
Hello teman-teman! Aku pengen bercerita mengenai liburan musim dinginku ke Korea. Trip ini aku lakukan pada awal bulan Januari 2017. Yup, aku berangkat tepat tanggal 1 Januari 2017 dan kalau enggak salah sih sekitar jam 11 atau 12 malam. Ya aku akan menempuh penerbangan malem. Korea sedang musim dingin bulan tersebut. I’m really excited about the weather!
Waktu itu, aku masih jadi mahasiswi semester akhir yang lagi penelitian di Pusat Penelitian Kimia LIPI. Bulan Desember ku diisi dengan beli bahan penelitian, research metode penelitian, trial error dan sebagainya. Sampai Jumat, 30 Desember 2016 pun aku masih ngelab sampai sore bareng partnerku yang setia banget, Nindy namanya. Waktu itu kami seharian nongkrong di ruang PSA alias Particle Size Analyzer untuk melakukan pengujian ukuran partikel sampel. Ajaibnya sih Departemen Kimia masih lumayan rame. Usut punya usut, ternyata pegawai pada ambil cuti mendekati tahun baru. Tanggal 2 kebelakang tuh lab mulai sepi. Nah, makanya itu juga aku ngambil trip di awal bulan Januari. Mengikut jadwal mereka gitu ceritanya. Masa sih anak TA malah ngabur duluan dibandingkan pegawainya? Kan ga beres to ya… Sebenernya pembimbingku itu orangnya selow banget, mau ambil libur kapan bebas, mau penelitian sampe kapan bebas, karena menurut Beliau skripsi itu adalah hal yang personal. Yang menentukan akan selesai kapan dan sebaik apa kan diri sendiri. Makanya, pas aku bilang mau izin ambil libur 1 minggu ya Beliau bilang boleh aja. Terima kasih Bu Meli 🙂
Kembali lagi nih ke cerita liburanku. Ok, waktu itu aku naik maskapai Asiana Airlines. Kenapa? Karena saat pergi ke Korea itu aku menggunakan jasa tour dan maskapai pastinya sudah diatur oleh agen tour. Agen tour yang aku pilih adalah KIA Tours & Travels. Waktu itu aku hanya pergi bertiga, yaitu sama Ajeng dan adik mamaku yang paling kecil namanya Tante Lily. Tante Lily ini belum menikah, jadi lebih fleksibel kalo mau ikut liburan sama ponakannya begini. Mamaku enggak ikut karena waktu itu lagi sakit batu empedu dan di bulan tersebut akan operasi. Papaku sama sekali enggak tertarik untuk pergi ke Korea. Menurutnya, Jepang cukup kok sebagai representasi negara Asia Timur. Kami memilih KIA Tours & Travels berdasarkan rekomendasi dari omku yang pernah menggunakan tour ini. KIA memang sangat bagus untuk destinasi Korea. Kenapa? Karena KIA kepanjangan dari Korea Indonesia Agency. Pemiliknya sendiri adalah pasangan suami istri yang salah satunya memang berasal dari Korea. Jadi menurutku sih enggak heran kalau destinasi Korea lebih unggul dibandingkan destinasi ke negara lain.
Day 1 : Jakarta – Seoul
Kami berangkat dari Soekarno Hatta International Airport menuju Incheon International Airport. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 6 jam. Waktu itu kami tiba di Incheon sekitar jam 8 atau 9 pagi (waktu Korea). Perbedaan waktu antara Jakarta dan Korea adalah 2 jam, dimana waktu Korea lebih cepat dibandingkan waktu Jakarta. Karena menggunakan jasa tour, kami segera dijemput menggunakan bus setelah selesai proses imigrasi dan pengambilan bagasi. Sensasi yang kami rasakan setelah keluar dari bandara adalah dinginnnnnn. Tidak bersalju memang, cuma tetap aja dingin banget. Mungkin suhunya sekitar 5-6 derajat Celcius.
Tujuan kami yang pertama adalah Blue House dilanjut dengan Gyeongbokgung Palace atau Istana Gyeongbok yang terletak di kota Seoul. Blue House hanya kami lewati saja menggunakan bus jadi aku tidak terlalu perhatian dengan objek itu. Istana Gyeongbok inilah yang terkenal banget. Bagi kalian para pecinta drama-drama korea pastinya tau banget tempat ini. Sebelum mengunjungi istana, kami diajak terlebih dulu untuk mengunjungi National Folk Museum of Korea atau Museum Nasional Rakyat Korea yang terletak di halaman istana. Sesuai bayangan teman-teman, museum ini berisi berbagai peralatan dan benda-benda yang digunakan oleh Rakyat Korea jaman dahulu hingga zaman sekarang. Museum Nasional Rakyat Korea terhubung langsung dengan istana melalui taman dan pintu kecil. Jadi hanya perlu jalan kaki, enggak usah naik bus kok.
Istana Gyeongbok tidak terlalu rame waktu itu, mungkin karena musim dingin atau terlalu pagi ya? Hanya beberapa kelompok orang yang berkeliling dan berfoto. Grup kami dipandu oleh seorang local guide yang sudah fasih berbahasa Indonesia yaitu Ms. Jelo (katanya biar mirip sama Jennifer Lopez) dan seorang tour leader bernama Linda. Menurutku ini lucu karena sudah 2x aku ikut tour dan nama tour leaderku tetap Linda. Aku kira Linda yang akan guide aku ke Turki akan sama dengan Linda yang guide aku ke Korea, ternyata mereka berbeda. Coincidence? Maybe. but maybe not..
Ms. Jelo mengajak kami berkeliling di area istana sambil memberikan penjelasan. Setelah itu, kami diajak untuk makan siang di sebuah resto Korea yang ternyata kokinya adalah orang Indonesia.
Hari ini kami tidak akan bermalam di Seoul, namun di Pulau Jeju. Oleh sebab itu, setelah makan siang kami segera diantarkan ke Gimpo International Airport. Penerbangan dari Gimpo ke Jeju International Airport enggak begitu lama, sejam lebih palingan. Begitu kami sampai di Jeju, hari sudah mulai sore dan kami segera menuju ke Dragon Head Rock yang menurut Ms. Jelo adalah batu karang berbentuk kepala naga. Jeju tidak bersalju, namun udara disana cukup dingin. Belum lagi ditambah dengan angin laut yang kencang, bisa bikin masuk angin. Aku sarankan kalo kalian kesini waktu musim dingin, jangan lupa bawa coat yang lumayan tebal, sarung tangan sama syal juga ya. Berdiri lama-lama di dekat laut bikin pipi ku dingin banget seriusan. Aku pun ngacir ke tempat yang lebih hangat.
Kami diberi waktu sekitar 45 menit disini sebelum menuju ke Mysterious Road. Kami pun segera berangkat ke Mysterious Road sebelum hari mulai gelap. Sekilas jalan tersebut terlihat seperti jalan pada umumnya. Lalu, apa spesialnya? Spesialnya adalah jalan ini dapat membuat mobil jalan sendiri meskipun mesinnya dimatikan. Padahal, jalanan tersebut terlihat menanjak. Melihat kami semua ragu dengan penjelasannya, Ms. Jelo lalu meminta Pak Supir untuk mematikan mesin mobil dan melewati jalan tersebut. Wah bener aja, ternyata bus kami berjalan sendiri lho! Hebat bener jalan ini, apa ada medan magnet atau apa nih pikirku. Ms. Jelo pun menambahkan penjelasannya bahwa sebenarnya jalanan ini adalah ilusi optik. Jalanan terlihat menanjak akibat efek pepohonan di samping-sampingnya, namun sebenarnya menurun. Akibatnya, mobil bisa berjalan sendiri meskipun mesinnya dimatikan. Hingga sekarang, belum ada penjelasan ilmiah yang pasti mengenai fenomena ini sehingga masyarakat sekitar tetap menamakannya sebagai Mysterious Road.
Hari sudah gelap saat kami meninggalkan Mysterious Road, yang artinya kami harus makan malam. Makan malam hari itu sangat menggugah selera karena menunya adalah Korean BBQ. Nama restorannya adalah Neul Bom Korean BBQ Restaurant. Sudah pada tau dong kalo Korbeq itu emang nikmat banget? Mengingat emang sekarang di Jakarta dan sekitarnya juga lagi booming tuh korean bbq all u can eat 99k.
Korbeq disini emang autentik karena bumbu dagingnya khas dan meresap banget. Jadi perpaduan antara marbling daging yang pas, bumbu yang enak plus side dish yang beragam bener-bener memuaskan lidahku nih. Yang bikin bahagia lagi adalah, korbeq ini enggak hanya di Jeju saja. Ms Jelo bilang akan ada beberapa korbeq lagi nanti. Mantap Jiwaa!!!
Day 2 : Jeju Island
Hari ini kami akan mengelilingi Pulau Jeju, dimulai dengan Cheonjiyeon Waterfall. Pagi itu udaranya bener-bener menghibur jiwa, karena gabungan antara angin dingin sekaligus hangat dari sinar matahari. Kami menyusuri jalanan yang dikelilingi sungai cantik dan pepohonan menuju spot utama yaitu air terjun. Suasananya juga tenang, enggak banyak orang. Udara semakin dingin mendekati air terjun. Aku, Ajeng dan tante berjalan pelan aja menikmati udara sejuk pagi itu, menyusuri sungai terus duduk-duduk santai di bangku taman.
Setelahnya, kami diajak menuju Play K-POP. Tapi sebenernya aku enggak terlalu suka kpop. Aku memang tau beberapa grup yang terkenal kayak Suju, SNSD, Exo, Bigbang dan beberapa lagi. Aku mendengarkan musik mereka, tapi bukan yang suka banget gitu. Itu pun aku dengerin karena Ajeng suka dan dulu dia muterin lagu mereka hampir setiap hari dalam beberapa jam. Ekstrem emang dia. Belum lagi dia suka ngeprint-ngeprint foto personilnya, namain bonekanya pake nama mereka. Aku lama-lama ya jadi tau juga liriknya dan hafal nama personilnya. Intinya aku bisa menikmati tempat ini. Yang paling menarik menurutku adalah Bigbang Hologram Concert. Jadi, kami dikumpulkan dalam 1 hall seperti mau nonton konser gitu. Tapi ternyata personilnya semua adalah hologram. Lebih serunya lagi, meskipun cuma hologram tapi ada scene mengajak penonton untuk naik ke panggung buat ikutan seru-seruan. Kocaknya lagi, ternyata aku yang dipanggil naik. HAHAHA. Terus dibikin si hologramnya itu seperti berinteraksi sama aku. Aku sebenernya sih ga hafal lagu Bigbang, aku cuma nari-nari gak jelas gitu aja akhirnya daripada mati gaya kan? Totalitas sih tuh konsernya. =D
Tujuan selanjutnya adalah Teddy Bear Museum atau yang disingkat jadi Teseum. Seperti namanya, museum ini memajang banyak sekali boneka teddy bear dan lainnya. Setiap spot merepresentasikan suatu tema yang unik. Lucu-lucu juga teddy bearnya, ada yang ukurannya kecil ada juga yang besar banget. Aku paling suka waktu berfoto sama teddy family yang besar banget ini. Karena mukaku emang bulet, aku merasa jadi salah satu dari mereka hahaha..
Hari sudah siang menuju sore dan kami pun diantar menuju Seongsan Sunrise Peak. Bentuknya seperti perbukitan dimana kita bisa hiking dan melihat Pulau Jeju secara lebih luas. Dari atas bukit itu, kita bisa melihat juga banyak wanita yang menyelam atau yang disebut sebagai Haenyeo. Penyelam wanita ini menyelam untuk mencari tangkapan seperti abalone dan berbagai jenis kerang lain yang menempel di bebatuan. Hebatnya adalah mereka tidak menggunakan tabung oksigen dan bisa menyelam hingga kedalam 20 meter selama 2-3 menit. Selain itu peralatan mereka juga sederhana. Hanya cangkul, jaring dan pelampung untuk menandai lokasi saat muncul ke permukaan. Tangguh banget gak sih para perempuan di Pulau Jeju ini?
Kami lumayan lama menghabiskan waktu di tempat ini karena memang lokasinya yang sangat luas. Gak puas banget kalau hanya diberi waktu 30-40 menit seperti di tempat lain. Aku dan Ajeng langsung berkelana naik bukit dan memastikan kami mengeliling seluruh area. Tante Lily bilang dia gak kuat muterin semuanya, jadi kami pun misah. Tante hanya ke beberapa spot lalu turun lagi sedangkan aku dan Ajeng lanjut aja terus ke Seopjikoji sampai free time kami hampir habis lalu lari-lari ke bus. Kami selalu memaksimalkan waktu travelling kami dan pengen menjelajah semuanya biar gak rugi kalau enggak bisa balik lagi ke tempat yang sama. Kalau yang enggak kuat, pasti ampun-ampun deh sama kami hahahaha..
Destinasi untuk menutup hari itu adalah Jeju Folk Village yang ternyata merupakan desa wisata berisi kearifan lokal Pulau Jeju. Kami melihat rumah-rumah adat asli dari pulau ini, peralatan dan perkakas yang digunakan untuk bertahan hidup. Tempat ini bagus, bukan seperti desa kuno gitu. Tapi dirangkai menjadi suatu taman yang asri dan banyak pohonnya bahkan ada air terjun kecil gitu.
Hawa semakin dingin pada sore hari. Ms. Jelo sangat pengertian sehingga menjadwalkan menu makan malam hari ini adalah Seafood Suki yang nama restorannya aku lupa banget. Restorannya pokoknya enggak besar, seperti rumah yang disulap jadi tempat makan. Pelayannya adalah seorang Ahjumma dan Ahjussi. Badan lebih hangat setelah menyantap makanan tersebut.
Day 3 : Jeju Island – Nami Island – Mt. Sorak
Pagi ini kami diantar menuju Jeju International Airport untuk kembali ke Gimpo International Airport. Destinasi yang akan kami tuju hari itu hanya Nami Island sebab kami akan menempuh perjalanan yang sangat jauh menuju Mt. Sorak. Sebelum masuk ke Nami, kami terlebih dahulu menikmati makan siang yang ternyata merupakan korean BBQ. Sangat enak, sama seperti kemarin. Apalagi ini all you can eat. Mantap!
Nami Island atau Naminara Republic merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di area Bendungan Cheongpyeong, wilayah Chuncheon-si, Provinsi Gangwon dengan luas wilayah sekitar 460.000 m2. Pulau ini berdiameter sekitar 6 km dengan bentuk pulau yang menyerupai mangkuk. Meskipun kecil, Nami punya pesona yang menarik lho guys. Linda sempat memberitau bahwa beberapa hari sebelum kedatangan kami, salju sempat turun disini. Namun, karena pada saat kami datang tidak terlalu dingin maka tidak muncul salju. Meskipun begitu, aku tetap puas melihat daun-daun berguguran dengan sinar matahari yang hangat ditengah desiran angin dingin. Banyak orang berjalan dan mengobrol, ada juga yang memilih untuk duduk-duduk santai di pinggir kolam. Bagi kalian penggemar drama korea, pasti tau dong drama yang judulnya Winter Sonata. Yup! Drama tersebut mengambil latar di pulau ini. Sebelumnya, Nami tidak dikenal oleh mancanegara. Namun berkat drama tersebut (yang kebetulan juga meledak di pasaran), banyak orang jadi tertarik untuk berkunjung ke Korea dan tepatnya tempat ini. Oleh karena itu disini ada beberapa spot yang didedikasikan untuk mengenang drama tersebut.
Setelah beberapa jam berkeliling, kami kembali berkumpul untuk kembali menyebrang. Perjalanan nanti akan lumayan panjang karena kami akan menuju ke Mt. Sorak. Memang tidak ke Mt. Sorak langsung namun ke hotel di dekatnya. Kami akan mengunjungi Mt. Sorak keesokan paginya. Jarak antara Nami ke Mt. Sorak adalah kurang lebih 90 km. Kalau dikira-kira di Indonesia sih ya kayak jarak Tangerang – Karawang begitulah. Linda memperkirakan kami semua akan tiba pada malam hari.
Perkiraan Linda tepat, kami sampai di Mt. Sorak malam hari. Makan malam hari itu sangat spesial karena menunya adalah ikan bakar beserta dengan side dish khas korea. Aku merasa makan malam itu nikmaaaaaat banget, karena cuaca di luar sangat dingin. Benar-benar dingin yang menusuk dan makan ikan serta nasi putih hangat bisa meredamku.
Kami menginap di Del Pino Hotel & Resort. Hotel ini bagus, selain itu di lantai dasarnya terdapat supermarket dan starbucks. Jadi mudah banget kalo emang mau nongkrong atau beli belanjaan. Aku sendiri waktu itu beli beberapa masker untuk oleh-oleh. Lengkap kok masker disini. Semakin dekat dengan Mt. Sorak tentunya udara semakin dingin. Terbukti banget disini. Udaranya dingin plus kami sudah menemukan salju disini. Aku baru sekali merasakan salju betulan jadi super hepi. Biasanya kan aku hanya main ke tempat yang isinya salju buatan, kayak pas aku dulu ke Snow City Singapore. Sekarang punya kesempatan untuk merasakan tekstur dan sensasi salju asli. Norak sih tapi yaudahlah, kan baru pertama kali. Maafin dong :p
Day 4 : Mt. Sorak – Ski Resort
Hari ini aku berpakaian berlapis-lapis karena memang tujuannya adalah Mt. Sorak yang bakalan dingin banget. Tapi aku rasa ini salah dan tidak efektif. Kenapa tidak efektif? Karena aku keberatan dan susah bergerak. Aku pakai long johns, dilapis turtle neck, dilapis kaos dan dilapis lagi dengan kemeja. Celana juga aku lapis 2 coba…. jeans dengan jeans. Belum lagi aku harus pake syal dan winter coat yang so pasti berat banget. Aku juga harus menggendong ranselku. Kepikiran gak tuh seberapa berat? Mt. Sorak memang dingin banget teman-teman, suhunya bisa sampai – jauh dibawah 0. Tapi ini sama sekali enggak perlu. Seharusnya aku seperti tanteku aja. Dia hanya pakai longjohns, turtle neck dan coat aja. Lalu celananya ya cuma jeans aja. Memang sih dia menyiapkan sweater bulu-bulu yang dijual di Uniqlo itu lho, cuma enggak dia pake karena dengan outfit itu aja cukup hangat ternyata. Cuma kalo memang di-double pun gak serempong aku. Makanya kalian bisa liat dong ekspresiku dan tanteku begitu berbeda? Aku udah bad mood duluan karena outfitku yang gak enak. Aku sangat menyarankan kalian untuk travelling dengan outfit yang nyaman dan efektif ya teman-teman. Pilihlah baju, celana dan sepatu yang matching tapi jangan merepotkan kalian.
Oh ya sama satu lagi, aku dan Ajeng kecolongan. Kami pakai sepatu yang berbahan kain. Aku sering lihat sih kalo musim dingin kan pada pake sepatu kain dan berbulu gemeshhh gitu kan. Aku ikutan. Dan ternyata ga oke bangeeeeeet! Mending kayak Tante Lily pake sepatu kulit gak bermodel tapi nyaman. Sepatunya Ajeng pas kena air langsung copot lemnya, sepatuku baru dipakai melewati salju dingin langsung basah kuyup. Aku gak bisa merasakan kakiku waktu itu karena sepatuku tergenang air super dingin akibat campuran hujan dan salju. Aku cuma berdoa semoga enggak hipotermia deh. Bahaya kan kalo hipotermia, terlebih kalau sarafnya sampai mati.
Aku sarankan juga kalian selalu membawa moisturizer yang melembabkan wajah, kulit dan bibir. Aku mengalami sendiri wajahku yang tiba-tiba jadi keringgggg banget dan akhirnya breakout parah di tengah trip akibat angin dingin yang menerpa gak ada ampun. Belum lagi kalo tempat bersalju begini, bibir bisa pecah-pecah. Dan buat kalian yang kurang kuat dingin tapi nekat untuk pergi saat musim dingin, pastikan untuk membawa hot gel pad. Itu sangat membantu lho guys!
Seoraksan National Park merupakan kawasan pegunungan yang terletak di Provinsi Gangwon. Waktu tempuh dari Seoul ke daerah ini kurang lebih 3 jam perjalanan menggunakan mobil atau bus. Mt. Sorak memiliki tinggi 1.700 mdpl yang menjadikannya sebagai gunung tertinggi di Korea. Karena sangat tinggi, salju selalu memenuhi permukaannya setiap musim dingin datang. Kalau kalian pernah nonton Twilight Breaking Dawn Part 2, ya mirip begitulah kenampakan gunung-gunungnya. Sepanjang mata memandang hanya warna putih yang tertangkap. Oleh karena itu gunung ini dinamakan Seorak, Seor berarti salju dan ak berarti gunung besar.
Kawasan Taman Nasional ini luas, ada beberapa cafe yang dapat ditemukan disini. Selain itu juga ada patung Buddha dan patung Beruang yang sangat terkenal. Karena waktu itu hujan saljunya sangat lebat dan angin dinginnya menusuk tulang, kami hanya berkeliling sebentar di luar. Ms. Jelo dan Linda segera mengarahkan kami naik cable car menuju puncak Mt. Seorak yaitu Gwongeumseong Fortress. Namun untuk benar-benar mencapai puncak harus menaiki banyak anak tangga lagi. Linda sangat tidak menyarankan kami untuk naik karena memang saat itu salju menutupi anak tangga dan khawatirnya akan sangat licin. Bila kalian traveling kesini waktu musim panas atau semi, kalian justru akan bisa hiking untuk mencapai puncak tertingginya. Tapi bila musim dingin begini, bisa tahan diluar sekitar 20 menit saja sudah bagus. Sebenarnya aku pun tidak berminat untuk naik lebih tinggi mengingat kakiku udah mati rasa kedinginan. Aku memilih nongkrong di cafe atau di dalam gedung ajalah yang penting dekat pemanas.
Syukurlah Linda segera menyuruh kami segera kembali ke bus sebelum semuanya pada masuk angin. Grup kami banyak anak kecil. Para orang dewasa aja sudah kedinginan apalagi itu bocah-bocah. Oh ya, waktu itu kami melihat ada grup tour dari Indonesia yang semua anggotanya menggunakan jas hujan plastik. Ini ide yang bagus sekali guys, kalau kalian kesini waktu musim dingin rasanya jas hujan plastik perlu dibawa deh. Lumayan melindungi coat dan celana kalian biar enggak lembab.
Aku lega sekali waktu sampai di bus. Bus kami dilengkapi dengan penghangat sehingga tanpa ragu-ragu aku segera mencopot sepatuku yang sudah basah. Sedikit berharap bisa sedikit lebih kering. Aku lalu membersihkan kakiku menggunakan tisu basah dan duduk dengan melipat kaki diatas kursi. Rasanya enggak kuat lagi menahan dingin. Tujuan kami selanjutnya adalah Daemyung Vivaldi Park. Ski Resort ini termasuk dalam beberapa ski resort terbaik di Korea. Ski area dan hotel kami hanya berjarak beberapa meter saja. Untuk masuk ke ski area sendiri sebenarnya tidak perlu bayar lagi. Namun tetap harus sewa peralatan utama seperti papan ski, sepatu ski, tongkat ski. Sebelum memasuki area Vivaldi Park kamu akan menemukan banyak sekali toko perlengkapan ski. Disini kamu juga bisa meminjam jaket, celana ski maupun sarungan tangan tebal bila ingin lebih hangat. Aku dan Ajeng memutuskan untuk menyewa peralatan lengkap plus membeli sarung tangan tebal. Tante Lily memilih untuk duduk-duduk aja di area ski karena tidak berminat mencoba. Dia takut jatuh.
Ms. Jelo bilang bahwa Vivaldi Park ini terkenal banget untuk para profesional karena memang turunannya curam guys! So pasti menantang banget kan bagi mereka-mereka yang berkemampuan dewa? Aku sebagai newbie memandangnya aja udah ngeri sendiri. Aku cuma berani mendaki paling tinggi 3 meter lalu berseluncur ke bawah. Diatas 3 meter aku udah lambaikan tangan karena kalau jatuh nyungsep pasti bakalan sakit banget. Lagian baru kali itu aku dan Ajeng mencoba ski, 3 meter? Boleh lah~
Sekitar 2 jam bermain kakiku sudah mulai pegel dan memutuskan untuk udahan aja. Sore itu angin juga cukup dingin, kira-kira sih suhunya mendekati 0 derajat. Kalau diteruskan aku pasti masuk angin. Apalagi saat di Mt. Sorak tadi aku sudah hampir terkena hipotermia akibat sepatuku basah kuyup. Aku menengok sekeliling dan masih mendapati area ski ini ramai pengunjung. Ada yang sibuk menendaki sambil menenteng papan skinya, ada pula yang sudah duduk manis di atas gondola. Aku juga menangkap beberapa orang yang sedang meluncur dari ketinggian lebih dari 10 meter. Wah hebatnya…
Setelah mengambil beberapa barang dari loker aku dan Ajeng langsung keluar area untuk bertemu Tante Lily. Tante sedang asik ngobrol dengan ibu-ibu yang juga tidak ikut main ski. Aku mencari Ms. Jelo untuk mengembalikan berbagai peralatan ski yang tadi kupakai, lalu mencari Linda untuk check in hotel. Hotel kami sangat nyaman karena lantainya adalah parquet yang dilengkapi dengan penghangat. Aku segera mengeringkan sepatu berbuluku menggunakan hair dryer agar bisa digunakan besok. Beberapa waktu kami bertiga sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ajeng masih penasaran dengan area hotel kami itu, jadi kami memustukan untuk berkeliling. Aku melihat area ski sudah sepi karena memang suhu juga sudah mencapai -3 derajat celcius saudara-saudara. Area hotel ternyata tersambung dengan mall sehingga kami bisa cuci mata untuk sesaat. Tidak lama sih kami jalan karena memang tepar. Malam itu kami tidur dengan nyenyak di lantai kayu yang beralaskan bed cover.
Day 5 : Everland – Nanta Show
Pagi ini kami bersiap untuk mengunjungi Everland alias taman bermain paling terkenal di Korea. Kalau di Indonesia tuh kayak Dufan lah.. Aku sedikit kecewa sama Linda dan Ms. Jelo karena kami hanya diberikan waktu bebas disini sekitar 2 jam. Bayangkan kalian di taman bermain yang luas tapi hanya 2 jam? Aku dan Ajeng segera misah sama Tante Lily karena kami pengen menjelajah seluruh area dengan cepat. Kami juga pengen mencoba semua permainan yang seru.
Namun jujur saja nih, aku merasa Everland biasa saja. Wahananya tidak terlalu spesial seperti di Disneyland ataupun Universal Studio. Wahana yang paling menarik minatku adalah seluncur es. Kami harus naik ke atas bukit salju lalu meluncur ke bawah menggunakan ban. Ban yang aku pilih berbentuk seperti angka 8. Ajeng di depan dan aku di belakang. Aku juga sempat naik wahana yang berputar-putar dan justru membuatku muntah. Keseimbanganku memang kurang baik. Kalau naik wahana berputar atau dijungkir balikkan gitu aku pasti muntah. Aku hanya pernah naik poci-poci di Dufan sekali karena setelahnya aku pusing dan hampir pingsan. Aku tidak akan pernah naik tornado karena aku yakin tidak mampu. Ini aku sok ide aja naik wahana yang aku tau aku tidak kuat. See? Aku rasanya kliyengan mau pingsan mendadak. Ajeng yang kasihan padaku akhirnya menemani ke toilet dan duduk sebentar. Setelah itu dia akhirnya beli Churros agar aku lebih enakan.
Karena waktunya memang singkat, kami memutuskan untuk berjalan-jalan santai saja. Kalau sudah mendekati waktu kumpul kami akan mengarah ke pintu keluar. Setelah itu, kami diajak menuju Kimchi School. Ya seperti namanya, kami disini masuk ke dalam sebuah kelas kecil untuk mempelajari cara membuat kimchi. Kimchi yang kami buat merupakan resep paling sederhana dengan bahan sawi putih. Bahan yang disediakan hanya 2 yaitu sawi putih dan pasta cabai. Short course ini sebenarnya lebih ke metode pengolesan pasta cabai dan pelipatan sawi putihnya sih. Kami tidak membuat pasta cabainya dari awal. Short course ini lumayan menyenangkan karena guidenya ternyata adalah orang Indonesia dan cara mengajarnya juga seru. Kimchi hasil buatan kami disimpan untuk melalui proses pematangan. Kami diajak menuju ruangan sebelah kelas yang ternyata adalah outlet kimchi. Disitu bisa membeli berbagai macam jenis kimchi serta rumput laut. Aku dan Ajeng akhirnya membeli rumput laut yang lumayan banyak. Enak banget rumput lautnya. Gurih dan asin, cocok kalo dimakan sama nasi goreng. Yummy!!
Sore hari tibalah kami di show yang sangat populer di Korea. Apalagi kalau bukan Nanta Show. Oh ya aku ingat, dulu teman-temanku ada juga tuh yang nonton Nanta Show di ICE BSD tahun 2015. Tapi aku belum tau apa itu Nanta Show, jadi ya aku enggak nonton juga. Sampai waktu lihat itinerary Korea ini, lho ternyata ada Nanta Show. Mulai deh googling. Nanta Show adalah kesenian tradisional Sanulmori (alat musik perkusi tradisional Korea yang dimainkan oleh 4 orang) dengan dipandu seni modern. Setiap anggota show ini memegang satu alat musik, yakni Janggu (gendang berbentuk jam pasir), Kwaenggwari (gong kecil), Buk (gong besar) dan Jing (gong besar). Melalui Nanta Show, Samulnori dikemas secara unik. Show ini terdiri dari 5 orang pemain dengan berlatar dapur besar. Kelima pemain tersebut ceritanya sibuk dengan berbagai peralatan masak seperti panci, wajan, piring dan pisau untuk menyiapkan makanan. Pertunjukkannya heboh, lucu dan pemainnya jago banget. Belum lagi pemain ceweknya yang cantik plus badannya proporsional banget. Bikin envy deh!! Setelah itu kami langsung diantar ke hotel untuk beristirahat.
Day 6 : Seoul City Tour
Pagi ini udara sangat bersahabat di Seoul. Dingin-dingin sejuk gimana gitu. Ms Jelo mengajak kami terlebih dulu menuju Skin Care outlet yang aku lupa namanya karena memang gak pernah kudengar sebelumnya. Aku juga enggak beli apa-apa mengingat kulitku ini sensitif banget. Salah kosmetik sedikit bisa jerawatan gak karuan berbulan-bulan. Makanya aku juga enggak berani nyobain. Setelah itu kami menuju ginseng shop yang merupakan salah satu toko pemerintah wajib dikunjungi. Disana terdapat berbagai macam jenis dan bentuk olahan ginseng. Aku sendiri membeli kapsul ginseng yang katanya meningkatkan kinerja otak. Kayak fungsinya semacam kapsul ginko biloba punya Blackmores gitu kali ya. Harapanku sih supaya otakku bersahabat selama beberapa bulan kedepan. Kan aku kebetulan waktu itu lagi skripsian. Hahahaha..
Setelahnya kami diantar untuk mengunjungi salah satu ruang terbuka di pusat kota Seoul yaitu Cheongyecheon stream. Aliran sungai ini panjangnya mencapai 10.9 km lho! Aku sedikit penasaran sama bentuk asli sungai sebelum diperbaiki menjadi sebagus ini. Aku akhirnya googling dan hanya mendapati sungai biasa yang terkesan berantakan. Pemerintah Korea ini hebat juga pikirku. Sungai tersebut disulap jadi tempat terbuka dimana para warganya bisa rekreasi, lari pagi atau sekedar jalan santai.
Aku baru tau ternyata di Korea juga ada museum lilin mirip Madame Tussauds. Namanya adalah Grevin Wax Museum. Ya meskipun patung lilinnya tidak selengkap dan sebagus Madame Tussauds tapi boleh lah.. Ada banyak patung artis Korea yang sebagian tidak kukenali (karena aku bukan korea lovers) dan juga tokoh dunia yang dikenal sejuta umat seperti Tom Cruise, Steve Jobs, Paris Hilton dan lain-lain.
Puas dengan museum lilin, Ms. Jelo rasanya sudah bisa menangkap hasrat terpendam dari para cewek di grupku ini. Kami diajak berbelanja di The Shilla Duty Free Shop. Ada berbagai jenis barang yang bisa kamu pilih disini mulai dari kosmetik sampai tas. Brand nya juga bermacam-macam. Aku sendiri hanya beli Jeju Volcanic Clay Mask dari brand Innisfree yang menurut Ajeng kualitasnya bagus. Dia juga bilang kalo itu cocok untuk kulit sensitif. Aku akhirnya nyobain juga.
Setelah itu kami diajak menuju The Most Visited Landmark in Seoul. Apalagi kalau bukan Namsan Seoul Tower. Happy banget rasanya karena dulu waktu aku masih SMP, aku itu penggemar drama korea yang judulnya Boys Before Flowers (BBF). Itu adalah satu dari dua drama yang aku suka. FYI, sampai saat ini aku hanya suka 2 drama korea yaitu BBF dan The Heirs. Meskipun banyak banget drama yang kata orang bagus, aku gak terusik karena memang hanya kedua drama ini yang membuatku sabar pantengin episodenya sampai akhir. Bahkan masih minat untuk nonton tayangan ulangnya lagi. Nah di BBF ini tuh ada scene dimana si Gu Jun-Pyo lagi menunggu Geum Jan Di saat hujan salju turun dengan derasnya. Menurutku tuh romantis banget. Emang dasar ya bocah, masih aja kemakan sama adegan cinta-cintaan gitu! Cuma jadinya waktu sampai di Seoul Tower ini aku berkesan banget. Apalagi pas liat gembok-gembok cintanya.
Habis ini sih bisa dibilang wisata belanja karena tujuannya adalah Dongdaemun dan Myeongdong Shopping Street. Aku bisa melihat ada banyak sekali brand skin care dan kosmetik yang bertebaran di sepanjang jalan Myeongdong. The Face Shop, Etude House, Innisfree, A’pieu, Banila, dan masih banyak lagi deh. Mungkin aku satu-satunya orang yang kantongnya gak bolong disana. Aku enggak beli apa-apa soalnya. Seperti yang aku bilang sebelumnya. Aku paling males coba skin care baru, apalagi kosmetik. Adekku dan Tanteku udah gak tau beli apaan aja. Ambyar tuh dompet. Aku lebih tertarik untuk kulineran jadi kami pun mencoba Jajangmyeon dan Budae Jjigae sekaligus. Setelah Ajeng puas belanja kami segera menuju Starbucks terdekat yang hanya berjarak beberapa blok dari Myeongdong untuk membeli tumbler. Aku memang mengoleksi tumbler Starbucks.
Malam sudah mulai larut dan kami segera diantarkan untuk kembali ke hotel. Aku, Ajeng dan Tante Lily memutuskan untuk menikmati malam terakhir kami di Korea karena memang besok siang kami sudah akan terbang kembali ke Jakarta. Kami bertiga berjalan santai di area sekitar hotel sambil membeli minuman dan makanan ringan di minimarket terdekat. Setelah itu kembali ke hotel untuk istirahat,
Day 7 : Seoul – Jakarta
Hari ini adalah hari terakhir kami di Korea. Penerbangan kami akan menggunakan Asiana Airlines jam 3 sore. Artinya kami sudah harus diantarkan ke Bandara sekitar pukul 12 siang. Tidak ada objek yang kami kunjungi hari itu. Hanya mampir ke toko pemerintah dan berburu oleh-oleh di grocery store. Toko pemerintah yang kami kunjungi namanya adalah Red Pine Shop. Sesuai namanya, mereka menjual Jeok Song yaitu kapsul minyak pinus berbunga merah yang hanya tumbuh di pegunungan dan daerah bebas polusi. Tim marketing dari toko ini memang jago. Awalnya aku enggak tertarik mendengarkan penjelasan mereka namun dengan sedikit demonstrasi menggunakan instrumen kesehatan yang canggih aku jadi penasaran. Aku pun akhirnya membeli paket kapsul ini. Disini kamu bisa membayar pakai beberapa pilihan mata uang seperti Won, US Dollar ataupun rupiah. Mau di campur antara satu mata uang dengan lainnya juga bisa. Mau pakai kredit card juga bisa. Bebassss coy..
Kami diajak untuk mencari oleh-oleh sebentar kemudian diantarkan ke bandara. Bandara Incheon cukup luas dan kami pun berkeliling untuk melihat barang yang menarik. Aku memutuskan untuk membeli paket masker yang banyak sebagai oleh-oleh. Harga masker disini jauh lebih murah dibandingkan saat beli di Myeongdong. Tau gitu mendingan sekalian beli di bandara aja deh.
Jam 2 lewat tiba waktunya kami untuk masuk ke dalam pesawat dan melalui 6 jam penerbangan kembali ke Indonesia. Melelahkan namun disaat yang sama juga memuaskan. Setiap negara mempunyai ceritanya masing-masing. Bagi kalian yang memang menyukainya, travelling is always desirable. Jangan pernah memotivasi diri kalian untuk travelling sekedar pamer instagram story atau pun feeds tapi jadikanlah travelling sebagai jendela untuk melihat dunia yang lebih luas. Terlebih untuk menginspirasi teman-teman di sekeliling kita. Semoga cerita perjalanan ini menginspirasi kamu yang sudah bersedia membaca. You only live once, so please.. enjoy when it last!












































