Hi teman-teman, kali ini aku akan menceritakan pengalamanku liburanku ke Jepang. Aku pergi ke Jepang pada bulan Juni tahun 2015. Trip ini sudah lumayan lama, tapi dijamin sih gak basi deh hehehe.. Aku tipe orang yang (sebenarnya) kurang suka ikut tour karena menurutku kurang puas di spot yang aku anggap bagus dan gak bisa cepat di spot yang menurutku kurang menarik. Pasti dibatasi waktu. Oleh karena itu, trip kali ini aku tidak menggunakan jasa tour. Aku pergi bersama keluargaku, keluarga adik mamaku dan keluarga adik istri adik mamaku (rumit juga nih sebutannya wkwkwk). Keseluruhannya ada 15 orang nih teman-teman. Without any further do, so let’s get started!
Day 1 : Soekarno Hatta Int’l Airport – Tokyo Haneda Int’l Airport
Hari pertama aku awali dengan perjalanan udara yang lumayan panjang menuju Tokyo. Aku sekeluarga dan keluarga adik mamaku naik maskapai Air Asia dari Bandara Internasional Soekarno Hatta. Keluarga adik mamaku terdiri dari 4 orang. Kami berangkat pagi-pagi, aku lupa tepatnya pukul berapa namun yang kuingat sebelum terang kami sudah nongkrong di ruang tunggu terminal 3. Karena kami naik Air Asia, so pasti kami harus transit terlebih dahulu ke Malaysia. Transit ini cukup memakan waktu teman-teman, karena kami sudah landing sekitar pukul 9 atau 10, namun pesawat kami menuju Tokyo itu siang hari. Kalau gak salah sih waktu itu jam 2 siang. Akhirnya kami pun muterin bandara sambil wisata kuliner. Makanan favoritku disini adalah roti canai pakai kari ayam. Sumpah enak banget teman-teman! Rotinya gurih banget dan kari nya bener-bener berasa.
Mendekati jam keberangkatan kami ke Tokyo, kami pun mencari keluarga adik istri adik mamaku karena ternyata kami satu penerbangan. Kami bersepuluh sama-sama menuju Tokyo sedangkan 5 orang sodaraku yang lain sudah tiba di Tokyo. Mereka berangkat beberapa hari sebelum kami karena memang om ku ada pekerjaan di Jepang. Perjalanan ke Jepang kami tempuh selama 7 jam, dan hari sudah malam saat kami tiba di Tokyo. Kami segera menuju hotel untuk istirahat. Hotel kami berada di daerah Kamata, dekat Stasiun Kereta Kamata. Nama hotelnya adalah GrandPark Hotel PX Tokyo. Malam itu aku dan adikku lapar sekali sehingga kami memutuskan untuk ke Lawson dekat hotel. Aku cukup terkesan dengan minimarket di Jepang. Pilihan makanan disini begitu banyak, penampilannya menarik dan harganya pun gak terlalu mahal. Mungkin kalau aku sekarang ada di sana, aku gak akan begitu terkesan kayak dulu ya teman-teman, karena sekarang sudah banyak minimarket yang konsepnya seperti itu. Tapi buatku di tahun itu, dimana Indomaret Point ataupun Point Cafe belum begitu menjamur, pengalaman ke minimarket dengan konsep tersebut begitu WOW. Aku dan adikku pun kalap membeli berbagai macam panganan yang membuat timbunan lemak kami bertambah banyak tentunya…
Day 2 : Tokyo City Tour
Pagi hari aku sudah siap di lobby hotel. Aku menunggu seluruh rombongan kami lengkap sambil berjalan di kanan kiri hotel bersama adik dan sepupuku. Belum terlalu ramai. Foto sebelah kanan adalah gang dimana hotelku berada sedangkan foto sebelah kiri adalah ujung gangnya. Selain banyak mobil, di kota ini pun banyak sepeda lho teman-teman.
Udara mulai panas dan kami memutuskan kembali ke hotel. Saat kembali omku sudah siap. Aku duduk-duduk sambil mengobrol dengan sodaraku. Aku melihat antrian panjang untuk masuk ke gedung sebelah kiri hotelku. Antriannya bahkan mencapai depan hotelku lho. Aku bingung itu apa, aku kira sih antrian makan ramen ya. Tulisan di depan gedungnya sih ‘Pachinko Hiroki’. Setelah dijelaskan sama omku, itu ternyata tempat main game gitu. Aku pikir, ya ampun itu orang sih niat banget ya pagi-pagi udah antri main game aja. Tapi kata omku, memang begitulah kebiasaan cowok-cowok di Jepang. Hmmm..
Hari kedua ini kami berfokus untuk mengunjungi berbagai destinasi menarik di Tokyo. Transportasi yang kami gunakan disini adalah kereta. Tujuan pertama kami adalah Shibuya. Kami naik kereta dari Stasiun Kamata menuju Shibuya. Disini kami berfoto di Patung Hachiko, menyebrang di Shibuya Crossing, lihat-lihat barang elektronik di Bic Camera. Aku paling terkesan waktu menyebrang di Shibuya crossing karena waktu aku SMP, aku suka banget dengan film Fast & Furious : Tokyo Drift. Di film tersebut ada adegan Han dan Sean ngobrol dengan pemandangan Shibuya. Menurutku sih keren banget ya, jadi waktu aku bisa datang kesini secara langsung, aku hebring banget. Setelah puas belanja di Bic Camera, kami menuju Harajuku lalu take away Yoshinoya untuk makan siang (meskipun di Indo ada, tetep dong wajib cobain yang asli), dan makannya di dekat Taman Yoyogi. Waktu aku datang dulu, di dekat taman sedang ada festival kuliner gitu teman-teman, jadi aku pun beli okonomiyaki, takoyaki, dll. Wah enak banget sih itu… Oh ya, Stasiun Harajuku gak begitu jauh dengan Taman Yoyogi sehingga waktu itu, kami serombongan hanya jalan kaki. Taman Yoyogi juga berdekatan dengan Meiji Shrine, jadi sekalian aja deh kami kesana.

Setelah selesai berkeliling-keliling taman, kami sekeluarga menuju Takeshita Street di Harajuku. Takeshita Street ini bentuknya seperti pasar yang memanjang dalam satu gang dan banyak sekali penjual makanan, kafe, pernak-pernik lucu serta pakaian. Disini teman-teman bisa belanja untuk oleh-oleh karena harganya gak begitu mahal. Aku sendiri berbelanja banyaaak sekali Kitkat Green Tea untuk oleh-oleh karena memang waktu itu Kitkat Green Tea sangat nge-trend.
Puas di Takeshita Street, perjalanan dilanjutkan menuju Sensoji Temple (Asakusa Kannon Temple) yang merupakan Kuil Buddha di Asakusa. Perjalanan dari Harajuku menuju Asakusa memakan waktu sekitar 30-40 menit menggunakan kereta. Setibanya disana, hari sudah sore hari tapi justru semakin bagus. Kami mengelilingi kuil sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Tokyo Skytree. Tapi sayaaaaaang sekali waktu mau masuk sudah hampir tutup. Jadi daripada membayar tiket mahal tapi cuma sebentar, kami pun mengurungkan niat untuk masuk. Kami berjalan-jalan di sekitar bangunan tersebut dan beristirahat di Sumida Park sambil memandangi Sungai Sumida serta gemerlap lampu-lampu malam itu. Lumayan lama kami menghabiskan waktu di Sumida Park tersebut sebelum kembali ke hotel.
Day 3 : Tokyo Disney Sea
Kalau ke Tokyo rasanya kurang lengkap kalo gak Tokyo Disney Sea, betul gak sih? Menurutku sih betul banget. Dari front gate nya aja sudah bagus banget.

Menuju pintu masuk pemandangan yang disajikan adalah bangunan klasik tua dengan bola dunia di tengah tamannya. Bola dunia disini emang hits banget. Jangan lupa foto di spot ini ya guys, biar afdol gitu kesannya.. ^^ Setelah masuk, pemandangan pertama yang kamu lihat adalah sebuah danau yang cukup besar. Danau ini biasanya digunakan untuk pertunjukan air yang tayang siang dan malam hari. Aku sendiri berkesempatan nonton pertunjukan siang dan malam hari. Menurutku pertunjukan malam hari lebih berasa feel nya karena ada symphony of light nya. Di belakang danau (kalau lihatnya dari sisi pintu masuk ya) ada sebuah gunung berapi yang seingatku merupakan lokasi wahana Journey to The Center of The Earth.

Wahana pertama yang kami coba adalah Toy Story Mania! di area American Waterfront. Tipe game nya sih standar, di Disneyland Hongkong juga ada. Jadi kita akan naik kereta yang berputar-putar dan jobnya adalah menembak light spot menggunakan laser. Setelah pemanasan dengan wahana yang tingkat ketegangannya rendah, aku, adikku, sepupu cowokku dan papaku tertarik untuk mencoba wahana yang cukup ekstrem. Awalnya sih kami tertarik untuk naik karena bangunannya bagus, mirip kastil kuno yang megah banget. Tapi waktu dibaca keterangannya, wahana ini cukup seram. Modelnya sih seperti histeria di Dufan, cuma ini indoor dan jauuuuuh lebih tinggi daripada histeria. Sensasi naik wahana ini luar biasa, kalau aku kasih rating ya…. 9/10. Wajib coba deh teman-teman! Gak akan nyesel.. Nama wahananya adalah Tower of Terror dan letaknya gak jauh dari Toy Story Mania!, yaitu masih di area American Waterfront. Setelah naik wahana ini, aku dan lainnya santai sejenak di taman sambil minum softdrink. Kebetulan waktu itu, hari sudah sore dan kami memang berada di area American Waterfront yang dekat dengan laut. Pemandangan matahari terbenamnya sangat indah. Tidak banyak wahana yang bisa kami nikmati karena memang Tokyo DisneySea ramai sekali, antrian setiap permainan benar-benar memakan waktu. Jadi ya kami nikmati aja dengan foto-foto di spot dekat wahana.
Atraksi yang kami saksikan berikutnya adalah Mermaid Lagoon Theater (King Triton’s Concert) di area Mermaid Lagoon. Wahana terakhir yang kami coba adalah Journey to The Center of The Earth di area Mysterious Island dan ini ternyata menarik banget. Tipe wahana nya adalah roller coaster, tapi cukup menantang karena rail nya berkelok-kelok dan menanjak lalu menurun. Kami capek sekali malam itu, sebenarnya sih bukan karena area nya terlalu luas atau gimana, tapi lebih capek karena antrinya. Duh ogah banget deh kalo pergi pas lebaran seperti itu.. Kalau mau benar-benar menikmati, emang harus acak aja tanggalnya di hari biasa. Tapi ya overall puas lah dengan Tokyo DisneySea.
Day 4 : Mt. Fuji
Destinasi kami di hari ke empat adalah Mt. Fuji atau Fujiyama. Oh ya, waktu itu aku enggak ke Danau Kawaguchiko. Tapi kalau teman-teman emang pengen ke Danau Kawaguchiko, itu dekat dengan Mt. Fuji. Bisa dijangkau sekaligus kok. Kamata-Tokyo ke Mt. Fuji cukup jauh ya teman-teman, jadi memang tujuan kami hari itu hanya itu saja.
Perjalanan dari Kamata-Tokyo ke Mt. Fuji kami tempuh menggunakan kereta hingga ke Stasiun Kawaguchiko. Stasiun ini adalah gateway Mt. Fuji. Dari stasiun ini kami baru lanjut naik bus ke puncak gunung dengan pemandangan luar biasa bagus. Karena memang lokasinya yang sangat tinggi, awan bisa sejajar dengan pandangan mata kita. Bahkan bila kita naik ke upper deck, awan bisa dibawah kita. Selain itu juga barisan bukit dan pepohonan cemara terlihat berjajar dengan rapinya. Belum lagi semakin jelas melihat salju di puncak Mt. Fuji.

Saat itu sedang musim panas sehingga salju di puncak gunung tidak menutupi seluruh permukaannya. Hanya ada beberapa bagian yang terselimuti. Meski begitu, kabut tebal menutupi puncak gunung. Jadi tetap dingin. Udara di area tersebut sebenarnya campuran dingin sejuk namun juga sedikit panas akibat sengatan sinar matahari. Kami pun memutuskan untuk membeli es krim di area pertokoan. Lega banget tenggorokan.
Hari sudah mulai sore sehingga aku dan rombongan memutuskan untuk kembali ke Stasiun Kawaguchiko. Saat turun itu aku benar-benar tersiksa lho teman-teman. Jarak dari puncak menuju stasiun lumayan jauh sedangkan bus yang kami naiki itu super penuh, sumpah sesak banget gak bisa gerak. Aku sama papaku pun berdiri pasrah aja. Ajeng dan mamaku yang udah masuk bus duluan ternyata dapet duduk di deretan paling belakang sedangkan aku dan papaku berdiri di tengah bus dekat pintu keluar. Ada kejadian aneh yang aku dan papaku ingat sampe sekarang. Jadi kejadiannya itu adalah ketika perjalanan turun, kami melewati satu halte yang sepi banget, bahkan enggak ada satu pun orang disana. Aku dan papaku mikir ngapain sih itu bus berhenti disana, udah pasti lah enggak ada yang turun. Cepetan aja kek! Udah sakit juga ini kaki kami berdua kelamaan berdiri. Tapi ternyata ada 2 orang bule, pasangan suami istri yang udah cukup tua, melewati kami dan turun. Aku sama papaku cuma berpandangan aja. Kami mikir kan hari udah mulai sore, sepi banget, sebentar lagi pasti gelap. Mau ngapain di halte itu berduaan? Apa yang mau dilihat gitu kan pikir kami. Soalnya sejauh mata memandang itu isinya hanya jalan yang sepi dan pepohonan. Setelah kami cari tahu, barulah kami sadar bahwa halte itu dekat dengan Aokigahara Forest atau yang lebih dikenal sebagai Suicide Forest. Makanya sampe sekarang aku tuh masih ingat aja peristiwa itu.
Kami sampai di Stasiun Kawaguchiko sudah hampir gelap. Omku segera membeli tiket untuk kami pulang. Karena perjalanan yang lumayan panjang, kami pun sampai di Kamata malam hari. Kami pun kembali ke hotel. Mengumpulkan tenaga untuk hari esok.
Day 5 : Osaka
Hari ini kami berpindah kota dari Tokyo menuju Osaka. Kami menyewa suatu rumah yang lengkap dengan perabotannya sehingga kami sudah tinggal pakai saja. Rumah itu bertingkat 3, cuma kami hanya gunakan lantai 2 dan 3 saja karena lantai 1 itu seperti gudang atau garasi begitu lah. Rumah ini seperti rumah pada umumnya, terdiri dari beberapa kamar tidur dan kamar mandi. Ada ruang keluarga, tempat mencuci juga. Aku nyaman banget di rumah ini. Apalagi karena lokasinya di area rumah penduduk dan juga tidak terlalu jauh dengan stasiun. Kami juga dapat layanan antar jemput dari pemilik properti ini. Jadi lumayan lah enggak perlu mahal naik taksi pas pindahan. Nama area tempatku tinggal adalah Izumisano-shi. Teman-teman kalau tertarik sih paling tinggal searching aja di airbnb.

Hari ini kami memang sengaja pindahan saja, tidak kemana-mana lagi. Pengalaman kami cukup menyenangkan karena bisa naik kereta cepat jepang yang dikenal dengan Shinkansen. Lelah juga berpindah kota begini. Jadi begitu sampai rumah ya kami hanya menata barang sambil ngumpul di ruang tv. Beberapa sodaraku yang masih kecil-kecil sibuk dengan mainan mereka. Ibu-ibu sudah siap masak. Sebelumnya kami memang pergi ke supermarket terlebih dahulu. Ibu-ibu berbelanja keperluan kami untuk beberapa hari menginap. Sedangkan para bocah dan kami yang sudah besar begini masih aja cari jajanan. Pasti pada tau dong kalo jajanan di Jepang itu unik. Salah satu yang unik adalah yang dibeli saudara kecilku ini. Ini adalah permen. Tapi bentuknya seperti pasta warna keunguan yang dimakan menggunakan taburan pop-rock.
Aku sendiri enggak beli apa-apa karena Ajeng sudah beli banyak jajan. Aku dan Ajeng memang paling suka kulineran atau coba sesuatu yang unik dari negara yang kami kunjungi. Mulai dari makanan khasnya, makanan pinggir jalan atau pun yang dijual di supermarket. Pokoknya kami semangat banget deh kalo hal beginian. Penasaran apa yang Ajeng beli?






Day 6 : Temple and Shrine Day Tour in Kyoto
Hari ini kami akan menuju Kyoto. Saat itu cuaca di Osaka maupun Kyoto sangat berbeda dengan di Tokyo. Tokyo cenderung panas menyengat sedangkan Osaka dan Kyoto mendung berangin. Hujan juga sering turun. Beberapa hari kami disana sebagian besar diisi dengan hujan. Pagi hari di Osaka kami sudah disambut dengan hujan gerimis. Kami bahagia begitu sampai di Kyoto karena masih mendung. Tapi enggak lama, hujan gerimis juga. Hahaha sama aja deh.
Hari ini kami tidak ada tujuan khusus, hanya keliling-keliling kuil yang ada di Kyoto. Jangan salah teman-teman, kuil di Jepang ini bagus banget. Pasti dikelilingi taman yang asri dan bersih. Kuil pertama yang kami kunjungi adalah Tofuku-ji. Letaknya di 778 Honmachi, Higashiyama Ward, Kyoto, 605-0981. Kuil ini enggak begitu ramai sih, waktu kami datang aja hanya ada beberapa orang yang mampir. Ini memang bukan kuil terkenal seperti yang mungkin teman-teman tau, Kiyomizudera, Fushimi Inari, dsb. Letak kuil ini juga terbilang jauh dari jalan utama karena kami terlebih dahulu harus melewati jalan kecil dengan pepohonan dan perumahan di sampingnya. Tapi buat kalian yang memang penikmat jalan kaki dan pemandangan pasti justru akan semakin bersemangat ya
Oh ya satu lagi yang menarik. Dalam perjalanan menuju kuil ini, kalian akan melewati sebuah jembatan kayu yang pemandangan kanan kirinya adalah pepohonan rindang gitu. Adem banget ngelihatnya. Apalagi waktu aku datang itu kan cuacanya mendung dan sedikit gerimis. Daun-daunnya kelihatan segar.
Setelah berkeliling beberapa saat, kami memutuskan untuk berpindah kuil. Kuil kedua yang kami kunjungi adalah Fushimi Inari. Wah kalau kuil ini sih dijamin pasti teman-teman tau.
Kuil ini sangat terkenal dengan deretan kayu berjajar membentuk suatu pagar yang berwarna hitam merah terang. Dikenal dengan nama Torii Gates. Gerbang ini ada 2 dan saling bersebelahan, dinamakan Senbon Torii. Keduanya menembus pepohonan lebat yang menghubungkan kuil dengan Mt. Inari yang sakral.
Kami cukup lama di kuil ini karena memang areanya yang luas. Sudah 2 kuil yang kami kunjungi dan kami memutuskan untuk menuju destinasi lain yang lebih menarik untuk anak-anak. Di rombonganku ini memang ada 3 anak-anak yang umurnya masih dibawah 10 tahun. Mereka pasti bosan juga berkeliling kuil karena belum mengerti bagaimana cara menikmatinya. Akhirnya omku mengajak kami ke Cup Noodles Museum Yokohama. Tapi sayaaaang sekali pas sampe disana museumnya udah tutup. Mereka tutupnya cepet banget btw guys, yaitu jam setengah 5 sore. Yaudah daripada enggak dapet destinasi apa-apa, om kami mengajak kami cepat-cepat ke kuil Kinkaku-ji. Kenapa harus cepet-cepet? Karena tutupnya jam 5 gaesss.. Sampe kuil, gerbangnya udah hampir ditutup dan udah pasrah aja kayaknya enggak boleh masuk. Mana itu kan hujan lebat gitu deh pasti petugasnya pengen cepet tutup dan gak peduliin kami. Ternyata mereka sangat menghargai kami yang udah lari-lari menerjang hujan ngejar jam tutup. Kami pun diperbolehkan masuk, tapi sambil disuruh jalan kilat. Pokoknya kata mereka maksimal setengah 6 sudah keluar area.

Sayang banget sih sebenernya, karena kuil ini adalah kuil emas. Pengen bisa menikmatinya lebih lama, baca sejarahnya, foto-foto juga. Tamannya juga luas banget. Tapi daripada enggak boleh masuk sama sekali, ya lebih bersyukur boleh masuk tapi cuma sebentar sih. Setelah itu memang hujan juga semakin lebat. Kami pun pulang ke Osaka.

*Fotonya minus papaku dan tanteku. Papaku ceritanya salah turun stasiun sebelum kami menuju Cup Noodles Museum. Jadi dia turun satu stasiun lebih dulu. Kalau nunggu papaku ngejar kami di museum pasti enggak keburu ke kuil. Jadi yaudah langsung ketemuan di kuil aja. Ternyata kami boleh masuk dan papaku enggak sempat. Akhirnya papaku menunggu diluar. Tanteku memilih untuk shopping ke Aeon Mall aja. Waktu itu Aeon Mall BSD kan masih baru banget di Indo. Aeon JGC bahkan belum ada. Jadi tanteku pengen lihat-lihat di Aeon Jepang katanya. Kami pun langsung bertemu di stasiun kereta. Setelah anggota terkumpul semua, baru deh kami bertolak kembali ke Osaka.
Day 7 : Umeda Sky Building & Dotonbori
Hari ini kami berangkat agak siang karena cuacanya tidak mendukung. Hujan sangat deras dan kabut dimana-mana. Saudaraku bahkan enggak jadi ke Universal Studio Osaka karena ada Badai Taifun. Akhirnya omku mengajak kami ke Umeda Sky Building daripada sekedar menganggur di rumah. Aku tipe orang yang paling anti di penginapan kalau sedang travelling. Kalau bisa sih selalu cari alternatif bila rencana awal enggak memungkinkan. Omku sudah sering ke Jepang untuk training dan workshop kantornya, yaitu Yamaha Motor. Oleh karena itu, sedikit banyak Beliau sudah hafal dengan beberapa daerah dan destinasi yang terkenal. Beliau mengakomodasi keinginan kami semua. Maka tibalah kami di gedung terkenal ini. Umeda Sky Building terletak di 1 Chome-1-87 Oyodonaka, Kita Ward, Osaka, 531-6023. Mengapa gedung ini bisa terkenal? Karena arsitekturnya unik teman-teman. Bentuknya adalah seperti dua menara kembar dengan ketinggian yang sama (173 m) dan dihubungkan melalui suatu eskalator di lantai 39. Mantap kan guys!
Setelah dari Umeda, kami langsung menghabiskan waktu sore di Dotonbori. Dotonbori itu iconic banget. Kalian wajib kesini deh. Kami tidak terlalu lama di tempat ini karena hujannya deras enggak tanggung-tanggung. Jaketku sudah lumayan basah. Sendalku udah kuyup. Saudaraku yang masih kecil-kecil pasti kedinginan. Disini kamu bisa menemukan berbagai toko yang menjual makanan seperti Starbucks, Kami hanya menyusuri area pertokoan sebentar, membeli beberapa souvenir dan jajanan lalu pulang.
Day 8 : Hiroshima
Hari ini cuaca lebih bersahabat dibandingkan kemarin-kemarin. Masih mendung dan sedikit gerimis tapi enggak terlalu parah. Kami bisa beraktivitas dengan lancar. Tujuan kami adalah Hiroshima Atomic Bomb Dome atau The Hiroshima Peace Memorial. Letaknya di 1-10 Otemachi, Naka Ward, Hiroshima, 730-0051. Perjalanan dari Izumisano ke Hiroshima lumayan jauh, sekitar 4-5 jam perjalanan menggunakan kereta. Oleh karena itu, tujuan kami hari itu ya hanya ke satu tempat itu aja.
Kami melewati stasiun kereta yang lumayan besar dan melihat ada information center yang memberikan fasilitas bagi turis asing untuk mencoba Kimono secara gratis. Kami pun tertarik untuk mampir. Disini ada seorang guide lokal yang sangat ramah, aku lupa namanya. Dia memberikan kami sepenggal penjelasan mengenai kebudayaan Jepang dan kemudian memberikan kami waktu untuk mencoba kimono. Di tempat ini juga banyak kerajinan tangan Jepang tapi yang menurutku paling menarik adalah origami. Origami di tempat ini bentuknya sangat beraneka macam dan tingkat kerumitannya pun tinggi. Aku kagum banget sih sama kemampuan mereka yang bisa membuat sebagus itu.
Semua cewek di rombongan kami bergantian mencoba kimono. Setelah puas, kami pun melanjutkan perjalanan. Seperti yang sudah aku sampaikan sebelumnya, perjalanan lumayan panjang jadi kami tiba di Hiroshima pun sudah menjelang sore. Kami menuju monumen bom atom ini dikala hari mulai gelap. Monumen ini tidak susah dicapai karena bisa dijangkau dengan trem.
Monumen ini dikelilingi oleh jogging track dan di salah satu sisinya terdapat semacam sungai yang cukup luas. Aku sangat senang bisa mengunjungi monumen ini. Menurutku tempat ini menyimpan banyak sejarah dan hebatnya lagi meskipun sudah melalui kondisi yang sangat berat setelah bom atom, masyarakatnya berhasil bangkit. Kota Hiroshima berkembang pesat dan modern sebagaimana kota-kota lain di Jepang. Sebenarnya aku juga pengen mengunjungi kota Nagasaki tapi pertimbangan dari omku adalah jaraknya yang cukup jauh. Aku kemudian mengusulkan untuk ke Fukushima. Tapi omku bilang bahwa itu merupakan tempat berbahaya, apalagi ada anak kecil di rombongan kami. Jadi lebih baik ke tempat yang lebih aman dan jaraknya masih terjangkau. Meskipun demikian, aku enggak menyesal juga mengunjungi tempat ini.
Kami pulang larut malam hari ini. Sudah begitu kami nyasar pula. Akhirnya kami menyerah dan omku memberanikan diri bertanya sama orang setempat. Hari sudah sangat malam dan tidak banyak orang yang bisa kami tanyai. Ada seorang bapak-bapak, sepertinya baru mabok pulang kerja, karena dia masih pakai setelan baju kerja dan membawa tas kantor. Jalannya agak sempoyongan gitu. Sebenarnya omku takut juga sih bertanya kepada si bapak, tapi mau bagaimana lagi? Daripada kami satu rombongan tersesat gak jelas. Tapi ternyata si bapak ini baik banget lho, maksudnya udah tipsy begitu tapi masih baik banget mau nunjukin jalan plus anterin sampe rumah. Puji Tuhan banget bisa dapat pertolongan seperti itu. Soalnya aku pernah liat sih waktu di Tokyo, kan malam-malam aku ke Lawson cari makan, ada orang mabok sampai muntah-muntah lalu dibopong temannya. Sepertinya itu sih udah hangover ya. Kalo begitu sih udah pasti enggak bisa ditanyai hahaha..
Day 9 : Osaka Castle – Back to Tokyo

Kalau hari ini sih cuacanya sangat bersahabat guys. Ceraaaaaah banget, bahkan siangnya akhirnya muncul matahari. Gak terik banget sih, cuma panasnya ya berasa lah. Acara hari ini adalah kembali ke Tokyo karena kami akan pulang ke Jakarta melalui Tokyo Haneda International Airport. Tapi karena kami beli tiket keretanya siang, pagi harinya kami menyempatkan diri untuk ke destinasi wajib yang ada di Osaka. Apalagi kalau bukan Osaka Castle. Tempat ini bagus teman-teman. Seriusan. Apalagi kalau musim semi, karena kan bunga sakura di tamannya akan bermekaran tuh. Suasana taman dan danaunya akan semakin hidup. Jadi Osaka Castle itu dikelilingi oleh sebuah danau terus dihubungkan dengan jembatan menuju ke area sekitarnya.
Kalian bisa masuk ke dalam bangunan kastilnya, tapi aku enggak masuk jadi enggak bisa bercerita. Oh ya di taman kastil ini banyak sekali burung yang mampir. Mereka seperti udah akrab dengan pengunjung disini. Kami berkeliling sebentar di area kastil lalu mencari makan siang disana. Perut kenyang, kami pun siap beresin barang dan kembali ke Tokyo naik Shinkansen.
Kami sampai di Tokyo malam hari dan kembali menginap di daerah Kamata. Tidak jauh juga dengan hotel kami yang dulu. Nama hotel kami ini adalah Sotetsu Fresa Inn. Setelah lihat hotelnya sih jujur lebih senang yang ini karena lebih luas dan lebih dekat dengan tempat-tempat makan. Cuma memang daerahnya gimana ya gaess.. Waktu itu aku dan mamaku nyari makan malam-malam. Aku orangnya gampang lapar, malam pun dulu aku jabanin buat makan. Tapi sekarang enggak kok karena aku udah terlalu gendut. Nah waktu aku lewatin gang hotelku itu, banyak cewek-cewek yang berdiri di pinggir jalan gitu. Kalian pasti mengerti apa yang aku pikirkan. Tapi karena aku berdua dengan mamaku, sudahlah diberani-beranikan aja daripada enggak bisa tidur kelaparan. Aku menemukan kedai ramen kecil di ujung jalan, namanya Daiou Ramen Restaurant. Disini menu utamanya adalah ramen tapi kalian bisa juga kok menemukan makanan lain seperti di chinese food resto gitu. Ada pula cemilan seperti gyoza. Tapi sorry ya Daiou, aku tetap pada gyoza lawson. Aku memang waktu itu melakukan battle gyoza Daiou vs gyoza lawson bersama Ajeng dan papaku. Ternyata pilihan kami tetap pada lawson dan tidak terkalahkan oleh lainnya. Baik dari segi rasa dan harga lho ya. Lawson for life!
Kami bertiga emang udah jadi penunggu lawson pas di Jepang waktu itu. Bolak balik deh kami kesana nyobain makanan. Tapi kadang ke FamilyMart juga sih. Cuma kalo menurutku, FamilyMart pilihannya gak sebanyak Lawson. Pernah juga si Ajeng minta beli CoCo Ichibanya. Oh ya sama kalo di Jepang kami selalu nyoba minuman yang unik di vending machine. Apalagi dulu kan di Indo belum marak vending machine sedangkan di jepang itu di setiap sudut kota juga ada. Seru sih, rasanya aneh-aneh dan murah juga.
Day 10 : Shopping in Tokyo
Malam ini kami harus pulang ke Indonesia tapi sebenarnya kami akan sampai besok sorenya. Jadi pesawat kami dari Tokyo itu tengah malam, sampai di Malaysia itu pagi hari dan transit lamaaaaa banget sampe siang menuju sore, baru setelah itu terbang ke Indonesia. Kami naik AirAsia juga untuk perjalanan pulang, jadi sudah pasti transit. Beda cerita kalo naik ANA atau JAL ya. Kan direct flight. Karena tidak ada yang harus dikejar, kami santai saja hari ini. Kebetulan Ajeng ulang tahun waktu kami di Osaka sehingga paginya kami hanya merayakan ultahnya dengan makan bersama di Daiou. Mamaku udah ketagihan makan disana. Setelah itu kami pun memulai eksplorasi hari ini.
Kami hari ini berkunjung lagi ke Takeshita Street untuk berbelanja lebih puas. Kan enggak dikejar waktu kayak beberapa hari lalu. Mamaku borong KitKat greentea, dark chocolate daaaaan banyak lagi. Waktu itu KitKat greentea belum masuk Indo jadi hype banget tuh. Mamaku beli untuk kami sekeluarga dan oleh-oleh. Setelah itu kami menuju Uniqlo. Harga baju disana lebih murah. Kaos Mickey Mouse aja waktu itu paling hanya 100rb padahal kainnya yang bagus punya lho. Sodaraku juga pada ngeborong. Kami lanjut mengunjungi Harajuku, Akihabara dan Shinjuku.
Siang berganti sore dan sore berganti malam. Kami bersiap menuju bandara menggunakan bus. Sesampainya di Tokyo Haneda kami pun melalui beberapa prosedur sebelum mencapai ruang tunggu. Ngantuk-ngantuk menunggu pesawat. Tidak banyak yang bisa kuceritakan di pengalaman pulangku kecuali cuaca buruk dan turbulensi parah yang melanda ketika hampir mencapai Malaysia. Saat itu masih pagi buta, sekitar pukul 3 atau 4 pagi. Aku duduk di bangku 2 dari belakang yang rasanya sama sekali tidak enak. Guncangan sangat terasa dan aku takut banget makanya aku gak bisa tidur. Lampu masih dimatikan dan banyak orang yang masih tertidur. Aku dan Ajeng cuma saling berpegangan dan berdoa aja waktu itu. Udah takut kami bakalan lewat. Tapi ternyata Tuhan masih beri kesempatan. Ya.. sejak itu aku agak ngeri kalo naik pesawat. Pokoknya serem lah. Begitu sampe Indonesia aku lega banget.
Semoga ceritaku ini bisa menginspirasi teman-teman dan juga memberikan referensi untuk kalian yang lagi bingung menyusun destinasi liburan ke Jepang. Atau kalau kalian ada referensi lain yang menarik, boleh banget berikan komen ke aku. Supaya kalau aku ke Jepang lagi bisa ada ide mau kemana-mana gitu kan. Tapi sih yang pasti aku pengen ke Universal Studio Osaka, ke kastil Harpot sambil minum butter beer (meskipun bukan pecinta harpot tetep aja pengen) HAHA. Semogaaaa bisa kesampean deh. Amin. Sampe ketemu di cerita liburan yang lain ya! Salam YOLO ^^






































