang kuhabiskan dengan santai-santai di rumah bareng tante dan sepupu laki-lakiku, namanya Danur. Sebenarnya ada lagi tuh sepupu perempuanku, namanya Anin, cuma aku lupa kemana dia waktu itu.. hahaha sorry nin aku melupakanmu :p

Menjelang sore hari, aku pikir enak juga makan es krim. Rumahku gak jauh dari Tempo Gelato Prawirotaman, jadi hanya perlu jalan kaki sekitar 10 menit. Kesan pertamaku kesitu adalah tempatnya cozy banget buat nongkrong dan instagramable juga buat yang suka foto hits. Tapi, disitu tempat parkir mobilnya lumayan susah jadi bersyukur banget waktu itu kami berdua jalan kaki. Oh ya, antriannya lumayan panjang. Harus tunggu sekitar 5-10 menitan sih. Oke, setelahnya kami duduk aja sambil ngobrol-ngobrol. Buat kalian yang memang berminat nongkrong-nongkrong atau sekedar nyantai saja, kalian bisa mampir ke daerah Prawirotaman, Tirtodipuran atau Suryodiningratan. Disana ada banyak sekali kafe dan resto yang lokasinya cocok untuk bersantai ria. Beberapa yang tempatnya oke adalah Tempo Gelato ini, Nanamia Pizzeria, Coklat Monggo dan Lotus Mio, Poka Ribs, Mediterranea, dll. Karena kami masih pengen menjelajah Jogja, akhirnya kami memutuskan ke Malioboro naik taksi online. Kami mengunjungi Mirota lalu menyusuri selasar penuh lapak dari arah titik 0 ke Stasiun Tugu. Dari situ kami segera pesan taksi online untuk pulang. Sesampainya di rumah, ternyata bude dan om ku sudah datang dari Jakarta, gak beberapa lama orang tua ku pun datang. Wah senangnya udah terkumpul semua nih. Rumah rasanya jadi rame deh…

Day 2 : Tebing Breksi, Kebun Buah Mangunan & Hutan Pinus Mangunan

Hari kedua kami sekeluarga memutuskan untuk berwisata ke Tebing Breksi dan Kebun Buah Mangunan. Anggota yang ikut adalah aku, Ajeng, mama, papaku, Bude Iwuk (kakak papaku nomor 3) dan Danur. Waktu itu memang kedua destinasi tersebut sedang hits banget.

Tebing Breksi dulunya adalah area pertambangan yang saat ini udah disulap jadi tempat wisata yang bagus banget. Bahkan di dinding-dinding tebingnya pun terdapat banyak ukiran yang bagus banget. Kamu bisa naik ke atas tebing tanpa perlu takut karena tangga disitu sudah rapi dan gak terjal. Dari atas, pemandangannya akan jauh lebih menarik karena kamu bisa lihat pepohonan di sekeliling tebing tersebut.

Setelah puas di Breksi, aku sekeluarga melanjutkan perjalanan ke Kebun Buah Mangunan. Aku sering lihat di Instagram banyak foto sunrise Kebun Buah Mangunan ini, seperti Surga di atas awan. Tapi karena kami sampai disitu menjelang siang, hanya ada hamparan bukit yang berpola. Bagus juga lho..

Meskipun siang begitu, Kebun Buah Mangunan ternyata sejuk banget. Banyak pohon rindang dan bangku yang menghadap ke pemandangan ini, membuat pantatku serasa menempel gak mau lepas. Nyaman banget disitu. Saudaraku, Danur malah naik ke rumah pohon dan mengamati pemandangan dari atas sana. Sebenarnya aku juga pengen naik, tapi posisinya susah. Buat naik aja susah. Daripada jatuh mendingan cari aman aja deh di bawah.

Oh ya disini juga banyak sekali tanaman bunga lho temen-temen..

Setelah beberapa lama bersantai, kami melanjutkan perjalanan menuju Hutan Pinus Mangunan. Kami sampai di hutan pinus sudah hampir sore, hawanya lebih enak lagi dibandingkan waktu masih di kebun buah. Karena memang dingin dan rindang banget. Menurutku sih hutan pinus ini lebih rindang dibandingkan Hutan Pinus Gunung Pancar, Sentul, Bogor. Hari sudah mulai sore, jadi kami memutuskan untuk kembali sebelum gelap. Perjalanan cukup lama dan di daerah tersebut penerangannya agak kurang waktu itu. Untuk lebih aman, maka kami segera pulang saja. Oh ya teman-teman, bagi kalian yang memang ingin menghabiskan waktu sore hingga malam hari sambil melihat bintang, mungkin kalian bisa mampir ke Pintu Langit Dahromo. Aku sih belum kesana, tapi aku lihat di Instagram bahwa pemandangan malamnya luar biasa. Kan searah tuh dari sini, kali aja kalian tertarik 🙂 Aku hanya berhenti di sebuah warung kecil di pinggir jalan yang kebetulan punya tempat nongkrong dengan pemandangan sunset luar biasa.

Day 3 : Makam Imogiri

Hari ini tujuan wisata kami adalah Makam Imogiri. Papaku ini adalah orang yang suka sejarah. Aku hampir enggak percaya waktu dia bilang mata pelajaran favoritnya waktu sekolah dulu adalah sejarah. Oleh karena itu, dia hobi banget kalau berkunjung ke taman nasional atau museum atau tempat bersejarah, salah satunya adalah Pemakaman Raja-Raja Imogiri ini. Letak Makam Imogiri adalah di Imogiri, Wukirsari, Karang Kulon, Wukirsari, Kec. Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55782 . Perjalanan dari pusat kota ke lokasi ini tidak begitu jauh, kurang lebih 40 – 45 menit saja menggunakan mobil. Pemakaman ini dianggap suci dan kramat karena merupakan tempat peristirahatan terakhir untuk raja-raja dan keluarga raja dari Kesultanan Mataram. Menurut Wikipedia, Makam Imogiri ini dibangun tahun 1632 oleh Sultan Mataram III Prabu Hanyokrokusumo yang merupakan keturunan dari Panembahan Senopati Raja Mataram I.

Makam ini terletak di atas perbukitan yang masih satu gugusan dengan Pegunungan Seribu. Jadi jangan heran ya ketika masuk kalian akan disambut dengan anak tangga yang begitu banyak untuk mencapai lokasi makam. Karena merupakan tempat yang sakral, ada beberapa area yang memang tidak boleh dikunjungi oleh masyarakat awam. Kami disini kurang lebih sekitar 2 jam sebelum memutuskan untuk kembali pulang. Kami berkunjung kesana pada tanggal 24 Desember 2017 sehingga harus cepat pulang karena malamnya adalah malam Natal. Aku dan keluargaku akan merayakan malam natal bersama di Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran.

Day 4 : Taman Doa Maria Ratuning Katentreman Lan Karaharjan, Punthuk Setumbu & Bukit Rhema Gereja Ayam

Hari ini kami akan berwisata di luar kota Jogja, yaitu ke Kota Magelang. Perjalanan kurang lebih kami tempuh sekitar 1,5 – 2 jam. Tujuan wisata yang pertama adalah Taman Doa Maria Ratuning Katentreman Lan Karaharjan di Gantang. Bude dan Tanteku memang ikutan. Budeku itu sangat suka wisata religi ke Gua Maria dan Taman Doa. Jadi Beliau mengajak kami semua ke taman doa ini. Pemandangan di taman doa ini bagus juga karena tepat di belakang Patung Bunda Maria terlihat jelas Gunung Merapi yang tinggi menjulang. Di sekitarnya juga masih terdapat ladang yang asri.

Kami berdoa dan hening sebentar di tempat ini, lalu melanjutkan perjalanan ke Punthuk Setumbu. Aku ingat saat itu aku pengen banget ke Punthuk Setumbu gara-gara menonton film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2). Kalian yang sudah nonton tentu ingat dong scene dimana Dian Sastro dan Nicholas Saputra menyaksikan matahari terbit bersama di atas sebuah bangunan berbentuk ayam? Aku googling dan menemukan tempat yang bernama Punthuk Setumbu ini. Tempat ini mendadak jadi populer lho guys berkat film AADC2. Banyak sekali wisatawan yang berbondong-bondong kesini untuk menyaksikan sendiri keindahan pemandangannya. Oh ya, dari Punthuk Setumbu ini kalian bisa turun lagi menyusuri pepohonan untuk mencapai Gereja Ayam. Tidak jauh kok. Waktu itu kami berhasil menyaksikan matahari terbenam disini dan memang deh.. luar biasaaaaa bagusnya.

Ditempat ini ada sebuah deck dimana kalian bisa melihat pemandangan hamparan pepohonan di depan mata. Selain itu, ada juga spot-spot foto yang unik dengan pemandangan perbukitan di belakangnya. Ada yang berbentuk hati, ayunan, dan lain-lain. Kalian akan dikenakan retribusi seikhlasnya untuk berfoto disini. Lain cerita kalau kalian pakai jasa fotografer disini ya. Biayanya tentu lebih.

Aku sendiri sebenarnya enggak ke Gereja Ayam karena trek nya yang lumayan sulit sedangkan aku hanya mengenakan sandal. Disini kalian harus menembus hutan dengan melewati jalan setapak kecil. Aku rasa hanya bude dan papaku saja yang kesana. Mungkin sekarang sudah jauh lebih baik kali ya, soalnya kan semakin banyak wisatawan yang hadir jadi mungkin sudah diperbaiki treknya. Untuk mencapai Punthuk Setumbu sendiri sebanrnya tetap harus naik dan turun melewati hutan tapi sudah ada jalan yang bagus dengan railing di sisinya. Aman lah intinya.

Kami menghabiskan waktu disini lumayan lama dan baru kembali kebawah ketika hari sudah mulai gelap. Disini kurangnya adalah penerangannya minim jadi agak seram ketika turun dikala matahari sudah tenggelam. Aku merasakannya. Cuma karena kami rame-rame dengan beberapa pengunjung lain yang telat turun, jadi ya lumayan deh. Setelah itu kami langsung pulang karena tepar.

Day 5 : Umbul Ponggok

Umbul Ponggok adalah destinasi wisata yang paling aku tunggu-tunggu. Aku sangat pengen kesini. Saudaraku sih sebenarnya udah pada kesini. Aku sama Ajeng belum. Buat yang belum tahu apa itu Umbul Ponggok, mari kuberitahu. Nih aku kutip dari webnya ya:

Umbul Ponggok adalah wahana air pertama di Indonesia yang memberikan sensasi snorkling dan diving tidak di laut tetapi di kolam mata air alami yang dingin dan menyegarkan. 

Sudah kebayang belum temen-temen? Ya, jadi bentuknya seperti kolam biasa gitu sih tapi airnya bersumber dari mata air murni. Disini juga uniknya adalah kita akan berenang dengan ikan-ikan. Seperti nyebur ke kolam ikan begitu kali ya hahahaha. Kolam ini lumayan dalam, kayaknya 2 meter masih lebih lagi deh. Semakin ketengah semakin dalam. Oleh karena itu, akan ada banyak properti yang memungkinkan kita foto bawah air anti-mainstream. Ada sepeda motor, bangku taman, masih banyak lagi.

Tiket masuk nya cukup murah yaitu Rp 15.000,- tapi bila mau ke kamar mandi kenakan biaya lagi. Mereka juga menyediakan persewaan pelampung, kacamata renang dan berbagai peralatan menyelam lain. Lokasi Umbul Ponggok adalah Jl. Delanggu- Polanharjo No.Ds, Jeblogan, Ponggok, Kec. Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57474.

Day 6 : Taman Sari & Alun-Alun Utara

Sebenarnya aku sudah pernah ke Taman Sari waktu aku masih kecil. Mungkin waktu itu masih kelas 3 SD kali ya. Pada waktu itu, Taman Sari belum bagus seperti sekarang. Tidak banyak orang yang tertarik berkunjung kesana. Tempat wisata itu terlihat kusam dan kotor. Kolam pemandiannya itu terutama. Aku masih ingat airnya berwarna hijau pekat dan banyak lumut menempel. Belakangan ini, banyak orang mengunggah foto Taman Sari di Instagram dan tampak sekali pemerintah daerah melakukan revitalisasi terhadap tempat wisata ini. Taman Sari kelihatan lebih bersih dan hidup. Maka dari itu, aku tertarik untuk berkunjung kembali kesini.

Benar saja lho teman-teman. Tempat wisata ini sangat terawat sekarang. Aku senang deh lihatnya. Kalau baca sejarah mengenai Taman Sari, dulunya taman ini sangat luas namun saat ini hanya tersisa beberapa area saja karena beberapa area lain sudah dibangun menjadi pemukiman penduduk. Area yang masih dapat kalian kunjungi adalah Kolam Pemandian Umbul Binangun. Dulunya tempat ini merupakan kolam pemandian bagi Sultan, permaisuri, selir dan putri-putri raja.

Selanjutnya adalah melihat Sumur Gumuling yang hanya bisa dimasuki melalui Terowongan Bawah Air saja. Sumur Gumuling ini difungsikan sebagai Masjid pada masanya. Aku juga mengunjungi sebuah bangunan yang tampak sebagai puing-puing reruntuhan. Menurut yang aku baca itu merupakan Pulo Kenanga.

Kami berjalan mengelilingi komplek Taman Sari yang cukup luas, tapi saat ini memang telah bercampur juga dengan rumah penduduk. Setelah itu kami pun menikmati sore hari di Alun-Alun Utara. Aku sebenarnya jarang ke alun-alun ini karena lebih sering ke Alun-Alun Selatan. Tapi ada yang baru waktu itu, yaitu Patung Jendral Sudirman.

Day 7 : Merapi Lava Tour

Destinasi hari ini menuju jauh ke utara yaitu Gunung Merapi. Aku sudah beberapa kali ke Gunung Merapi. Waktu aku kecil pun sudah pernah. Tapi dulu suasananya sangat berbeda. Aku masih ingat waktu aku masih SMP, keluargaku menuju Kali Kuning yang masih asri. Ada aliran air sungai yang melewati batu-batu dengan pemandangan kanan kiri hutan lebat. Duh aku seneng banget ngeliatnya, masih teringat jelas di memoriku. Kalau nanti aku ketemu fotonya, aku akan posting deh. Kini, setelah erupsi yang lumayan besar pada tahun 2010, semua itu tinggal kenangan. Kali Kuning dipenuhi batu-batu besar dan pasir. Sebenarnya hampir semua area dipenuhi batu dan pasir. Oleh karena itu, sekarang tour merapi tidak bisa lagi dilakukan menggunakan mobil pribadi tapi menggunakan jeep. Waktu itu aku melihat juga sih ada orang yang nekat naik mobil pribadi, tapi menurutku sayang mobilnya karena medannya sangat berat. Kalau melihat dari sisi positifnya, tentu bagus banget untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Tapi aku punya kesan sendiri dengan merapi pada jaman aku kecil.

Buat yang bingung harus kemana, kalian tinggal searching aja : Base Camp Jeep Wisata Merapi MLCC (Merapi Land Cruiser Community) di google maps. Disana kamu harus booking terlebih dulu untuk menikmati jeep ini. Tapi aku sarankan untuk booking jauh-jauh hari ya karena kalau hari besar seperti Libur Natal dan Tahun Baru itu sangaaaaaaat padat antriannya. Waktu itu saja aku harus nunggu sekitar 1-2 jam untuk dapat giliran karena booking on the spot. Setelah dapat nomor antrian baru deh kalian mulai tournya. Kalian akan dibawa ke The House of Memory yaitu bekas rumah penduduk yang terkena erupsi dan melihat-lihat barang yang masih tersisa. Lalu melewati Kali Kuning dan terakhir ke Bunker Kali Adem.

Di area Bunker Kali Adem ini banyak yang jual Bunga Edelweiss lho guys, ada yang warna asli ada pula yang sudah diwarna warni. Aku enggak beli karena di rumahku sudah ada. Dulu papaku pernah beli. Tapi bagi kalian yang suka, bisa beli disini soalnya murah. Setelah dari Bunker, kami diarahkan oleh driver jeep kami untuk kembali ke basecamp. Hari sudah mulai sore jadi kami memutuskan untuk mencari makan sore menjelang malam. Papaku mengajak kami ke Museum Ullen Sentalu tapi ternyata sudah tutup. Lagian aku juga sudah pernah masuk waktu trip dengan teman-teman SMA ku tahun 2013. Kami pun akhirnya menuju Taman Nasional Gunung Merapi. Sebetulnya kami enggak masuk ke taman nasionalnya sih karena sudah sore juga dan kabutnya benar-benar tebal, kami cuma makan aja di kedai yang ada di sekitarnya. Pada tau dong makanan apa yang khas banget di daerah ini? Yup, bagi yang sudah menebak sate jamur, jawabannya betul. Memang disini terkenal banget sate jamur jadi kami pun mencobanya dan rasanya enak banget. Bumbu kecapnya meresap banget sampe ke dalam jamurnya. Maknyusssss!

Sore itu udara sangat dingin karena hujan mulai turun. Setelah makan kami pun langsung pulang.

Day 8 : Ziarah Tour

Hari ini kami hanya berpindah dari satu Gua Maria ke Gua Maria yang lain karena memang keluarga papaku suka banget ziarah. Bude dan Pakdeku sengaja ikut, tapi saudaraku pada enggak mau ikut hahaha. Gua Maria pertama yang kami kunjungi adalah Gua Maria Gunung Sempu yang terletak di daerah Bantul. Ya seperti orang yang berziarah pada umumnya sih, kami berdoa disini dan kemudian menuju Gua Maria berikutnya.

Tempat wisata religi berikutnya berada tepat di samping Sungai Progo, yaitu Taman Doa Pajangan. Taman Doa Pajangan terletak di Jalan Pajangan – Sedayu Dusun Kamijoro, Sending Sari, Pajangan, Bantul yang bersebelahan dengan Gereja Katolik Yakobus Alfeus. Hal yang paling menarik perhatian dari taman doa ini adalah Patung Wajah Kerahiman Allah setinggi 5 meter di halaman depannya.

Setelah itu kami pun menyudahi ziarah kami hari ini dan bergegas pulang. Menu makan siang yang kami makan cukup spesial. Sudah bolak balik aku ke jogja dan ini pertama kali aku mencoba Ayam Ingkung. Ternyata ini makanan dari jaman papaku kecil dulu. Papaku & kakak-kakaknya jadinya bernostalgia. Hayo temen-temen udah pernah coba belum?

Ayam Ingkung ini merupakan komponen pokok dalam tumpeng yang biasanya disajikan di tampah. Cuma di tempat makan kami waktu itu kami hanya pesan ayamnya saja. Menu makanan ini sangat kental dengan Budaya Jawa lho! Menurut artikel yang aku sadur dari Fimela.com begini nih penjelasannya: Ayam ingkung berasal dari kata “manengkung” yang berarti memanjatkan doa kepada Tuhan dengan kesungguhan hati. Ayam adalah lambang dari rasa syukur dan kenikmatan yang didapat di dunia karena kuasa Tuhan. Hanya ayam yang baik dan lezat saja yang menjadi persembahan, itulah mengapa ayam ingkung disajikan dalam bentuk utuh dan ditata dengan indah. Nah kalian sekarang udah tertarik belum nyoba menu ini kalau lagi liburan ke Jogja?

Semoga kalian menikmati cerita liburan mudikku ke Jogja ini ya. Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, aku memang sering ke kota ini. Kalau ada wisata lain yang menarik pastinya akan segera aku bagikan di blogku ini. Be happy & stay productive! Sampai ketemu di cerita liburan berikutnya yaaaa 😀

Published by elisabethraras

Hi all! I'm a food technologist, who love travelling and explore somewhere new. I've been working as R&D supervisor in gummy candy factory, and always make time for travel abroad and around Indonesia. I also love photography and share my best moment.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started